
Evelyn dan pelayan wanita melanjutkan perjalanannya melalui koridor yang megah ini. Keindahan dan kemewahan istana ini benar-benar memukau Evelyn.
Tidak hanya ruang koridor yang luas dan indah, tapi juga strolley bayi yang dia dorong, yang tampaknya bahkan lebih mewah daripada kasur di mana dia baru saja bangun.
Semua ini membuat Evelyn semakin tercengang oleh kekayaan pemilik istana ini.
Dengan hati yang penuh rasa ingin tahu dan ketidakpastian, Evelyn terus berjalan bersama strolley bayi itu, yang isinya adalah bayi kecilnya yang tidur dengan nyenyak.
Pelayan wanita yang tetap di depannya menjadi panduannya dalam tempat yang tampaknya tak berujung ini.
Pertanyaan-pertanyaan melintas di benak Evelyn, tetapi di tengah keindahan istana ini, dia merasa seperti dia sedang dalam dunia dongeng.
Evelyn mengikuti Naomi dengan rasa penasaran yang tumbuh di hatinya. Di tengah koridor megah dan luas ini, ia berbicara kepada Naomi, yang tampaknya sangat mahir dan akrab dengan lingkungan istana ini.
Evelyn memutuskan untuk mengajaknya berbicara.
"um... Naomi-san, apakah ini tidak mengganggu pekerjaanmu? Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi dan mengapa aku dan bayiku berada di sini," tanya Evelyn dengan hati-hati.
Naomi tersenyum hangat, "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, ikuti saja aku, oke?"
Saat mereka melanjutkan berjalan, Evelyn melihat pelayan lain yang dengan gembira membersihkan koridor dan melakukan tugasnya.
Meskipun mereka adalah pelayan, semangat dan senyum di wajah mereka menunjukkan bahwa mereka dengan senang hati melaksanakan pekerjaan mereka.
Semuanya tampak begitu bahagia dalam lingkungan istana ini, sehingga perasaan Evelyn perlahan-lahan mulai merasa lebih nyaman.
Akan tetapi Dalam koridor panjang yang terus berlanjut, Evelyn merasa bahwa perhatian para pelayan di sekitarnya sangat terfokus padanya.
Bisikan-bisikan lembut di antara mereka mungkin berhubungan dengan kedatangan Evelyn dan bayinya di istana ini.
Meskipun merasa sedikit tidak nyaman dengan perhatian yang berlebihan, Evelyn memilih untuk tetap tenang dan memusatkan perhatiannya pada bayi yang tertidur di stroller.
Pelayan wanita berambut pirang, Naomi, terus memimpin jalan menuju kantin di lantai 14 dungeon sang tuan.
Evelyn tak bisa membantu tetapi terpesona oleh kemegahan dan keindahan istana ini, yang sangat berbeda dari penjara tempatnya terkurung sebelumnya.
Namun, suasana hati Evelyn berubah tiba-tiba ketika ia mendengar suara lembut
"prett... prott..." yang terdengar di sekitarnya.
Suara itu membuatnya teringat akan hari-hari kelamnya di penjara yang gelap. Makanan yang buruk, seperti roti yang berjamur dan air mata yang mengiringinya. Perasaan lapar dan keadaan buruk yang harus dihadapinya.
__ADS_1
Evelyn berusaha mengusir kenangan buruk itu dari pikirannya dan berkonsentrasi pada bayinya yang sekarang terlihat nyaman dan aman dalam stroller yang mewah ini.
Evelyn melanjutkan perjalanan bersama bayinya dalam stroller, merenung tentang pemilik tempat kediaman mewah ini, Tuan Calliga.
Namanya muncul dalam pikirannya berkat informasi yang diberikan oleh pelayan wanita yang memandu mereka.
Tuan Calliga, sang pemilik istana ini, telah menyelamatkan Evelyn dan bayinya. Rasa terima kasih dalam hati Evelyn sangat besar terhadapnya.
Namun, misteri di sekitar sosok Tuan Calliga semakin membingungkannya. Bagaimana bisa seseorang memiliki kekayaan sebesar ini?
Evelyn merenung sambil menatap koridor yang indah dan mewah ini. Istana ini, dengan semua kemegahannya, membuatnya merasa seperti berada di rumah para dewa.
Perbandingannya dengan istana kerajaan menjadi sangat lucu. Bagi Tuan Calliga, istana kerajaan mungkin hanya dianggap sebagai sesuatu yang tak berarti.
Namun, terlepas dari segala kekayaan dan kemewahan di sekitarnya, Evelyn masih merasa waspada.
*Brott....Brott..*
Evelyn merasa malu saat perutnya berbunyi lapar dengan keras. Ia pun segera meminta maaf kepada Naomi, pelayan wanita yang telah membantunya.
