Dragon Lord System

Dragon Lord System
S2 - Hades v Luna


__ADS_3

Di tengah hutan yang lebat, Sebas, Aleister, Luna, dan Hades terus menjelajahi dengan harapan menemukan keberadaan manusia. Namun, perjalanan itu terasa membosankan bagi Luna, yang dengan lesu mengeluh dan menguap.


"Ah, ini membosankan sekali. Tidak ada yang seru, hanya hutan yang lebat saja di sini," ucap Luna dengan nada bosan.


Tak lama kemudian, Hades, sang adik kecil yang imut, menanggapi Luna dengan nada kesal, "Oi, Luna! Kalau begitu, kau pulang saja. Kau sudah merengek manja ke ayah untuk ikut kita, dan sekarang kau berkata seperti itu setelah ikut kita? Kita bukan bermain di sini. DASAR ANAK MANJA!"


Luna memang terkenal suka mengeluh dan tidak pernah berhenti mengkritik apa pun yang ada di sekitarnya. Tanpa mereka sadari, Luna dan Hades tertinggal oleh kakak mereka, Sebas dan Aleister, yang terus melangkah maju.


"Oya-oya, adikku yang kecil dan imut, apakah kau iri?" ejek Luna dengan nada mengejek. "Kalau kau iri, bilang saja. Aku akan menyampaikannya kepada papa agar papa lebih menyayangimu. HAHAHA!"


Luna dengan senang hati menjahili Hades, menggoda adiknya dengan kata-kata manis yang terkadang membuatnya kesal. mereka berdua seringkali bertengkar.


Di antara Luna dan Hades, terjadi ketegangan yang semakin memanas. Meskipun mereka berdua adalah saudara kandung, wajah mereka yang berbeda menambahkan kebingungan dan rasa penasaran dalam diri mereka. Luna dengan wajah imut dan usia 12 tahun, sementara Hades memiliki penampilan yang lebih tegas dan terlihat seperti remaja SMA dengan usia sekitar 15 tahun.


Namun, mereka tidak pernah benar-benar memahami mengapa ayah mereka memilih Hades sebagai saudara termuda, meskipun wajahnya menunjukkan sebaliknya.


Ini adalah salah satu misteri yang mereka tidak berani tanyakan secara langsung kepada ayah mereka, tetapi mereka berusaha mencari jawaban sendiri.


"Diam, kau anak manja! Apakah aku harus menggunakan skill kegelapan ku untuk menakut-nakutimu agar berhenti mengejekku, ANAK PAPI?!" ucap Hades dengan kesal, mencoba mengintimidasi Luna.


Namun, Luna dengan percaya diri dan nada provokatif menantang, menanggapinya, "Oya-oya? Adik kecilku yang imut ingin menyerangku? Apakah kau yakin bisa mengalahkanku, adikku yang manis? Aku yakin dalam 10 detik, aku bisa mengalahkanmu tanpa kesulitan sedikitpun, adik kecilku yang manis. HAHAHA!"


Hades merasa terhina oleh kata-kata Luna dan semakin marah. "Ah, jadi kau meremehkanku, PENDEK, ANAK PAPI?! Baiklah, kau akan tahu akibatnya!" ucap Hades dengan rasa kesal yang semakin memuncak.


Dengan amarah yang membara, Hades mengumpulkan energi gelap di tangannya, siap menyerang Luna dengan kekuatan penuh. Perubahan atmosfer di antara mereka pun terjadi secara instan, menciptakan ketegangan yang semakin memanas di udara.


Luna, tanpa ragu, juga mengumpulkan energi terang di tangannya, melepaskan skill atribut suci yang ia miliki untuk melawan Hades. Keduanya berdiri saling berhadapan, siap untuk melepaskan serangan mereka.


Atmosfer pun menjadi tegang, di antara mereka terjadi pertempuran antara dua atribut yang berbeda.


Percikan aura magis suci dan aura gelap melesat di udara, menciptakan kilatan cahaya dan bayangan yang menyeramkan. Angin berhembus dengan cepat di antara mereka, menari-nari di antara pepohonan di hutan tersebut.


