Dragon Lord System

Dragon Lord System
S2 - Journey


__ADS_3

Mereka berempat terus melangkah di dalam hutan Elysian yang disebut sebagai "hutan kematian".


Namun, terlihat bahwa hutan ini sama sekali tidak menyeramkan seperti yang mereka bayangkan.


Pohon-pohon besar dengan daun hijau subur, dan sinar matahari yang menyinari jalan setapak mereka. Hanya ada sedikit hewan liar yang mereka temui di sepanjang perjalanan mereka.


"Hmm, kata ayah ini adalah hutan kematian, dan banyak makhluk buas mengerikan di sini. Tapi mengapa terlihat seperti hutan biasa saja? Apakah ayah salah?" ucap Luna dengan penasaran, sambil menatap sekelilingnya.


"Jadi kau meragukan pengetahuan ayah?! Yang sudah hidup begitu lama?! Dasar PENDEK BODOH!" ucap Hades dengan kesal, mencoba membela ayahnya.


"Hey, bocil! Diam! Aku tidak berbicara denganmu, bodoh!" sergah Luna dengan nada yang meninggi, mengabaikan ucapan Hades.


Sebas, yang telah lelah dengan keributan mereka, merasa kebingungan. Ia bertanya-tanya dalam hati, mengapa kedua adiknya selalu ribut tentang hal-hal sepele. Ia ingin mengakhiri keributan itu. Sebas menoleh ke belakang dan menatap Hades dan Luna dengan tajam.


Hades dan Luna, melihat kakak mereka menatap mereka dengan tajam, segera terdiam dan dengan cepat memalingkan muka mereka agar tidak bertatapan dengan Sebas.


Mereka menyadari bahwa mereka telah membuat keributan yang tidak perlu, dan mencoba untuk menahan diri agar tidak memicu kemarahan kakak tertua mereka.


Sebas menghela nafas panjang, berusaha menjelaskan dengan lebih detail kepada Luna tentang apa yang sebenarnya terjadi di hutan Elysian mengapa tidak seperti perkataan ayah mereka.


"Luna, ayah tidak salah mengenai hutan kematian Elysian yang penuh dengan monster ini. Tidak ada monster di sekitar kita saat ini karena mereka kabur akibat perkelahian bodoh kalian tadi!" ucap Sebas dengan sedikit ketus.


Luna memandang Sebas dengan tatapan bingung. "Haah? Aku tidak mengerti, kak," ucapnya dengan kebingungan yang jelas terlihat di wajahnya.


Sebas menjelaskan dengan sabar, "Apakah kalian tahu bahwa saat kalian berdua mengumpulkan energi magis kalian, yaitu sihir suci dan kegelapan, energi tersebut saling bentrok dan menyebabkan fluktuasi sihir yang sangat dahsyat? Banyak monster merasakannya dan kabur menjauh dari sini. Paham sekarang?!"


"Ah, hehehe, maafkan aku, kak Sebas. Ternyata bukan ayah yang salah, melainkan aku yang bodoh," ucap Luna dengan sedikit malu, sambil mengusap kepalanya dengan rasa penyesalan.


"Akhirnya kau mengakui dirimu BODOH! Dasar PENDEK! IDIOT!" ucap Hades dengan nada mengejek, tidak bisa menahan diri untuk tidak memberikan komentar.


Luna sebenarnya ingin membalas ejekan Hades, tetapi ia sadar bahwa Hades berkata benar. Ia memang salah mengira ayah mereka, jadi Luna hanya diam, memalingkan wajahnya, dan mencueki Hades.


...


Aleister melihat dengan kagum dan kejutan saat menemukan sebuah naga besar berwarna biru di langit. Tanpa berpikir panjang, ia segera memanggil kakaknya, Sebas, untuk melihat fenomena tersebut.


"Kak Sebas, lihatlah ke langit!" ucap Aleister sambil menunjuk ke arah langit yang penuh dengan kejutan.


Hades dan Luna, yang juga melihat apa yang ditunjukkan oleh Aleister, terkesima saat melihat naga biru yang menjulang di langit.


"Hmm, kalau dilihat dari ciri-ciri naganya... Eh, bukankah itu naga yang pernah menyerang ayah dan Zara?!" ucap Aleister dengan terkejut, mengingat kejadian yang diceritakan zara, bahwa naga tersebut pernah menyerang ayah mereka.


Hades dan Luna, yang mendengar bahwa naga bodoh berwarna biru itu pernah menyerang ayah mereka, merasakan amarah mendalam dan siap untuk melawan.


"Hah?! Kadal biru jelek itu berani menyerang papa?!, Sepertinya dia ingin mencari kematian!" ucap Luna dengan kesal, berniat mengeluarkan sihirnya untuk melawan naga biru tersebut.


Sementara itu, Hades yang memperhatikan naga biru di langit berkata, "Sepertinya kadal tersebut membutuhkan pelajaran." Hades pun bersiap untuk mengeluarkan sihirnya kegelapan nya sebagai tindakan balas dendam.


