Dragon Lord System

Dragon Lord System
DLS - 163


__ADS_3

Grandor yang sedih dan merasa kehilangan melihat dewanya akan segera pergi, dan ia menyadari bahwa hidupnya akan berubah tanpa kehadiran dewanya.


Namun, dalam hatinya, ia juga merasa senang karena telah memiliki kesempatan untuk bertemu dan berada di samping dewanya.


Meskipun hidup nomaden, Grandor selalu berusaha menjaga keluarganya dan saudaranya, dan ia berharap suatu hari mereka akan menemukan tempat yang mereka sebut "rumah" bagi ras mereka.


"Didunia ini kami tidak memiliki rumah maupun tempat yang aman, tapi jika aku tinggal bersama dengan dewaku, tentunya aku dan keluargaku memiliki tempat yang aman," gumam Grandor mengingat akan keluarganya. Suara tersebut terdengar lirih dan penuh dengan duka.


Grandor menelan ludahnya dan dengan hati berdebar-debar ia memutuskan untuk meminta suatu hal dari dewanya.


Ia mengumpulkan keberaniannya dan berkata, "Tu-Tuan! A-anakmu Gr-grandor bo-bolehkah tu-tuan mengizinkan aku, saudaraku dan ke-keluargaku u-untuk tinggal be-bersamamu tu-tuan! Ka-kami di-dunia ini su-sudah tidak memiliki tempat tinggal yang aman tuanku, Tiap hari-" Tangisnya terpotong oleh teriakan Sebas yang marah kepadanya.


"BAJINGAN! BERANINYA KAU?! AYAHKU SUDAH MENYEMBUHKANMU, MENYELAMATKAN DAN BAHKAN MEMBANGKITKAN SAUDARAMU! DAN KAU BERANI-BERANINYA MEMINTA LEBIH DARINYA! DASAR -" Teriakan Sebas memenuhi ruangan, menggambarkan kemarahan yang mendalam dalam hatinya.


Sementara itu, Grandor hanya terbeku. Ia tidak bisa berkata apa-apa karena teriakan Sebas yang tajam dan marah.


Ia menyadari bahwa ia mungkin terlalu egois dalam permintaannya kepada dewanya. Dalam hati, Grandor pasrah jika ia tidak diperbolehkan tinggal di domain dewanya.


Ia merenung tentang nasibnya selanjutnya, merencanakan untuk mencari tempat yang aman, jauh dari pemukiman manusia.


Meskipun sedih karena dewanya akan pergi dan ia tidak akan pernah melihatnya lagi, ia merasa bahagia bisa bertemu dengan dewanya secara langsung.


Namun saat itu juga, dewanya memotong ucapan putranya yang sedang marah kepadanya dengan tegas.


"Cukup!" ucap Calliga sambil mengangkat tangan kirinya sebagai tanda berhenti atau cukup kepada Sebas.


Kehadiran Calliga yang kuat dan tegar membuat Sebas panik dan dengan cepat menjawab, "Ba-baik ayah!" Ia langsung menundukkan kepalanya dengan hormat kepada Calliga.


Calliga hanya mengelus tanduknya dengan jarinya yang dilengkapi kuku tajam yang runcing, sembari memikirkan sesuatu yang mendalam.


Pikirannya melayang ke cerita masa lalu yang ia dapati setelah memakan banyak prasasti yang penuh dengan peperangan dan kepunahan ras naga akibat pertempuran antara manusia dan iblis.


Dari cerita yang ia dengar, hidup mereka sangat kasihan. Lalu, sebuah pemikiran yang tak terduga terlintas dalam benaknya.


"Hmm, aku baru ingat kalau mereka tidak memiliki tempat tinggal semenjak kepunahan ras mereka akibat peperangan antara manusia dan iblis. Dari ceritanya, hidup mereka sangat kasihan."

__ADS_1


"Apakah sebaiknya aku mengizinkan mereka tinggal di dungeonku? Mereka juga bisa menjadi aset yang kuat dan berharga bagi dungeonku," gumam Calliga sambil merenung sedalam-dalamnya.


Dan tiada satu pun dari mereka yang berani berbicara, hanya menunggu jawaban sang dewa mereka untuk berbicara terlebih dahulu.


Namun, di dalam hati Grandor, ada getaran yang kencang. Ini adalah kesempatan langka baginya untuk tinggal di domain dewanya dengan aman, dan tentu saja, melihat dewanya setiap hari. Kebahagiaan yang meluap-luap memenuhi hati Grandor.


Grandor dan Rodnar hanya bisa bersujud, menunggu ucapan dari Calliga.


Tiba-tiba, suara Calliga terdengar, memerintahkan yang tentunya calliga sudah sering berlatih disertai dengan gestur bak sang raja, "Angkatlah kepalamu, Grandor!"


Grandor dengan hati-hati mengangkat wajahnya untuk melihat wajah dewanya. Namun, di matanya terpantul keragu-raguan dan kekhawatiran.


Calliga punya beberapa pertanyaan penting untuk Grandor.


"Hmm, apakah kau setia padaku? Apakah kau akan mengkhianatiku suatu saat nanti? Dan jika ada sesuatu yang terjadi padamu atau keluargamu, apakah kau akan menyalahkanku?" tanya Calliga dengan tajam.


