Dragon Lord System

Dragon Lord System
DLS - 118


__ADS_3

Sebas dan seorang pelayan wanita sedang berjalan menuju ayahnya yang memanggilnya.


Sementara mereka berdua berjalan menuju panggilan ayah Sebas, calliga.


Sebas mengajukan pertanyaan pada pelayan wanita yang memimpin jalan.


"Apakah kau tahu mengapa ayah memanggilku?" tanyanya dengan rasa ingin tahu.


Pelayan wanita itu, yang berjalan di depannya dengan langkah ringan, menjawab dengan suara lembut, "Sayangnya, Tuan Sebas, saya tidak mengetahui alasan pastinya. Ayah Anda hanya memberikan perintah agar saya segera membawa Anda ke ruangannya. Namun, hal itu tampaknya cukup penting, mengingat panggilan ini terlalu tiba-tiba."


Sebas mengangguk mengerti. Walaupun dia tidak mengetahui apa yang ada di benak ayahnya, dia bisa merasakan ada sesuatu yang serius terjadi.


Pelayan wanita tersebut mengangguk seraya menjelaskan lebih lanjut, "Ya, tuan Calliga dan tuan Lithos tampaknya ingin mengunjungi kota manusia untuk tujuan yang belum saya ketahui. Mungkin ada sesuatu yang mereka ingin lakukan di sana. Karena itu, tuan calliga memerintahkan saya untuk membawa tuan sebas, ke tempatnya berada yang sekarang berada dilantai 11."


Sebas merenung sejenak, mencoba memahami alasan di balik keputusan ayahnya.


Ia merasa ada sesuatu yang tersembunyi di balik keputusan tersebut, sesuatu yang mungkin berhubungan dengan masalah yang lebih besar.


"Terima kasih, kau telah memberi tahu saya," ucap Sebas kepada pelayan wanita dengan ramah.


Beberapa menit berlalu akhirnya mereka sampai menuju Portal untuk berteleportasi kelantai tertentu.


Cahaya portal memenuhi sekeliling mereka, menyelimuti tubuh mereka dengan kehangatan yang ajaib.


Mereka merasakan sensasi aneh, seperti tubuh mereka sedang diuraikan menjadi partikel-partikel kecil yang siap berteleportasi ke tempat baru.


Sensasi ini terasa singkat, tetapi juga agak aneh.


Kemudian, dengan tiba-tiba, mereka muncul di lantai yang berbeda.


Sebas menghela nafas lega sambil menatap sekeliling. Mereka telah sampai di tujuan mereka, yakni lantai 11.


Ketika Sebas dan pelayan wanita sampai di lantai 11, mereka segera menyadari bahwa ini adalah tempat yang sangat berbeda dari yang sebelumnya.


Mereka berdiri di atas platform yang mengambang di atas luasnya lautan lava mendidih.


Bau belerang yang tajam menusuk hidung mereka, tetapi anehnya, mereka merasa nyaman.


Lava yang mendidih seolah menjadi sungai menyala di dunia bawah ini, dengan gunung berapi menjulang tinggi di kejauhan.


Namun, yang paling mengejutkan adalah makhluk raksasa yang berenang di dalam lava itu.


Sebas dan pelayan wanita itu memandang dengan takjub saat makhluk itu muncul dari dalam lava.


Itu adalah makhluk besar, seperti naga api, dengan tubuh panjang yang terbelah-belah oleh api yang menyala-nyala.


Sebas tidak bisa menahan kekagumannya. Ini adalah salah satu makhluk luar biasa yang diciptakan oleh ayahnya.

__ADS_1


Makhluk ini dengan tenang berenang di dalam lava, seolah-olah itu adalah lingkungannya yang alami. Dan sebas bertanya kepada pelayan wanita yang sedang memimpin jalan.


"Tuan Sebas, ini adalah salah satu makhluk lantai 11 yang diciptakan oleh Tuan Calliga. Mereka adalah penghuni asli lantai ini," jelas pelayan wanita itu dengan tersenyum.


Sebas hanya bisa mengangguk.


Saat Sebas dan pelayan wanita berjalan melalui lantai 11 yang penuh dengan gunung berapi dan makhluk-makhluk yang mengagumkan ini, mereka tiba di dekat teleportasi yang memungkinkan akses ke lantai ini.


Di sana, mereka disambut oleh seorang Succubus cantik yang berdiri di depan portal.


Succubus itu dengan hormat menyambut kedatangan Sebas, senyumannya yang memikat membuatnya terlihat lebih menawan.


"Ah, selamat datang, Tuan Sebas," ucapnya dengan suara lembut dan merdu.


Sebas merespons sambutan itu dengan sopan, "Terima kasih, Anda adalah salah satu dari makhluk yang diutus untuk menjaga teleportasi ini, bukan begitu?"


Succubus itu mengangguk, "Ya, Tuan. Saya diutus untuk memastikan hanya mereka yang diizinkan oleh Tuan Calliga yang dapat mengakses lantai ini. Saya akan membantu Anda dan pelayan wanita ini dalam perjalanan Anda."


Sebas mengangguk menghargai. Dia tahu bahwa keamanan lantai ini sangat penting bagi ayahnya, dan Succubus ini adalah salah satu yang bertanggung jawab untuk memastikan integritasnya terjaga.


Mereka kemudian melanjutkan perjalanan mereka, membawa rasa aman bahwa mereka berada dalam perlindungan yang baik.


