
Aku merasa lemah, terlalu lemah. Lemah dalam arti sesungguhnya.
"Lemah," bisikku dalam hati, merasa seperti itu adalah diriku yang menggambarkan betapa tak berdayanya aku.
Aku menatap dengan tegang saat makhluk kristal itu kembali menyerang ayahku.
Suara angin berdesir bercampur dengan suara pedang yang terayun menuju arah ayah.
Ketika hampir saja pedang kristal itu mengenai leher kepala ayahku, ayah tiba-tiba bergerak dengan cepat dan menghentikan serangan itu hanya beberapa sentimeter dari kepalanya.
Saat itu, detak jantungku yang tadi masih berpacu dengan cepat kembali mereda.
Aku tahu ayahku sangat kuat dan terampil, tetapi melihatnya dalam aksi benar-benar membuatku takjub.
Ketenangannya dalam menghadapi ancaman yang nyata adalah sesuatu yang patut ditiru.
Tiba-tiba, ayahku berteriak kepadaku dengan suara yang memerintahkan. Dia ingin aku segera pergi dari dungeon ini dan menunggu di danau di luar.
Dia bermaksud untuk menghancurkan makhluk kristal raksasa ini dan tidak ingin aku terluka dalam prosesnya.
Meskipun air mata berlinang di mataku, aku mengangguk dan dengan cepat menuruti perintah ayah.
Aku segera mengibaskan sayapku dan terbang keluar dari ruangan menuju gerbang raksasa dan bolongan besar di langit-langit menuju ke luar dungeon di dalam danau ini.
Meskipun aku ingin berada di sana bersamanya, aku tahu bahwa saat ini adalah saatnya untuk menuruti perintahnya dan menunggu di luar dungeon dengan hati yang penuh harap.
Aku keluar dari danau dengan cepat, air mengalir dari tubuhku yang basah. Aku berenang dengan gigih, mencapai daratan di goa yang luas ini.
Di tepi danau, aku berdiri dengan setia, menunggu dengan harapanku yang tak terbendung untuk ayahku.
Namun, tiba-tiba aku merasakan getaran lembut di dalam gua.
Getaran itu seakan-akan merayapi tanah, memberikan nuansa yang mencekam.
Awalnya, aku mengabaikannya, berpikir itu hanya perasaanku semata. Tetapi getaran semakin kuat dan intens.
...
...
Aku memandang langit-langit gua dengan kebingungan saat beberapa bebatuan mulai longsor dari atas dan jatuh ke lantai goa dengan suara membahayakan.
Bam...
Bamm...
Debu beterbangan di udara, mengisi gua dengan kabut tebal. getaran semakin kuat dan suara longsoran batu semakin keras.
Raungan ayahku yang keras seolah menghantam kuping dan menembus jiwaku, raungan bergema di seluruh gua dengan kekuatan yang luar biasa.
__ADS_1
"GROOAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRR!!!!"
Getaran gempa menyapu goa dengan dahsyat, membuat tanah bergetar dan membuatku hampir kehilangan keseimbangan.
Terdengar ledakan yang menggema dari dalam danau, mengisyaratkan bahwa pertarungan antara ayahku dan makhluk kristal raksasa semakin mengganas.
DUAR!!!
"Ayah!" teriakanku penuh kekhawatiran terbungkam oleh raungan ayah yang menembus hatiku.
Tubuhku gemetar oleh rasa takut, aku hampir merasakan getaran suara itu merasuki tulang-tulangku.
Berusaha menahan ketakutan, aku merosot ke lantai gua dan menutup kupingku dengan tangan, berusaha menghalau suara dahsyat tersebut
. Raungan ayahku seakan menjadi ledakan emosi dewa yang memenuhi gua ini, mengirimkan gelombang kegetiran yang tak tertahankan.
Ledakan mengguncang goa dengan kekuatan yang menghancurkan, retakan-retakan menjalar di seluruh penjuru.
Aku berusaha menghindari reruntuhan yang jatuh sembari menutup erat kupingku, suara gemuruh ayahku yang memekakkan terdengar dari balik ledakan itu, mengguncang hatiku hingga gemetar.
Keruntuhan goa terjadi dengan cepat, tubuhku bergetar saat aku terbang menjauh, sayapku bergerak secepat kilat untuk menghindari bahaya.
Seluruh langit-langit goa ambruk, mengubur dungeon dan jalan keluarnya di bawah reruntuhan.
Gempa besar mengguncang lagi, membuatku bergoyang seolah-olah dewa sedang berkecamuk.
Namun, aku tidak ingin terjebak dalam hancuran ini. Aku mengarahkan sayapku ke arah kelobang besar dilangit-langit goa diciptakan oleh ayahku, mengikuti jalan yang ia buat untuk keluar.
