
...***Sebas POV***...
Akhirnya, kami berempat berhasil memasuki kota manusia tanpa kendala . Aku melihat betapa ramainya kota ini, dipenuhi oleh begitu banyak manusia yang beraktivitas.
Berbagai bangunan megah tersebar di seluruh kota, dan kami melihat banyak orang saling berbicara, berdiskusi, dan mengerumuni sesuatu. Aku tidak sepenuhnya memahami apa yang mereka lakukan, tetapi kelihatannya itu adalah suatu hal yang penting bagi mereka.
kami berempat berjalan melewati kerumunan manusia yang ramai tersebut. Beberapa orang menoleh ke arah kami, mungkin karena kami terlihat agak berbeda dengan manusia rata-rata.
"kak Sebas, apa yang sebenarnya kita cari di sini?" tanya Aleister dengan wajah penuh kebingungan.
Aku berpikir sejenak sebelum menjawab, "Ayah mengatakan bahwa kita harus mencari informasi yang penting tentang kota manusia ini. Jadi, mari kita cari tahu segala sesuatu yang kita bisa."
Kami pun melanjutkan langkah kami, berjalan melewati kawasan pasar yang dipenuhi dengan berbagai macam barang dagangan. Aku mengamati setiap toko dan pedagang yang kami lewati, mencoba mencari petunjuk atau informasi yang berguna.
Namun, dengan begitu banyaknya aktivitas dan keramaian di sekitar, aku merasa sedikit kewalahan. Ternyata, menjalankan misi penyamaran di tengah kota manusia bukanlah hal yang mudah. Aku perlu beradaptasi dengan lingkungan ini dan mencari cara untuk tidak menarik terlalu banyak perhatian.
Hades dan Luna terlihat sama-sama kagum dengan segala hal yang mereka lihat di sekitar. Mereka berdua saling berbisik dan tertawa kecil sambil menunjuk-nunjuk berbagai hal yang menarik perhatian mereka.
Aku tersenyum melihat mereka berdua. Meskipun kita berada di lingkungan yang asing dan penuh dengan manusia, mereka tetap mempertahankan semangat dan kegembiraan mereka. Sepertinya mereka benar-benar menikmati petualangan ini.
Tapi, kami harus tetap berhati-hati. Aku tidak ingin terlalu lama berada di tengah keramaian ini tanpa mengetahui apa-apa. Aku harus segera menemukan informasi yang kita butuhkan dan kemudian meninggalkan kota ini sebelum ada yang mencurigai kami.
Dengan hati-hati, kami terus menyusuri kota manusia ini, mencari petunjuk yang dapat membantu kami dalam misi ini.
"Hmm.. Bau apa ini?" ucap luna.
__ADS_1
Luna yang ceria dengan cepat mengajakku dan kedua saudaraku lainnya mendekati tempat asal bau yang menggiurkan itu. Saat kami tiba di sana, terlihat seorang manusia yang sedang memanggang daging tusuk di atas api.
Aroma harumnya memenuhi udara, menggoda selera kami. Namun, Aku tahu sebagai makhluk ciptaan ayah yang agung,
Namun , aku tahu kami diciptaan oleh Ayah kami yang agung, tidak seperti manusia yang perlu makan untuk hidup, sebab kami diciptakan sebagai makhluk yang kuat dan tidak bergantung pada makanan. Kami seharusnya tidak membutuhkan makanan seperti manusia. Tetapi mengapa perasaan ini begitu aneh dan menarik perhatianku?
Namun, aroma daging yang dipanggang itu menarik perhatianku. Meskipun aku tahu bahwa makanan itu tidak akan memberikan manfaat bagi tubuhku yang telah diciptakan oleh ayah kami.
Luna dengan polosnya berkata, "Kak-kak, lihatlah itu! Aku mencium bau yang enak, kak! Marilah kesana!" Dengan gembira dan tak sabar, dia menunjuk ke arah tempat manusia itu berada. Aku pun memutuskan untuk mengikutinya. Kami berempat mendekati pemanggang daging tersebut dengan rasa penasaran.
Aku memperhatikan manusia itu dengan seksama. Mereka menggunakan api untuk mematangkan daging tusuk dan tampak menikmati makanannya dengan lahap.
Rasanya aneh, tapi mengapa aku ingin mencoba makanan itu?
"Hmm, sepertinya manusia menyebutnya 'makanan' ya," gumamku dalam hati. Perasaan campur aduk itu terus menghantuiku saat melihat daging tersebut, membuatku ingin mencicipinya. Ini adalah pengalaman baru yang belum pernah aku alami sebelumnya.
Mereka terlihat tertarik pada daging tusuk yang menggiurkan itu. Aku bisa saja mengabaikannya, karena sebagai ciptaan ayah, aku tidak memerlukan makanan untuk hidup. Namun, melihat mereka bersemangat dan tergoda, aku merasa tidak tega untuk mengabaikan keinginan mereka.
