
Namun, sebelum Calliga sempat memberitahu para Guardian tentang Evelyn, ia mengangkat tangan kanannya dengan gaya yang telah dia sudah sering berlatih diam-diam agar tidak terlihat berlebihan.
Dengan tanda yang memikat, ia menunjuk salah satu dari ribuan golem yang menggantung di langit-langit megah ruang takhtanya.
Langit-langit dalam bentuk stadion itu dipenuhi oleh golem-golem dengan beragam bentuk dan ukuran.
Mereka menciptakan pemandangan yang mengesankan, namun juga menakutkan. Golem-golem ini nampak hidup dan nyata, mata mereka terbuat dari kristal yang berkilauan seperti bintang-bintang malam yang indah.
Setiap golem memiliki mata permata berwarna-warni yang berbeda, menciptakan tampilan langit-langit yang dipenuhi dengan titik-titik bola orb yang menyala dengan keindahan serta aura yang menyeramkan.
Tentunya, kesetiaan dan ketundukan para golem tersebut kepada Calliga begitu jelas, sebagai cerminan kekuasaan yang ada di tangan sang pencipta mereka.
Golem yang ditunjuk oleh tuannya tampak bingung, dengan ekspresi campuran antara panik dan kebingungan.
"Eh? Mengapa tuanku menunjuk diriku ini? Apakah aku salah melihat?" Gumaman kebingungan merayap di benak golem tersebut.
Ia memiliki bentuk fisik seperti minotaur dengan sayap yang menyerupai kupu-kupu dan kaki yang panjang, mirip dengan boneka perempuan.
Golem ini adalah salah satu ciptaan abstrak Calliga, hasil dari eksperimen abstrak yang dilakukan saat pembuatan dungeon, pada saat yang dulu tidak ada NPC hidup di rumahnya.
Namun, para golem lainnya segera menggunakan telepati untuk memberitahu golem yang ditunjuk bahwa ia adalah yang dipilih oleh sang Agung.
"Kau ditunjuk oleh Sang Agung!" ucap salah satu golem lain yang berdiri di dekatnya, dengan nada iri yang tidak terlalu tersembunyi dalam pesannya.
Golem minotaur tersebut dengan cepat menyadari perhatian tuannya, dan dengan cermat ia menoleh ke kiri dan kanan, memeriksa reaksi saudara-saudara golemnya yang semakin tidak sabar.
Golem minotaur yang masih terkejut menjawab, "Hah? Jangan bercanda bodoh! Mengapa tuan memilih diriku yang tak berguna ini?"
Tidak berapa lama, golem lain salah mengartikan dan menyahut dengan frustrasi, "Cih! Apakah ini artinya aku tak berguna karena tidak ditunjuk oleh sang Agung? Sialan kau! Sombong sekali kau ini! Lihat saja nanti!"
Sementara golem-golem itu terlibat dalam adu kata yang semakin memanas melalui telepati, Calliga yang duduk di takhtanya masih menunjuk golem minotaur abstrak dengan kuku tajamnya.
Calliga kemudian menggerakkan kuku tajamnya maju-mundur, mencoba memberi isyarat kepada golem abstrak tersebut untuk mendekatinya di depan dihadapan singgasana-nya.
Kedua golem yang masih tengah terlibat dalam adu mulut semakin tenggelam dalam perdebatan mereka yang panas.
Mereka tampaknya tidak memperhatikan instruksi sang tuan, yang terus menunjuk ke golem minotaur di langit-langit stadion takhta, mencoba mengisyaratkan bahwa ia harus mendekat dan menghadap padanya.
Dilain sisi, Calliga yang berusaha mempertahankan kesan ketenangan di depan golem-golem yang seakan tidak peduli, merasa kesal dan malu dalam hatinya.
"Ini memalukan sekali! Mengapa mereka tidak datang kepadaku? Sial, aku seharusnya memanggil mereka saja! Tapi sepertinya sudah terlambat," renungnya dengan frustrasi.
Namun, Calliga yang sebelumnya berpura-pura keren dengan tangan kanannya masih menunjuk golem minotaur di langit-langit takhtanya, akhirnya berinisiatif untuk memberikan batuk keras yang terdengar di seluruh ruang takhta.
"AHEK... AHEMM!" dengan sengaja ia memberi batukan kencang, menarik perhatian kedua golem yang tengah bertengkar.
Kedua golem itu terkejut dan segera berhenti berdebat, fokus pada suara isyarat tuan mereka.
