
Sarang Dungeon yang mereka masuki benar-benar menyeramkan, jauh lebih menakutkan dari perkiraan mereka.
Lorong-lorongnya yang luas dan berbelok-belok memberi kesan bahwa mereka berada di tempat yang tak berujung. Dinding-dindingnya yang berwarna coklat-kehitaman pekat menambah aura misterius di sekeliling mereka.
Sementara itu, terdapat cahaya remang-remang dari batu permata cahaya tersebar di sepanjang lorong, menyediakan pencahayaan yang cukup untuk menghindari langkah-langkah yang salah.
"Mengapa aku merasa seperti masuk ke dalam perut monster yang besar?" gumam Alex.
"Hmm, lorong ini benar-benar tak berujung. Bagaimana mungkin sarang monster sebesar ini ada di dalam hutan?" ucap Viona, ekspresi tercengang di wajahnya.
Tigris, dengan penuh perhatian, mencoba mencatat setiap jalan yang mereka lewati. "Kita harus berhati-hati dan tidak tersesat di sini. Aku akan mencatat setiap tikungan dan tanda khusus di lorong ini agar kita dapat kembali dengan aman."
Sementara itu, Rio tetap tenang, mengawasi sekelilingnya dengan penuh kewaspadaan. "Jika ada sesuatu yang aneh, beritahukan segera. Kita harus tetap waspada dengan segala kemungkinan."
Perjalanan mereka semakin dalam ke dalam lorong dungeon misterius ini.
"Hmm, kami sudah berjalan cukup dalam, tapi kumbang-kumbang itu belum keluar juga," ucap Tigris dengan suara kecil kepada seluruh temannya.
"Apakah kalian merasakan sepertinya ada yang mengawasi kita? Hmm, kurasa para kumbang mengumpat dan mengawasi kita dari kejauhan dalam cahaya yang kurang ini," ujar Alex kepada Rio.
Rio mengangguk setuju. Ia bisa merasakan keberadaan para kumbang di sekitar mereka, tapi tidak bisa melihatnya, mungkin karena mereka bersembunyi di tempat yang gelap dan tersembunyi.
Di lorong ini, cahayanya memang sangat remang-remang, mungkin itulah alasan mengapa mereka kesulitan melihat dengan jelas.
Tak berlama-lama, Alex meminta bantuan Zay, sang magic caster, untuk menggunakan sihir penerangan guna menerangi sekitar mereka. "Zay, gunakanlah sihir peneranganmu, biar kami semua bisa melihat dengan jelas tempat ini."
Zay mengangguk dan dengan cepat mulai merapal mantra sihirnya, "[Radiant Light]!"
Saat itu juga, terciptalah sebuah orb dengan cahaya terang yang menyelimuti mereka, menerangi jalan mereka yang sebelumnya gelap gulita.
Cahaya dari sihir penerangan Zay membuat lingkungan menjadi lebih terang, namun tetap tidak ada tanda-tanda keberadaan kumbang atau serangga lainnya.
Alex menggelengkan kepalanya, "Ini aneh... Sebelumnya aku merasakan ada yang mengawasi dalam cahaya remang-gelap, dan sekarang sudah mulai terang sedikit berkat sihirmu, Zay. Tapi lihatlah disekeliling kita, tidak ada kumbang maupun serangga yang bersembunyi di lorong ini. Ini memberiku perasaan tidak enak."
Keseluruhan anggota party mendengarkan perkataan Alex dan mengangguk setuju.
Lara menambahkan dengan pertanyaan bingung, "Betul, kita sudah berjalan cukup jauh di lorong ini, tapi para kumbang yang bersembunyi belum menyerang kita. Apa yang terjadi di sini?" Lara merenung sejenak, mencoba memahami misteri di balik ketidakhadiran kumbang tersebut.
Rio yang mencoba memberikan penjelasan, "Kumbang tanduk adalah serangga yang memiliki tingkat ancaman terendah dan pastinya mengandalkan jumlah yang banyak untuk menyerang musuhnya. Biasanya, sarang atau dungeon para serangga yang lemah akan dipenuhi oleh kumbang yang bertebaran dimana-mana, mulai dari pintu masuk dungeon hingga sarang ratu mereka, yaitu boss dungeon ini."
