
Setelah mendengar penjelasan dari Vael, aku merasa terkejut. Mereka telah bekerja sama untuk memperluas dan merenovasi dungeon dalam skala besar hanya dalam waktu satu bulan.
Sungguh luar biasa!
Namun, ada satu pertanyaan yang terlintas dalam pikiranku. Mengapa Dia tidak ikut bergabung dengan saudara-saudaranya dalam proyek tersebut, terutama sebagai saudara tertua kedua setelah Sebas?
"Mengapa kau tidak ikut membantu saudara-saudaramu dalam memperluas dan merenovasi dungeon?" tanyaku penasaran.
Vael menjawab dengan ceria, "Jangan khawatir, Ayah. Aku sudah membantu mereka dalam proses tersebut. Kami bertiga sering bekerja sama untuk memperluas dan merenovasi dungeon, namun hari ini adalah giliranku untuk menjaga Ayah. Jadi, aku berhenti untuk meluangkan waktu bersama ayah pada hari ini."
"Setiap hari kami bergantian menjaga Ayah, dan tentu saja aku sangat senang berada di sisimu hari ini!" lanjut Vael dengan penuh kebahagiaan, sambil tubuhnya gemetar.
Mereka semua dengan sukarela bergantian menjaga dan mengurusiku saat aku tertidur. Bukankah ini terlalu berlebihan?
Namun, aku menyadari bahwa bagi mereka, aku adalah pencipta yang mereka kagumi dengan penuh rasa hormat.
Mereka melihatku sebagai sosok ayah dan Tuan yang harus dihormati dan dilindungi.
Meskipun aku hanya seorang manusia yang terjebak dalam tubuh naga.
Mau tidak mau, aku harus berperan sebagai ayah yang bijaksana bagi mereka. Aku tidak ingin mengecewakan mereka dan akan berusaha menjadi sosok yang pantas mereka hormati dan ikuti.
Aku mendengarkan penjelasan dari Vael dan semakin penasaran.
Aku bertanya, "Apakah Aleister, Luna, dan Julie ikut dalam proses memperluas dan merenovasi dungeon?"
Vael menjawab, "Sepertinya perkataan Kak Sebas benar, Ayah. Kak Sebas berpendapat bahwa Aleister, Luna, dan Hades tidak perlu ikut dalam penggalian dan ekspansi dungeon Ayah, karena mereka masih terlalu muda. Sebagai saudara tertua, Kak Sebas, aku, dan Karina yang bertanggung jawab dalam proses tersebut."
Aku terkejut dengan penjelasan itu. Aku hanya ingin tahu mengapa mereka tidak ikut, namun ternyata ada pertimbangan Sebas.
Aku melanjutkan pertanyaanku, "Berapa lama kalian bertiga bekerja dalam memperluas dungeonku setiap hari, dan kapan kalian beristirahat yang cukup?"
Aku melihat ekspresi kebingungan di wajah Vael. "Maaf, Ayah, tapi kami tidak pernah beristirahat. Kami bekerja tanpa henti, menggali, merenovasi, dan memperluas wilayah dungeon Ayah setiap hari. Bagi kami, itu adalah kebahagiaan karena kami dapat berguna bagi Ayah."
Aku merenung sejenak.
Mereka bekerja tanpa henti selama 24 jam nonstop setiap hari!
Aku terkejut dan merasa khawatir.
Di dunia sebelumnya, hal seperti ini bisa disebut sebagai kerja rodi atau kerja paksa dan bisa membuat seseorang dipenjara. Aku tidak ingin mereka mengalami perbudakan atau penindasan seperti aku dikehidupan sebelumnya.
Meskipun mereka adalah golem dan mungkin tidak merasakan kelelahan seperti makhluk hidup, aku tetap tidak ingin mereka bekerja tanpa henti seperti budak. Aku tidak ingin mereka kehilangan kebebasan mereka.
Hmm, sepertinya aku akan berbicara dengan Sebas.
Aku menyuruh Vael untuk memanggil Sebas ke ruangan ini. Dia segera pergi dengan cepat dan meninggalkanku sendirian di ruangan tersebut.
Aku memperhatikan pintu yang sangat besar dan mengagumi ukurannya.
__ADS_1
Sekarang aku sendirian di ruangan ini.
Pikiranku mulai melayang dan aku merasa penasaran untuk keluar dan melihat seluruh lantai dan ruangan yang telah direnovasi dengan besar oleh golem-golemku—atau lebih tepatnya, anak-anakku.
"Huaaa... Aku belum terbiasa memanggil mereka 'anak'," gumamku. Aku merasa haru dan gembira sekaligus dengan kehadiran mereka.
Tapi sekarang aku ingin keluar dari ruangan ini dan menjelajahi hasil renovasi yang telah dilakukan oleh anak-anakku. Aku berniat untuk berdiri dan pergi meninggalkan ruangan ini.
Namun, tiba-tiba ada ketukan di pintu.
Tok... Tok... Tok...
Aku sedikit terkejut dan heran.
"Siapa itu? Mengapa harus mengetuk? Mereka bisa saja masuk tanpa mengetuk," kataku.
Tiba-tiba, aku mendengar suara Vael dari luar. "Permisi, Ayah. Aku dan Kak Sebas ingin masuk," ucapnya.
Eh? Mereka sudah sampai?
Padahal aku baru saja menyuruh Vael keluar beberapa menit yang lalu. Cepat sekali!
Dalam hati, aku merasa agak lelah dengan peran sebagai ayah agung bagi mereka semua. Tapi aku harus menyemangatkan diriku sendiri. Ini adalah tanggung jawabku sebagai pencipta mereka.