Mata mereka tertuju pada jari tajam Calliga yang menunjuk salah satu dari mereka, mengisyaratkan untuk mendekat.
Golem minotaur, yang sebelumnya tercengang, akhirnya menyadari bahwa dirinya yang ditunjuk dan dipanggil oleh tuan penciptanya.
__ADS_1
Golem minotaur abstrak tampak terkejut dengan panggilan tuannya.
"Apakah ini kenyataan? Jadi tuan sungguh memanggil diriku ini?!" ucapnya dengan gemetar, begitu juga dengan rasa girang yang tulus.
Golem didekatnya langsung melemparkan kritik pedas, "Ya, bodoh! sudah kubilang daritadi bukan?! Kau ini benar-benar dungu! Cepat! Supreme one, sudah memanggilmu tolol! Jangan buang waktu berharganya! Sang Agung menunggumu!" Teriakan itu dipancarkan dengan frustrasi melalui telepati.
Golem minotaur, meskipun masih penuh dengan keraguan, dengan cepat mengepakan sayapnya dan mendarat di hadapan Calliga.
Dengan gemetaran, ia segera berlutut dengan penuh hormat di hadapan tuannya yang agung. Calliga menurunkan tangan kanannya dan bersandar kembali di tumpuan takhtanya yang megah.
Tak lama setelah instruksi Calliga, golem yang besar berdiri tegak di hadapannya. Golem itu tampaknya hidup, dengan matanya yang berkilauan dan postur gagah.
Meskipun pada awalnya merasa ragu, golem tersebut mengikuti perintah tuannya dengan setia.
Dengan wibawa dan kekuatan, Calliga berkata, "Kau.... Angkutlah manusia yang tak sadarkan diri itu keluar dari ruang takhta -ku, jika bisa secepatnya."
Instruksinya disampaikan dengan ketegasan, dan golem itu menerima tugasnya dengan semangat, bahkan meskipun dia merasa cemas.
"Ba-baik, Tu-tuanku yang A-agung!" Golem itu menjawab, gemetar tapi penuh kehormatan.
Baginya, mendapatkan panggilan langsung dari tuannya adalah sebuah kehormatan yang besar.
Setelah menerima izin Calliga, golem itu berdiri dengan hormat di hadapan penguasa gelap.
Dengan penuh pengabdian, ia berkata, "Kalau begitu, izinkan hamba untuk menjalankan tugas yang anda berikan, Oh supreme one!" Sebuah gelar yang mencerminkan kekuasaan besar Calliga.
Calliga hanya mengangguk sebagai respon terhadap permohonan golemnya.
Kemudian, golem itu bergerak mendekati Evelyn dan stroller bayinya dengan hati-hati, siap menjalankan perintah tuannya. Namun, takdir memiliki rencananya sendiri.
Suara "Bam!" dan "Duar!" mengisi udara, sementara debu dan puing-puing menutupi ruang takhta, selain itu terjadilah cahaya yang terang berkilauan menyilaukan mata menutupi ruang takhta.
"Apa yang terjadi?" gumam Calliga dengan kebingungan yang mendalam.
Tidak hanya calliga yang bingung, para guardian yang berkumpul di hadapannya juga tidak bisa menyembunyikan kebingungannya menghadapi kejadian tak terduga ini.
Ketika sinar cahaya yang begitu terang menyelimuti seluruh ruang takhta, mata Calliga dan para guardian terpaksa terpejam.
"Terang sekali," kata Calliga dengan nada heran, sementara mereka menunggu cahaya itu meredup.
Saat cahaya meredup dan debu asap mulai mengendap, terdengar suara yang tak dikenal oleh semua yang hadir di ruang takhta tersebut.
Suara itu tajam dan mengandung ketidakpuasan yang mendalam.
"Menjijikan sekali, Beraninya kau makhluk rendahan menyentuh diriku ini dengan tangan najismu," ucap suara misterius itu, seperti suara perempuan yang berasal dari arah gerbang raksasa ruang takhta.
"Suara siapa itu?"
Dalam gemuruh kebingungan, seluruh guardian dan Calliga memandang ke arah sumber suara tajam tersebut.
Di hadapan mereka, muncul sosok perempuan yang menakjubkan. Dengan sayap keemasan yang memancarkan cahaya dan lingkaran Halo di atas kepalanya, sosok tersebut mirip seperti malaikat.
