
Rio mengeluarkan pedang terkuatnya yang terbuat dari sisik naga, senjata legendaris dengan kekuatan pemotongan mutlak yang tidak pernah rusak.
dia mengarahkan pedang tersebut ke leher Karina, wanita iblis yang masih tergeletak di lantai sambil meraung kesakitan akibat air suci yang mengenainya.
"KYAAAAA!" Jeritan rasa sakit Karina bergema di seluruh ruangan karena dampak air suci yang menyentuhnya.
Sementara itu, Golem malaikat raksasa tampak khawatir dan mengucapkan, "Nona!"
Tetapi Rio tidak berhenti, dengan mata penuh kemarahan, ia bersiap-siap untuk mengakhiri nyawa Karina sebagai pembalasan atas kekejaman dan kejahatannya. Senjata terkuatnya siap untuk memenggal kepala iblis tersebut.
Rio saat itu juga berusaha langsung mengayunkan pedang nya dan menebas leher wanita iblis karina.
Ting.....
Rio terkejut bukan main saat melihat bahwa pedang terkuatnya yang terbuat dari sisik naga dan ayunan tercepatnya berhasil ditahan dengan mudah oleh Karina hanya menggunakan dua jarinya saja.
Rasa percaya diri Rio seakan sirna dalam sekejap, tergantikan oleh kecemasan yang mendalam.
"Kyaaaa!" teriak Karina dengan berpura-pura kesakitan lagi, tetapi kali ini dengan nada sindiran.
"Aaah? Apakah aktingku sempurna, serangga?! HAHAHAHA," ucapnya lagi sambil menertawakan Rio.
Golem malaikat raksasa tampaknya merasa lega melihat bahwa tuannya, Karina, tidak terluka sama sekali.
Sementara Rio, dengan wajah penuh ketakutan, merenungkan situasi yang dihadapinya. Ternyata, wanita iblis ini jauh lebih kuat dari yang ia perkirakan.
"Sialan, apa maksudnya dia menahanku dengan begitu mudah?" gumam Rio dalam hati, sambil berusaha mencari celah untuk melawan kembali.
Namun, Karina tampaknya tidak berniat untuk mengakhiri permainan ini begitu cepat. Ia berdiri tegak dan tersenyum licik, menciptakan distorsi ruang di sekitarnya yang membuat langkah Rio terasa berat.
"Kau mengira kau bisa membunuhku, manusia lemah?" tanya Karina dengan nada merendahkan.
"Kau sama sekali tidak sebanding dengan kekuatanku. Jadi, apa rencanamu selanjutnya, serangga?"
Dengan cepat wanita iblis tersebut mengambil paksa pedang nya rio. Dan ia langsung menendang Rio.
Duar!
__ADS_1
Rio, terpental jauh.
"Auughh"
saat itu juga ia mengenai tembok ruang takhta. Ia langsung batuk mengeluarkan darah dari mulutnya akibat terpental dengan cepat akibat ditendang karina.
Rio terdiam sesaat saat merasakan tubuhnya terbanting keras ke tembok ruang takhta.
Darah yang keluar dari mulutnya menandakan betapa dahsyatnya tendangan Karina.
"Hmm, Hey apakah aktingku sudah sempurna, Gameciel?!" ucap Karina, dengan nada puas atas aksi 'pertunjukan' mereka.
Golem malaikat raksasa dengan cepat menjawab, "Sangat sempurna, Nona! Dan sangat menakjubkan! Pelayanmu ini hampir saja percaya bahwa Nona akan dikalahkan oleh makhluk lemah tersebut," ucapnya sambil memandang Rio yang terpental di kejauhan ruang takhta.
Ternyata, Golem malaikat tersebut memiliki nama, yaitu Gameciel. Nama ini terungkap ketika dia merespons pertanyaan dari Karina. Meskipun ia adalah makhluk setia yang taat, Golem malaikat ini juga memiliki pandangan dan pendapatnya sendiri.
Karina menjawab dengan senang hati, "Kau terlalu memujiku, Gameciel. Ah, sebenarnya aku hanya menutup mulut dan mukaku dengan tanganku untuk menahan tawa. Aku sengaja ingin melihatnya kembali kehilangan semangat dan jatuh ke dalam keputusasaan."
"Ah, jadi begitu, Nona! Namun, menurut pelayanmu ini, itu sudah cukup untuk mengembalikan semangat manusia itu, meskipun hanya sesaat, dan sekarang Nona berhasil mematahkan semangatnya lagi dan membuatnya putus asa," balas Gameciel dalam posisi berlututnya dengan hormat.
"Benar! Ah, apakah kau melihat wajahnya kembali menjadi putus asa?! Betapa indahnya melihat pemandangan itu," ucap Karina dengan muka yang memerah dan tersenyum menyeramkan.
Karina mengamati pedang dari sisik naga yang dipegangnya.