"Yosh! Semangat, diriku!" kataku pada diri sendiri.
Aku mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan mereka.
Kedua pintu besar yang setinggi 15 meter itu terbuka lebar, dan aku melihat mereka berdua yang tampak kecil di hadapan pintu yang besar tersebut.
Aku terkesima melihat perbedaan ukurannya.
Sepertinya pintunya dapat terbuka dan tertutup secara otomatis tanpa perlu didorong atau ditarik. Teknologi yang canggih, sungguh menakjubkan.
Vael dan Sebas berjalan ke arahku, dan dengan perlahan mereka berlutut di hadapanku, meletakkan satu tangan di dadanya sebagai tanda penghormatan.
"Kami hadir, Ayah," ucap mereka berdua dengan penuh rasa hormat.
"Bagus. Aku ingin berbicara denganmu, Sebas, sebagai saudara tertua," ucapku.
Aku memandang Vael, dan sebelum aku ingin menyuruhnya pergi sejenak dari ruangan ini, tiba-tiba dia mengangguk kepadaku dan berdiri perlahan dari posisi berlututnya, kemudian meninggalkan ruangan ini.
Eh? Aku belum menyuruhnya pergi.
Apakah dia bisa membaca pikiranku?
Ah, tidak mungkin, karena aku memiliki kemampuan Anti-Skill yang mencegah hal seperti itu.
Entahlah. Yang penting, dia sudah keluar.
__ADS_1
Aku kini menatap Sebas yang masih berlutut di hadapanku dengan kepala menunduk.
Mengapa dia tidak menatapku? Apakah aku harus menyuruhnya mengangkat kepalanya untuk melihatku? Ya, sepertinya begitu.
Semua ini mengingatkanku pada era kerajaan di Eropa, dan aku sekarang merasa seperti seorang raja.
"Sebas, angkatlah kepalamu," ucapku dengan suara yang berat, memberi isyarat agar dia mengangkat kepalanya dalam posisi berlutut di hadapanku.
Sebas pun perlahan mengangkat kepalanya, memandangiku dengan tatapan yang penuh dengan rasa hormat dan pengabdian.
"Baik, Ayah. Apa yang ingin Ayah bicarakan dengan aku? Apakah Ayah tidak puas dengan kinerjaku? Jika begitu, aku akan bekerja lebih keras lagi, Ayah!" ucap Sebas dengan nada sedih.
"Ah, tidak, Sebas. Aku sangat senang dan bangga padamu, malahan. Aku telah mendengar tentang pekerjaanmu melalui adikmu, seperti yang kulihat di rumahku ini. Ah, maksudku rumah kita ini sekarang menjadi lebih indah," ucapku dengan senyum.
"Aku ingin berbicara tentangmu dan adik-adikmu," lanjutku.
"Adik-adikku?" ucap Sebas dengan raut wajah bingung.
Sebas merenung sejenak, mencoba memahami apakah Ayah marah dengan adik-adiknya. Namun, itu tidak mungkin karena Vael telah menyampaikan bahwa Ayah baru saja bangun dari istirahat panjangnya pada hari ini.
"Apakah ini mengenai pekerjaan mereka, Ayah?" tanya Sebas dengan kebingungan.
Aku mengangguk sebagai jawaban kepada Sebas.
"Ya, mulai sekarang kau dan adik-adikmu bisa berhenti bekerja untuk mengembangkan dungeon ini. Aku rasa sudah cukup dan kalian pasti lelah dan membutuhkan istirahat. Sampaikanlah pesanku kepada adik-adikmu," ucapku dengan tegas.
"T-tapi, Ayah! Apa gunanya menjadi seorang anak jika tidak bisa membanggakan Ayah sekaligus penciptanya? Kami semua ingin membanggakan Ayah dan menjadi berguna bagi Ayah di rumah ini! Dan a-a..........." ucap Sebas dengan protes yang berlebihan sebelum aku menjawabnya.
Aku mendengar jawaban yang berlebihan dari Sebas. Mengapa mereka selalu berlebihan seperti ini? Ah, ini benar-benar melelahkan.
Kesabaranku mulai habis dengan keras kepalanya Sebas, dan aku memperlihatkan sedikit kemampuan [Draconic Aura] yang membuat Sebas terdiam ketakutan.
"Cukup, Sebas! Aku tidak ingin mendengarnya lagi!" ucapku dengan tegas.
"B-baik, A-Ayah! M-maafkan Aku!" ucap Sebas dengan ketakutan, sambil berkeringat.
Sepertinya dia akhirnya diam sekarang. Aku pun menghilangkan skill [Draconic Aura] ku.
"Baiklah, jika kau sudah mengerti. Hanya itu yang ingin kubicarakan denganmu, Sebas," ucapku dengan suara tenang.
"Kau boleh pergi sekarang, Sebas," lanjutku.
"Baik, Ayah! Dan bolehkah aku meminta satu permintaan kepada Ayah sebelum aku meninggalkan ruangan ini?" ucap Sebas sambil berlutut dihadapanku, dengan kepala menunduk.
Hmm, permintaan?
Sebenarnya tidak masalah lagi, apalagi dia telah memberikan kontribusi besar pada rumahku ini. Aku bisa menganggapnya sebagai hadiah untuk seorang anak yang berbakti kepada orangtuanya, bukan?
"Baiklah, ucapkanlah apa yang kau inginkan, Sebas?" ucapku dengan rasa ingin tahu.
__ADS_1
Sebas pun mengangkat kepalanya dan menatapku dengan wajah datar, meski aku tahu dia pasti sangat senang sekarang.
"Aku ingin melihat dunia luar, Ayah" ucap Sebas dengan antusias.