Dragon Lord System

Dragon Lord System
S2 - Menuju Kota Manusia


__ADS_3

Mereka berempat melanjutkan perjalanan mereka dan akhirnya menemukan sebuah kota manusia yang ramai.


Sebas, dengan bijaknya, mengamati keadaan sekitar dan mengelus jenggotnya dengan penuh pemikiran. "Seperti yang kuduga, kota ini dipenuhi oleh manusia," ucap Sebas sambil merenung.


"Ayah pasti tahu persis berapa jumlah populasi manusia di sini dengan cepat, sedangkan aku hanya bisa memperkirakannya. Jika aku ingin menjadi seperti ayah, aku harus bekerja lebih keras lagi!" gumamnya dalam hati.


Sebas kemudian menatap ketiga adiknya. Hades dan Luna terlihat sangat antusias dan gembira melihat kota manusia ini. Bagi mereka, ini adalah pengalaman pertama mereka pergi keluar dari dungeon dan melihat pemandangan kota manusia yang begitu ramai.


Aleister, di sisi lain, menatap kota manusia tersebut dengan tatapan penuh keingintahuan. Sepertinya ia sangat penasaran dengan segala hal yang ada di dalam kota tersebut.


Mereka tak sabar untuk menjelajahi dunia manusia yang baru dan melihat apa yang dapat mereka temui di sana. Namun, mereka juga menyadari bahwa sebagai makhluk non-manusia, mereka harus menjaga kewaspadaan dan berhati-hati agar tidak menimbulkan kehebohan di antara penduduk kota.


"Baiklah kalau begitu, aku akan memberi laporan kepada ayah bahwa kami sudah menemukan kota manusia, dan agar ayah memberikanku arahan kepada kami. " Sebas pun mengucap "[Message]", dan memfokuskan pikirannya kepada ayahnya. Dan terdengar suara dari system.


"[Message]......."


"[Message]........"


Suara ayah mereka terdengar melalui skill [Message], menghubungkan Sebas dengan ayah mereka.


Hades, Luna, dan Aleister yang berada di sekitar juga ikut mendengarkan percakapan antara kakak mereka, Sebas, dengan ayah mereka.


"Hmm, ada apa, Sebas?" ucap ayah mereka dengan suara berat.


Setelah berkomunikasi dengan ayah mereka melalui skill [Message], suasana menjadi hening. Hades, Luna, Aleister, dan Sebas juga mendengar suara ayah mereka.


"Maaf mengganggu dan membuang waktu ayah, ayah, kami telah menemukan kota manusia di kejauhan," ucap Sebas dengan penuh hormat.


"Hmm, itu lebih cepat dari yang ayah kira," kata ayah mereka dengan sedikit kejutan.


"Baiklah kalau begitu, aku ingin kalian berempat menunggu hingga tengah malam lalu menyelinap masuk secara di-" ayah mereka belum sempat menyelesaikan perkataannya ketika Luna, yang mendengar ucapan ayahnya, tidak menerima dan langsung menyela.


"Papa, aku ingin masuk ke kota manusia dan melihatnya sekarang, papa! Aku mohon papa," ucap Luna dengan penuh semangat, memotong perkataan ayah mereka yang belum selesai.


Sebas, yang berdiri di samping Luna dan sedang berkomunikasi dengan ayahnya, melihat dan mendengar Luna yang memotong pembicaraan ayahnya. Hati Sebas dipenuhi kemarahan, dan ia menatap Luna dengan tajam. Ia ingin membentak adiknya yang kurang ajar karena telah berani memotong ucapan ayah mereka.

__ADS_1


Sebas memang tahu bahwa Luna adalah seorang gadis yang selalu manja kepada ayah mereka. Namun, ia berpikir bahwa Luna harus tahu batasannya. Dengan cepat, Sebas ingin membentak Luna dan memanggil namanya terlebih dahulu, "LU-"


Namun, sebelum Sebas sempat membentak Luna, ayah mereka menjawab. Suara ayah mereka menggema melalui skill [Message] yang masih terhubung.


