
"O-Oh De-dewi suci Artemis nan agung! Pinjamkanlah kekuatanMu kepada hambamu ini - musnahkanlah seluruh iblis jahat ini!"
Jeritan doa ketakutan dari Evelyn kepada Calliga terus menggema dalam ruang takhta yang luas, menciptakan ketegangan yang melanda seluruh ruangan.
Diabolantis, monster insectoid raksasa yang masih berlutut di hadapan Calliga, sekarang menatap Evelyn dengan mata penuh amarah.
Terdengar gemuruh dalam hati makhluk ini yang mendalami kebencian terhadap manusia yang berani menghina tuannya.
Evelyn, meskipun takut, tetap tegar dalam doanya kepada dewi Artemis, berharap untuk mendapatkan perlindungan dari banyak makhluk menyeramkan dihadapannya.
Bagi Diabolantis, keberanian seorang manusia rendahan seperti Evelyn untuk berbicara dengan begitu tidak hormat kepada penciptanya adalah tindakan yang tak termaafkan dan merupakan dosa besar terhadap tuannya.
Diabolantis merasa gemetar oleh kebencian ketika melihat tindakan kurang ajar Evelyn, manusia lemah ini, terhadap tuannya.
Dia merasa dorongan kuat untuk melampiaskan amarahnya kepada manusia yang telah mengganggu ruangan takhta dengan ketidaktaatannya.
Saat itu juga, ia mencengkram tangannya dengan sangat kuat, siap menyerang manusia tersebut tanpa ampun.
Tatapannya yang penuh kebencian terpaku pada Evelyn, dan dalam hatinya, teriakan kejam menggema.
"BERANINYA MANUSIA LEMAH ITU MENGHINA TUANKU! DIA HARUS MATI!" Dia merindukan kesempatan untuk membalas perlakuan tak hormat yang telah diterima oleh tuannya.
Ruang takhta yang tadinya penuh dengan hawa hormat, sekarang dipenuhi dengan ketegangan yang menakutkan, mengingatkan Evelyn pada betapa rentannya dia berada di dunia yang tak dikenal ini.
"Bangsat!" gumam Thanatos dengan kesal, mengekspresikan ketidaksenangannya terhadap perkataan dan tindakan sang manusia, Evelyn, terhadap tuannya.
Tidak hanya Diabolantis dan Thanatos, seluruh perwakilan dari setiap lantai, seperti Diabolantis, juga penuh dengan kebencian dan niat untuk menghancurkan Evelyn.
Hati mereka membara, dan keinginan untuk membalaskan penghinaan kepada tuannya begitu kuat.
Takhta Calliga yang semula dipenuhi oleh aura kehormatan dan hormat tiba-tiba terasa begitu mencekam.
Semua mata tajam yang hadir di ruangan itu tertuju pada Evelyn, sementara Diabolantis, yang sudah bersiap untuk menyerang, semakin dekat.
Diabolantis, penuh kemarahan yang membara, terbang melompat maju dengan kecepatan yang luar biasa, tinjunya yang besar dan tajam siap untuk menghantam kepala Evelyn dengan kekuatan mengerikan.
__ADS_1
Namun, sebelum dia bisa melancarkan serangan mematikan itu, ruangan tiba-tiba diselimuti oleh suara berat dan menggema yang datang dari arah singgasana.
Tentunya suara itu berasal dari sang tuan, sosok yang penuh misteri dan kegelapan, mengisi seluruh ruangan dengan otoritas yang begitu kuat, hampir seperti angin badai yang mendobrak batas-batas kenyataan.
"BERHENTI!" seru Calliga dengan nada yang memecah hening.
memerintahkan Diabolantis untuk berhenti dengan otoritas yang begitu menggemparkan, seperti sorotan petir yang membelah langit. Kata-katanya terdengar seperti mantra kekuatan.
Cahaya gemerlap cahaya lilin di ruangan tersebut tampak bergetar dalam sosok kehadiran-Nya.
Diabolantis, meskipun masih memancarkan amarah yang tak terbendung, segera menghentikan serangannya seketika.
Matanya yang tajam, sebelumnya berkilat dengan kemarahan mematikan, kini memancarkan ketundukan yang mendalam kepada suara berat sang tuan yang tak tergoyahkan.
