
Selanjutnya, guardian dengan penampilan yang seram muncul. Ia memiliki kepala seperti gurita dengan tentakel panjang yang menjuntai dari tubuhnya.
Tubuhnya berwarna putih pucat layaknya mayat dan menyerupai gurita atau cumi-cumi. Ia memiliki tubuh humanoid dengan tinggi sekitar 190cm, perutnya buncit dan terdapat jari-jari menjuntai dengan kuku panjang yang menakutkan.
"Guardian dari Lantai kelima, Okto, datang menghadap," ujar seorang guardian.
Okto, dengan penampilan yang seram, tiba di hadapan Calliga dalam sikap penghormatan yang sama.
Dengan baris yang semakin memanjang, upacara penghormatan di dalam ruang takhta Calliga berlanjut.
"Guardian dari lantai keenam, Aleister, datang menghadap," ucap seorang guardian dengan suara tegas.
Aleister, yang merupakan putra Calliga, maju ke depan dengan sikap yang memancarkan wibawa.
Luna dan Hades, kakak beradik yang merupakan putra-putri Calliga, melangkah bersama-sama.
Luna dengan berani menyatakan, "Guardian dari lantai ketujuh, Luna, datang menghadap." Hades, yang sekarang bukan lagi saudara termuda, melanjutkan, "Guardian dari lantai ketujuh, Hades, datang menghadap."
Guardian selanjutnya memperkenalkan diri dengan hormat, "Guardian dari lantai kedelapan, Vael, datang menghadap."
Setelah guardian sebelumnya menyelesaikan penghormatan mereka, guardian dari lantai ke-9 maju.
Diabolantis, dengan tubuh besar dan tinggi sekitar tiga meter, memiliki penampilan seperti kumbang sembah raksasa.
Tubuhnya berwarna hitam kecoklatan, dan yang paling mencolok adalah sepasang sayap sabit yang mirip tangan kumbang sembah.
Guardian ini juga memiliki tangan besar menyerupai manusia dengan kuku tajam, serta ekor panjang dan kaki tinggi yang bengkok menyerupai serangga.
Dengan hormat dan rasa hormat yang mendalam, ia berkata, "Guardian dari lantai ke-9, Diabolantis, datang menghadap."
Sementara itu, guardian lantai ke-11 juga melakukan penghormatan.
Thanatos, seorang guardian iblis dengan sayap kelelawar besar, memiliki tiga pasang mata dengan warna yang berbeda.
Ia memiliki ekstra mata yang cukup besar di dahinya, dengan rambut yang sebagian putih dan sebagian hitam.
Kuku-kukunya tajam, dan penampilannya mencerminkan esensi kegelapan dan kekuatan.
__ADS_1
Dalam sikap hormat yang tulus, Thanatos mengumumkan kedatangannya, "Guardian dari lantai ke-11, Thanatos, datang menghadap."
Dalam upacara penghormatan yang khusyuk, para guardian dari lantai 13 hingga 15 mempersembahkan diri.
Karina, putri calliga, dengan sikap hormat yang dalam, berlutut di depan ayahnya. "Guardian lantai ke-13 sekaligus komandan kedua guardian, Karina, datang menghadap," ucapnya dengan penuh rasa hormat.
Tak lama setelahnya, Gameciel, putra calliga, mengikuti langkah kakaknya. "Guardian Lantai ke-14, Gameciel, datang menghadap," kata Gameciel dengan serius.
Sementara sebas, yang adalah tangan kanan calliga dan pemimpin seluruh guardian, maju ke depan dengan langkah anggun.
"Komandan sekaligus pemimpin seluruh guardian, Sebas, datang menghadap kepada sang agung," ucapnya sambil berlutut di hadapan ayahnya.
Dalam ruangan yang megah dan penuh dengan hierarki gelap, sebas menghormat dengan penuh pengabdian.
Ayahnya, calliga, tersenyum meskipun canggung, melihat sebas dan anak-anaknya yang setia.
Dalam sikap yang penuh hormat, Sebas melanjutkan laporannya dengan suara yang jelas dan tegas kepada Calliga.
"Seluruh perwakilan floor guardian hadir di hadapan sang agung, kecuali Guardian dari lantai 10, dan 12, Cartesia dan Arias," ucapnya dengan pengabdian yang tulus.