Aku melihat kembali ke belakang, melihat goa yang tengah runtuh dan tenggelam dalam reruntuhan.
Dengan nafas lega, aku melipatkan sayapku dan mendarat di lantai.
Aku menatap lobang besar yang kini ditutupi oleh debu dan puing-puing runtuhan. Asap debu mencekam udara, membuat keruangan terasa hampa.
Tubuhku merasa lemas, terhempas oleh kelemahan yang terasa begitu menyakitkan.
"Sialan!" gumamku, berselimut dalam perasaan frustasi dan putus asa.
Tubuhku terkulai lemas di lantai, dan rasanya seperti seluruh kekuatanku telah menguap begitu saja.
Ayahku terkubur dalam puing-puing dan runtuhan, tak terjangkau oleh tanganku yang gemetar.
Aku merasa begitu marah pada diriku sendiri, merasa lemah dan tak berdaya.
Rasanya seperti semua itu adalah salahku, kesalahanku yang menyebabkan ayahku berada dalam bahaya.
"Tidak... Aku terlalu lemah..." pekikku dengan penuh kekecewaan, terdengar jelas di ruangan yang hening.
Rasa keputusasaan membakar dalam hatiku, ingin menghancurkan segalanya.
__ADS_1
Namun, semangatku kembali meledak. Aku mengangkat diri dengan penuh tekad.
Teriakan kekesalan terdengar dari bibirku saat aku mencoba mengangkat puing-puing, mencoba membebaskan lobang menuju ayahku.
Namun, usahaku terasa sia-sia, puing-puing tak henti-hentinya menutupinya kembali.
Aku merasa frustasi tak terkendali, tekadku berubah menjadi ledakan keputusasaan.
Aku memutuskan untuk mengeluarkan skill panahku dengan daya ledak besar, mengarahkannya ke lobang besar yang masih tertutup runtuhan.
Ledakan dahsyat meledak, mengisi ruangan dengan asap dan serpihan batu.
Namun, saat asap mereda, kekecewaan kembali menyelimuti.
Lobang besar itu hanya berhasil terbuka sejenak, dan puing-puing kembali menutupinya seperti pasang ombak yang tak henti.
Keputusasaan merasuki setiap serat tubuhku, merasa bahwa semua usaha ini sia-sia belaka.
"Semua ini salahku, ayah," lirihku dengan penuh penyesalan.
Rasa bersalah dan kelemahan begitu membebaniku, seakan-akan kurasakan berat dunia di pundakku sendiri.
"Ku-ku terlalu lemah!" pekikku frustrasi, pukulanku ke lantai terdengar seperti gemuruh di tengah keheningan ruangan.
Dan seketika itu aku terlintas rencana.
Dalam momen tegang, aku bisa merasakan getaran ringan pada telapak tanganku saat [Message] terhubung.
Berbicara melalui kegelapan, suara serak dan penuh emosi itu melintas melalui pikiranku, menghentikanku dalam kesibukan sejenak.
"[Message]!" gumamku dengan cepat, seperti menyongsong seberkas harapan dalam gelap yang tengah melilitku.
Aku langsung memusatkan pikiranku pada saudara tertuaku, Sebas.
"kak.... Da-datanglah ke-kemari... Ce-cepatt.. Kelantai 10, Aku mohonn.. Ini penting....." ucapku kepada saudara tertuaku sebas dengan terbata lemas.
Dan, tak butuh waktu lama, suara lembut Sebas terdengar dalam benakku, menerobos ruang dan waktu untuk mencapai hatiku yang gelisah.
"Vael?! Apa yang terjadi denganmu?! Penting?! Beritahuku apa yang terjadi?!" suara Sebas terdengar begitu khawatir, dan aku bisa membayangkan keremangan yang terpancar dari wajahnya.
Degupan jantungku semakin cepat, aku harus menjelaskan semuanya dengan secepatnya.
"I-ini me-mengani ayah... Kak... Ke-kemarilah aku mohon secepatnya," kataku terbata, tak mampu menyembunyikan ragu dan ketakutanku.
"APA YANG TERJADI DENGAN AYAH?!" seru Sebas, suaranya meninggi, mencerminkan kecemasannya.
"Aku mohon... Cepat... Cepatlah... Tidak usah bertanya-tanya..." ucapku dengan kerendahan hati, terdengar seperti permohonan hampir putus asa.
Aku tak tahan melihat ayah dalam keadaan seperti ini, dan aku tahu Sebas adalah satu-satunya harapan.
__ADS_1
"ckk.. Kalau begitu aku akan bergegas kerumah, tunggulah aku!" suara Sebas datang dengan nada tegas, memutuskan komunikasi kami segera setelahnya.
Dalam ruangan yang sunyi, aku memejamkan mata sejenak, berusaha menenangkan diriku.