Dragon Lord System

Dragon Lord System
DLS - 111


__ADS_3

Ketegangan terasa memenuhi udara di ruangan itu, seperti di antara lapisan-lapisan kebenaran yang ingin diungkapkan dan rahasia yang ingin disembunyikan.


Raja Theovilus terus menatap Alvin dengan mata tajamnya, seolah ingin menembus kedalaman pikirannya.


"Hmm... Apakah itu benar?" ucapnya, suaranya tenang namun penuh tekanan.


Alvin merasa terpojok oleh pandangan tajam sang raja.


"Itu tidak benar, Yang Mulia!" balas Alvin dengan suara yang bergetar, mencoba menutupi gugupnya.


Raja Theovilus mengangguk lambat, seakan mengerti perasaan Alvin.


"Kalau begitu, katakan apa yang kau lihat dalam penelusuran itu? Apakah kau berhasil menemukan sarang kumbang yang mewabah?" tanyanya dengan nada yang masih terus mengintai.


Alvin merasakan tekanan semakin kuat, dan dengan segera ia berusaha berpikir cepat untuk menjawab.


Ia menyusun kata-kata dalam benaknya, mengarang dengan keras demi mempertahankan posisinya.


Setelah sesaat yang terasa berat, ia mulai menjawab perlahan.


"Yang Mulia, sayangnya kami tidak menemukan sarang kumbang yang mewabah, akan tetapi kami dihadang oleh sekelompok naga biru enclave. Kami bersyukur beberapa dari kami masih selamat karena aksi bijak yang kulakukan, oleh karena itu kami memutuskan untuk kembali ke kota ini, " ucap Alvin dengan jawaban yang terdengar serius, tetapi juga mengandung nada keberanian palsu.


Sejenak suasana terasa tegang, seperti di ambang kata-kata yang bisa merubah segalanya.


Raja Theovilus masih memandang Alvin dengan ekspresi yang sulit ditebak,


Rio yang mendengarnya ingin tertawa tapi saat itu juga ia merasakan tekanan di tangannya semakin kuat dan kasar, seolah-olah istrinya yang berada di sisinya tiba-tiba berubah menjadi sosok yang penuh kekerasan.


Ia menatap Evelyn dengan penuh kebingungan, mencoba mencari penjelasan atas perubahan tiba-tiba ini.


Namun, sesuatu yang aneh terjadi di atas kepala pria yang ia kira adalah Evelyn. Rio melihat pancaran distorsi yang hanya terlihat olehnya, sebuah tanda bahwa ada ilusi yang diterapkan.


Tiba-tiba, pria yang menyamar sebagai Evelyn tersenyum lebar padanya, merasa telah berhasil mengelabui Rio.


Tanpa ragu, Rio melepaskan genggamannya dari tangan yang kasar itu. Wajahnya berubah menjadi ekspresi kebingungan dan amarah.


Bagaimana bisa ia tidak menyadari perbedaan ini sebelumnya? Bagaimana seseorang bisa membuat ilusi yang sedemikian sempurna?

__ADS_1


Pria yang menyamar sebagai Evelyn hanya semakin tersenyum, merasa telah mengambil Rio dengan sempurna.


Detak jantung Rio semakin cepat ketika ia mencoba merangkai kejadian-kejadian dan menemukan benang merah di balik skema ini.


Istrinya, Evelyn, mungkin telah diculik oleh para bangsawan bajingan termaksud alvin yang berada dihadapannya.


"Bajingan!" geram Rio dalam hati, tetapi ia tahu bahwa saat ini marah hanya akan memperburuk situasi.


Matanya mengarah pada Raja Theovilus, yang menunggu jawaban dari pertanyaannya. Keringat dingin mulai menetes di dahinya saat ia merasa tertekan oleh situasi yang berat.


"Apakah itu benar, Rio?" tanya Raja Theovilus dengan pandangan tajam. Kepada Alvin yang tampak tak sabar, ia menunjukkan bahwa situasi semakin mengarah pada kebenaran.


Rio merasa seperti berada di persimpangan jalan yang sulit. Ia ingin membela diri dan memberitahu raja tentang rencana busuk Alvin, tetapi ia tahu bahwa jika ia melakukannya, nyawa istrinya akan berada dalam bahaya yang lebih besar.


Ia merasa dilema di antara kesetiaannya kepada raja dan keinginan untuk melindungi orang yang ia cintai.


Dengan hati-hati, Rio memilih kata-katanya, mencoba menemukan jalan tengah yang akan menjaga istrinya tetap aman.