Namun, ada dua guardian yang tidak hadir. Arias, floor guardian dari lantai 12, yang memerintah kediaman lithos, absen tanpa penjelasan yang jelas.
Kemungkinan, perintah untuk tidak datang berasal dari tuannya, Lithos, dan mereka menghormati keputusan tersebut.
Cartesia, floor guardian lantai 10, memang sengaja tidak diundang dan juga tidak hadir di acara ini.
Dengan 15 kepala yang tunduk di depannya, Calliga merasa sangat canggung.
Duduk di takhtanya, ia tidak mampu mengeluarkan kata-kata apa pun. Tenggorokannya terasa kering, dan setiap usaha untuk berbicara seperti menelan ludah.
Tekanan yang luar biasa dirasakannya. Ini adalah tekanan yang begitu kuat sehingga mungkin hanya Calliga yang bisa merasakannya.
Seperti dewa yang ditaruh dalam pemujaan, mereka semua menatapnya dengan penuh pengabdian dan hormat.
"Aku tak tahu harus bagaimana," gumam Calliga dalam hatinya, matanya menatap para guardian yang berkumpul di hadapannya, setiap dari mereka berlutut.
"Sungguh, ini sangat canggung. Mereka semua melihatku layaknya dewa dengan penuh pengabdian dan hormat kepadaku."
__ADS_1
Pemandangan seperti ini benar-benar di luar jangkauannya. Ini pertama kalinya seluruh guardian yang diciptakannya dikumpulkan di ruang takhta ini.
Calliga merasa canggung dan grogi, melihat guardian-gurdiannya dengan ekspresi serius yang begitu patuh, setia, dan siap menerima perintahnya.
Pikiran Calliga berkecamuk di bawah tekanan dan ketidakpastian yang luar biasa. Kemudian, dengan tiba-tiba, ia mengaktifkan skill spesialnya, [Draconic Aura], melepaskan aura yang bersinar terang dengan sentuhan aura kegelapan yang pekat.
Cahaya yang memancar memenuhi ruangan takhta, mencampur dominasi keberadaannya dengan atmosfer yang tegang, seolah-olah Calliga sedang menunjukkan supremasinya kepada seluruh guardian yang berlutut di hadapannya.
Kekuatan dan otoritasnya memenuhi ruangan.
Tidak ingin membiarkan keadaan tetap tegang, Calliga mencoba mencari memori film dan serial TV yang mungkin serupa dengan situasi ini.
Dia ingin menyamakan apa yang sedang terjadi sekarang dengan pengalaman yang mungkin ia lihat di layar.
"Angkatlah kepala kalian!" perintah Calliga dengan suara berat, memerintahkan seluruh guardian yang masih tunduk dengan nada yang kuat dan menggertak.
Tidak ada guardian yang tidak mendengar perintah Tuan Pencipta mereka. Atmosfer dalam ruangan berubah, menunjukkan siapa yang memegang kendali.
Tekanan yang kuat seolah-olah memberi mereka petunjuk bahwa pemimpin mereka adalah seorang yang tak tertandingi.
"Hmm~~" Semua guardian dengan cermat mengangkat kepala mereka seiring dengan perintah tuan mereka, Calliga.
Kepatuhan mereka sangat terlihat, hampir seolah mereka sudah melatih gerakan ini bersama sebelumnya.
"Jadi... Pertama, ku mengucapkan terima kasih kalian semua karena sudah datang kemari," ucap Calliga, tetapi dia hampir merasa lucu melihat betapa rapi tindakan mereka.
"Apakah mereka sudah sering melakukan ini bersama sebelumnya?"
Sebas, sang putra, dengan cepat merespon, "Tolong jangan berterima kasih kepada kami, Tuan. Kami hanyalah bawahan Anda, pelayan, dan pengikut setia anda, Calliga-sama. Anda adalah pencipta dan penguasa tertinggi kami."
Ia menggunakan bahasa yang sangat formal, dengan hormat yang mendalam, bukan kata-kata seperti "ayah" karena sekarang banyak guardian berkumpul di sini.
Semua guardian lainnya dengan tulus mengangguk, memperkuat pernyataan Sebas.
Mata merah menyala Calliga terlihat menakutkan dan menakutkan saat dia menatap bawahannya.
Begitu juga dengan Dominasi eksistensinya yang terasa otoritasnya sangat kuat, tidak diragukan lagi.
__ADS_1