Ruang takhta yang sebelumnya dipenuhi ketegangan menciptakan suasana yang mencekam, seakan-akan nafas itu sendiri terhenti.
Namun, saat suara tuan mereka, Calliga, bergema, ruang itu hening.
Otoritasnya yang mematikan membuat seluruh Guardian yang hadir, bahkan yang penuh keberanian seperti Diabolantis, tunduk pada perintah yang tak terbantahkan dari sang penguasa gelap.
Diabolantis, yang sebelumnya hampir saja melancarkan serangan mematikan terhadap Evelyn, mendengarkan perintah tuannya dengan gemetar. Hati dan pikirannya terpenjara dalam ketakutan yang tak terkendali.
Dalam sekejap, niat jahat yang meliputi mereka semua seolah terhenti dalam waktu.
Suara Calliga yang tajam dan berkuasa telah menghentikan niat busuk yang hampir saja melanda.
"Ba-baik tuanku!" seru Diabolantis dengan suara gemetar yang terkikis oleh ketakutan yang mendalam.
Tubuhnya mereka terasa beku, sebagai tanda ketundukan kepada sang penguasa hidup mereka.
Dia merasakan kemarahan dalam suara tuannya, dan ketegangan itu membuat seluruh tubuhnya bergemetar dalam ketundukan.
Dengan refleks yang cepat, Diabolantis menarik kembali tinjunya yang hanya beberapa sentimeter dari wajah Evelyn, tindakan kejam yang hampir terjadi.
Hembusan napasnya yang dingin seperti angin malam mencuat dalam ketegangan yang membelenggu.
__ADS_1
Namun, dalam sekejap, terjadilah hembusan angin kencang yang tak terduga.
Hembusan itu membawa tubuh rentan Evelyn terbang ke udara, menjauhkannya dari serangan ganas Diabolantis yang nyaris mengenai wajahnya.
Tubuh Evelyn terombang-ambing dalam hembusan angin kuat yang melanda, seperti sehelai daun kering yang tertiup badai, menampilkan betapa dahsyatnya kekuatan fisik diabolantis di ruangan itu tak terhentikan.
Seperti tamu yang tak diundang, Evelyn tak mampu lagi menahan beban yang menghantui pikirannya dan pingsan seketika.
Dalam sekejap, dengan bayinya yang masih tidur tenang di dalam stroller, Evelyn kehilangan kesadarannya dan terjatuh ke lantai marmer yang megah, mengganggu kemewahan yang sebelumnya diselimuti oleh ketegangan yang menakutkan.
"Oeee.... Oeee..."
Tangisan bayi yang keras dan merdu, seperti lantunan lagu kehancuran, merasuk ke seluruh ruangan takhta.
Suaranya melintas melalui udara, merobek hening yang pernah mendominasi dengan cara yang tak terlupakan.
Kegelapan semakin merayap, kebingungan menjalar, dan semua mata tertuju pada Evelyn, manusia yang telah menjadi sumber kekacauan ini.
Sekarang, ia tak sadarkan diri dan tergeletak di lantai, dia adalah pusat perhatian sekarang.
Ruang takhta yang sebelumnya dipenuhi ketegangan dan amarah, kini terbungkus dalam keheningan yang menyeramkan.
Tatapan tajam para Guardian yang semula penuh amarah kini berubah menjadi ekspresi campuran antara kebingungan dan penantian.
Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, mereka hanya menunggu perintah sang tuan.
Suara keras sebelumnya yang merajam dari Calliga, sang penguasa dungeon yang tak terbantahkan, tetap mendominasi seluruh ruangan.
Namun, dia merenung sejenak, matanya yang tajam merenung ke arah Evelyn yang tak sadarkan diri.
"Untung saja tepat waktu! Jika tidak, manusia itu sudah tewas mengenaskan," gumamnya dengan nada lega.
Calliga melanjutkan dalam keraguan yang mendalam, suaranya terdengar murung.
"hmm.. Lagipula Aku baru saja menyadari bahwa aku belum memberitahu para Guardian tentang kehadirannya.
__ADS_1
Hanya Sebas yang tahu, dan mengapa dia tidak memberitahu yang lain? Entahlah, mungkin aku harus memberitahu semuanya."