
"Aaargh, sakit sekali!" teriakku kesakitan saat snake worm tetap memegang erat tubuhku dengan giginya yang tajam.
Aku berusaha keras untuk melepaskan diri dengan terbang dan berputar dengan cepat agar snake worm melepaskan gigitannya.
Akhirnya, snake worm terlempar dari tubuhku dan tergeletak di tanah.
Tanpa membuang waktu, aku segera menyerang dengan menggunakan kombinasi skillku, [HeadButt] dan [Tackle], langsung menuju snake worm yang terjatuh.
Dengan serangan yang kuat, aku berhasil membunuhnya. Tubuh snake worm tergeletak tak bernyawa di hadapanku. Rasanya seperti kemenangan yang manis.
Namun, saat kembali ke kenyataan, aku melihat sekelilingku dengan panik sambil menahan rasa sakit yang membara di tubuhku.
Aku tidak ingin melihatnya, tapi aku tidak bisa menghindarinya. Anak-anakku, yang telah berjuang bersamaku, sedang dimakan oleh snake worm.
Dengan suara yang renyah, snake worm itu memakan mereka satu per satu.
Rasa putus asa memenuhi hatiku, tetapi aku menekannya dengan kekuatan terakhir yang ada padaku.
Sekarang bukan saatnya untuk meratapi kehilangan. Aku harus tetap tegar dan melanjutkan perjuangan.
Aku tidak akan membiarkan pengorbanan anak-anakku sia-sia. Mereka telah melawan bersamaku dan sekarang adalah tugas dan tanggung jawabku untuk melanjutkan perjuangan ini dalam ingatan mereka.
Aku dengan cepat memerintahkan anak-anakku untuk membantu saudara mereka yang terluka dan menjaga jarak dari snake worm.
Aku juga menginstruksikan mereka untuk menggunakan skill [Headbutt]. Namun, sayangnya, reaksi mereka terlambat.
Snake worm berputar dengan cepat dan berhasil menangkis serangan Headbutt mereka.
Dalam sekejap, snake worm memakan satu per satu anak-anakku.
Aku terkejut melihat kecepatan dan kekuatan monster tersebut. Anak-anakku berjuang sekuat tenaga, tetapi ternyata snake worm terlalu kuat dan cepat baginya.
Itulah perbedaan yang jelas antara monster kelas rendah (Low Class) dan monster kelas menengah (Mid Class).
Aku menyadari bahwa meskipun aku telah menerima kekuatan dari tuan Calliga, pada dasarnya anak-anakku masih berada di tingkat rendah.
Aku menyadari bahwa kekuatanku sendiri mungkin tidak akan membuat perbedaan.
Lebih banyak anak-anakku yang dimakan. Mereka yang baru saja dilahirkan, kini telah mati ditelan oleh monster tersebut.
Aku merasakan keputusasaan dan kehilangan yang mendalam. Aku merasakan ketakutan yang mencekam hatiku.
Kembali, aku merasakan sesuatu yang pernah kurasakan sebelumnya.
Medan perang pertamaku, pertarunganku yang pertama. Tetapi, tidak, ini bukan pertempuran yang sama.
Kekalahan ini membuatku sadar akan kelemahanku dan kekuatan musuh yang sebenarnya.
Ketakutan merayap ke dalam diriku, membuatku meragukan kemampuanku untuk melindungi dungeon dan tuan Calliga.
Aku melihat pemandangan pembantaian di hadapanku.
Bagi snake worm, kami hanya merupakan makanan yang mereka buru untuk memenuhi perut mereka.
Tubuhku terluka parah dan darah terus mengalir. Aku merasa sangat lelah dan tidak mampu melawan mereka.
Ketakutan merayap di dalam diriku. Aku merasa takut, takut akan kegagalan dan mengecewakan tuan Calliga.
Air mataku tidak bisa terbendung saat aku memikirkan betapa lemahnya diriku sebagai pelayan tuanku.
Tiba-tiba, aku mendengar suara yang memanggilku.
Suara itu menanyakan apakah aku akan lari dari kenyataan. Tidak, aku tidak akan melakukannya.
