Dragon Lord System

Dragon Lord System
S3 - 95


__ADS_3

Sebas tiba di tempat yang sakral, lantai tempat ayahnya tinggal berada, yaitu lantai 10.


Namun, apa yang ditemui oleh matanya membuatnya terkejut tak terkira. Keseluruhan lantai 10 ini tampak penuh retakan dan rusak.


Retakan-retakan itu seperti luka yang menganga, mengisahkan serangan yang dahsyat dan mengerikan.


Dari jarak yang jauh, Sebas dapat melihat bolongan besar yang terbentuk, sepertinya akibat dari serangan yang sangat kuat.


Serangan tersebut seolah menembus beberapa lorong dan menciptakan kehancuran dalam skala yang mendalam dan mengerikan.


Tak membuang waktu, Sebas segera berlari menuju kamar ayahnya. Hati dan pikirannya berkecamuk dengan kekhawatiran akan ayahnya yang mungkin berada dalam bahaya.


Setiap langkahnya terasa seperti waktu yang melambat, semakin memperkuat gelisahnya.


Akhirnya, ia tiba di depan kamar ayahnya. Saat Sebas membuka pintu, pemandangan yang dia lihat benar-benar menghancurkan hatinya.


Kamar itu tidak lagi seperti tempat ayahnya tinggal. Seluruhnya hancur dan retak, seolah telah mengalami ledakan dahsyat.


Dalam kekacauan ini, pertanyaan yang mengemuka adalah siapa yang bertanggung jawab atas serangan ini dan di mana ayahnya berada?


Sebas merasakan tekanan semakin bertambah dan tekadnya untuk menemukan jawaban semakin kuat.


Dalam kepanikan, Sebas berpikir bahwa mungkin ada penyusup yang telah menyerang ayahnya.


Ia merasa cemas dan takut akan keadaan ayahnya yang mungkin terluka.


Tanpa ragu, ia berlari menuju lorong besar di lantai 10 dan berteriak memanggil ayahnya dengan suara panik.


"AYAH!" jerit Sebas dengan suara yang mencakar udara, mencari di mana pun tanda-tanda ayahnya bisa ditemukan.


Dengan cepat, Sebas membuka pintu-pintu menuju setiap ruangan megah di lorong itu.


Namun, dari puluhan ruangan tersebut, ia tidak dapat menemukan jejak ayahnya sama sekali.


Yang ia lihat hanyalah kekacauan dan kehancuran di setiap sudut ruangan, dengan retakan-retakan yang menghiasi dinding dan barang-barang yang tergeletak di lantai.

__ADS_1


Dalam kebingungannya, Sebas mencoba menghubungi adiknya, Vael, menggunakan [Message] yang dimilikinya.


Namun, tak ada jawaban dari Vael, yang semakin meningkatkan kecemasannya.


Jantungnya berdetak semakin cepat, dan kegelisahan melanda pikiran Sebas.


Ia merasa seperti terjebak dalam labirin kebingungan, mencari jawaban atas kehancuran ini dan keberadaan orang-orang yang dicintainya.


Dalam keadaan yang semakin suram, ia berlari-lari sepanjang lorong lantai 10, mencari petunjuk atau tanda-tanda yang dapat membawanya kepada ayah dan adiknya.


Dan di tengah kebingungannya, sebuah pemikiran tiba-tiba muncul di benak Sebas - hanya ada satu ruangan lagi yang belum ia periksa.


Itu adalah gerbang besar yang mengarah ke akses jalan pintas menuju dungeon kuno yang telah diciptakan oleh ayahnya sebelum Sebas bahkan diciptakan.


Tanpa ragu, Sebas berputar arah dan melaju dengan cepat menuju lorong besar yang membawanya ke gerbang tersebut.


Ia merasa tergesa-gesa, hatinya dipenuhi kekhawatiran untuk adiknya dan ayahnya.


Setelah beberapa saat, ia tiba di gerbang besar tersebut dan membukanya dengan cepat.


Namun, apa yang paling mencuri perhatiannya adalah pemandangan dalam ruangan itu sendiri.


Semua yang tersisa adalah reruntuhan, dan matanya tertuju pada lobang besar yang mengarah ke dungeon kuno yang pernah dibuat oleh ayahnya.


Kegelisahan dan pertanyaan bergelayut dalam pikiran Sebas saat ia berdiri di ambang pintu gerbang.


Ia merasa perlu untuk segera mengecek kondisi adiknya dan mencari tahu apa yang telah terjadi di dalam dungeon tersebut.


Dalam kebingungannya, Sebas menyadari bahwa lobang menuju dungeon kuno telah tertutup oleh puing-puing yang berceceran.


Sementara pemandangan yang pernah indah dalam ruangan ini sekarang berubah menjadi pemandangan hancur yang menyedihkan.


Dengan cemas, Sebas segera menghampiri adiknya yang berbaring lemas di tengah puing-puing.


Ia dengan lembut membangunkan Vael dari tidurnya yang penuh kelelahan, dan mata Vael tampak bengkak akibat menangis tanpa henti.

__ADS_1


Vael perlahan membuka matanya, dan tatapannya bertemu dengan saudara tertuanya, Sebas.


Air mata kembali mengalir dari mata Vael, mencerminkan kebingungannya dan rasa sakit yang ia rasakan.


Sebas merasa hatinya teriris melihat adiknya dalam keadaan seperti ini, dan ia memeluk Vael dengan lembut untuk memberikan dukungan.


Vael masih terisak sambil berpegangan pada Sebas.


Meskipun mereka dihadapkan pada pemandangan yang suram, Sebas berusaha untuk memberikan kekuatan dan keyakinan pada adiknya.


Saat itu juga Vael menyatakan dirinya lemah dan tidak mampu melindungi ayah mereka membuat Sebas semakin panik dan frustrasi.


Dia merasa dorongan emosional yang kuat, terutama ketika Vael terus menangis sambil mengulang bahwa ia gagal melindungi ayah mereka.


Rasa takut dan kekhawatiran pun semakin menguasai pikiran Sebas.


Dalam kebingungannya, Sebas merasa semakin tertekan dengan ketidakjelasan ini.


"Apa artinya semua ini? Apakah ayah benar-benar dalam bahaya?" gumamnya di hati.


Emosinya pun memuncak dan ia merasakan dorongan untuk mencari jawaban yang keras dari adiknya.


Dengan ekspresi wajah yang penuh emosi, Sebas menampar Vael dengan keras.


Suara "PLAK!" terdengar menghantam pipi Vael.


Meskipun tamparan itu keras, itu adalah ekspresi rasa putus asa dan ketidakpastian dari Sebas.


"Jawab aku sekarang juga, Vael! Dimana ayah dan apa yang terjadi dengannya?!" desak Sebas dengan nada tegas dan marah, sambil menatap Vael dengan mata penuh ketegangan.


Vael terhenti menangis, dan dia memegang pipinya yang merah dan bengkak akibat tamparan dari Sebas.


Tatapannya mulai fokus pada saudara tertuanya, seolah-olah melihat keterikatan dan keteguhan dalam ekspresi mata Sebas.


Meskipun dampak fisik tamparan itu terasa, lebih dari itu adalah dampak emosional yang mengguncang Vael.

__ADS_1


__ADS_2