Bahkan burung-burung di sekitarnya terkejut dan beterbangan karena merasakan kekuatan ajaib dari kedua anak itu.


***


Aleister melihat ke belakang dan kaget saat menyadari bahwa Hades dan Luna telah menghilang. Aleister segera mendekati Sebas yang berjalan di depannya.


"Kak Sebas, Hades dan Luna menghilang!" ucap Aleister dengan napas tersengal-sengal. Tidak lama kemudian, terdengar suara ribuan burung yang terbang berhamburan di langit.

__ADS_1


Sebas mendengar berita dari adiknya dan segera menoleh ke belakang. Ia melihat bahwa Hades dan Luna memang tidak ada di sana, dan banyak burung yang beterbangan di udara.


Tidak bisa menahan kekesalannya, Sebas menepuk kepalanya dengan frustasi. "Ah, kedua anak bodoh itu!" geram Sebas dengan suara kesal.


Dengan cepat, Sebas memberikan instruksi kepada Aleister. "Aleister, panggil/Summonlah makhluk buasmu yang memiliki statistik tercepat! CEPAT!" ucap Sebas dengan serius dan tegang.


"Baik, kak!" sahut Aleister dengan sigap. Tanpa buang waktu, Aleister memanggil makhluk summonannya yang memiliki statistik kecepatan tertinggi.


Sebuah lingkaran sihir berbentuk sigil terbentuk di tanah, dan dengan cepat muncullah sejenis makhluk centaur berpakaian zirah.


"Raidjin! Ikuti perintah kakakku dan bantulah mencari kedua adikku!" kata Aleister kepada makhluk centaur tersebut.


"Baik, tuan Aleister," jawab monster centaur yang bernama Raidjin dengan tegas.


Tanpa menunggu waktu lebih lama, Sebas naik ke punggung Raidjin dan meminta makhluk itu untuk mencari Luna dan Hades. "Cepat, pergilah!" perintah Sebas sambil menegaskan.


Raidjin segera berlari dengan cepat, mencari keberadaan Luna dan Hades. Sebas bisa merasakan kekuatan aura yang bertabrakan dari jauh, sementara ribuan burung beterbangan di hutan tersebut.


Sebas berusaha mencapai kedua anak bodoh tersebut. Sebas berharap dapat menemukan Hades dan Luna dengan selamat dan menghentikan pertarungan mereka sebelum semakin memburuk.


Fiuuh...


Sebas merasa ketakutan akan marahnya ayahnya, itulah mengapa ia ingin pergi sendirian. Tapi sekarang, ia harus membawa ketiga adiknya bersamanya.


Dengan cepat, Sebas melihat bahwa Hades dan Luna siap untuk bertarung. Di kejauhan, aura suci dan kegelapan yang kuat bentrok, menciptakan angin kencang di sekeliling mereka. Hades dan Luna mengumpulkan energi mereka, siap untuk melepaskan serangan kapan saja.


Namun, sebelum mereka dapat melancarkan serangan, Sebas melompat dari punggung Raidjin dengan cepat menuju Hades dan Luna.


Tepat saat mereka berdua bersiap untuk melepaskan serangan, Sebas mendarat dengan kuat dan memukul kedua kepala mereka dengan tenaga sedang.


"Dasar bodoh!" ucap Sebas dengan kesal sambil memukul kepala mereka berdua.


Dengan hantaman itu, kedua kepala mereka terhantam tanah dan tenggelam di dalamnya. Tanah pun bergetar di sekitar mereka, menciptakan atmosfer yang tegang.


Sebas mendarat dengan di tanah dan menghela nafas lega. "Untung saja aku datang tepat waktu, kalau tidak pasti ayah akan marah padaku," gumamnya.


Beruntunglah Hades dan Luna sebagai ciptaan ayah mereka yang kuat. Kepala mereka masih utuh meskipun sedikit pusing karena benturan.


Kalau manusia biasa terkenal pukulan sebas, sudah pasti kepala mereka hancur.

__ADS_1


Hades dan Luna sambil mengusap kepala mereka dengan rasa sakit yang masih terasa.