Suara itu bertanya apakah aku akan menyerah dan mengecewakan tuanku. Tidak, aku tidak akan menyerah begitu saja.
__ADS_1
Suara itu kembali bertanya apakah aku ingin membuat tuanku bangga padaku. Ya, aku ingin itu. Aku ingin membuat tuan Calliga bangga akan keberadaanku.
Aku bersumpah untuk hidup dan melindungi tuan Calliga.
Dia telah menyelamatkanku, mengandalkanku, dan membutuhkanku. Aku merasa terhutang budi padanya.
Oleh karena itu, aku tidak akan lari lagi. Aku tidak akan melarikan diri dan mati sia-sia. Aku tidak akan ragu-ragu lagi.
Aku harus maju, melawan ketakutan dan keputusasaan. Aku harus melihat anak-anakku yang dimakan oleh snake worm dan tidak menjadi pengecut.
Aku harus membuang rasa takut dan mempertahankan kepercayaan.
Dalam keadaan yang penuh rasa sakit dan kelelahan, aku terus terbang menuju snake worm, tidak peduli dengan konsekuensinya.
Aku menggunakan tanduk dan taringku, melancarkan serangan dengan segenap kekuatanku.
Namun, snake worm dengan kecekatan menghindari seranganku. Ia bahkan mengeluarkan suara ceking aneh yang seolah mengejekku.
"SSiii.. SSII!!"
Tiba-tiba, snake worm menghilang dari pandanganku.
Aku tidak terlalu khawatir karena aku sedang terbang, tetapi tiba-tiba rasanya seperti tubuhku tertusuk jarum.
Rupanya snake worm menembakkan duri yang tajam ke arahku, namun untungnya hanya mengenai kakiku.
Dengan cepat, aku menghindari tembakan duri tersebut dengan terbang zig-zag.
Snake worm pun mulai kelelahan. Inilah saat yang kutunggu!
Dalam sekejap, aku terbang dengan cepat ke arahnya dan menggunakan tandukku untuk melancarkan serangan [Headbutt].
Tepat sasaran! Snake worm tertusuk oleh tandukku dan mengeluarkan jeritan yang mirip bahasa serangga. Tanpa ragu, aku segera menggigitnya dengan sekuat tenagaku.
Aku mendengar bunyi retakan, sayapku putus karena digigit snake worm, dan bagian belakang tubuhku terasa retak dan terluka parah. Tetapi aku bertahan.
"Aku tidak akan menyerah demi tuan Calliga!"
Kami saling menggigit dan berkelahi. Aku memberikan segala kekuatan yang kumiliki. Snake worm berteriak kesakitan.
Aku tidak mundur, terus menggigitnya dengan kuat. Namun, sedikit membosankan rasanya. Aku meludah daging yang ada di mulutku, menunjukkan rasa bosan atas perlawanan ini.
Dengan segenap kekuatanku, aku terbang sekuat yang bisa kugerakkan menuju tembok, sambil terus menggigit snake worm.
Namun, karena sayapku rusak, terbangku menjadi tidak stabil. Meski begitu, aku berhasil menghantam snake worm ke arah tembok sambil tetap menggigitnya dengan sekuat tenagaku.
Akibatnya, sebagian rahangku patah. Aku merasa kesakitan, tapi aku tidak menyerah. Aku terus berjuang demi tuan Calliga, melawan monster menjijikkan ini.
"SSiiiSSSIIIIII!!" teriak snake worm dengan kesakitan.
Gigitannya semakin melemah saat aku berhasil berputar tubuh dan melarikan diri dari mulutnya.
Tubuhnya bergelora secara liar, menandakan bahwa ia merasakan rasa sakit. Aku berharap bisa menembus inti monster ini, tetapi sayangnya, sebagian rahangku sudah patah.
Namun, aku berhasil melontarkan snake worm tersebut ke kejauhan. Tubuhnya melengkung dengan kesakitan.
Ini saat yang tepat! Aku memerintahkan anak-anakku untuk menyerang snake worm yang tersisa.