"Dari situasi ini, sepertinya ada sesuatu yang menghalangi kumbang untuk keluar atau bahkan mungkin mengendalikannya," ujar Viona dengan penuh spekulasi.
Pandangan mereka kembali tertuju pada sekeliling yang hening dan kosong. Mereka tahu bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh dungeon ini.
Mereka terus berjalan dengan hati-hati di dalam dungeon yang gelap dan misterius itu. Mereka merasa semakin waspada karena situasi yang tidak biasa ini. Tidak ada satu pun monster atau kumbang yang menyerang mereka, dan itu membuat mereka semakin curiga.
"Mengapa semuanya terasa begitu hening? Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres di sini," ucap Lara dengan nada waspada.
"Ya, sangat aneh. Biasanya kumbang-kumbang itu selalu mengganggu kita dengan serangannya yang membosankan," tambah Alex sambil menggaruk kepalanya yang berbulu.
"Tapi sekarang mereka menghilang entah ke mana," ucap Zay, sang magic caster, dengan heran.
"Sudah pasti ada sesuatu yang mengendalikan mereka atau menghalangi mereka untuk keluar," sahut Rio dengan pikiran tajamnya.
Kelima anggota party ini terus menjelajah dungeon, semakin memperhatikan setiap detail di sekitar mereka. Namun, kecuali dinding coklat-kehitaman yang mencurigakan, tidak ada tanda-tanda lain dari kehadiran monster atau serangga.
"Sepertinya kita harus tetap waspada dan berhati-hati," ucap Viona dengan sikap serius. "Siapa tahu kita akan menemukan sesuatu yang besar di ujung dungeon ini."
__ADS_1
"Mungkin ada monster besar yang sedang tidur dan mengawasi kita dari kejauhan," gurau Tigris dengan senyum licik.
"Jangan buat candaan yang membuat suasana semakin tegang," balas Alex dengan sedikit nada emosi.
Di kejauhan lorong gelap dengan cahaya remang-remang, terdengar bunyi hentakan kaki yang semakin mendekat ke arah mereka.
Lara dengan cepat mengingatkan seluruh anggota party-nya dengan serius, "Apakah kalian juga mendengar suara hentakan kaki itu?" Semua anggota pun memandang satu sama lain, dan tak disangka, mereka semua menyadari adanya hentakan kaki tersebut.
"Ternyata kita tidak sendirian di sini, ya?" kata Viona dengan nada tegang.
"Ya, sepertinya terdapat kumpulan serangga banyak yang bergegas ke arah kita. Jangan lengah sedikit pun, bersiaplah!" ucap Rio dengan serius kepada seluruh kawan-nya.
Dengan sigap, Mereka semua mengeluarkan senjata andalan mereka, siap menghadapi serangan monster kumbang yang mungkin datang.
Tigris, yang bertindak sebagai Tank dan Support, bersiap untuk menggunakan sihir buff-nya untuk menguatkan seluruh anggota party.
"Tidak usah, simpan manamu untuk hal yang lebih penting," sahut Alex sambil mengeluarkan pedang andalannya dengan mantap.
"Ok, Kapten," jawab Tigris dengan hormat.
Suara hentakan kaki semakin mendekat dan semakin keras. Mereka siap menghadapi apa pun yang akan keluar dari gelapnya lorong.
"Bersiaplah!" ucap Alex sebagai pemimpin mereka dengan tegas.
Suara hentakan berlarian semakin mendekat, dan dari kejauhan terlihat monster yang menyerbu mereka. Viona terkejut saat melihat skeleton yang berlari menuju mereka.
"HAAAHHH?? Undead Skeleton? Di dungeon serangga ini?" ujarnya kaget.
Kelima anggota party lainnya juga ikut terkejut. Mereka seharusnya berada di sarang kumbang, bukan dihadapkan dengan makhluk Undead Skeleton seperti ini.
Rio pun menyatakan keheranannya, "Ini sangat aneh dan ajaib, apakah Boss dungeon ini adalah Kumbang Undead?"
"Entahlah, tapi aku yakin Boss dungeon ini pasti lemah, HAHAHA," jawab Alex dengan percaya diri.
"Ya, kau benar, Alex! Lihatlah, Boss dungeon hanya menempatkan undead skeleton yang lemah di tempat ini, haha," seru Tigris sambil tertawa keras. Semua anggota party pun ikut tertawa menyenangkan.
