Dragon Lord System

Dragon Lord System
DLS - 125


__ADS_3

Aku memutuskan bahwa istirahatku sudah cukup. Dengan langkah bersemangat, aku berjalan ke meja rias yang megah, di mana sebuah cermin besar berdiri.


Di hadapan cermin itu, aku siap untuk mengenakan topeng penguasa agungku yang melelahkan.


Apa daya, menjadi seorang penguasa memiliki tanggung jawab besar, dan terkadang itu benar-benar melelahkan.


Tapi aku tidak bisa menghindarinya. Inilah peran yang aku pilih dan yang harus aku jalani.


Aku melihat diriku sendiri dalam cermin, sosok yang berkuasa dan misterius. Ini adalah identitasku yang harus aku pertahankan di hadapan dunia luar dan dirumah dungeonku.


Tapi meskipun lelah, aku tahu bahwa sebentar lagi aku akan meninggalkan rumah ini, tempat yang penuh dengan drama dan kebingungan ini.


"Yosh! Semangat, diriku!" ucapku dengan semangat yang tulus, memberi dukungan pada diriku sendiri.


Aku mengambil napas dalam-dalam dan dengan langkah mantap, aku meninggalkan kamarku.


Dan aku perlahan berjalan Ke arah pintu keluar kamarku dan membuka kuncinya dari dalam agar aku bisa keluar dari kamarku.


Klak..


Dan terdapat Kedua penjaga golem berbentuk kesatria manusia yang menggantikan penjaga insektoid, mereka muncul di pintu kamarku dengan tatapan penuh kebencian kepadaku.


Mereka segera menuduhku sebagai makhluk rendahan yang telah berani memasuki kamarku.


Tanpa memberiku kesempatan untuk menjawab, mereka langsung menyerangku, mengayunkan pedang mereka dengan kecepatan dan kemarahan yang mematikan.


Kling... Kling...


Dua benturan pedang mereka dengan kedua pedang besar yang kupegang menghasilkan suara nyaring.


Sialnya, aku segera menyadari bahwa kedua penjaga golem ini tidak bermain-main.


Mereka adalah pengawal setia rumahku, yang telah diprogram untuk melindungi dengan keras dan membunuh segala yang dianggap ancaman.


Saat kedua golem itu terus menyerang, aku harus segera memutuskan tindakan apa yang harus aku ambil.


Entah bagaimana, aku harus menghadapinya, baik dengan diplomasi atau kekuatan. Tapi aku tahu, tidak ada waktu untuk bernegosiasi.


Dengan cepat, aku melangkah mundur sambil mengangkat kedua pedang besar ku siap untuk berhadapan dengan kedua penjaga golem ini.


Kedua penjaga golem itu terus menyerangku tanpa henti, tetapi berkat latihan yang kuperoleh bersama Lithos, instingku untuk menghindar semakin membaik, membuatku semakin tak terkalahkan.


Serangan mereka terasa lamban dan tidak akurat, sehingga aku dengan mudah dapat menghindarinya.


Namun, semakin lama aku menghindar, semakin kesal aku merasa.

__ADS_1


Mereka hanya menghamburkan waktuku dengan serangan-serangan bodoh mereka. Akhirnya, aku memutuskan untuk mengakhiri pertarungan ini.


Aku berhenti menghindar dan membiarkan serangan mereka mengenai tubuhku.


Kedua pedang mereka menghantam dengan keras, menghasilkan suara dentingan besi yang kuat yang mengenai armorku.


Klak... Krak...


Dan tiba-tiba, aku mendengar suara retakan. Serangan mereka berhasil mematahkan pedang mereka menjadi dua bagian.


Mereka terlihat terkejut dan bingung, tidak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi.


Aku tersenyum puas didalam armor kepalaku.


"Kalian pikir kalian bisa mengalahkanku dengan serangan sembrono seperti itu?" ucapku dengan nada meremehkan, sambil menggertakkan kedua pedang besar yang masih utuh di tanganku.


Lalu aku melanjutkan "dan Apakah kalian sudah puas menyerangku, atau masih ingin melanjutkannya?" ucapku dengan nada tegas, memandang kedua penjaga golem yang terbungkam ketakutan.


Dengan perlahan, aku melepaskan helm armor yang melindungi kepalaku.


Wajah naga ku yang perkasa terungkap, dan saat mereka melihatnya, ekspresi ketakutan tergambar jelas di wajah kedua golem itu. Mereka gemetar dan tubuh mereka bergetar.


Mereka tidak pernah membayangkan bahwa mereka telah menyerang dan menghina tuan mereka sendiri.


Rasa ketakutan dan penyesalan melanda mereka saat mereka menyadari kesalahannya.


Dengan tegas, aku mengatakan, "Anggap saja kejadian ini tidak pernah terjadi."


Kedua penjaga golem itu masih terpaku dalam ketakutan, tapi perlahan mereka mengangguk dengan ragu, menandakan bahwa mereka mengerti.


Dengan hati-hati, mereka menarik diri dari pintu dan menjauh dari ku dan menjaga kembali pintu kamarku, masih dalam kebingungan atas apa yang baru saja terjadi.


Aku kembali ke kursi kerjaku yang megah di luar kamarku. Duduk dengan berat di sana, aku melihat sekeliling meja kerjaku yang penuh dengan berkas dokumen.