Mereka dengan gigih menggigit dan melancarkan serangan dengan kombinasi skill, akhirnya monster itu takluk.
Aku merasa kemenangan. Tubuhku terluka dan memar, tetapi ini kali pertama kami berhasil mengalahkan penyerbu.
Aku merasakan kelelahan yang begitu parah. Aku ingin tidur, meskipun sakit itu membuat tidur sulit.
Tubuhku terasa nyeri. Setelah memberikan instruksi terakhir kepada anak-anakku, aku roboh.
__ADS_1
Cairan tubuh mengalir keluar dari luka-lukaku. Aku merasa sial, bisa mati begitu saja. Bahkan jika aku menang, semuanya tidak akan berarti.
Namun, tiba-tiba mataku melihat sesuatu yang aneh. Itu adalah kulit molting tuan Calliga.
Dengan susah payah, aku mendekati kulit itu. Seperti yang kusangka, sebagai bawahan tuan Calliga, aku bisa menyerap sedikit sihir yang dipancarkan oleh kulit ini.
Ah, rasanya begitu hangat, seperti merasakan kehangatan tuan Calliga. Sihir yang lembut meresap ke dalam diriku.
Namun, meskipun begitu, ini masih belum cukup. Sihir pemulihan yang kubutuhkan masih kurang.
Lambat-lambat, kesadaranku mulai memudar dan aku tenggelam dalam kegelapan.
Lambat-lambat, kesadaranku... gelap... tenggelam...
"Hmm, apa-apaan ini? Mengapa ada banyak telur bertebaran di mana-mana dan ada kumbang kecil," terdengar suara tidak jelas di dekatku.
...Suara... Aku...
Tampaknya aku mengenalinya.
Suara... Tuanku...
"Di mana Zara?" ucap Tuanku Calliga.
"Tuan Calliga, apakah itu Tuan? Zara... Zara ada... Di sini... Tuanku..." ucapku, berusaha mempertahankan kesadaranku.
"Apapaan ini, ada banyak serangga dan telur yang aneh, dan mengapa gadis itu tidur memakai kulit moltingku, ah sial aku trauma, sebaiknya aku cepat pergi dari sini... Aarghhh!" ucap Tuanku Calliga, lalu berlari menjauh.
Aku tidak mendengar dengan jelas ucapan Tuanku, namun saat itulah aku mendengar sesuatu yang dilemparkan.
KRRINGG, benda-benda itu jatuh di kepalaku. Apakah ini... batu sihir?
Yah, ini pasti Tuanku Calliga yang memberikannya kepadaku sebagai hadiah atas kemenangan pertamaku melawan monster. Dan pasti Tuanku Calliga melemparkannya kepadaku agar aku menjadi pribadi yang mandiri.
Aku pun segera memakannya dengan cepat.
Nyom... Nyom...
Nyam...
Tubuhku dengan cepat pulih. Tidak ada keraguan.
Batu sihir ini mirip dengan yang aku terima ketika pertama kali bertemu dengan Tuanku Calliga.
Kemurniannya sangat tinggi, sebuah batu sihir kelas khusus yang dapat menyembuhkan bahkan dari ambang kematian.
Dengan rahangku yang patah, aku mengunyahnya dengan putus asa.
Krunchh.
Tubuhku sembuh. Keinginanku terpenuhi.
"Oh, Tuanku Calliga yang agung!"
"AAAHH, TUANKUUU, AKU SEMAKIN MENCINTAIMU!"
"AKU MENCINTAIMU, AKU MENCINTAIMU, AKU MENCINTAIMU!"
"Zara akan selalu bersamamu, menjadi pelayan setiamu"
"Tidak peduli apa jenis musuh atau hambatan yang ada, Zara akan melindungimu"
"AKU AKAN MELINDUNGIMU TUANKU, CINTAKU, SAYANGKU!"
"SELAMANYA DAN SELAMANYA, TUANKU YANG TERCINTA," ucap Zara, dengan wajah memerah beserta suara seperti orang gila, mengungkapkan rasa cinta dengan nada yang mesum.
__ADS_1