
Mereka segera menyadari bahwa mereka telah berteleportasi, ketempat misterius ini.
Alex tampaknya cemas, frustasi, dan berkeringat dingin, dia dengan cepat berkata dengan nada putus asa, "SIAL! SIAL! SIAL! KITA HARUS KABUR DARI TEMPAT INI SECEPATNYA!" ucapnya dengan muka pucat kepada seluruh kawan-nya.
Seluruh Kawan-nya khawatir, karena Mereka tidak pernah melihat Alex begitu ketakutan sebelumnya.
"Alex, apa yang terjadi? Kau terlihat sangat ketakutan," ucap Zay dengan kepala sedikit condong.
Lalu, Rio mendekati Alex dengan perasaan khawatir yang tulus. Dengan lembut, Rio menyentuh bahu Alex dan berkata, "Kawan lamaku, apa yang terjadi? Katakan padaku apa yang kau lihat sebelumnya. kita semua ada untukmu."
Alex yang masih terengah-engah dan muka pucat mencoba mengumpulkan nafasnya sebelum akhirnya menjawab dengan terbata-bata, "An-anjing be-besar yang kita kalahkan tadi bukan boss dungeon ini."
Mendengar jawaban Alex, Mereka juga khawatir. Mereka tahu bahwa Alex tidak akan mengatakan hal semacam itu tanpa alasan yang kuat.
"Apakah kau yakin, Alex?" tanya Rio dengan tidak percaya, dan yang lainnya juga menganggukkan kepala setuju dengan pertanyaan Rio.
Alex hanya diam, tampak ketakutan dan kacau. Matanya memandang hampa, dan wajahnya yang berkeringat menunjukkan bahwa ia benar-benar mengalami trauma dari apa yang baru saja terjadi.
"Sialan, ini gawat," gumam Zay dengan khawatir.
"Sekarang bukan waktu untuk panik. Mari kita tetap tenang dan cari tahu apa yang terjadi di sini," ujar Rio dengan mantap, mencoba untuk menenangkan semua orang, termasuk dirinya sendiri.
"Tapi bagaimana kita bisa melawan boss dungeon yang sesungguhnya jika anjing besar saja sudah membuat kita kesulitan?" kata Lara dengan cemas.
"Kita harus mencari tahu lebih banyak tentang dungeon ini, mungkin ada cara untuk mengatasi kekuatan boss-nya," saran Tigris dengan bijaksana.
Rio yang khawatir dengan kawan lama-nya, Alex, menyuruh Tigris untuk menggunakan sihir penyembuhnya untuk menghilangkan Status debuff pada, Alex.
"Tigris, pakailah sihir Penyembuhmu untuk menghilangkan status debuff pada alex, cepat!" ujar Rio kepada tigris.
Dengan cepat, Tigris mendekati Alex dan menggunakan mantra penyembuhnya, "[Tranquil Purification]!" Cahaya lembut menyelimuti tubuh Alex saat mantra tersebut diucapkan.
[Tranquil Purification] - sihir yang mampu menghilangkan semua debuff pada sekutu dan memberikan ketenangan batin kepada sekutu.
Perlahan nafas Alex kembali normal, ketakutannya mulai menghilang, dan tubuhnya semakin pulih dari trauma yang baru saja dialaminya.
Cahaya yang menyelubungi tubuhnya menghilang, meninggalkan Alex dalam keadaan yang jauh lebih baik daripada sebelumnya.
Melihat kondisi Alex yang sudah jauh lebih baik, Rio merasa lega, karena melihat teman lama mereka pulih dari keadaan yang khawatir.
"Apakah Kau yakin Monster yang kita kalahkan tadi bukan Boss dungeon?, dan apakah Kau melihatnya dengan jelas, Alex?" tanya Rio dengan hati-hati.
Alex mengangguk mantap. "Sangat yakin. Monster anjing itu benar-benar terlihat hidup dan nyata. Tapi ketika aku membelah kepalanya, tubuhnya berubah menjadi batu dan pecah menjadi serpihan, Dan aku pun tidak mendapatkan permata Inti dungeon, Jadi bisa disimpulkan, Anjing Monster yang kita kalahkan adalah Golem dan bukan Boss dungeon!"