"Hmmmm..." ucap ayah mereka, seakan tengah memikirkan masa depan mereka. Suara kehadiran ayah mereka melalui skill [Message] memancarkan kebijaksanaan dan otoritas yang khas.


Sebas pun terdiam, menahan kekesalannya. Ia mendengarkan arahan ayah mereka dengan penuh perhatian.


"Baiklah kalau begitu, dengarkanlah dengan baik. Aku mengizinkan kalian pergi, tapi ingat, jangan gunakan kekuatan atau sihir kalian secara terang-terangan, dan jangan menciptakan masalah. Mengerti?" ucap ayah mereka dengan suara yang serius, memberikan peringatan yang tegas.


"Hmm, dan aku ingin kalian berempat mengumpulkan informasi penting di kota manusia tersebut," lanjut ayah mereka dengan tegas. Permintaannya jelas, mereka diminta untuk menjadi mata dan telinga di kota manusia yang misterius tersebut.


"Mengerti, ayah," ucap mereka bertiga, Hades, Luna, dan Aleister, dengan penuh tekad.


Namun, Sebas tampak panik dan dengan cepat mengucapkan, "Me-mengerti, ayah!" Ia merasa terkejut dan sedikit tertekan dengan tanggung jawab yang diberikan.


"Baiklah, kalau begitu, berhati-hatilah," ucap ayah mereka dengan tegas sebelum memutuskan komunikasi melalui skill [Message].


"Baik, ayah! Aku akan memenuhi harapanmu!" ucap Sebas dengan tekad yang bulat. Meskipun ayah mereka tidak berada di dekatnya, Sebas merasa penting untuk tetap memberikan hormat kepada ayahnya dengan merendahkan kepalanya.


Kegembiraan Luna terpancar dengan jelas dari wajahnya saat mendengar bahwa mereka tidak perlu menyelinap masuk ke kota manusia, tapi bisa pergi dengan bebas sekarang juga tanpa menunggu lama. Namun, Sebas segera menegur Luna atas perilaku memotong ucapan ayah mereka sebelumnya.


"Luna, lain kali jangan memotong ucapan ayah, kamu tahu bahwa dia bisa sangat marah jika kamu melakukannya lagi. Mengerti?" ucap Sebas dengan serius, memberikan nasehat kepada adiknya.


Dengan raut wajah yang memelas, Luna menjawab, "Maafkan aku, kak." Sebas hanya mengangguk sebagai jawaban, menunjukkan bahwa dia telah memaafkan Luna. Namun, Sebas tidak ingin terlalu lama di situ, ia ingin segera melanjutkan misi mereka.


"Baiklah, kalian bertiga harus mendengarkan apa yang ayah katakan. Mulai dari sekarang, misi kita adalah memasuki kota manusia," ucap Sebas kepada tiga saudaranya dengan tegas.


Aleister mengangguk sebagai tanda pemahaman dan kesiapannya. Hades menanggapi dengan singkat, "Okay." Sedangkan Luna, dengan kegirangannya yang khas, melontarkan, "Horay!" mengekspresikan kebahagiaannya.


Mereka berempat pun berjalan menuju pintu masuk gerbang kota tersebut. Dan mereka melihat ada suatu penjaga pintu masuk kota tersebut.


Situasi yang sulit terjadi di depan mereka saat mereka mencoba memasuki gerbang kota. Penjaga gerbang meminta mereka untuk menunjukkan kartu identitas, agar diperbolehk masuk kekota manusia tersebut.


Sebas menjadi terdiam dan merenung sejenak. Dia menyadari bahwa mereka berempat tidak memiliki kartu identitas karena mereka bukanlah keluarga yang lahir, melainkan diciptakan. Dalam hatinya, Sebas bergumam dengan kegelisahan, "Ah, sial! Pantas saja ayah memerintahkan kami untuk menyelinap pada malam hari, dan kami tidak memiliki kartu identitas."