Namun, sebelum situasi semakin memanas, Sebas mengambil tindakan tegas untuk menghentikan adik-adiknya.


"Kalian berdua, hentikan!" ucap Sebas dengan suara yang tegas dan penuh wibawa.

__ADS_1


Hades dan Luna memudarkan sihir yang mereka siapkan saat mendengar perintah keras dari kakak mereka, Sebas. Meskipun mereka marah, mereka tahu bahwa mendengarkan kakak mereka adalah yang terbaik dalam situasi ini.


"Haaah?!" ucap mereka berdua dengan terkejut, merespon perkataan kakak mereka, Sebas.


"Tapi kadal bodoh itu menyerang ayah, Kak Sebas!" protes Luna dengan keras.


"Ya, aku tahu itu," ucap Sebas sambil menggaruk kepalanya dengan bingung. "Tapi menurutku, naga itu masih terlalu muda dibandingkan dengan ayah kita. Ayah sudah hidup puluhan ribu tahun atau bahkan lebih. Aku tidak tahu pasti mengapa ayah tidak membalas serangan naga itu."


Sambil mengelus jenggotnya, Sebas melanjutkan penjelasannya dengan penuh teori dan analisis, "Menurut teoriku, ayah sengaja tidak membalas serangan naga bodoh itu karena naga itu masih terlalu muda. Seperti yang kita tahu, naga muda pada usia seperti itu ingin menunjukkan jati diri mereka dengan menyerang yang lebih kuat. Tapi lihatlah, betapa baiknya ayah tidak membalas perbuatan naga bodoh itu. Ayah menganggapnya masih anak-anak atau bayi, dan ia tahu melawan yang lebih lemah itu membosankan, jadi ayah membiarkannya begitu saja."


Aleister, Hades, dan Luna mendengarkan penjelasan kakak tertua mereka, Sebas, dengan kagum. Penjelasan tersebut terdengar masuk akal dan menjelaskan mengapa ayah mereka tidak menghadapi naga tersebut.


"Ah, jadi begitu," ucap Aleister dengan penuh pemahaman.


"Hmm, kadal ingusan bodoh itu beruntung karena ayah terlalu baik!, Kalau aku yang diperlakukan seperti itu, tentu saja aku sudah menghajarnya!" ucap Luna dengan kesal, masih merasa terganggu oleh aksi naga tersebut.


Hades hanya terdiam, matanya terus tertuju pada naga besar berwarna biru di langit.


Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka.


Setelah beberapa jam berjalan di bawah terik matahari, mereka merasa kelelahan dan merindukan tempat yang teduh.


Hades mengeluh tentang panasnya, sedangkan Luna setuju dengan pernyataannya sambil melangkah malas. Namun, Sebas dan Aleister tetap melanjutkan perjalanan dengan tekad yang kuat.


Sebas melihat ke belakang dan melihat kedua adiknya yang mengeluh. Ia bergumam dalam hati, "Inilah sebabnya mengapa aku enggan membawa mereka. Mereka hanya merepotkan bagiku. Tapi ayah memerintahkan untuk membawa mereka, mungkin ada rencana tersembunyi di balik itu." Sebas menghela nafas dalam-dalam.


"Baiklah!, apakah kalian ingin beristirahat sejenak di bawah pohon besar itu?" ucap Sebas dengan lembut.


"Yosh! Akhirnya tempat berteduh!" serentak Hades dan Luna sambil bertepuk tangan dengan antusias.


Setelah sampai di sana, Hades langsung duduk dengan santainya, menyandarkan kepalanya di pohon besar tersebut sambil menguap. Aleister dan Luna juga ikut bergabung, merebahkan diri di bawah pohon yang nyaman.


Sementara itu, Sebas sebagai kakak tertua tetap berdiri dan menjaga mereka dari kejauhan, memantau keadaan sekitar dengan teliti. Ia tidak bisa sepenuhnya bersantai seperti adik-adiknya, tetapi ia senang melihat mereka menikmati momen istirahat mereka.


"Ah, akhirnya bisa bersantai setelah perjalanan yang panjang," ucap Hades sambil meregangkan tubuhnya.


"Benar sekali, ini sangat menyenangkan," sambung Luna dengan senyuman.


Sambil mereka bersantai, Sebas tetap memperhatikan sekeliling mereka, siap untuk bertindak jika ada bahaya mendekat. Meskipun ia merasa sedikit cemburu melihat mereka begitu santai, Sebas tahu bahwa tugasnya sebagai kakak adalah menjaga dan melindungi adik-adiknya.


Mereka berempat menikmati istirahat mereka di bawah pohon besar, menikmati momen kedamaian sejenak sebelum melanjutkan petualangan mereka di hutan Elysian yang penuh misteri dan bahaya.


...


Saat Aleister sedang santai di bawah pohon besar, tiba-tiba ia mendengar suara yang tidak biasa. Ia memperhatikan dan mendengarkan dengan seksama.


"[Message]....."


"Apa suara itu?" gumam Aleister, keheranan.


"[Message]....."

