Dragon Lord System

Dragon Lord System
S3 - Lowly Insect "2"


__ADS_3

Sensasi bersin, gatal, mual, dan jijik bergulir dalam diriku seperti badai. Rasa gatal di hidungku semakin menjadi, seolah-olah kumbang-kumbang itu sedang berpesta di dalam tubuhku.


Aku merasa tidak bisa menahan bersin dan mualku lagi.


Aku mencoba berkata, "GA--" namun sebelum kata itu sempurna terucap, bersin kencangku terjadi, diikuti oleh mual yang tak terkendali.


"GAL!" aku bersin dengan keras sekali, bahkan tanpa sadar mengeluarkan skill [Fire Blast] dari mulut nagaku saat aku bersin.


Sekejap, seperti dalam anime epik, sinar kobaran api muncul dari mulutku, meluncur seperti Kamehameha, mengarah ke pintu takhta besar di kamarku.


Api membara dengan kekuatan yang mengejutkan, menggema seakan menghadirkan dunia distorsi.


"Buuuueghrr-Gruuuueeeegghhhhhhrrrrr!!!"


Ledakan besar mengisi ruangan, getaran gempa merasuki setiap inci ruang.


Suara ledakan bergema di dinding-dinding, mengisi ruangan dengan cahaya merah menyilaukan.


Duar!


Duar!


BOOM!!!


BOOM!!


Efek ledakan terasa menggetarkan seluruh area di sekitarku.


Dengan cepat aku menghentikan skill [Fire Blast]ku, menyebabkan asap panasnya memenuhi seluruh ruangan.


Asap tebal perlahan berangsur menghilang, memberi tahuku bahwa kebodohanku telah berlalu.


Namun, pandanganku tertuju pada ketiga mayat mengerikan yang mengapung di udara.


Seranganku yang tak terduga dengan [Fire Blast] telah mengubah ketiga mayat itu menjadi tumpukan abu dan bara yang hangus.


Seolah-olah mereka tak pernah ada, seperti mimpi buruk yang telah pupus dalam kobaran api. Ah, setidaknya aku tidak lagi harus melihat pemandangan mengerikan itu.


Namun, pandangan terakhirku tertuju pada pintu kamarku yang hancur berantakan.


Efek samping dari [Fire Blast]ku yang begitu kuat telah mengakibatkan pintu dan sebagian dinding lorong di luar kamarku ikut hancur, meninggalkan bolongan besar berlapis-lapis. Entah bagaimana aku akan menjelaskan ini kepada mereka.


Beruntunglah ketiga anakku, Vael, Karina, dan Luna, berada dalam posisi berlutut sehingga mereka terhindar dari semburan api [Fire Blast]-ku.


Aku mengamati kerusakan yang telah kuciptakan dengan kelalaianku ini. Pintu raksasa kamarku hancur berantakan, dan juga terdapat lubang besar pada pintu kamarku yang mengarah ke lorong.

__ADS_1


Sial... Ini Perlu waktu lama untuk memperbaiki semuanya...


Ah, tiba-tiba teringat beberapa serangga kumbang menjijikkan yang masuk ke hidungku.


Ternyata mereka pun menjadi korban semburan api [Fire Blast]-ku. Hehe.


Hmm, jika ku sadari, beberapa serangga kumbang menjijikkan tadi yang masuk ke dalam hidungku... berapa ya?


2? Tidak, lebih dari itu.


4? Tidak juga, aku merasakan lebih banyak lagi.


5? Aku yakin bukan 5. Hmm, aku merasakan dan menghitungnya tadi di hidungku. Sepertinya aku tahu...


"6 serangga," ucapku tanpa sadar, mencoba mengingat berapa banyak serangga yang masuk.


Baiklah, sekarang saatnya memberitahu mereka bahwa aku tidak sengaja bersin begitu keras.


Aku menatap ketiga anakku yang masih berlutut di depanku. Tapi, tunggu, mengapa mereka menundukkan kepala mereka lagi?


Sepertinya mereka masih terkejut dengan semburan bersinku yang tak terduga tadi.


Aku memandang mereka, terutama Karina, dengan harapan agar dia menjawab pertanyaanku. "Karina," ucapku, mencoba menarik perhatiannya.


"Karina," ucapku lagi, kali ini dengan nada sedikit lebih keras. Namun, sepertinya Karina masih tidak merespons.


Aah, mungkin pita suaraku bermasalah setelah aku mengeluarkan nafas api [Fire Blast]. Sebaiknya aku mengeraskan suaraku.


