
"Jadi kau ingin pergi keluar dari rumah?" tanyaku untuk memastikan keinginan Sebas. "Ya, Ayah," jawab Sebas. Aku sebenarnya tidak yakin apakah aku harus mengizinkannya atau tidak.
"Ayah, ini untuk kebaikan Ayah. Sebagai saudara tertua, aku ingin melindungi Ayah dan adik-adikku dari bahaya. Aku ingin memperkuat dungeon Ayah dengan mencari informasi dari luar. Kami tidak tahu jika ada musuh yang kuat di masa depan. Jika kami selalu berada di sisi Ayah untuk menjaga rumah ini, kami tidak akan berkembang, kuat, dan bijaksana seperti Ayah. Aku tahu Ayah khawatir tentangku, tapi jangan khawatir. Selama satu bulan ini, saat Ayah beristirahat, aku telah berlatih sekuat tenagaku bersama adik-adikku. Jadi, aku mohon izinkan aku pergi, Ayah," ucap Sebas dengan rasa permohonan sambil berlutut dihadapanku.
Hmm, perkataan Sebas benar. Aku bersembunyi diam dan tidak keluar dari rumah dungeon ini karena pada awalnya aku masih takut akan petualangan dan kehadiran monster yang kuat, terutama naga biru bodoh yang pernah menyerangku.
Aku pun tidak tahu berapa banyak monster ganas dan berbahaya yang ada di Hutan Kematian Elysian, tempat lokasi dungeonku berada.
Aku menerima informasi dari prasasti bahwa di dunia ini terdapat manusia, terutama para petualang.
Sejak aku bereinkarnasi sebagai naga di dunia ini, aku belum pernah bertemu dengan manusia karena aku berada di Hutan Kematian ini, tempat yang banyak manusia menjauhinya karena bahaya.
Namun, dari perkataan Vael, dungeonku semakin besar dan luas berkat usaha Sebas. Sepertinya aku bisa merasa tenang sekarang.
Hmm, mengingat dungeon ini dapat menarik para penyusup, baik monster maupun petualang, secara otomatis karena aura yang dipancarkan oleh dungeon, membuatku semakin khawatir tentang keputusan Sebas untuk pergi ke luar.
Walaupun baru saja menciptakannya, entah mengapa aku merasa terikat dengan mereka. Apakah itu naluri seorang pencipta untuk melindungi ciptaannya, ataukah itu naluri seorang orangtua?
Entahlah...
Bisa dibilang aku adalah seorang ayah yang protektif. Apakah Sebas cukup kuat untuk menghadapi bahaya di luar dungeon ini? Pertanyaan-pertanyaan ini berputar dalam pikiranku, membuatku semakin ragu dengan keputusanku.
Namun, tunggu sebentar!
Aku teringat akan Zara. Aku sepertinya bisa melihat status bawahanku. Ya, akan kucoba!
Aku fokus pada Sebas dan berusaha melihat statusnya.
"STATUS," pikiranku terarah ke Sebas.
...[STATUS NPC]...
...[STATUS]...
...Nama: Sebas...
...Class:...
...A. Brawler...
...B. Juggernaut...
...Tinggi: 185cm...
...Spesies: Humanoid?...
__ADS_1
...Level: Level 70...
...Health Point/HP: 90...
...Kekuatan: 130...
...Pertahanan: 175...
...Kecepatan: 60...
...Tingkat Evolusi: 1...
Sambil melihat panel status hologram yang muncul di hadapanku, aku bingung dan terkejut.
Sebas sudah memiliki level yang sama dengan ku dalam waktu kurang dari sebulan. Spesies Humanoid? Bukan golem? Ini aneh. Dan kelas Brawler dan Juggernaut? Aku belum pernah mendengarnya sebelumnya.
Hmm, jadi levelnya sama dengan ku, dengan statistik yang lumayan kuat. Sepertinya aku tidak perlu terlalu khawatir. Mungkin aku meragukan kemampuannya terlalu banyak.
Eh? Jadi Sebas lebih kuat daripada Zara?
Aku terkejut dan sedikit terhibur dengan pemikiran itu. Sebas benar-benar berkembang dengan pesat dan memiliki potensi yang luar biasa.
Ngomong-ngomong, apakah seluruh NPC yang diciptakan memiliki level yang sama dengan penciptanya? Apakah aku bisa menciptakan golem NPC lagi seperti Sebas dan lainnya?
"Baiklah, jika begitu Sebas, aku mengerti dan mengizinkanmu pergi. Namun, ingatlah untuk pulang secepatnya setelah mengumpulkan informasi di luar. Jika mungkin, aku ingin kau membawakan peta dunia ini kepadaku, karena aku ingin melihatnya. Setelah kau pergi, jangan lupa menutup akses pintu masuk dungeon ini agar tidak diketahui oleh yang lain. Itu saja yang kuingin sampaikan, Sebas."