Rio menepuk tangannya untuk menandakan agar berhenti tertawa dan fokus pada musuh. Seluruh anggota party pun akhirnya berhenti tertawa dan memusatkan perhatian karena ucapan Rio.
"Baiklah, kalau begitu aku yang memimpin strategi penyerangan ini, agar lebih efektif," ucap Rio kepada kawannya.
Alex menjawab, "Tidak masalah," karena dia tahu bahwa sebelum Rio meninggalkan party Phantom Nemesis, Rio merupakan ahli strategi mereka.
Rio dengan cepat memberi instruksi kepada Lara, sang ranger Elf, untuk bersiap menyerang.
"Lara, gunakanlah skill panah Ranger AOE dan Crowd Control-mu dari jarak jauh dan tunggulah aba-abaku sebelum menyerang," kata Rio, dan Lara mengangguk patuh.
Selanjutnya, Rio melanjutkan, "Tigris, suntikkanlah sebagian sihir sucimu ke senjata busur Lara dengan cepat!" Tigris dengan sigap menyuntikkan sihir suci ke busur dan panah Lara.
Rio pun berkata kepada Viona, Zay, dan Alex untuk menyimpan mana dan stamina mereka untuk berjaga-jaga menghadapi bos dungeon ini. Jadi mereka hanya diam saja dan siap untuk bertindak jika dibutuhkan.
Dengan strategi yang telah ditentukan, seluruh anggota party berdiri dengan tegak, siap untuk menghadapi serangan monster kumbang raksasa dan Undead Skeleton yang semakin mendekat.
"Tunggu sampai mereka mendekat, jangan menembakkan panah sebelum aba-abaku!" bisik Rio kepada Lara dengan tegas.
Mereka menunggu dengan sabar dan hati-hati. Saat para monster semakin mendekat, Rio memberikan aba-aba, "SEKARANG!"
Tanpa ragu, Lara segera menggunakan skill Ranger-nya, [Binding Shot], dengan panah yang diperkuat oleh sihir suci dari Tigris, mengarah ke arah kumpulan Undead Skeleton yang berlari menyerbu mereka dari kejauhan.
__ADS_1
[Binding Shot] adalah skill yang mengeluarkan banyak anak panah yang mampu mengikat musuh-musuh di tempat mereka berdiri, membatasi gerakan mereka selama beberapa saat.
"Shoot... Shoot... Shoot..." terdengar suara tembakan dari anak panah Lara.
Banyak anak panah [Binding Shot] yang diperkuat oleh sihir suci mengenai Undead Skeleton, dan seketika itu kumpulan monster itu menjadi tidak bergerak selama beberapa saat. Efek dari sihir suci dalam skill panah Lara mengubah sekumpulan Undead Skeleton menjadi abu, menambahkan efek yang luar biasa pada serangan tersebut.
Beberapa menit berlalu, Situasi terus memanas ketika serangan Undead Skeleton tak kunjung reda dan terus berdatangan dari arah lorong yang gelap.
Lara terus menembakkan panah tanpa henti, tetapi tampaknya tak ada habisnya. Dia pun mengeluh, "Ini gila! Tidak ada habis-habisnya! Kalau begini terus, kita akan kelelahan, sedangkan undead tersebut tidak mengenal lelah!"
Alex, yang melihat keadaan ini, menyadari bahwa mereka harus melakukan sesuatu. Dia berbicara kepada Rio, Viona, dan Zay, "Mau tidak mau, kita harus membantu mereka."
Tanpa ragu, keempatnya bergerak ke depan bersama-sama, mempersiapkan serangan mereka. Rio menarik pedangnya, Viona memegang sepasang belati kecil-nya, Alex bersiap dengan pedangnya, Tigris mengangkat perisai nya dan Zay mengangkat tangan dan siap merapal Mantra sihirnya.
"Jangan Lengah!" seru Rio, dan Kelimanya langsung terjun ke dalam pertempuran.
Rio bergerak dengan lincah, memotong dan mengiris Undead Skeleton dengan gerakan yang cepat dan presisi. Viona menggunakan belati-nya untuk melumpuhkan beberapa undead, sementara Alex mengayunkan pedangnya dengan kekuatan yang menghancurkan. Tigris bertindak sebagai perisai, melindungi rekan-rekannya dari serangan musuh. Dan Zay menyerang menggunakan sihirnya.
