
"Grandor! Aku punya pertanyaan untukmu. Jika jawabanmu tidak sesuai dengan keinginanku, maka percakapan ini berakhir. Apakah kau mengerti?" ucap Calliga dengan nada tegas kepada Grandor.
Grandor yang berdiri di dekat Calliga menjadi gemetar dan menelan ludahnya. Dia dengan cepat menjawab, "Ba-baik, dewaku!"
Calliga menatap Grandor dengan pandangan tajam. "Kenapa kau menyerang kota manusia ini dan menghancurkannya?" tanya Calliga dengan suara yang penuh tekanan.
Grandor, dengan penuh hormat, menjawab, "Tuan! Saya tidak berniat menghancurkan kota manusia ini"
Grandor menjelaskan ia dan keluarga serta saudaranya terbang melewati kota ini dengan menggunakan sihir tak terlihat, terdapat seorang manusia yang menyerang saudaranya dari kejauhan.
Akibat serangan tersebut, saudaranya terkena serangan dan jatuh dari ketinggian dan terhempas ke kota manusia ini.
Grandor kemudian menyuruh keluarganya untuk menetap di dekat perbatasan hutan kota manusia yang sekarang sudah hancur ini, sambil menunggu dengan menggunakan sihir tak terlihat.
"Saya datang ke kota manusia ini untuk membantu saudara saya yang diserang oleh seorang manusia yang menyerupai magic caster," tambah Grandor dengan suara penuh kesedihan.
Grandor melanjutkan dengan air mata mengalir perlahan di pipinya.
"Namun, saudara saya berhasil selamat. Kami berdua, menyadari bahwa sosok manusia yang menyerangnya bukanlah manusia sejati, melainkan makhluk kristal yang sudah Anda kalahkan sebelumnya. Sayangnya, saudara saya akhirnya meninggal karena serangan yang kuat," ucap Grandor sambil terisak.
Calliga mendengarkan dengan hati-hati, dan saat ini dia merasa marah lagi. Dugaannya benar, yang membuat kerusuhan ini adalah Lithos.
Lithos sepertinya memiliki mata pasif yang dapat melihat/mendeteksi skill atau sihir yang tidak terlihat.
Lithos tentu saja dengan sengaja menembak seekor naga yang sedang terbang di langit dengan gabut, yang sedang lewat di atas kota ini yang sudah hancur total akibat pertarungan bodoh antara dirinya dengan grandor.
"Aku tidak tahu jika otak bodohnya hanya penuh dengan kekerasan dan kehancuran, tapi sepertinya iya," gumam Calliga dengan geram. Dia hanya bisa menghela nafas terhadap perbuatan Lithos.
Namun, Calliga juga merasa bersyukur kepada Lithos, karena pertarungannya melawan Lithos membuatnya bisa berevolusi.
__ADS_1
Jadi, Calliga sudah melupakan kemarahannya terhadap Lithos dan menganggap kota yang hancur ini sebagai harga yang pantas untuk hadiah evolusinya.
"Hmm, jadi kau memiliki saudara? Dan di mana dia berada sekarang?" tanya Calliga kepada Grandor.
Grandor mengucapkan dengan suara pelan, "Ya tuanku! Tetapi, sayangnya dia sudah mati." Sambil berkata demikian.
Grandor menunjukkan dengan kuku tajamnya ke arah tanah yang sudah tertutup oleh daging dan puing-puing yang dipenuhi dengan darah. Mayat saudaranya sudah tidak terlihat lagi.
Calliga segera menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh Grandor. Dia melihat sebuah ekor besar yang jauh melebihi ukurannya dalam wujud Dragonoid. Ekor itu sangat besar dengan sisik hitam yang sama seperti Grandor.
Calliga hanya melihat ekornya saja, berkat pandangan matanya yang luas. Dia tidak perlu menoleh, karena dia bisa melihat lebih jelas di kejauhan ada kepala naga yang terpisah dari tubuhnya.
