
"Sebentar lagi kita berangkat, kau bersabarlah sedikit" jawabku kepada Lithos sembari duduk di kursi megahku.
Aku berniat menggunakan skill teleportasiku.
Namun, sebelum kami berteleportasi ke lantai pertama, rasa bersalah memenuhi hatiku karena aku tadi membentak marah kepada kedua penjaga golem.
Aku merasa harus memberikan permintaan maaf kepada mereka.
Aku mendekati mereka dengan perasaan penyesalan, sementara mereka terlihat ketakutan.
Mereka mungkin berpikir bahwa aku akan marah dan menghukum mereka. Tapi kali ini, aku ingin menunjukkan bahwa aku bisa bersikap lembut.
Keempat mata golem itu memandangku dengan cemas.
Lalu aku menepuk pundak mereka berdua dan meminta maaf dengan tulus, "Maafkan aku telah membentak keras kepada kalian berdua sebelumnya, Gavel, Magnar," ucapku sembari menepuk pundak mereka berdua dengan senyuman tulus di wajahku.
Kedua golem itu tampak ketakutan mendengar permintaan maafku.
Sementara itu, Lithos, Sebas, Gameciel, dan Karina duduk di sofa dekat meja kerjaku, dan sepertinya mereka sedang memperhatikanku dengan penuh perhatian.
Kemudian, kedua golem itu berkata dengan gemetar dan terbata, "Tu-tuan tahu nama-nama pelayanmu ini?!"
Aku tersenyum.
Yap, aku tahu bukan karena aku menghafal nama mereka atau sering bertemu dengan mereka.
melainkan karena aku dapat melihat status nama mereka di atas kepala mereka, dan sepertinya Hanya aku yang memiliki kemampuan ini.
sehingga aku bisa dengan mudah mengenali seluruh orang yang kulihat berdasarkan nama yang muncul di atas kepala mereka, yakni status nama mereka.
Gavel dan Magnar terlihat terharu, dan ekspresi gemetar mereka berubah menjadi rasa hormat.
Lalu aku menjawab mereka berdua, "Tentu saja! Aku lah yang menciptakan kalian dan menamai kalian, jadi aku selalu ingat dengan karyaku dalam detail," ucapku dengan percaya diri kepada mereka berdua.
Lalu, Gavel dan Magnar terharu dan kagum dengan pengakuan ini.
Mereka bahkan sampai tersungkur di lantai dan meminta maaf sedalam-dalamnya kepadaku.
Mereka merasa bersalah karena perilaku tidak sopan mereka sebelumnya dan karena menghina dan menyerangku tanpa sadar ketika aku mengenakan armor lengkap yang menutupi penampilanku.
Aku memerintahkan mereka berdua untuk berdiri kembali dengan lembut, mengucapkan rasa terima kasihku karena telah menjaga kamarku dengan setia.
Aku hanya tersenyum puas dan berkata dengan lembut, "Kalian berdua bangkitlah. Aku berterima kasih kepada kalian berdua telah menjaga kamarku, dan sebentar lagi aku akan pergi. Aku percayakan penjagaan kamarku kepada kalian," ucapku dengan nada yang lembut, menggunakan intonasi suara yang sudah sering aku latih.
__ADS_1
Kedua golem berbentuk kesatria manusia perlahan berdiri kembali, menatapku dengan hormat.
Dengan cepat, mereka menjawab dengan semangat, "Tentu kami akan mengindahkan perintah anda, Supreme one!" Semangat mereka begitu membara, dan aku tidak bisa tidak tersenyum mendengarnya.
"Bagus, aku sangat menyukai semangat kalian!" ucapku dengan senyuman.
Ini adalah momen yang membuatku bangga akan karya-karya ciptaanku, sekaligus menunjukkan loyalitas dan semangat para penghuni dungeonku.
Lalu, Aku berjalan menuju Lithos dan Sebas yang duduk di sofa, berniat mengaktifkan skill teleportasiku untuk kembali ke lantai 1.
Namun, sebelum aku pergi, aku harus berpamitan kepada putri dan putraku, Gameciel dan Karina.
"Selamat tinggal, kalian berdua. Jagalah rumah kita dengan baik selama aku tiada," ucapku kepada mereka sambil menatap wajah mereka dengan penuh kasih.
Mereka berdua dengan hormat menjawab, "Tentu, Ayah!"
Aku tersenyum kepada mereka, kemudian memejamkan mata dan memusatkan energiku untuk mengaktifkan skill teleportasi.
Aku mengaktifkan skill teleportasi "[Mass Teleportation]" dengan cepat, dan kami bercahaya sebelum menghilang dari ruanganku di lantai bawah.
Tiba-tiba, kami mendarat dengan sempurna di lantai 1 dungeonku.
lantai ini terjadi perubahan karakteristik yang berbeda, seperti lorong-lorong yang semakin luas dan struktur yang semakin kokoh, yap ini semua berkat system ekspansi dungeon.