Tak berapa lama kemudian, dengan kerja tim, Mereka berhasil mengatasi serbuan undead tersebut.
Mereka melihat banyak undead yang berubah menjadi debu, menandakan bahwa mereka telah berhasil mengalahkannya. Dan saat itu juga Dilorong kejauhan yang gelap, mereka melihat sesuatu yang besar.
Dalam sekejap, suasana berubah menjadi tegang saat mereka melihat Cerberus, anjing neraka dengan tiga kepala, muncul dari lorong kejauhan. Alex segera memberikan peringatan, "Tampaknya Boss dungeon sudah keluar, baiklah waktunya untuk serius."
Kelima anggota party pun menegangkan otot-otot mereka, siap melawan Boss dungeon.
...
Setelah pertarungan panjang dengan sekuat tenaga, mereka berhasil mengatasi kelelahan dan melumpuhkan monster yang kuat tersebut.
"Sudah lama kita tidak melawan Boss dungeon yang sekuat ini. HAHAHA, Benar bukan, Rio?" ucap Alex dengan riang.
"Kau benar, Alex. Terakhir kali kita menghadapi musuh sekuat ini saat kita masih muda. Ah, betapa rindunya aku pada masa muda dulu, HAHAHAHA," balas Rio dengan tawa khasnya yang membuat anggota party lainnya ikut terpingkal.
Setelah sejenak beristirahat, Rio memberi perintah untuk mengambil inti dungeon dari tubuh Cerberus. Inti dungeon adalah item berharga yang bisa mereka jual untuk mendapatkan imbalan besar. Dengan mengakhiri cerita tentang kumbang misterius ini, mereka juga bisa meredakan rumor-rumor yang beredar dan memberi laporan kepada Raja Theovilus.
Alex pun mengangguk, Dengan cepat ia membelah kepala Cerberus dengan pedang-nya.
Alih-alih mendapatkan batu permata Inti dungeon. Ia malah melihat mayat anjing cerberus, berubah menjadi batu dan seketika itu juga pecah berkeping-keping.
Dalam sekejap, Alex berubah menjadi tegang dan cemas. Keheranan dan ketakutan pun memenuhi dirinya.
"I-Ini Mu-Mustahil! Apakah monster anjing raksasa aneh ini adalah Golem dan bukan boss dungeon ini? Golem anjing ini saja sudah sangat kuat untuk melawan kami berenam sekuat tenaga. Berarti boss dungeon ini lebih kuat daripada Golem anjing ini! Ini gawat, gawat, gawat! Kami harus kabur dari sini secepatnya!" gumam Alex dengan muka pucat, sambil berkeringat dingin dan jantungnya berdetak kencang.
Dalam kepanikan, Alex berteriak kepada seluruh kawan-kawannya, "CEPAT KABUR DARI SINI! LARILAH CEPAT KELUAR DARI DUNGEON INI! CEPAT! INI BUKAN DUNGEON YANG KITA BISA TAKLUKI!" Teriakan Alex membuat seluruh anggota party bergerak dengan sigap.
Rio, yang tengah asik merokok, juga terkejut melihat reaksi serius dari Alex. Ia menghentikan aktivitasnya dan mengamati dengan cermat keadaan sekitar.
Tigris, Viona, Zay, dan Lara yang sedang rebahan di lantai pun terkejut mendengar teriakan pemimpin mereka, Alex, yang tampaknya serius.
Mereka segera berdiri dan bersiap untuk kabur dan berlari meninggalkan dungeon ini.
Namun, sebelum mereka bisa melarikan diri, tiba-tiba lantai di sekeliling mereka menyala terang, dan sebuah sigil sihir berbentuk lingkaran mengelilingi mereka.
"Apa ini? Kenapa kita tidak bisa kabur?" gumam Viona dengan heran.
"Ternyata ada sihir penghalang di sekeliling kita!" seru Zay.
__ADS_1
Tanpa bisa berbuat apa-apa, mereka pun secara tiba-tiba berteleportasi ke lantai bawah dungeon.
Saat mereka membuka mata, mereka menemukan diri mereka berada di sebuah ruangan yang jauh lebih besar daripada sebelumnya.