Dragon Lord System

Dragon Lord System
S2 - Vael


__ADS_3

Aku terbangun dari tidur lelapku dan menguap dengan malas.


"Hoamm"


Saat itu, aku mendengar suara seseorang yang berbicara padaku.


"Selamat pagi, Ayah," ucap suara itu.


Aku melihat ke arah suara tersebut dan terkejut melihat seorang malaikat pria berlutut di hadapanku dengan senyuman di wajahnya.


"Eh? Siapa dia?" gumamku dalam kebingungan.


Aku melihat penampilannya dengan seksama. Dia memiliki sepasang sayap malaikat putih yang indah, rambut putih perak seperti Sebas, tetapi matanya berwarna merah.


Sepertinya aku mengingat warna matanya dan rambutnya...


Tunggu sebentar...


Eh?, Apakah dia...


VAEELLLL?!!!


Aku tidak bisa mempercayainya.


Dia terlihat seperti malaikat sungguhan sekarang.


Saat aku menciptakannya, aku hanya membuat sepasang sayap kecil untuknya, tetapi sekarang sayapnya menjadi besar dan nyata.


Ini benar-benar menakjubkan.


Aku menatap Vaell dengan tatapan terkejut namun juga penuh kekaguman.


Dia telah berubah menjadi makhluk yang jauh lebih kuat dan indah dari sebelumnya. Ini membuktikan kemampuanku sebagai pembuat golem yang luar biasa.


Aku memperhatikan dengan seksama penampilan Vaell yang baru.


Dia mengenakan sebuah armor perak yang memancarkan kilauan keputihan, dilengkapi dengan jubah panjang berwarna putih dengan corak keemasan yang menjuntai hingga ke kakinya.


Matanya yang merah menciptakan kontras menarik dengan penampilannya yang tampan seperti karakter dalam fiksi.


Namun, aku merasa sedikit bingung dengan perubahannya yang begitu drastis.


Sebelum aku tertidur, Vaell tidak terlihat seperti ini.


Apa yang terjadi?!


Ah yah kalau diingat-ingat Ketika aku memberikan Sebas sebuah nama, dia juga mengalami perubahan yang sama.


Saat aku menciptakannya dan ia baru terbangun, dia telanjang, tetapi setelah aku memberinya nama, dia tiba-tiba bercahaya dan mengenakan pakaian yang lengkap.

__ADS_1


Aku baru menyadari bahwa hal yang sama juga terjadi pada keenam golem lainnya, eh, maksudku anak-anakku.


Aku melihat wajah khawatir Vael saat dia memperhatikan ekspresi seriusku.


Tiba-tiba, dia bertanya apakah aku baik-baik saja. Aku terkejut dari lamunanku dan tersadar akan kekhawatiran yang ia tunjukkan.


"Ayah, apakah ayah baik-baik saja?" ucapnya dengan nada khawatir.


Aku tersentak dan mencoba merapikan pikiranku.


Ah, sepertinya aku tidak terbiasa dengan panggilan "ayah" dan memanggil mereka sebagai "anak".


Di dunia sebelumnya, aku tidak pernah memiliki anak, jadi ini benar-benar situasi yang baru bagiku.


"A-hem, maksudku, aku baik-baik saja, Nak," ucapku dengan suara tegas, berusaha menunjukkan bahwa aku baik-baik saja.


Tentu saja, aku masih merasa sedikit canggung dengan panggilan itu, tapi aku harus mulai membiasakan diri dengan peran sebagai seorang ayah.


Aku melihat senyum lega di wajah Vael saat mendengar jawabanku. Mungkin dia merasa lebih tenang sekarang.


Aku memandang sekeliling dengan perasaan heran. Sesuatu terasa berbeda di sini.


"Hmm, sepertinya ada yang berbeda di sini," ucapku dengan nada penasaran.


Vael pun segera memberikan penjelasan.


"Oh, baik, Ayah! Aku akan menjelaskannya kepada Ayah. Selama Ayah beristirahat selama lebih dari satu bulan, kakak tertua Sebas menyuruh kami untuk memperluas wilayah dungeon Ayah. Dan, ya, ruangan ini sekarang telah didekorasi olehku sendiri!" ucap Vael dengan bangga, wajahnya bersinar penuh kebahagiaan.


Aku telah tidur selama satu bulan??!! Ini tidak mungkin, kan?!


Aku sudah tidur selama satu bulan? Tidak mungkin, kan? Aku merasa ragu dengan kejadian ini.


Tapi kemudian aku teringat, aku sekarang menjadi naga, dan mungkin ada perbedaan dalam waktu tidurku.


