
Terjadilah ledakan besar yang memenuhi seluruh area pertempuran.
Lithos berusaha untuk melindungi dirinya dengan cepat, memanipulasi kristal di sekitarnya menjadi perisai berlapis tebal untuk menahan serangan ultimate yang melibatkan api dan kekuatan besar.
Namun, perlindungannya tidak cukup untuk menghalangi dampak dari dua serangan itu.
Ledakan yang terjadi sangat dahsyat, dan ruangan tempat mereka bertempur menjadi bercahaya oleh api yang membara akibat serangan Sebas, sementara tanah dan lantai pecah terbelah dua akibat kekuatan eksplosif dari serangan Gameciel.
Di tengah asap tebal yang menyelimuti ruangan megah Lithos, terjadi ledakan besar yang mengguncang semuanya.
BAM!
Sebas dan Gameciel terpental dengan keras, tubuh mereka menghantam tembok dengan kuat. Namun, meskipun terluka, semangat mereka tidak pudar.
"Kalian para bocah ingusan pikir dapat mengalahkanku dengan mudah? Oh tentu saja tidak!" ucap Lithos dengan nada sombong, suaranya terdengar di tengah kekacauan asap.
Saat asap mereda sedikit, pemandangan yang muncul benar-benar mengejutkan.
Seluruh serpihan kristal di seluruh ruangan mulai berkumpul menuju Lithos. Tubuh besar Lithos yang terdiri dari kristal-kristal itu semakin membesar dan mengagumkan.
BAM!!
Lithos menghantam kembali Sebas dan Gameciel dengan kekuatan yang luar biasa. Terjadilah ledakan lagi.
DUAR!
Sebas mengeluarkan ******* kesakitan, darah mengalir dari sudut mulutnya. Gameciel yang kuat juga tergores oleh serangan tersebut, menyebabkan retakan pada tubuhnya.
Lithos tertawa dengan nada mengejek saat Sebas dan Gameciel terlentang kesakitan di lantai, menggambarkan perbedaan besar dalam level dan kekuatan di antara mereka.
"Apakah kau sudah mengerti perbedaan level dan kekuatan di antara kita, bocah tengil?!" ucap Lithos dengan sombong, seperti seorang pemenang yang merendahkan lawannya.
Namun, tiba-tiba, suasana menjadi tegang dan hening. Suara berat dan tegas memenuhi ruangan.
"BERHENTI!" terdengar suara itu, memotong keheningan dengan kuat.
Semua mata tertuju pada Calliga yang terbang mengepakkan sayap besarnya dengan marah menuju Lithos.
Ketegasan dalam suara Calliga menggambarkan otoritas dan rasa ketidakpuasannya terhadap pertempuran ini.
Lithos tampak sedikit terkejut, tetapi dia dengan cepat merespons dengan nada yang agak tertawa.
"Kau bisa berhenti menyerangku sekarang, Aku menyerah, kadal cabul. Aku sudah tidak berminat untuk bertarung."
Calliga yang hampir saja melancarkan serangan terhadap Lithos, tiba-tiba berhenti di depannya.
Pertukaran kata-kata terjadi antara mereka, dengan Calliga mengekspresikan rasa curiga atas tindakan Lithos.
Namun, perhatian mereka teralihkan ketika tubuh raksasa Lithos mulai berkurang ukurannya.
Serpihan kristal yang membentuk tubuhnya jatuh ke lantai dengan cepat, mengubahnya menjadi sosok yang seukuran dengan Calliga. Mereka berdua saling berhadapan kembali.
__ADS_1
Lithos dengan tiba-tiba melempar sebuah batu permata yang bercahaya kepada Calliga, menciptakan momen yang cukup aneh.
"Ambillah," ucap Lithos sambil melemparkan batu itu.
Calliga meraih batu permata tersebut dengan gesit, dan ia memeriksa dengan teliti.
Sejenak, ia memperhatikan batu tersebut dengan kebingungan yang tergambar jelas di wajahnya.
"Apa ini?" tanyanya, mencerminkan ketidakpastian dan keingintahuannya atas benda yang baru saja diterimanya.
"Kau jangan berpura-pura bodoh, kadal cabul. Itu adalah batu permata inti dungeon," balas Lithos dengan nada sinis, merespons rasa bingung Calliga.
"Eh?" desis Calliga dengan suara lirih, terpana oleh penjelasan yang tak terduga.
Namun, ketenangan tiba-tiba terputus oleh raungan kencang dari Sebas yang bangkit kembali, dengan niatan untuk menyerang Lithos.
"GROOOOAAAARRRR!"
"Berisik sekali bocah itu," gumam Lithos kesal, dan tanpa ragu ia mengolah kristal-kristal di sekitarnya menjadi rantai kristal yang merayap menuju Sebas, Gameciel, dan Vael.
Bahkan mulut mereka ditutup oleh kristal, membuat mereka tak bisa berteriak.
Dalam keadaan yang serba terbatas ini, upaya keras dilakukan oleh Vael, Gameciel, dan Sebas untuk melepaskan diri dari tawanan kristal yang mengikat mereka.
Meskipun memiliki kekuatan yang luar biasa, rantai kristal ini begitu kuat sehingga mereka merasa kesulitan untuk menghancurkannya.
Di tengah kepanikan ini, terlihat jelas ekspresi frustrasi yang jelas terlihat pada wajah Vael, Gameciel, dan Sebas ketika mereka berusaha keras melepaskan diri namun gagal.
Calliga yang melihat tindakan Lithos merasa marah, dan dengan raungan menggelegar ia berniat menyerang Lithos sekali lagi.
Namun, Lithos dengan cepat membalas, "Tenanglah, aku tidak akan menyakiti anak kesayanganmu, kadal cabul! HAHAHAHAHA!"