"Aduh, sakit sekali!" keluh Hades, sambil mengeluarkan kepalanya dari tanah.


"Ouch, sialan! Ini sangat menyakitkan!" ujar Luna sambil mengusap kepalanya dengan kesal.


Keduanya masih duduk di tanah, menggosok-gosok kepala yang masih pusing akibat hantaman tersebut.


Kedua anak itu saling pandang, masih merasakan pusing setelah mendapat pukulan dari Sebas. Namun, mereka akhirnya bisa menggerakkan kepala mereka dan duduk di tanah, sambil terus mengusap kepala yang sakit.


Sebas memandang Hades dan Luna dengan kekesalan yang memuncak. "Dasar bodoh! Kalian ingin ayah marah?!" bentak Sebas dengan marah yang tak tertahankan.


"Demi Ayah yang agung! , untung saja aku datang tepat waktu! Kalau tidak, hutan ini pasti hancur karena kelakuan kalian berdua yang bodoh!" lanjut Sebas dengan suara yang penuh kemarahan.


Sambil mengusap benjolan di kepalanya akibat pukulan Sebas, Luna membela diri, "Tapi dia yang memulainya duluan, Kak!" Luna menunjuk ke arah Hades.


"Hey, bodoh! Kau yang terus-menerus mengejek-ku tanpa henti, pendek!,padahal aku hanya menasehati saja,DASAR ANAK MANJA!! " sergah Hades kepada Luna.


"Oya-Oya?, nasehat dari seorang adik kecil yang paling imut? Kau masih kecil dan ingin menasehati aku yang lebih tua daripadamu?" ejek Luna dengan bangga.


Sebelum Hades melanjutkan perkataannya, Sebas sudah merasa muak dan sangat marah dengan pertengkaran mereka berdua. "SUDAH CUKUP! DIAM KALIAN BERDUA!" teriak Sebas dengan suara lantang.


Hades dan Luna menatap kakak mereka, Sebas, yang marah. Mereka merasa ketakutan dan segera menghentikan pertengkaran mereka.


Mereka tahu betapa menakutkan ketika kakak mereka sebas saat marah, dan mereka tidak ingin memperburuk situasi.


Sebas memandang Hades dan Luna dengan tajam, kekesalannya semakin mereda seiring dengan penyesalan yang mereka tunjukkan.


"Apakah kalian sadar akan perbuatan kalian?! Jika kalian terus bertengkar dan mengeluarkan kekuatan kalian, tempat ini akan hancur dan tentu saja akan menarik perhatian dunia luar. Apakah niat kalian sebenarnya untuk mencari musuh dan membuat ayah memiliki musuh yang banyak? Pikirkanlah dengan menggunakan otak kalian, dasar bodoh!" ucap Sebas dengan suara yang memancar kemarahan yang mendalam.


Aleister, yang baru sampai ditempat ini dan dari kejauhan menyaksikan adik-adiknya yang sedang dimarahi oleh kakaknya, Sebas. Dan menghela nafas dan bergumam dalam hati, "Betapa bodohnya adikku ini."


Mendengar penjelasan dan teguran yang tajam dari kakaknya yang jenius, Hades dan Luna merasa malu dengan perbuatan mereka. "Maafkan aku, Kak. Aku tidak memikirkan konsekuensinya sedemikian jauh," ucap Hades sambil menundukkan kepalanya.


Luna, yang menyadari bahwa perbuatannya dapat mengancam kehidupan ayah mereka, pun menangis tersedu-sedu. "A-aku tidak bermaksud seperti itu, Kak Sebas. Apalagi memiliki niat buruk terhadap papa," ucap Luna dengan suara terisak.


Melihat Luna menangis, emosi dalam diri Sebas perlahan mereda dan kekesalannya menghilang. Sebas menatap kedua adiknya dengan menghela nafas. Ia berkata kepada mereka, "Kalian berdua, jangan mencari masalah lagi, mengerti?!"


Hades dan Luna mengangguk dengan cepat, merasa lega bahwa kakak tertua mereka sudah tidak marah.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu mari kita lanjutkan perjalanan kita," ucap Sebas dengan suara yang lebih tenang.


__ADS_2