Aku mulai bergumam dalam hati, "Bolehkah aku memakannya dan mengambilnya? Tapi, aku harus membayar dengan uang, dan apakah ayah memperbolehkannya?" Sebas merenung sejenak, dan merasakan kebingungannya.
Sebelum Sebas mengambil tindakan apa pun, suara ayah tiba-tiba terdengar melalui [Message].
Dan aku mendengar suara ayahku, yang agung "Hmmm, Sebas, tampaknya kau lapar. Kalau begitu, mulai sekarang jika kalian ingin membeli sesuatu, pakailah emas yang telah kuberikan padamu."
Sebas terkejut mendengar suara ayah tiba-tiba muncul di dalam benaknya. Seperti yang diduga, ayah kami selalu mengawasi kami dengan penuh perhatian. Tanpa ragu, Sebas segera menjawab, "Baik, terima kasih ayah," sambil membungkuk hormat sebagai tanda penghormatan.
__ADS_1
Aku tidak heran, karena ayah kami yang agung selalu tahu segalanya. Tidak ada rahasia yang bisa tersembunyi darinya.
Setelah percakapan singkat itu, suara ayah menghilang dan kami kembali ke keadaan semula. Aku pergi ke tempat manusia yang menjual makanan tersebut dan membeli daging tusuk untuk kami semua. Ekspresi wajah adik-adikku berubah menjadi gembira saat mereka menerima makanan itu.
...****************...
Sebas dengan cepat pergi menuju pedagang daging sate tersebut. Pedagang tersebut menjelaskan dengan antusias, "Ah, silahkan tuan! Daging sate ini masih panas dan enak jika disantap saat masih panas." Sebas hanya mengangguk dan berpikir sejenak. Tanpa banyak bicara, sebas tampaknya ingin menguji nilai mata uang koin emas. Lalu, Sebas berkata kepada pedagang dengan tegas, "Baiklah, kalau begitu aku ingin membelinya dengan 1 koin emas."
Saat mendengar permintaan Sebas, pedagang sate terkejut. Ia berusaha jujur dan berkata, "Ah, tuan, itu terlalu banyak! Aku tidak memiliki stok daging sebanyak 1 keping emas tuan. Jika tuan mau, bisa membeli banyak dengan harga 1 keping koin perak saja." Sebas tetap pada pendiriannya dan berkata, "Aku tidak memiliki koin perak, jadi aku membelinya dengan 1 keping koin emas, sebanyak stok dagingmu saja. Ambillah kembaliannya."
Melihat sikap Sebas yang baik hati, pedagang tersebut kagum dan dengan senang hati menyiapkan pesanannya. "Baiklah tuan, tunggu sebentar, akan aku siapkan," ucap pedagang tersebut. Ia juga menawarkan Sebas untuk duduk sambil menunggu di meja yang telah disediakan.
Sementara menunggu, Luna, Hades, dan Aleister tidak sabar untuk mencicipi daging sate tersebut. Luna dengan penuh kegembiraan berkata, "Yay, akhirnya kita bisa menyantap daging ini!" Hades juga menambahkan, "Benar, aku juga tidak sabar!" Aleister, yang biasanya pendiam, hanya diam dan menunggu dengan sabar.
Sepuluh menit berlalu, dan akhirnya, hidangan daging sate yang mereka pesan dihadirkan oleh pedagang tersebut dan diletakkan di meja makan mereka. Hades dan Luna dengan cepat menyantapnya dengan rakus, tak sabar untuk menikmati kenikmatan daging sate itu. "Enaaak!" seru Hades dan Luna sambil terus mengunyah daging dalam mulut mereka.
Sebas memperhatikan Aleister yang tampak terdiam, kemudian dengan cepat memberi izin kepadanya, "Makanlah, Aleister. Ayah sudah mengizinkannya tadi." Aleister mengangguk patuh dan mulai memakan daging tersebut dengan perlahan, namun lama kelamaan ia juga ikut menyantap dengan cepat seperti kedua adiknya, Hades dan Luna.
Ketiga anaknya tampak sangat menikmati hidangan ini. Pedagang sate tersebut terkejut dan kaget melihat keluarga Pria bangsawan tersebut, terutama anak-anaknya yang makan dengan lahap seakan belum pernah makan sebelumnya. Lebih mengejutkan lagi, mereka bahkan memakan tusukan sate-nya. Pedagang tersebut menjadi terdiam melongo tak percaya akan pemandangan yang baru saja ia saksikan.
Sebas pun juga ikut menyantap hidangan tersebut dengan penuh kenikmatan.
Beberapa menit berlalu, mereka semua telah kenyang menyantap hidangan daging sate itu. Hades dan Luna pun mengelus perut mereka yang tampaknya kenyang dengan penuh kenikmatan. Aleister dan Sebas juga sudah merasa kenyang setelah menyantap hidangan tersebut.
Setelah makan selesai, mereka berdiri dan meninggalkan meja makan. Pedagang daging sate dengan cepat mengucapkan terima kasih atas kunjungan mereka, dan Sebas hanya mengangguk sebagai balasan.
__ADS_1
Lalu, mereka melanjutkan perjalanan misi mereka.