"Itu Mustahil! Monster anjing yang kita kalahkan begitu nyata sungguhan seperti Monster hidup, tidak tampak seperti golem! Mungkin Kau salah lihat Alex! " balas Viona dengan nada skeptis.
__ADS_1
Lara yang selama ini hanya mendengarkan dengan diam, ikut bersuara. "Tapi bagaimana bisa monster itu berubah menjadi batu dan retak seperti itu? Apakah ada kemungkinan itu adalah monster dengan kekuatan transmutasi atau sihir ilusi?"
Zay, yang ahli dalam ilmu sihir, mengangguk setuju. "Memang ada beberapa jenis monster yang memiliki kemampuan transmutasi atau sihir ilusi. Mereka bisa mengubah penampilan mereka untuk mengelabui musuh. Namun, itu tidak biasanya mereka berubah menjadi batu begitu saja. Aneh."
Sambil memainkan kumisnya, Rio menjawab mereka, "Hmm, kurasa Alex benar. Monster anjing yang kita kalahkan bukan boss dungeon. Seharusnya kita mendapatkan inti dungeon dan dungeon ini harusnya hancur. Namun, lihatlah, kita malah berteleportasi ke tempat ini, dan dungeon ini belum hancur. Jadi, ucapan Alex benar."
Viona masih sulit mempercayai apa yang terjadi, dan ia balas dengan ragu, "Ta-tapi ini tidak mungkin!"
Namun, Rio dengan sikap positif menjawab, "Sudah tidak usah khawatirkan hal itu, sekarang kita harus fokus mencari jalan keluar dari tempat ini!"
Semua anggota party mengangguk setuju dengan jawaban Rio. Dan mereka melihat sekeliling ruangan besar ini, mereka melongo melihat betapa luas dan indahnya tempat tersebut.
"Ruangan ini besar sekali," ucap Lara sambil terpukau melihat sekelilingnya.
"Dan cahaya di sini benar-benar berbeda dari tempat lorong sebelumnya," tambah Alex dengan tatapan penasaran.
Takhta singgasana yang berukuran sangat besar tampak berada di pusat ruangan ini, namun sesuatu yang aneh menarik perhatian mereka. Singgasana itu bukanlah singgasana untuk manusia, tetapi sesuatu yang jauh lebih besar dan menakutkan.
Mereka melanjutkan melihat sekeliling ruangan yang indah ini.
"Lihatlah, kawan! Ada takhta singgasana besar itu!" ucap Tigris sambil menunjuk ke arah takhta yang megah.
"Wow! Sungguh besar!" seru Lara, terkesima.
"Ini aneh, mengapa ada takhta sebesar ini di sini? Apakah ada makhluk besar yang menguasai tempat ini? Dan apa hubungannya dengan sekumpulan kumbang yang mewabah dihutan elysian masuk kesini?" tanya Viona, mencoba mencari jawaban.
Rio terus berpikir, "Dan jika dilihat dari kebesarannya dan keindahan, tempat ini seolah-olah kita berada di ruangan takhta para dewa. Mungkinkah kita menghadapi makhluk dewa di sini?" tambahnya dengan kebingungan.
Semua anggota party setuju dengan pernyataan Rio. Keanehan dan keindahan tempat ini membuat mereka semakin yakin bahwa tempat ini tidak bisa diciptakan oleh manusia biasa.
"Hei, hei, jangan berangan-angan terlalu jauh!" ucap Viona sambil mencubit pipi Rio, mencoba membawa kembali fokus mereka.
Rio dan kelima anggota party-nya saling bertukar pandangan, mencoba memahami misteri tempat tersembunyi yang mereka temukan.
Alex mencoba mencari jawaban dalam catatan sejarah yang ia ketahui. "Mungkin saja tempat ini sudah ada sejak zaman Pahlawan Cassius dan Raja Iblis Leonidas," ucap Alex. "Tapi, tentu saja ini tidak masuk akal. Takhta sebesar itu, tidak mungkin dimiliki oleh Raja Iblis Leonidas yang ukurannya hanya seperti manusia biasa."
Semuanya mengangguk, setuju dengan argumen Alex. Keberadaan takhta yang megah ini menunjukkan bahwa tempat ini adalah sesuatu yang luar biasa.