"Hmm... Pedang dari sisik naga? Ini menarik," ucapnya sambil mengelus pedang tersebut dengan jari-jarinya yang halus. Terdengar senyum jahat yang terselip di bibirnya saat Karina merenung.
Dia merasa yakin bahwa pedang ini, meskipun berasal dari sisik naga, tidak akan mampu mengalahkannya. Baginya, manusia adalah makhluk lemah yang tidak akan pernah bisa menandinginya.
"Ah, betapa bodohnya manusia ini. Mengira pedang dengan sisik naga murahan dapat mengalahkanku," gumamnya dengan nada merendahkan.
Karina terbahak-bahak dengan keras, dan suara tawanya bergema di seluruh ruang takhta.
Dengan cepat, Karina menyimpan pedang tersebut ke dalam kantong dimensi miliknya yang disebut [Void-Storage].
Ia memandang Golem Malaikat bernama Gameciel yang setia berlutut di hadapannya, menunggu perintahnya.
Karina menguap bosan, merasa bahwa seluruh peristiwa di ruang takhta ini hanyalah sebuah hiburan murahan.
__ADS_1
"Hoamm, aku sudah bosan, sebaiknya aku kembali ke bawah dan cepat menghabisinya. Dan kau, Gameciel, kau bisa kembali ke tempat semula, tapi jangan sekarang, mengerti?" ucapnya dengan nada acuh tak acuh.
"Baik, Nona! Sesuai perintah Nona," balas Gameciel dengan hormat, berlutut di hadapan Karina.
Namun, ketika Karina berusaha untuk menghabiskan Rio yang ia yakini masih berada di dalam ruang takhta, ia kaget menemukan bahwa Rio sudah lenyap. Kepanikan mulai melanda diri Karina.
"Hahh?!" serunya dengan ekspresi terkejut, mencari-cari keberadaan Rio yang lemah yang berani menginjakkan kakinya di dungeon ayahnya yang agung.
Karina memeriksa dengan cermat seluruh ruang takhta, tetapi tidak menemukan jejak para penyusup maupun gerak-gerik Rio yang tadi berhasil kabur.
Tidak ada pintu terbuka atau celah sedikit pun. Begitu pula di depan gerbang raksasa, hanya ada mayat-mayat manusia yang terbelah menjadi dua akibat serangan kapak Hammer-nya.
Ia berjalan menuju bekas darah di dinding dan menghela nafas. Ia merasa aneh karena hilangnya Rio yang mengenakan pedang dari sisik naga tadi. Tiba-tiba, ia merasa gelisah dan cemas, takut.
Perlahan keringat mengalir di wajah Karina, menyiratkan kepanikan dan ketakutannya. "Tidak! Tidak! Kalau ayah tahu ini, ayah pasti akan Mengamuk!" gumamnya dengan khawatir.
Dengan cepat, dalam keadaan panik, Karina memanggil Gameciel. "Gameciel!" ucapnya dengan lantang.
"Baik, Nona?" balas Golem malaikat tersebut.
"Carilah serangga lemah yang kutendang tadi di seluruh lantai dan ruangan dungeon ayahku ini, cepat!" ujar Karina memerintahkan Gameciel dengan panik.
Gameciel, sang malaikat Golem raksasa, bingung dengan perintah aneh dari anak tuannya.
Saat itu juga, ia meminta izin untuk menoleh ke seluruh ruangan takhta tuannya, dan ia juga terkejut melihat manusia terakhir itu menghilang tanpa jejak dari ruangan takhta tersebut.
Dengan cepat, Gameciel mengangkat satu tangan raksasanya dan mengarahkan jari telunjuknya ke langit-langit ruang takhta, mengeluarkan suara bergema yang memenuhi seluruh ruangan.
"Kalian semua! Carilah manusia yang kalian lihat tadi! Di seluruh lantai dan ruangan dungeon Tuan Calliga! Cepat!" ujar Gameciel dengan suara yang menggema di seluruh ruang takhta.
Seketika itu, langit-langit ruang takhta yang melingkar seperti stadion dengan banyak patung berbagai bentuk monster mulai bergerak.
Kretek... Kretekk.. Kretek...
Terdengar bunyi kaku dari pergerakan banyak patung, namun lama kelamaan pergerakan mereka menjadi luwes dan lincah.
Banyak patung Golem dengan berbagai macam bentuk monster pun mulai meloncat dari langit-langit dan mendarat di ruang takhta yang megah, ada juga yang beterbangan.
__ADS_1
Suara raungan berbagai monster memenuhi ruangan saat seluruh Golem monster bergerak.
Gerbang raksasa terbuka dengan sendirinya, dan seluruh Golem monster pun keluar dari ruangan takhta, menyebar berpencar untuk mencari rio, yang tiba-tiba menghilang di ruang takhta. Maupun di dungeon kematian.