Aku masih skeptis mendengar pernyataan Golem ciptaanku, atau lebih tepatnya anakku.


Aku pun bertanya dengan serius, "Ahem, jadi Nak, apakah benar aku telah beristirahat selama satu bulan lebih?"


Vael mengangguk dengan tulus.


Dia menjelaskan bahwa ketika aku memberikan nama kepada mereka semua, aku roboh dan pingsan di hadapan mereka. Mereka semua merasa khawatir akan kondisiku.


Namun, Sebas, kakak tertua mereka, memberitahu mereka untuk tidak khawatir dan menjelaskan bahwa aku butuh waktu istirahat yang lama setelah menciptakan mereka dan memberikan nama kepada mereka.


Sebas berkata bahwa aku perlu pulih dan mengembalikan energiku yang telah terkuras.


Mendengar penjelasan Vael, air mata mengalir di pipinya saat ia menyampaikan terima kasih dan penyesalannya telah merepotkanku hingga aku kelelahan dan pingsan.


Dia bersujud di hadapanku dengan tangisnya yang tulus.

__ADS_1


Aku mendekatinya dengan penuh kehangatan dan menepuk pundaknya, mencoba menenangkannya.


"Tidak usah menangis lagi, anakku. Kalian semua tidak merepotkanku sama sekali. Aku bahagia karena telah menciptakan kalian, kalian adalah anugerah yang berharga bagiku," ucapku sambil mengusap dan menepuk lembut bahunya.


Aku melihat wajah Vael yang masih basah oleh air mata, dan aku merasa canggung. Kami saling menatap, mata kami bertemu dalam momen yang penuh emosi.


Aku pun melihat sekeliling ruangan yang Vael hias dengan indah. Aku berharap pemandangan itu dapat mengalihkan perhatiannya dan menghentikan tangisannya.


"Lihatlah dekorasimu, Vael. Ini sangat indah dan bagus. Aku sungguh bangga padamu," ucapku sambil tersenyum dan mengelus kepala Vael dengan lembut.


Vael pun tersenyum bahagia, tubuhnya bergetar karena kegembiraan yang tak terkendali. Terlihat jelas betapa berartinya pujian itu baginya.


"Sungguh, Ayah? Terima kasih atas pujian yang Ayah berikan," ucapnya dengan nada yang bahagia penuh dengan rasa syukur sambil bergetar kegirangan.


Ah, akhirnya dia berhenti menangis.


Aku merasa lega melihat senyum di wajahnya yang cerah. Bagaimanapun, aku tidak terbiasa menghadapi situasi emosional seperti ini.


Hmm....


Aku memperhatikan sekelilingku dengan heran perubahan besar yang terjadi di ruangan ini.


Sekarang, nuansa hitam dan putih mendominasi, memberikan kesan elegan seperti ruangan di dalam istana.


Ada karpet mewah, lampu gantung yang menghiasi langit-langit, dan dekorasi lainnya yang menambah keindahan ruangan.


Atapnya pun terlihat lebih luas, memberikan ruang yang lebih lega.


Aku melihat ke belakangku dan terkejut saat melihat sebuah kasur raksasa.


"Eh? Jadi aku tidur di kasur ini?" gumamku kaget. Ternyata itulah sebabnya tidurku begitu nyaman dan empuk tadi.


Aku merenung, bertanya-tanya bagaimana mereka bisa melakukan renovasi sebesar ini.


Bagaimana mereka bisa mengubah ruangan ini sedemikian rupa dengan begitu cepat? Dan bagaimana mereka menciptakan barang-barang mewah ini?


Ngomong-ngomong dimana seluruh golem ciptaanku, ahem.. Maksudku anak-anak-ku.


Aku mengalihkan pandanganku ke Vaell dan menanyakan kepadanya tentang keberadaan anak-anakku yang lain.


"Vael, di mana yang lain? Maksudku, di mana saudara-saudaramu yang lain berada sekarang?" tanyaku dengan rasa penasaran.


Vael menjawab dengan penuh kebanggaan, "Ah, Ayah, jangan khawatir. Kakak tertua, Sebas, sedang melakukan ekspansi dungeon Ayah bersama Karina. Mereka tampaknya telah mencapai hingga lantai ke-15, Ayah."


"Aleister, Luna, dan Hades sedang berlatih bersama Zara," lanjutnya.


Aku terkejut mendengar kabar tersebut. Mereka berhasil menggali lima lantai dalam waktu satu bulan?!!


NANII?!!! Ini sungguh luar biasa!

__ADS_1


Ini benar-benar mengejutkanku...


__ADS_2