Viona juga memiliki pertanyaan yang membingungkan. "Mengapa kita berteleportasi ke tempat ini? Kau berkata tadi, Penguasa dungeon ini sudah tiada, bukan?"
Rio berpikir sejenak dan memberikan teorinya, "Menurutku, dungeon ini mengira kita sudah mengalahkan sub-boss, jadi kita diarahkan untuk berteleportasi ke tempat boss dungeon yang sebenarnya. Tapi untungnya, boss dungeon ini sudah tiada, dilihat dari umur bangunan tempat ini."
"hmm, teori yang masuk akal juga," ucap Lara.
"Kau memang hebat, Rio," tambah Tigris sambil memberikan tepukan ringan di bahu Rio.
__ADS_1
Lalu, mereka melihat pemandangan langit-langit ruangan ini, yang tampak seperti stadion melingkar dan dipenuhi dengan patung batu berbagai monster. Suasana di dalam ruangan besar itu terasa begitu magis dan misterius.
"Apa itu?" ujar Zay sambil menatap langit-langit atap ruangan dengan penuh rasa ingin tahu.
"Mereka begitu detil dan tampak hidup," ujar Viona sambil memandangi patung-patung di atas langit-langit.
"Apa ini tempat yang ditinggali oleh dewa atau sesuatu?" tanya salah satu anggota lainnya dengan heran.
"Entahlah, tapi yang paling mencolok adalah patung malaikat besar di tengah sana," ucap Rio, menunjuk ke arah patung malaikat raksasa dengan 3 pasang sayap yang memegang pedang besar dengan sikap yang tegap, yang seolah-olah menatapi mereka semua.
"Apakah itu sekumpulan golem?" ujar alex yang panik kembali.
Rio memandang ke arah langit-langit dan melihat sebuah patung batu yang menyerupai golem. Dengan cermat, dia merasakan tidak ada energi magis di sekitar patung tersebut.
"Sepertinya itu hanyalah patung batu dekorasi menyerupai golem, karena aku tidak merasakan kekuatan magis dari patung tersebut," jawab Rio dengan tenang.
"Ah, syukurlah! ternyata itu hanya patung dekorasi biasa," ujar Tigris dengan sedikit lega.
"Baiklah, waktunya kita cari jalan keluar dari tempat ini. Semakin cepat kita keluar dari tempat ini, semakin baik," ucap Rio.
Tak lama kemudian, mereka menemukan jalan keluar, Dan mereka tampaknya melihat kebelakang dan baru sadar terdapat pintu yang sangat besar yang nampaknya adalah Pintu keluar/masuk ruangan takhta ini.
mereka berniat ingin membuka pintu besar tersebut untuk keluar dari tempat ini, Dan Rio, memerintahkan mereka semua untuk membuka pintu besar tersebut bersamaan.
"Eeh? Apakah kau yakin kami bisa membuka pintu raksasa ini?" tanya Tigris.
"Tidak usah mengeluh! Apakah kau ingin terjebak dan mati kelaparan di tempat ini? Dasar bodoh!" balas Viona dengan nada ketus.
Namun, saat pintu raksasa itu bergeser sedikit, tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang memenuhi ruangan, dan tanah berguncang sedikit.
"Arah atas!" seru Alex, sambil menunjuk ke langit-langit ruangan.
Terlihat seketika patung malaikat besar yang sebelumnya hanyalah dekorasi di langit-langit mulai bergerak dengan gemuruh.
Mereka segera menyadari situasi yang semakin bahaya dan berusaha mencari jalan keluar dari ruangan tersebut.
"Apa yang terjadi?" tanya Rio, masih terkejut dengan perubahan tiba-tiba ini.
Tetapi sesuatu yang jauh lebih mengerikan sedang menunggu mereka.
Patung malaikat besar itu tiba-tiba meloncat dari langit-langit dan mendarat dengan keras di lantai ruangan.
Gempa kecil terjadi akibat benturan itu.
DUAR... Suara mendaratnya patung malaikat raksasa dengan 3 pasang sayap menggema di ruangan itu.
__ADS_1
Mereka terkejut melihat apa yang ada di depan mereka. Patung malaikat besar yang tadinya mereka kira dekorasi, kini menjadi Golem yang bergerak.