Dragon Lord System

Dragon Lord System
S3 - 80


__ADS_3

Aku masih melihat kamar besarku yang sekarang dipenuhi retakan kecil ataupun besar akibat kebodohanku menguji skill baruku.


Pandanganku menggelantung dari retakan satu ke retakan lain, dan entah mengapa, retakan-retakan itu terlihat seperti senyum licik dari dinding-dinding kamarku.


Mungkin ini hukuman untuk kecerobohanku.


Apakah aku harus memperbaikinya? Hmm, kurasa tidak. Aku terlalu malas untuk mengurusi perbaikan ini.


Lagipula, mungkin ini bisa memberi sentuhan 'rustik' pada kamar raksasaku.


Sepertinya aku harus melanjutkan petualangan dan menelusuri dungeon kuno yang pernah kumasuki sebelumnya.


Tempat itu penuh misteri yang menanti untuk diungkap.


Hmm, tapi aku akan membutuhkan bantuan. Siapa yang sebaiknya kubawa?


Ah, tentu saja bukan Karina, mengingat dia baru saja merasa emosional.


Luna juga tidak cocok, karena dia masih terlalu kecil dan manja.


Sementara itu, Vael mungkin bisa menjadi pilihan yang tepat. Meskipun dia sering terlihat seperti 'kurang' di beberapa hal, tapi dia memiliki kemampuan yang cukup.


Sudah beberapa lama aku menunggunya untuk kembali ke kamarku. Tatapan kosongku meratapi waktu yang berlalu, dan rasanya seperti menunggu abad lamanya.


Ah, ini membuatku merasa seperti seorang pangeran dalam dongeng yang menunggu sang penyelamat. Tapi hei, aku bukan pangeran dongeng, aku lebih mirip penguasa gelap dalam cerita.


Apakah aku harus terus menunggunya? Ah, tapi ini sudah terlalu lama. Pikiranku mulai beralih antara berbagai kemungkinan.


Sepertinya aku harus memeriksanya sendiri. Aku tidak bisa menunggu lebih lama.


Perlahan-lahan aku bangkit dari posisi tiduranku yang terletak di tengah kamar yang besar itu.


Gerakanku tenang, seperti penguasa yang mengamati kerajaannya. Aku berjalan menuju pintu besar kamar, melewati bolongan besar yang membentang dengan retakan-retakan besar.


Pemandangan itu memicu sedikit rasa kesal, tapi aku mencoba untuk tetap tenang.


Baiklah, sekarang waktunya menuju bolongan besar itu.


Aku berjalan perlahan keluar dari kamarku dan menuju melalui lorong-lorong luas yang menghiasi lantai 10ku ini.


Terangnya cahaya lilin dan aroma usang dari dinding-dinding nuansa gelap memberikan suasana yang agak suram, tetapi juga memberikan kesan klasik dan misterius.


Aku merasa seperti karakter antagonis dalam sebuah novel yang harus menjelajahi labirin bawah tanah untuk mengungkap rahasia gelap.


Mungkin aku memang layak dijadikan tokoh antagonis utama dalam cerita semacam itu.


Hahaha..


Aku terus berjalan, melihat lorong-lorong yang seolah menjadi lantai tempatku tinggal.


Rasanya seperti aku berada di dalam film sihir di mana ruang dan waktu menjadi tanpa batas.


Tetapi ada satu hal yang mengganggu pikiranku: bagaimana Sebas bisa merenovasi lantai ini menjadi begitu besar dan indah?


Aku menggelengkan kepala dengan penuh kagum. Sungguh, ini benar-benar sebuah karya seni.


Lantai tempatku tinggal kini setara dengan istana kerajaan, bahkan mungkin melebihi istana itu sendiri.

__ADS_1


Bayangkan saja, pasti mereka berkata bahwa istana kerajaan hanyalah seperti mainan di depan kediamanku yang mewah.


Aku mengelilingi ruangan kosong yang begitu luas ini, merenungkan segala kemewahannya. Pernah terbersit dalam pikiranku untuk merenovasi beberapa bagian tempat ini menjadi ruang pertemuan atau ruang permainan yang luas.