Saat Succubus cantik itu memimpin mereka melalui lantai 11 yang penuh dengan keindahan alam yang mengerikan, Sebas bertanya dengan sopan, "Bisakah Anda mengantarkan kami ke tempat ayahku berada?"


Succubus tersenyum anggun, "Tentu saja, Tuan Sebas," balasnya dengan hormat.


Bau belerang yang kuat tetap ada, mengingatkan mereka akan sifat mengerikan lantai ini.


Tiba-tiba, mereka tiba di suatu tempat yang lebih terbuka di tengah lantai ini, dan Sebas melihat ayahnya.


Calliga tengah berendam dalam Lava yang panas, seolah-olah sedang mandi penuh kenikmatan di alam yang mengerikan ini.


Dalam jarak yang jauh dari tempat ayahnya berendam, Sebas melihat bahwa Calliga tampaknya sedang berbicara dengan Lithos, makhluk kristal yang sekarang merupakan kawan dekatnya.


Mereka berdua tampaknya tengah menikmati mandi di dalam Lava, sesuatu yang umumnya akan menyebabkan manusia terbakar hidup-hidup.


Sebas menatap ayahnya dengan penuh keingintahuan.


Dia memperhatikan bahwa tangan kanan ayahnya yang dulunya sudah putus sekarang telah digantikan oleh tangan buatan kristal yang tampak sangat halus dan presisi.


Sebas agak skeptis terhadap Lithos dan bahkan menyebutnya sebagai "makhluk kristal jadi-jadian" dalam hatinya, namun dia tidak berani menyuarakannya secara terbuka.


Sebagai pengikut setia ayahnya, Sebas siap menjalankan tugas apa pun yang diberikan padanya, bahkan jika itu berarti menjaga lantai berapi ini atau menghadapi makhluk kristal aneh seperti Lithos.


Mendengar panggilan tuan mereka, mereka segera berlutut dengan penuh hormat di hadapan Calliga yang sedang berada dikolam dipenuhi Lava yang panas.


Mereka menempatkan tangan kanan mereka di dadanya sebagai tanda kesetiaan kepada pencipta mereka yang agung.

__ADS_1


"Dengan hormat kami hadir di sini, pencipta kami yang agung," ucap mereka bersamaan, menyuarakan penghormatan mereka dengan harmonis.


Calliga, yang sedang berendam dalam Lava, memainkan peran seorang penguasa hebat.


Dia berbalik ke arah mereka dengan tatapan yang menunjukkan kekuasaan dan berkata, "Hmm, dalam hal ini, kalian bisa kembali ke tugas kalian masing-masing. Sebas, datanglah kemari. Aku punya sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu."


Sebas merasa bangga karena dipanggil oleh ayahnya.


"Ba-baik ayah!" ucap sebas dengan bahagia.


Dia memberikan hormat terakhir kepada ayahnya sebelum bersiap untuk bergabung dengan Calliga di dalam Lava panas.


Dalam sekejap, dia berubah menjadi wujud naga yang sama seperti ayahnya, siap untuk bergabung dengan Calliga di dalam Lava panas.


Dengan seirisan air yang memenuhi udara, Sebas menyelam ke dalam Lava.


Tubuhnya terasa penuh dengan kehangatan membara dari cairan panas tersebut. Berkat transformasinya menjadi naga, dia mampu bertahan di suhu yang mengancam ini.


Sisik keras dan tahan panasnya melindungi tubuhnya dengan baik.


Dia bergerak dengan lihai di dalam Lava, mendekati Calliga dengan anggun.


Sebas berenang dengan cepat menuju ayahnya yang sedang berendam dalam wujud naga besar.


Namun, kedamaian singkat itu terganggu oleh suara yang selalu mengusiknya - suara Lithos, makhluk kristal jadi-jadian yang amat tidak dia sukai.


"Oi, bocah, apakah Kau masih marah denganku?!" celetuk Lithos dengan nada santai saat berendam dalam lava yang panas.


Sebas mendengus kesal dan menatap tajam makhluk kristal itu.


"DIAM KAU!" ucapnya dengan lantang, memancarkan rasa jengkel yang mendalam.


Lithos melihat sebas dan memandang kepada kawannya, calliga.


"Oi Calliga! Anak manja satu itu benar-benar tak punya sopan santun!" celetuk Lithos kepada kawannya, Calliga, dengan nada protes.


Tapi Calliga hanya mengabaikan Lithos sepenuhnya, lebih fokus pada kehangatan lava yang menyelimuti tubuhnya.


Sementara itu, Sebas, yang melihat bagaimana ayahnya mengabaikan Lithos, tak bisa menahan senyum penuh kemenangan.


Dengan cepat, dia menjulurkan lidahnya secara menggoda ke arah Lithos yang berdiri di dekatnya, menambah kekesalan Lithos.


Lithos, yang tampaknya kesal dengan perilaku nakal Sebas, merasa semakin marah.


Wajah kristalnya memerah, mencerminkan emosinya yang mulai mendidih. Dengan nada geram, ia berseru, "Bocah manja satu ini!!!"


Sementara itu, Calliga, yang tengah menikmati pertunjukan ini, hanya tertawa dalam hatinya.

__ADS_1


Ia terus mempertahankan peran seriusnya sebagai penguasa agung yang tegas, sengaja bersikap dingin untuk menambah dramatisasi situasi.


__ADS_2