"Baik, ayah! Maafkan aku jika aku bertanya, tapi mengapa ayah membutuhkan peta? Bukankah ayah yang sudah hidup ribuan tahun, bahkan lebih dari itu, pasti sudah mengetahui seluruh dunia ini?" ucap Sebas dengan pertanyaan.
Aku pun merasa terkejut mendengar pertanyaan Sebas. Aku seakan tersedak dan berusaha menjawab dengan bijak.
"Ahekk, ahemm..."
Eh? Mereka semua mengira aku adalah naga yang berusia ribuan tahun?!!
Dalam kehidupanku sebelumnya, saat aku masih manusia, usiaku bahkan belum mencapai 25 tahun. Mau tidak mau, aku harus berbohong untuk mempertahankan citraku sebagai naga yang agung.
Tapi apa jawaban yang sebaiknya aku berikan agar masuk akal bagi mereka semua?
Aha! Aku punya ide!
"Uhumm," aku terbatuk.
"Sebas, aku membutuhkan peta karena aku telah tidur dalam waktu yang sangat lama di dunia ini. Sepertinya terjadi perubahan geologi yang drastis dan terakhir kali aku ingat peta dunia adalah saat pertempuran 'ragnarok' puluhan ribu tahun yang lalu," ucapku dengan penuh kebohongan, berharap Sebas akan percaya.
Semoga Sebas tetap diam dan percaya pada jawabanku. Hmmm...
__ADS_1
Dan setelah itu, Sebas bertanya lagi.
"Ayah, apa itu era 'Ragnarok'? Maafkan aku yang bodoh ini, ayah," ucap Sebas dengan nada sedih.
Ah, sial, dia terus bertanya.
Kalau begitu, hmm... Dari informasi yang kudapatkan setelah memakan prasasti, era Ragnarok adalah era di mana dewa dan manusia saling berperang, atau mungkin ada perang antara dewa itu sendiri. Ah, sepertinya begitu.
Yosh!
"Sebas, era Ragnarok adalah era puluhan ribu tahun yang lalu di mana terjadi perang antara dewa dan manusia," ucapku dengan ekspresi yang meyakinkan.
"Ah, jadi begitu, ayah! Pantas saja ayah kuat dan penuh dengan kebijaksanaan. Apakah ayah adalah salah satu dewa terkuat yang berhasil bertahan dari era itu hingga sekarang?" ucap Sebas dengan penuh kagum, matanya berbinar.
Hah?! Dia mengatakan bahwa aku adalah dewa yang penuh dengan kebijaksanaan? Omong kosong!
Aku saja takut dengan serangga, dan otakku dipenuhi dengan hal-hal yang abstrak setelah menjadi naga. Dan aku adalah dewa? Ini benar-benar omong kosong!
Apakah aku harus jujur dan memberitahukan kepadanya bahwa aku tidak sehebat yang mereka kira? Bahwa sebenarnya aku adalah manusia yang terjebak didalam tubuh naga yang bodoh?
Ah, tapi melihat kekaguman dan pengagumannya terhadapku, aku tidak ingin mengecewakannya...
Aku hanya mengangguk kepada Sebas.
Aku pun tidak ingin Sebas terus bertanya hal-hal aneh, jadi dengan cepat aku berkata, "Sudah cukup pertanyaannya!"
"Baik, ayah, maafkan aku!" ucap Sebas, menundukkan kepalanya, dan melanjutkan, "Baiklah, ayah, jika begitu, aku akan pergi meninggalkan dungeon."
"Hmm, kau pergi sendirian?" ucapku.
"Ya, ayah, aku tidak ingin membebankan yang lain, terutama adik-adikku," ucap Sebas.
"Tidak, aku tidak mengizinkanmu pergi sendirian. Kau harus bersama dengan adik-adikmu," ucapku tegas.
"T-tapi, ayah!" ucap Sebas dengan terkejut.
"Tidak ada tapi-tapian. Aku ingin kau memanggil seluruh adikmu kemari, dan aku akan menentukan siapa yang ikut denganmu. Mengerti, anak muda?!" ucapku dengan tegas.
"Baiklah, ayah. Kalau begitu, aku akan memanggil adik-adikku kemari," ucap Sebas dengan mengangguk.
Aku pun membalas anggukan Sebas. Dia adalah ciptaanku yang berbakti dan patuh, tapi keputusan ini adalah untuk kebaikannya.
Sebas bangkit dari posisi berlututnya, memberikan salam hormat, dan melangkah pergi untuk memanggil adik-adiknya.
Sambil menunggu, aku merasa penasaran dan ingin melihat perubahan pada keempat golemku. Ah, maksudku anak-anakku.
__ADS_1