Namun, Sebas nampaknya sudah melakukannya dengan sangat baik, bahkan mungkin lebih baik dari yang kuduga.


Kulihat berbagai ruangan yang begitu besar dan indah ini, dan rasanya seakan-akan ukurannya dibesarkan untuk menyesuaikan dengan tubuh besar naga milikku.


Terkadang aku merasa seperti raja penuh kehormatan dengan kerajaan pribadiku yang begitu megah.


Entah bagaimana Sebas bisa melakukannya, tapi suatu saat aku pasti akan memberinya hadiah besar sebagai penghargaan untuk kerja kerasnya.


Aku tersenyum dalam pikiranku, membayangkan ekspresi kaget Sebas saat menerima hadiah itu.


Ah pilihanku tepat untuk menjadikannya sebagai saudara tertua Untuk memimpin adik-adiknya. Dan untuk mengatur keseluruhan dungeonku ini.


Namun meski rumah dungeonku begitu besar, rasanya tetap sunyi dan sepi. Hanya sedikit orang yang tinggal di dalamnya, dan terkadang keheningan ini membuatku merasa kesepian.


Melanjutkan perjalanan, aku bergerak menuju lobang besar yang telah kuciptakan di lantai 10.


Waktuku terus berlalu, tapi Vael belum juga kembali. Aku menunggunya beberapa menit, tetapi tampaknya dia sibuk dengan urusannya sendiri.


Ah, tampaknya aku harus meneruskan penelusuran sendirian. Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa dengan kesendirian.


Perlahan aku melangkah kembali melalui lorong-lorong yang luas di lantai 10 ini, menuju lobang besar yang merupakan jalan pintas menuju dungeon kuno.


Tiba-tiba, seperti kilatan intuitif, aku merasa ada kehadiran yang jauh di sana.


Aneh, sejak kapan aku bisa merasakan kehadiran orang lain?


Dengan mata naga yang tajam, aku sedikit menoleh ke belakang. Penglihatanku yang luas memungkinkanku melihat dengan jelas meskipun hanya menoleh sedikit.


Dan di kejauhan, aku melihat Vael berlutut seperti membeku. Apa yang sedang terjadi dengannya? Apakah dia sakit perut atau ada masalah lain?


Entah mengapa, aku merasa cukup muak dengan drama yang belakangan ini muncul. Terutama setelah insiden dengan Karina. Aku telah memiliki cukup.


Dengan sikap tegas, aku memanggil Vael dari kejauhan, suara terdengar memerintahkan, "Kemarilah, ikutiku!" Aku tidak berniat membiarkan diriku terlibat dalam permainan emosi mereka.


Saat dia mendengar perintahku, aku bisa melihat dia agak terkejut. Mungkin dia sudah terbiasa dengan kenyamanan ruang kerjanya yang tenang.


Namun, keadaan berubah sekarang. Dan sekarang, dia harus mengikuti langkahku.


Kembali melangkah, aku mendekati lobang besar yang kini berada di dalam ruangan yang tertutup oleh gerbang besar, dan semua ini tentu berkat Sebas.


Lantai 10 ini memang seperti dunia sendiri yang diciptakan olehnya.


Namun, ketika aku berbalik untuk melihat Vael, dia masih berlutut di tempatnya yang masih jauh dihadapanku, dan dia sepertinya tidak mengikutiku daritadi, seperti patung beku.


Rasa kesal melanda, dan aku tidak bisa menahan diri untuk tidak berteriak. "Anak bodoh ini!" gumamku dengan iritasi.


"CEPATLAH KEMARI!" teriakan marahku bergema di lorong-lorong besar lantai 10.


Dan akhirnya, Vael merespons. Dia berdiri perlahan dan dengan cepat mengepakkan sayapnya untuk terbang menuju arahku.


Dengan suara shusshhh yang menggema, dia melayang cepat seperti kilat menuju tempatku berdiri.