"Maafkan ketidak-sopananku, Naomi-san," ucap Evelyn dengan merasa malu.
Evelyn hanya mengangguk tanda persetujuan dan mengikuti Naomi menuju kantin. Rasa lapar mereka kini akan segera terobati dengan hidangan lezat di tempat ini.
Klak... Klak...
Dengan misterius, pintu kantin yang besar terbuka sendiri ketika Evelyn dan Naomi melangkah ke depannya.
Ketika pintu terbuka lebar, Evelyn terkesima. Ruangan kantin yang terbuka di depannya tampak mewah dan luar biasa.
Meja-meja persegi panjang yang luas dan kursi-kursi yang nyaman memenuhi ruangan tersebut, di mana para pelayan yang berpakaian rapi duduk dan menikmati hidangan-hidangan lezat yang sama sekali belum pernah dilihat Evelyn sebelumnya.
Semua hidangan ini layaknya masakan dari restoran bintang lima.
Evelyn melihat aneka hidangan yang menggoda, dan aromanya yang menggugah selera makan membuatnya semakin lapar.
Semuanya terlihat begitu lezat dan mewah, seperti makanan dari dunia dongeng.
Dengan mata terbelalak, Evelyn memandangi hidangan-hidangan tersebut dan tidak dapat menyembunyikan kekagumannya.
Dia merasa seperti berada di tempat ajaib yang jauh dari realitas, dan dia tidak bisa menyembunyikan rasa takjubnya akan tempat ini.
__ADS_1
Tampaknya pemilik kediaman ini benar-benar hidup dalam kemewahan yang luar biasa.
Evelyn semakin terpesona oleh pemandangan di kantin ini. Tidak hanya pelayan wanita yang cantik, tetapi ada juga pelayan pria yang memancarkan pesona yang rupawan.
Mereka mengenakan seragam jas hitam dengan dasi hitam yang memberi kesan elegan.
Evelyn terus memerhatikan pelayan-pelayan yang sedang menikmati hidangan mewah ini. Dia tak bisa menghindari pemikiran bahwa wajah mereka, baik pria maupun wanita, adalah rupawan dan cantik.
Tampaknya pemilik tempat ini sangat memprioritaskan estetika dalam pilihan pelayannya.
Dalam kebingungannya, Evelyn mencoba mencari jawaban.
"Mengapa mereka semua begitu rupawan? Apakah tuan Calliga hanya merekrut pelayan yang memiliki penampilan menawan?" gumamnya.
"Tapi, ini membuatku bertanya-tanya. Betapa kaya dan luar biasa tuan Calliga yang sepertinya memiliki segalanya. Mengapa mereka semua ingin menjadi pelayan di sini? Apakah gajinya di sini sungguh besar sehingga mereka rela bekerja sebagai pelayan?".
Seketika, pertanyaan-pertanyaan itu menghantui pikirannya.
Evelyn merasa tak nyaman dengan semua mata yang tertuju padanya begitu ia memasuki ruangan kantin yang mewah ini.
Meskipun para pelayan sedang menikmati santapan lezat mereka, banyak di antara mereka tampak berbicara diam-diam dan memandang Evelyn dengan rasa ingin tahu yang jelas. Sensasi tersebut membuatnya semakin canggung.
Menghormati tamu adalah tugas pelayan, tetapi Evelyn merasa seperti ia menjadi perhatian tak diinginkan. Ia merasa perlu untuk menyampaikan permintaan maafnya kepada para pelayan yang ia ganggu dengan kehadirannya.
"Ma-maafkan aku jika aku mengganggu tuan-tuan dan nyonya," ucap Evelyn dengan suara halus sambil menunduk dengan rasa malu.
Ia berusaha memberikan hormat dan sopanitas meskipun suasana begitu aneh dan berbeda dari apa yang ia bayangkan.
Dalam lingkungan mewah dan misterius ini, Evelyn merasa seolah ia adalah sosok yang terasing dan asing.
Naomi berusaha meredakan kecanggungan Evelyn dengan ramah.
"Hey! Tidak perlu meminta maaf dan menyebut kami sebagai tuan dan nyonya. Kami hanyalah pelayan biasa. Mereka semua baru pertama kali melihatmu," ujarnya sambil tersenyum.
Dengan dorongan dari Naomi, Evelyn akhirnya bisa merasa lebih nyaman.
Mereka berdua bergabung dalam antrian yang panjang, yang terlihat seperti di restoran cepat saji.
Setiap orang mengambil nampan besar, capitan dan menyusun piring, mangkok, serta gelas dari meja yang tersedia.
Meja besar yang berjejer di koridor mewah ini dipenuhi dengan hidangan lezat yang beragam. Evelyn terpesona saat melihat hidangan-hidangan itu.
__ADS_1