__ADS_1


"Ayah kalian menghubungi kalian."


"Eh? Ayah? Menghubungi kita?" Aleister teringat akan pesan ayah mereka mengenai kemampuan khusus bernama [Message].


Tanpa buang waktu, Aleister memanggil kemampuan tersebut dengan mengucapkan "Message" dan fokus pada ayah mereka. Saat itu, suara berat ayah mereka terdengar di telinga Aleister.


"Jadi, bagaimana kabar kalian semua?" tanya ayah mereka.


"Ayah! Kami baik-baik saja. Kami sedang beristirahat di bawah pohon sekarang. Oh ya, Ayah, tadi Luna dan Hades sedang...." Aleister berusaha melanjutkan pembicaraannya, tetapi tiba-tiba Hades dan Luna memperhatikan Aleister dan mendengar suara ayah mereka. Mereka tahu bahwa Aleister akan melaporkan insiden perkelahian mereka kepada ayah.


Takut akan kemarahan ayah mereka, Hades dan Luna buru-buru mendekati Aleister dan menutup mulutnya dengan cepat, berusaha mengalihkan perhatian ayah mereka.


Luna dengan sigap berkata, "Apa kabar, Papa? Aku merindukan Papa." Hades ikut berbicara, "Hai, Ayah! Aku juga merindukan Ayah. Bagaimana kabar Ayah?"


Hades dan Luna berusaha agar ayah mereka tidak mencurigai apa yang akan dilaporkan oleh Aleister. Mereka berdua menutup mulut Aleister dengan hati-hati untuk menghentikan kalimat yang akan mengungkapkan insiden perkelahian mereka.


Dengan upaya mereka, perhatian ayah mereka berhasil dialihkan. Mereka berusaha menunjukkan rasa rindu mereka dan berbicara dengan antusias agar tidak menimbulkan kecurigaan lebih lanjut.


Hades dan Luna menjaga agar Aleister tidak melanjutkan pembicaraan yang bisa memicu kemarahan ayah mereka. Meskipun kejadian perkelahian mereka tidak terungkap, ketegangan tetap terasa di udara.


"Ah anak-ku aku juga rindu dengan kalian, hmm.. Ngomong-ngomong Dimana aleister?, bukankah ayah tadi berbicara dengannya?, dimana dia sekarang? " tanya ayah mereka.


Hades dan Luna berkeringat saat ayah mereka menanyakan tentang Aleister.


Mereka bingung bagaimana menjawabnya. Luna, yang tergagap-gagap, mencoba menjelaskan bahwa Aleister sedang berbicara dengan Sebas.


"Ayah, e-eh, Ka-kak Aleister se-sedang be-berbicara dengan Ka-kak Sebas, Papa!" ucap Luna dengan gagap.


"Oh, begitu ya. HAHAHAHAHA!" balas ayah mereka dengan suara beratnya.


Hades dan Luna saling berpandangan, bingung dengan tawa tak terduga ayah mereka.


"Mengapa Papa tertawa?" tanya Luna bingung.


"Ah, Tidak apa-apa, anakku. Baiklah, semoga perjalanan kalian mendapatkan hasil yang baik," ucap ayah mereka, lalu langsung memutuskan komunikasi melalui [Message].


Hades dan Luna merasa lega karena ayah mereka tidak mencurigai mereka. Dengan cepat, mereka melepaskan tangan mereka dari mulut Aleister.


"Beruntung Papa tidak curiga," ucap Luna dengan lega.


"Huuh, syukurlah," ucap Hades sambil menghela nafas.


Sementara itu, Aleister merasa kesal karena mulutnya ditutup oleh kedua adiknya saat sedang berbicara dengan ayah mereka. Dengan tatapan tajam kepada kedua adik-nya, ia berdiri dan meninggalkan mereka, menuju ke arah kakaknya, Sebas, dengan ekspresi yang kesal.


Aleister menghela nafas panjang, mencoba meredakan kekesalannya, sementara Sebas melihat ekspresi kesal Aleister dan bertanya, "Ada apa, Aleister?"


Aleister menghela nafas lagi, lalu berkata dengan suara kesal, "Mereka... mereka tahu aku sedang berbicara dengan ayah, tapi mereka menutup mulutku! Itu sangat Menyebalkan!"


Sebas menggelengkan kepala sambil tersenyum, "Kamu tahu kan, mereka masih anak-anak. Terkadang mereka melakukan hal-hal konyol seperti itu tanpa berpikir panjang. Cobalah untuk lebih bersabar dengan mereka."


Aleister mengangguk dengan raut wajah yang masih kesal, tapi perlahan-lahan ia mulai mengerti. Meski begitu, rasa kesalnya masih terasa dalam hati.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan mencoba lebih bersabar," ucap Aleister dengan nada agak terpaksa.


Mereka melanjutkan perjalanan mereka, meninggalkan kejadian tersebut di belakang. Hades dan Luna yang masih bingung, berusaha mengejar mereka, mencoba memahami apa yang terjadi.


__ADS_2