Tiba-tiba, Calliga merasa ragu.
Emosi kemarahannya memudar dengan cepat karena perkataan Lithos. Ia lalu memutuskan untuk bertanya langsung kepada Lithos yang tertawa dengan bangga.
"Jadi apa maksudmu memberikanku batu inti permata dungeon ini?" tanya Calliga dengan wajah penuh keingintahuan.
Lithos menghentikan tawanya sejenak, seolah merasa senang dengan rasa penasaran Calliga.
"Ah, aku sudah bosan dengan pertarungan ini. Jadi, aku memberikan padamu batu permata dungeonku ini. Jika kau tidak percaya, hancurkanlah inti dungeon yang kuberikan itu," jawab Lithos dengan tenang.
"Hahh?!" Gumam Calliga dalam hati, matanya melongo tidak percaya karena diberikan inti dungeon secara cuma-cuma.
Tanpa ragu, Calliga berniat menghancurkan batu permata tersebut dengan memperketat genggamannya.
Namun, saat itulah suara Lithos dengan nada frustasi terdengar.
"Oi kadal cabul! Kau jangan hancurkan sekarang, bodoh! Apakah kau ingin kami semua tertimbun oleh puing-puing reruntuhan dengan kedalaman ribuan meter di bawah tanah ini?!" bentak Lithos dengan ekspresi greget yang mengisyaratkan betapa frustrasinya dirinya terhadap Calliga.
Tiba-tiba, Calliga merasa panik. Ia mengingat bahwa tempat di mana boss dungeon ini berada tenggelam dalam air yang sangat dalam.
__ADS_1
Jika ia menghancurkan batu permata itu, seluruh struktur dungeon pasti akan runtuh dengan kecepatan luar biasa.
Pikiran itu membuatnya merenung sejenak, dan dengan kepala tertunduk ia memandangi batu permata yang bercahaya di tangannya.
"Apakah kau pikir aku bodoh? Aku sudah tahu, aku hanya sedang menginspeksi dengan teliti. Aku ingin mengukur ketebalan batu ini, dan dari kesimpulanku, batu inti ini berbeda dari yang kutahu karena ketebalannya yang tipis," ucap Calliga penuh dengan kebohongan, menciptakan alasan yang tidak masuk akal dalam upaya untuk menutupi kebodohannya.
Saat itu, Lithos tertawa dengan keras. "HAHAHAHAHAHA, Jadi kau tahu, kadal cabul?"
Calliga bergumam dalam hati, bingung dengan reaksi Lithos.
"Apa yang dia maksud? Tahu apa? Ah, sepertinya aku harus mengiyakan saja, biar lebih cepat selesai."
Lalu Calliga dengan wajah mencoba mempertahankan ketenangannya, berkata, "Ya, tentu saja."
Lithos dengan hati-hati memberikan batu permata tersebut kepada Calliga, dengan ekspresi penyesalan di wajahnya.
"Ambillah inti dungeonku yang asli ini. Hehehe, maafkan aku yang mengira kau kadal yang bodoh, perkiraanku salah ternyata," ucap Lithos sembari menyerahkan batu permata inti dungeon yang sebenarnya kepada tangan naga Calliga.
Sementara itu, Sebas, Vael, dan Gameciel yang terpaku dalam posisi tidak dapat bergerak maupun berbicara hanya dapat menyaksikan dan mendengar semuanya.
Mata mereka berbinar kagum melihat sang ayah dan pencipta mereka dari kejauhan.
Di dalam hati Calliga, dia terkejut dan merasa canggung.
Kalau saja dia memiliki wajah manusia, pasti ekspresi wajahnya akan memperlihatkan betapa bodohnya dia merasa.
Beruntungnya, wajah naga nya selalu tampak serius, sehingga tidak ada yang dapat melihat raut wajahnya yang sebenarnya.
Saat Calliga menggenggam batu permata inti dungeon, tiba-tiba saja benda itu berubah menjadi serpihan kristal.
Ternyata, yang telah dia pegang sebelumnya adalah salinan palsu.
Calliga dengan cermat mengambil batu permata inti dungeon yang asli yang telah diserahkan oleh Lithos.
Dia tidak ingin terlihat bodoh atau mencurigakan, jadi dengan cepat dia menyimpan inti dungeon itu ke dalam ruang penyimpanan dimensinya.
Lithos yang memperhatikan tindakan Calliga terkejut ketika melihat lubang hitam muncul di tangan naga itu.
Calliga dengan mudah menaruh inti dungeon yang telah diberikan oleh Lithos ke dalam lubang hitam tersebut, seolah-olah itu adalah tindakan yang biasa baginya.
"Apakah yang kau lakukan?" tanya Lithos dengan penasaran.
Calliga hanya tersenyum dan menunjukkan lubang hitam di tangannya.
"kau tidak tahu?, Ini adalah ruang penyimpanan dimensiku. Aku bisa menaruh barang apa pun di dalamnya, termasuk kepalamu jika aku ingin menghancurkannya dan menyimpannya di sana."
Lithos tertawa keras. "HAHAHAHAHA, sangat menarik! Ini pertama kalinya aku melihat seekor kadal sepertimu. Sudah kuputuskan, aku akan ikut bersamamu mulai dari sekarang, karena kau kadal yang sangat menarik."
Lithos melanjutkan, "Lagipula aku sudah bosan menunggu disini."
"Oh tentu saja jawabanku Tidak!," tegas Calliga membalas tanpa ragu.
__ADS_1
Lithos dengan cepat mengubah ekspresinya dan berpura-pura menangis sedih dengan nada yang dramatis.
"Jahat sekali kau, kadal cabul!" ucapnya sambil mengusap-ngusap mata palsunya.