Dengan wajah yang serius, aku berdiri dari kursi megahku dan memerintahkan kedua golem yang tadi menyerangku. "Kalian berdua" pekikku dengan suara yang tegas dan keras, mencoba memecahkan kebekuan yang melingkupi mereka.


"Segera panggil Karina dan Gameciel ke sini! Ada urusan penting yang harus aku bicarakan dengan mereka"


Aku semakin kesal melihat kedua penjaga golem yang masih terpaku dalam ketakutan dan tak bergerak sedikit pun.


Mereka benar-benar tampak syok dengan kejadian tadi, ketika mereka tanpa ampun menyerangku dan hampir membahayakan nyawa mereka sendiri.


Sudah 2 menit berlalu aku perintahkan mereka untuk memanggil Karina dan Gameciel, namun mereka tidak sama sekali bergerak, itu benar-benar membuang waktu dan membuatku kesal.


"CEPAT! JANGAN BUANG WAKTUKU!" Teriakku dengan nada besar kepada kedua penjaga golem.

__ADS_1


Teriakan kerasku sepertinya akhirnya mencapai kedua penjaga golem yang ketakutan. Mereka segera menundukkan kepala dengan rasa hormat, berlutut di hadapanku, dan dengan gagap, mereka mengucapkan, "Ba-baik Tu-tuan!" Mereka berdiri dengan cepat, membuka pintu ruanganku, dan segera keluar dengan tujuan memanggil Karina dan Gameciel.


Dalam hatiku, aku merasa lega ketika mereka akhirnya pergi.


Mungkin ini adalah contoh bahwa sebagai penguasa agung, aku memang memiliki kekuasaan besar, tetapi juga harus menangani banyak tanggung jawab dan juga permasalahan yang muncul seiring berjalannya waktu.


Sementara mereka pergi, aku kembali duduk di kursi megahku, merenung tentang apa yang harus aku bicarakan dengan Karina dan Gameciel.


Setelah sepuluh menit berlalu, ruanganku yang berada di luar kamarku masih dipenuhi dengan berkas-berkas laporan mengenai dungeonku.


Melihatnya saja membuat kepalaku pusing. "Hehe, untung saja sebentar lagi akan pergi," gumamku, mencoba untuk tidak terlalu tertekan oleh tumpukan pekerjaan ini.


Tiba-tiba, ada ketukan lembut di pintu. Aku mengizinkan mereka masuk, dan dengan cepat, kedua penjaga golem yang kuperintahkan tadi masuk, diikuti oleh Gameciel dan Karina.


Mereka berempat berjalan mendekatiku dengan penuh hormat dan berlutut bersama di depanku.


Keempatnya terlihat serius dan siap untuk mendengarkan apa yang akan aku katakan. Dalam hatiku, aku merasa puas melihat loyalitas mereka, meskipun sebelumnya sempat ada insiden kecil.


Itu adalah salah satu alasan mengapa aku mempercayakan mereka untuk menjaga rumahku ketika aku pergi ke kota manusia.


Aku mengambil napas dalam dan bersiap untuk memberikan instruksi kepada mereka mengenai rencanaku.


Aku menyuruh mereka berdua untuk berdiri kembali dan mengambil tempat duduk di sofa yang berada dekat meja kerjaku.


Sementara itu, kedua penjaga golemku yang setia dengan cepat kembali ke pos mereka, menjaga pintu kamarku seperti biasa.


Aku yang sedang duduk di bangku kerjaku merasa sangat serius dan berpura-pura menatap tajam ke arah Karina dan Gameciel yang duduk di sofa di depanku.


Kedua wajah mereka tampak penuh tanda tanya, dan aku bisa merasakan bahwa mereka berdua ingin tahu alasan di balik keputusanku untuk pergi ke kota manusia.


Ketika suasana ruangan semakin hening, aku menggertakkan tenggorokanku dan dengan nada serius aku mulai berbicara, "Jadi, aku sebentar lagi akan pergi ke kota manusia bersama Sebas dan Lithos."


Karina tampaknya tidak dapat menahan rasa penasarannya lebih lama dan akhirnya mengangkat tangan dengan cepat seperti murid yang ingin menjawab pertanyaan di kelas.


Gameciel mendengarkan ucapanku dengan serius, wajahnya penuh dengan pemahaman.


Dia tampak seperti orang yang siap untuk menghadapi tugas baru yang akan kuberikan.


Di sisi lain, Karina tampak antusias dengan pertanyaannya yang tak sabar.


Namun, aku mengangkat satu tangan kananku dengan lembut, memberikan isyarat padanya untuk tidak bertanya lebih lanjut.


Dia menurutinya dengan penurutan yang patuh.


Aku melanjutkan dengan suara tegas, "Selama aku pergi ke kota manusia, tugas menjaga rumah dungeon dan mengerjakan pekerjaanku akan ada di tangan kalian berdua. Aku berharap kalian menjalankan tugas ini dengan baik, karena ini akan menjadi tanggung jawab besar."

__ADS_1


Mendengar ini, keduanya dengan tulus mengangguk dan berkata dengan kompak, "Ya, Kami Mengerti dan siap menuruti perintah Anda, Ayah."


Sebuah senyuman tipis muncul di wajahku.


__ADS_2