Itu seperti dia menjadi kompak dengan suara teriakanku, dan kecepatannya begitu mengagumkan.

__ADS_1


Hmm, entah mengapa akhir-akhir ini aku merasa lebih mudah tersulut emosi, tapi mungkin ini hanya akibat kejenuhan setelah insiden-insiden aneh tadi.


Atau bisa jadi efek samping naik level, meskipun sepertinya tidak begitu.


Kini dia berada di sampingku dengan sayap-sayapnya yang megah terentang.


Aku memandangnya dengan ekspresi agak kesal, tetapi juga lega karena dia akhirnya mengikuti perintahku.


"Lebih baik kau tidak membuatku menunggu dalam waktu yang lama lagi," celetukku dengan nada dingin, mencoba untuk menjaga wibawa di depannya.


Vael mendekat dengan hati-hati, dan aku memandangnya lagi. Wajahnya tampak cemas, ditandai dengan keringat di dahinya yang mengalir.


Ada sedikit gemetaran pada tubuhnya, tapi aku merasa tidak ingin terus menyibukkan diri dengan pertanyaan mengenai perasaannya.


Aku hanya mencuekin dan memberikan isyarat agar dia mengikuti.


Dia mengangguk tanpa sepatah kata pun, sepertinya dia juga paham bahwa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk bercakap-cakap.


Aku berbalik dan melangkah menuju pintu yang membawa kami ke lobang besar itu.


Vael mengikuti di belakangku dengan langkah yang canggung, tetapi aku tidak benar-benar ingin mempedulikannya.


Kami berjalan menuju gerbang besar yang menghubungkan kami dengan lobang besar menuju dungeon kuno.


Setelah beberapa menit, kami tiba di gerbang tersebut. Tanpa perlu perintah, gerbang terbuka dengan sendirinya, memberi kami akses ke lobang besar yang menjulang di depan kami.


Lobang tersebut memiliki diameter yang cukup besar, sekitar 10 meter, dan mendalam hingga lebih dari 100 meter.


Tanpa ragu, aku melompat ke dalamnya dan merasakan sensasi meluncur dengan cepat.


Vael juga segera mengikuti, membuka sayap besarnya untuk mengendalikan pergerakan.


Suara angin memekarkan telingaku ketika aku terus meluncur dengan kecepatan tinggi.


Statistik kecepatanku yang mencapai 200 membuatku terasa seperti kilat yang melaju. Aku merasakan adrenalin berdenyut di dalam diriku, sensasi ini begitu menyenangkan.


Vael pun mengikuti di belakangku, menciptakan suara serupa dengan sayap besarnya yang menggebrak angin.


Kami meluncur dengan cepat ke dalam kedalaman lobang besar itu, menuju ke petualangan baru yang mungkin membawa bahaya dan misteri.


Namun, entah mengapa, kali ini aku tidak merasa takut sama sekali dan merasa lebih berani.


Dengan gerakan lincah, aku tiba lebih dulu di sebuah goa besar yang gelap di dalam dungeon. Namun, kegelapan bukanlah hambatan bagiku.


Berkat skill pasif [Night Vision] yang kupunyai, pandanganku dalam kegelapan sama tajamnya seperti siang hari.


Aku mengamati goa itu dengan jelas, bayangan-bayangan di dalamnya, dan setiap detail yang mungkin tersembunyi bagi mata biasa.


Kemampuan ini sungguh bermanfaat, terutama dalam tempat gelap gulita semacam ini.


Tidak butuh waktu lama hingga Vael mendarat di sampingku. Namun, ada sesuatu yang aneh pada sikapnya.


Meskipun dia sering kali bersemangat dan ceria, kali ini terlihat seolah-olah dia enggan menatapku. Kepalanya tertunduk, dan senyumnya sepertinya menghilang.


Aku menggelengkan kepala, memutuskan untuk tidak memikirkan hal tersebut saat ini.


Fokus tujuanku adalah di dalam dungeon kuno yang berada didalam danau tersebut.

__ADS_1


__ADS_2