__ADS_1
Rambut pirang yang berkilauan dan mata biru yang tajam menambah pesona malaikat itu. Pakaian putih keemasan yang dikenakannya menyerupai vael dan gameciel.
Namun, pandangan mereka juga terjatuh pada serpihan-serpihan batu logam yang tersebar di sekeliling sosok malaikat misterius ini.
Para guardian dan calliga segera menyadari bahwa serpihan-serpihan itu adalah sisa-sisa tubuh golem minotaur yang sebelumnya diperintahkan oleh Calliga untuk mengangkut Evelyn.
Tubuh golem yang hancur berkeping-keping menandakan kematian yang tak bisa dihindari, mungkin oleh tangan sang malaikat.
"Malaikat? Darimana dia bisa datang kemari?" gumam Calliga dengan rasa kebingungan yang mendalam.
Ia mencari-cari keberadaan manusia yang bernama Evelyn, namun tak menemukannya. Pandangannya berkeliling ruang takhta yang begitu gelap, namun tak ada tanda-tanda Evelyn yang tak sadarkan diri.
Namun, yang membuat Calliga semakin bingung adalah ketika ia melihat status nama di atas kepala malaikat tersebut.
Tertera jelas [Lyriel/Evelyn]. Itu adalah status nama ganda yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Evelyn dan Lyriel, dua nama yang terhubung dalam satu sosok. Pikiran calliga penuh dengan pertanyaan, ketika Calliga mencoba memahami arti dari status nama tersebut.
Malaikat yang memiliki nama manusia di dalam statusnya menimbulkan banyak pertanyaan. Siapakah Lyriel? Apa hubungan antara Evelyn dan Lyriel? Dan, yang lebih penting, apa yang malaikat itu lakukan di sini?
Semua pertanyaan itulah yang tercantum diotak calliga sekarang.
Para guardian yang berlutut di hadapan tuan mereka, Calliga, merasa kebingungan yang sama.
Mereka tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan kemunculan sosok malaikat ini dan menghilangnya Evelyn, manusia yang sebelumnya yang telah berani menghina tuan mereka.
Namun, ketakutan mereka akan kemarahan Calliga melampaui segalanya. Mereka masih mengingat peristiwa saat Diabolantis, sang guardian lantai 9, dibentak oleh tuan mereka.
Tak ada yang ingin berakhir seperti itu, jadi mereka hanya menatap malaikat dengan perasaan cemas, menunggu perintah tuan mereka.
Mereka tidak tahu apa yang sebaiknya mereka lakukan, sementara mereka harus tetap taat pada perintah tuan mereka, termaksud ke-7 anaknya.
Malaikat yang bernama Lyriel tampaknya tak puas hanya dengan menghancurkan golem ciptaan Calliga.
Dia menoleh ke segala arah ruang takhta Calliga, merasa dirinya lebih kuat daripada para guardian yang hadir.
Dengan nada sinis, Lyriel menyampaikan, "Hmm... Tempat yang dipenuhi makhluk kotor menajiskan, tidak seperti domain tuan-ku."
Tatapan tajam dan penuh kebencian dari para guardian yang berkumpul di ruang takhta Calliga langsung menghujani malaikat tersebut.
Mereka merasa marah dan tersinggung oleh kata-kata Lyriel yang menghina tempat yang menjadi kediaman pencipta mereka.
Namun, sorotan utama pandangan Lyriel adalah Calliga, sang penguasa dungeon.
Kedua mata mereka bertemu dalam tatapan tajam, dan Lyriel tercengang oleh apa yang dia lihat. Seolah-olah dia tidak bisa mempercayai apa yang tengah terjadi di hadapannya.
"Tunggu! Iblis primordial? Tidak! Tidak! Bukan itu! Aku masih ingat denganmu! Tapi ini mustahil!" Lyriel terkejut, suaranya penuh dengan kebingungan ketika dia menunjuk Calliga yang duduk di singgasananya.
"Tapi bagaimana bisa?!" Lyriel mengeluarkan suara frustasi, matanya menatap Calliga dengan intensitas yang luar biasa.
Calliga, yang semakin bingung dengan reaksi malaikat bernama Lyriel, hanya bisa menggumam dalam hatinya.
__ADS_1
"Mengapa dia menunjuk diriku dan melihat diriku seolah-olah dia telah mengenaliku?"
Misteri semakin dalam, dan pertemuan antara Lyriel dan Calliga menciptakan teka-teki yang semakin membingungkan.