Undead skeleton, zombie, ghoul, dan vampire tampaknya bersembunyi atau berdiam diri, siap untuk menyerang penyusup.
Tidak hanya itu, bahkan beberapa serangga seperti kumbang anak-anak Zara berkeliaran di sekitar lantai 1, menciptakan suasana yang semakin mencekam.
Aku berbalik ke arah Lithos, yang berdiri di sampingku dalam bentuk manusianya.
"Apakah kau yakin ingin ikut denganku ke kota manusia?" tanyaku kepadanya.
Lithos menatapku dengan tekad.
"Ya, itu benar, kawanku. Apakah ada masalah dengan itu?" Balasannya yakin, tidak ada keraguan dalam suaranya.
Aku tahu dia sedang berbohong.
Aku tahu dengan pasti betapa Lithos membenci manusia. Setiap kali kita berbicara dan kata-kata atau unsur manusia muncul dalam percakapan, emosinya selalu terpancar jelas. Tapi saat ini, keinginannya yang keras untuk pergi ke kota manusia cukup mengejutkanku.
Dengan pandangan tajam, aku bertanya, "Bukankah kau sangat membenci manusia? Mengapa kau begitu keras ingin ikut denganku ke kota manusia?"
Lithos, dengan ekspresi yang sedikit berpura-pura sedih, menjawab dengan suara lembut yang membuatku yakin.
__ADS_1
"Kawanku, tahukah kamu, sudah lama sekali aku tidak memiliki kawan sebaik dirimu. Aku ingin menemanimu, itulah yang terpenting bagiku."
Aku merasa ingin muntah mendengar kata-katanya, dan meskipun aku tahu bahwa Lithos adalah entitas supernatural yang berbeda dari manusia, rasanya seperti aku memiliki sahabat badut yang sejati.
Sebenarnya aku tahu niatnya pasti ingin mencari kekasihnya yang telah lama hilang bersama denganku.
Saatnya kebenaran terkuak.
Aku melihat mata Lithos yang terpana karena aku berhasil menerka niat sebenarnya.
"Hmm, aku tahu niat sebenarmu, Lithos. Kau ingin ikutku karena ingin sekalian mencari Merrli, bukan?" tanyaku dengan serius.
Lithos tampak terkejut, seolah-olah terpergok karena niat sejatinya terbongkar.
Dia menghela nafas panjang, terlihat lelah, lalu mengangguk perlahan.
"Perkataanmu benar, Kawanku, Calliga," ucapnya dengan nada pelan, lalu menghela nafas panjang lagi.
Aku tahu dia akan menceritakan lebih banyak tentang Merrli, tetapi aku memutuskan untuk memberhentikannya. Tak ingin melihatnya terlalu larut dalam kenangan yang menyedihkan.
Aku memandang Lithos dengan tegas, memastikan bahwa dia mengerti seriusnya permintaanku.
"Baik-baik, aku mengerti. Kalau begitu, kau berjanji kepadaku, jangan menghancurkan kota manusia, jangan membunuh manusia seenakmu hanya karena kau membencinya, dan terakhir, jangan menggunakan kekuatanmu sepenenuhnya di lingkungan manusia," ucapku dengan ketegasan.
Lithos terlihat enggan, dan keberatan tergambar di wajahnya. Namun, aku tidak akan mundur dari tuntutanku.
Aku mengancamnya dengan nada yang lebih keras, "Jika kau melakukan hal yang sudah kularang, aku tak segan untuk mengusirmu dari rumah dungeonku, apakah kau MENGERTI?!" ucapku dengan keras.
Tangannya tiba-tiba mendarat di pundakku, dan dia menggeleng dengan cepat sekuat tenaga. "Jahat sekali kau ini, Calliga!" ucapnya sambil menggertakkan gigi.
Meski dia mungkin merasa kesal, setidaknya aku yakin dia akan mematuhi permintaanku.
Sementara atmosfer terus memanas dalam perdebatan kami, tiba-tiba Sebas, dengan wajah yang penuh dengan kemarahan, melompat menghampiri kami berdua.
Matanya berkilat-kilat saat ia menyaksikan Lithos menyentuhku dengan kasar.
"Berhenti!" teriak Sebas dengan suara tinggi, gemas, dan nada tegas yang jelas terdengar di sana.
Ia tidak membuang waktu dan menepis tangan Lithos yang masih ada di bahuku dengan penuh pembelaan.
Rasa protektifnya terhadapku begitu kuat, seolah-olah ia adalah pendekar yang melindungi sang penguasa dungeon.
Sementara itu, Lithos, yang sebelumnya sudah terganggu oleh perubahannya yang drastis, semakin terpancing amarahnya oleh intervensi Sebas dalam percakapan kami.
__ADS_1
Dengan suara tajam yang penuh amarah, ia membalas, "Kau bocah kurang ajar! Lebih baik kau diam saja! Ini adalah obrolan orang tua. Anak muda sepertimu yang masih manja tidak perlu ikut campur."