"KARINA!" ucapku untuk ketiga kalinya dengan suara yang keras hingga bergema di ruangan.


Tunggu, sepertinya terlalu keras...


Hmm, mengapa dia tetap tidak mau menatapku? Apakah dia marah atau hanya terkejut dengan semburan api tadi?


Apakah ada yang salah dengan diriku? Aku memandang tubuh nagaku dengan penuh pertanyaan, fokus pada tangan-tangannya yang dilengkapi dengan kuku tajam yang menakutkan.


Terlihat aura berwarna keemasan yang menyala memancar dari tangan-tangannya. Aku lalu melihat tubuhku sendiri, dan juga terkejut saat melihat aura berwarna keemasan pekat yang terpancar dari seluruh tubuhku.


Apa yang terjadi? Tiba-tiba terasa aneh.


Ah, barulah aku sadar.


Sepertinya aku tanpa sengaja mengeluarkan skill [Draconic Aura].


Skill ini memiliki efek untuk menakuti orang-orang di sekitarnya, dan yang lebih buruk lagi, skill ini termasuk dalam kategori skill friendly fire, artinya bisa melukai teman maupun kawan sekaligus.

__ADS_1


Seketika aku menyadari mengapa mereka tidak mau berbicara atau menatapku. Tidak heran mereka menghindar.


Tanpa ragu, aku cepat-cepat mematikan skill pasif [Draconic Aura]ku, dan perlahan aura berwarna keemasan yang sebelumnya besar di dalam tubuhku mulai meredup dan akhirnya lenyap.


Dengan gerakan cepat, aku menoleh ke arah ketiga anakku yang masih berlutut dengan kepala menunduk, memberi isyarat agar mereka berbicara dan menatapku lagi.


"Angkatlah kepala kalian dan bicaralah," ucapku dengan nada lembut.


Saat itu, hanya Luna dan Vael yang mematuhi perintahku dengan mengangkat kepala mereka. Namun, Karina tetap mempertahankan posisinya dengan kepala menunduk dalam posisi berlututnya.


Aku melihat wajah Luna dan Vael yang tampak berkeringat deras.


Apakah suhu di sini begitu tinggi? Ataukah ada yang lain yang menyebabkan mereka berkeringat demikian banyak?


Ah, tiba-tiba aku menyadari alasannya. Tentu saja, semburan skill [Fire Blast] tadi begitu panas sehingga menyebabkan mereka berkeringat dalam jumlah yang cukup signifikan.


Aku melihat Karina yang masih menunduk, hendak memerintahkannya untuk mengangkat kepalanya dan menatapku.


Namun, sebelum aku sempat berbicara, tiba-tiba suara Vael terdengar.


"Maafkan aku, ayah, jika ayah marah dan kesal kepada kami. Apa yang dimaksud ayah dengan 'gagal' dan '6 serangga'? Maafkan aku yang lancang bertanya dan bodoh ini, ayah!" ucap Vael dengan suara gemetaran, sambil bercucuran keringat dan menatapku penuh kekhawatiran.


Gagal dan 6 serangga? Apa maksudnya? Aku tidak bisa mengikuti alur pikirannya yang terlihat rumit. Bahkan pikiran naga ini terasa semakin lambat dalam memahami.


Aku merasakan kebingungan yang semakin menggelayut di dalam diriku.


Bagaimana aku harus merespons ini? Apa yang seharusnya aku katakan? Keringat dingin mulai mengalir di dahi, tidak hanya pada anak-anakku, tetapi juga pada diriku sendiri.


Namun, tiba-tiba, sebelum aku bisa mengeluarkan kata-kata, Karina mendadak bersujud di depanku.


Matanya tampak berkaca-kaca, dan suaranya yang terbata-bata penuh dengan ketakutan.


"Ma-maafkan a-aku dan a-ampuni ku, a-ayah! Aku telah gagal dan berbohong kepada ayah!" ucap Karina dengan suara tergetar, sambil gemetar dan bersujud dihadapanku.


Aku tercengang mendengar kata-kata Karina dan melihat tindakannya yang tiba-tiba.


HAAAHHHH??!!!


Apa yang dia lakukan?


Kenapa dia tiba-tiba seperti itu? dan memohon ampun meminta maaf kepadaku?


Segala kebingungan dan kekacauan berputar-putar dalam pikiranku.


Ini seperti berada di tengah-tengah teka-teki aneh yang tidak bisa kupahami.

__ADS_1


__ADS_2