"Ya, Yang Mulia, sepertinya... aku memang mengalami halusinasi yang aneh... Akibat benturan yang keras di kepala, ucapan dia benar.. Maafkan kebodohanku yang mulia"


Rio bisa merasakan perasaan Alvin yang merasa kemenangan di dekatnya, dan itu hampir tidak tertahankan.


Bagaimanapun, ia merasa lebih aman memilih kebohongan daripada mengungkapkan fakta sebenarnya yang dapat membahayakan nyawa istri tercintanya.


Alvin tampak seperti kucing yang baru saja mengejar tikus dan berhasil mendapatkannya. Senyumannya yang jahat tampak sangat mencolok di tengah ruangan, tetapi Rio menolak memberi Alvin kepuasan melihat kemenangannya.


Meskipun ia merasa terjepit, ia berusaha mempertahankan ketenangan dan berpura-pura seperti yang raja harapkan.


Raja Theovilus tampak sedikit merasa puas dengan jawaban Rio.


"Hm, hati-hati dengan dirimu. Jangan sampai halusinasi itu membawa dampak yang lebih besar."


Tiba-tiba, perhatian raja beralih kepada istri Rio, Evelyn. Rio merasa jantungnya berdegup lebih cepat saat mendengar raja menyuruhnya ikut dengannya ke istana.


Pria yang menyamar menjadi Evelyn menggunakan sihir ilusi, hanya bisa mengangguk dengan penuh hormat.


jika ia mengucap sepatah-kata pasti ketahuan suara laki-lakinya oleh karena itu dia hanya mengangguk saja.

__ADS_1


"Baiklah, kita akan melanjutkan pembicaraan ini di istanaku," ucap raja Theovilus sambil beranjak dari tempatnya.


Pandangannya yang tajam menatap Rio sejenak sebelum dia pergi, meninggalkan Rio dan istrinya dalam situasi yang semakin pelik.


Sebelum alvin keluar ia menghadap wajahnya ke Rio dan mengacungkan jari tengahnya sambil tersenyum jahat.


Lalu akhirnya ia pergi dari kuil tempat itu bersama dengan raja theovilus.


Pintu ruangan tertutup rapat, meninggalkan Rio sendirian dengan pria yang menyamar menjadi Evelyn.


Keheningan yang tak tertahankan terasa memenuhi ruangan, hanya dipecah oleh detak jantung yang berdegup tak menentu.


Pria tersebut menjulurkan lidahnya, meniru ulah Alvin dengan mengacungkan jari tengahnya.


Tindakan itu membuat Rio merasa seperti terjebak dalam sebuah badut yang mengejeknya.


"Sungguh, apakah semua bangsawan bajingan ini memiliki tingkat kedewasaan yang sama dengan anak-anak sekolah?" Rio bergumam kesal dalam hati.


Dengan pandangan tajam, Rio menghadapi pria yang menyamar, mencoba untuk menahan semua emosinya.


Seketika, candaan pria yang menyamar sebagai Evelyn terdengar di telinga Rio dengan nada ngebass yang mencolok.


"Aww, suami cintaku, apakah Kau merindukanku? HAHAHAHAHA," ucapnya dengan nada serak, sambil berusaha menahan tawa kejam.


Tindakan itu membuat Rio semakin marah, tetapi ia berusaha mengendalikan diri agar tidak terjerumus dalam permainan psikologis pria itu.


"BAJINGAN! DIMANA ISTRIKU?!" Rio merasakan amarah membara dan perlahan berdiri dari kasurnya.


"jika kau melukaiku, nyawa istrimu tentu saja akan melayang, hehehe" ucap pria tersebut.


Rio meraih penuh keinginan untuk menghantam pria itu dan menggigit bibir bawahnya untuk menahan emosi yang meluap.


Namun, ia ingat bahwa terburu-buru dan emosional hanya akan mengancam nyawa istrinya.


Pria itu terus tersenyum dengan gaya jahatnya, dengan mata yang memancarkan kepuasan akan ketidakpastian yang dirasakan oleh Rio.


Namun, dalam hati Rio, ia bersumpah bahwa jika pria itu menyentuh sehelai rambut pun dari Evelyn, semua neraka akan dilepaskan olehnya.

__ADS_1


Ia akan membalas semua kejahatan yang telah dilakukan oleh pria itu termaksud para bangsawan bajingan, bahkan jika itu berarti harus menghadapi kekuatan yang lebih besar dari dirinya sendiri.


__ADS_2