Tidak hanya itu, seluruh tubuh naga itu juga terpisah dengan darah dan daging yang mengalir.
Dan pada tubuh saudara Grandor yang sudah mati terdapat sebuah lubang besar, dengan sedikit sisa kristal yang masih menancap dan menembus tubuhnya yang sudah tewas.
Calliga dengan pasti tahu bahwa ini semua adalah perbuatan Lithos yang tidak manusiawi saat menghabisi musuhnya.
Grandor melanjutkan, "T-terima k-kasih, tuanku! Dewaku! Telah m-mendengar doaku ini! Yang telah menyelamatkan anak bodohmu ini, Grandor! Jika t-tidak, tentu saja aku sudah mati seperti saudaraku. Sekali lagi, aku berterima kasih kepada anda! , Oh Supreme Being!" Grandor mengucapkan terima kasihnya kepada Calliga, sambil menangis dan merendahkan dirinya serendah-rendahnya, ia bersujud di hadapan Calliga.
Calliga hanya menyaksikan Grandor sambil teringat akan sesuatu.
Sekarang, ia memiliki dua skill yang sangat berharga baginya, yaitu kemampuan menyembuhkan dan membangkitkan orang mati dengan sempurna.
....
Calliga pun berniat menguji skill barunya untuk membangkitkan saudaranya Grandor yang sudah tewas mengenaskan.
Namun, ragu melanda Calliga saat melihat kondisi tubuh saudara Grandor yang benar-benar terpisah, seakan menjadi korban mutilasi.
__ADS_1
"Well, tidak ada salahnya mencoba, bukan?" gumam Calliga dengan suara yang penuh pertimbangan.
Dalam keraguan dan rasa ingin tahu menyelimutinya, Calliga berjalan dengan santay menuju mayat saudara Grandor.
Setiap langkahnya terdengar seperti guntur yang menggema di maghrib hari menjelang malam yang gelap.
Klak...
Klak...
Sebas, yang terkejut melihat ayahnya mendekati bangkai naga, bertanya dalam hati, "Apa yang sedang ayah lakukan?"
Sementara itu, Grandor masih berada dalam posisi bersujud di hadapan Calliga.
Wajahnya menatap tanah yang dipenuhi darah, sambil menangis tersedu-sedu, mengingat saudaranya yang sudah tewas.
Tanpa menyadari, ia tidak melihat Calliga, sang dewa yang perlahan menjauh dari hadapannya menuju mayat saudaranya.
Grandor merasa bahwa ras naga tidak lagi aman di dunia ini. Mereka tidak memiliki tempat yang aman, hanya bisa bersembunyi di dunia yang luas ini, takut akan pembantaian oleh manusia.
Grandor dan keluarganya, termasuk saudaranya, tidak berani menunjukkan eksistensi mereka di dunia luar. Mereka hidup sebagai nomaden, selalu menggunakan sihir tak terlihat agar tidak terlihat oleh manusia.
Dahulu, Grandor dan keluarganya berani menunjukkan diri mereka kepada umat manusia. Namun sialnya, saat itu mereka bertemu dengan petualangan peringkat tertinggi, yaitu seorang master.
Mereka hampir dibantai, tetapi beruntungnya mereka berhasil kabur dan selamat meskipun dengan banyak luka.
Sejak saat itu grandor trauma, Grandor tidak berani menunjukkan dirinya lagi kepada manusia.
Mereka hanya hidup dalam persembunyian, bersama keluarga tercintanya. Grandor menyadari bahwa jika ia mati, istrinya dan anak-anaknya akan terlantar di dunia yang kejam ini terhadap ras naga.
__ADS_1
Karena alasan itu, Grandor menjadi lebih hati-hati dalam tindakannya. Ia tidak ingin menelantarkan keluarganya jika ia mati oleh tangan manusia atau makhluk buas.