__ADS_1


Kesal dan penuh kekhawatiran, Sebas terus berpikir tentang solusi yang mungkin. "Apa yang harus kita lakukan? Tidak, apa yang harus aku lakukan? Jika tidak ada solusi, kita tidak akan bisa masuk ke dalam kota ini. Apakah aku harus menunggu dan menyelinap pada malam hari? Tapi ayah sudah mengatakan untuk masuk sekarang juga. Ah, semua ini terjadi karena Luna membuat rencana kita menjadi kacau." Gumam Sebas dalam hati, mencoba mencari solusi terbaik.


Sementara itu, tiga saudara lainnya, Hades, Luna, dan Aleister, melihat Sebas yang sedang berpikir dengan serius.


Mereka merasa cemas karena situasinya terlihat sulit. Namun, mereka mempercayai kakak tertuanya yang cerdas dan kuat. Mereka bersiap untuk mendengar rencana yang akan dia susun.


Sebas tahu bahwa ia harus menemukan jalan keluar dari masalah ini agar dapat melanjutkan misi mereka dengan lancar, agar tidak mengecewakan ayah mereka.


Sebas mulai berpikir cepat dan teringat dengan apa yang ayahnya katakan. Dia mempertimbangkan untuk menggunakan koin emas yang diberikan ayahnya kepada manusia agar mereka mengizinkan mereka masuk ke dalam kota.


"Mungkin memberi emas kepada manusia bisa membuat mereka mengizinkanku masuk. Tidak ada salahnya mencoba. Baiklah, aku akan menggunakan saran dari ayah," gumam Sebas dalam hatinya.


Dengan cepat, Sebas menyelipkan tangannya ke dalam jaket jasnya dan mengambil sebuah kantong berisi banyak koin emas dari dimensi penyimpanannya yang disebut [Void Storage].


Dia merasa perlu menyembunyikan kemampuan magisnya dan mengambil koin emas tersebut dengan tangannya. Ayah mereka telah memperingatkannya untuk tidak menggunakan sihir atau skill spesial di depan orang lain.


Tanpa ingin menunda lebih lama, Sebas mengambil sepuluh koin emas dari kantong tersebut dan memegangnya dengan erat di tangannya. Kemudian, dengan sigap, ia memberikan lima koin emas kepada masing-masing penjaga gerbang.


" Terimalah ini sebagai imbalan untuk kami masuk, karena kartu identitas kami hilang saat dalam perjalanan," ucap Sebas kepada para penjaga sambil memberikan lima koin emas kepada masing-masing dari mereka.


Para penjaga gerbang kota terpesona melihat Sebas memberikan lima koin emas kepada masing-masing dari mereka. Mereka dengan cepat menarik kesimpulan bahwa pria tua tersebut dan kelompoknya adalah bangsawan, mengingat pakaian indah yang mereka kenakan.


"Wow, Tuan! Ini terlalu banyak!" ucap penjaga gerbang pertama dengan terkejut.


Saat penjaga tersebut ingin mengembalikan koin emasnya, temannya, penjaga pengawal di sebelahnya, memberikan kode dengan tatapan tajam agar dia tidak mengembalikannya. Dengan enggan, penjaga tersebut mengikuti petunjuk temannya.


Tidak ingin koin emas dikembalikan, penjaga gerbang kedua dengan cepat berkata, "Ah, kalau begitu, silakan masuk, Tuan! Bersama keluarga Tuan." Dia berusaha sebaik mungkin untuk memastikan bahwa pria tua bangsawan (Sebas) masuk ke dalam kota.


Sebas merasa lega karena rencananya berhasil. Dengan memberikan anggukan kepada kedua penjaga gerbang tersebut, dia mengucapkan terima kasih dalam hatinya.


Kemudian, Sebas menyuruh ketiga adiknya untuk melangkah masuk terlebih dahulu. Dia merasa senang dan puas melihat mereka berhasil melewati penghalang pertama menuju kota manusia.


"Kalian bertiga, masuklah terlebih dahulu," ucap Sebas dengan lega kepada adik-adiknya.


Hades, Luna, dan Aleister pun melangkah memasuki kota.

__ADS_1


__ADS_2