Namun, Grandor salah mengartikannya. Dia mengira bahwa Calliga memintanya untuk mengingat masa lalunya yang tidak setia terhadap dewa Dracorius dan sering mengkhianatinya.


Tanpa dia sadari, dewanya dulu kala telah disegel. Grandor mengira bahwa dewanya tahu bahwa ia sering menghujat dan melanggar perintah dewanya, Dracorius.


Grandor menangis tersedu-sedu, memohon ampunan dan maaf kepada Calliga.


Calliga terkejut dan kebingungan melihat Grandor menangis dengan begitu keras, tidak mengerti alasan di balik tangisnya yang tak terartikulasi.


"YAAMPUN MENGAPA DIA MENANGIS DAN MEMINTA MAAF TAK JELAS KEPADAKU!!!!" teriak Calliga dalam hati, kesal dengan ketidakjelasan Grandor.


Tanpa menunggu lama, Calliga dengan cepat memberikan instruksi kepada Grandor, "Baik! Baik! Baik! Kalau begitu aku izinkanmu untuk tinggal di domainku!" Dia berharap Grandor akan berhenti menangis dengan memberikan izin tersebut.


Hatinya Grandor terasa hangat dan bahagia saat mendengar dewanya mengizinkan keluarga kecilnya dan saudaranya untuk tinggal di domain Calliga.


"Terima kasih tuan! Terima kasih banyak telah mengampuni dosa anakmu ini tuan! Aku Grandor beserta keluargaku, aku bersumpah demi-mu bahwa hidup kami tidak akan berkhianat kepadamu dan selalu setia! Oh dewa kami yang agung! Dracorius! Bapak dari seluruh naga! Dan pencipta kami semua!" ucap Grandor dengan penuh rasa hormat, berlutut di hadapan Calliga.


Rodnar, yang terlihat lelah, ikut bergabung dengan Grandor.


"Namun, harus kalian ingat satu hal, aku tidak akan mentolerir orang yang malas di dalam rumahku. Aku akan memberikan tugas kepada kalian, termasuk keluargamu. Apakah kalian mengerti?" ucap Calliga dengan nada serius kepada Grandor.

__ADS_1


"B-baik, Tuan!" ujar Grandor dengan gagap, hatinya berbunga-bunga karena diperhatikan oleh dewanya.


Grandor bertekad untuk bekerja keras di dalam domain dewanya, ingin membanggakan Calliga yang berdiri di hadapannya. Dia tidak ingin mengecewakan dewanya.


"[Vortex]," ucap Calliga sambil mengaktifkan skill teleportasinya.


Sebuah portal raksasa berbentuk lingkaran, seperti ruang dimensi yang sangat besar, muncul di depan mereka.


Tentunya, Calliga telah mengatur portal tersebut dengan baik, sehingga tubuh raksasa grandor dan rodnar dapat masuk.


Di dalam portal yang melingkar, terlihat padang rerumputan yang indah dengan bunga-bunga megah yang tersebar di sana.


Itu adalah lantai ke-7 dari dungeon Calliga, yang dapat terlihat dengan jelas melalui portal teleportasi tersebut.


"Indah sekali! Apakah ini surga?!" gumam Grandor ketika melihat pemandangan di dalam portal yang diciptakan oleh Calliga, lantai ke-7 dari dungeon Calliga.


Grandor dan Rodnar terkagum-kagum akan kekuatan yang luar biasa dari dewa mereka.


Dewa yang mampu melakukan hal-hal menakjubkan secara langsung, seperti membangkitkan orang mati, menyembuhkan luka, dan memiliki kekuatan yang sangat besar.


Mereka terpesona oleh Calliga, dewa yang mereka kira adalah Dracorius.


"Kalian berdua, masuklah ke dalam portal tersebut. Jangan khawatir, itu aman. Yang kalian lihat adalah sebagian dari rumah tempat tinggalku, dan mulai sekarang kalian akan tinggal di tempat itu," ucap Calliga sambil menunjukkan portal yang memperlihatkan lantai 7 dungeonnya.


"Terima kasih banyak, Tuan! Kalau begitu, izinkanlah hamba dan anakmu ini memanggil istri dan anak-anakku," pinta Grandor dengan hormat dan kegirangan.


Calliga hanya mengangguk sambil melipat tangannya. Tanpa menunggu lama, Grandor memanggil keluarganya dengan raungan yang keras.


"GRRROOOOAAAAARRRR!!!!" raungannya bergema untuk memanggil keluarganya ke tempat itu.


Dan saat raungan Grandor tersebut diterjemahkan, ia berkata, "Istriku! Anak-anakku! Kemarilah kalian semua, sekarang juga cepat!!!"


Calliga yang mendengar raungan tersebut langsung tersadar akan sesuatu. Ia menyadari arti dari raungan Grandor dan mengerti bahwa itu adalah panggilan darurat.


"Tunggu sebentar! Tunggu sebentar!" gumam Calliga, sambil menyadari sesuatu yang penting. Ia tiba-tiba mengerti bahasa raungan tersebut dengan jelas.

__ADS_1


Dan bukan hanya itu, ia juga baru menyadari bahwa selama ini ia dapat berkomunikasi dengan Grandor dan Rodnar menggunakan bahasa naga, meskipun pada awalnya ia sama sekali tidak mengerti bahasa tersebut.


"Eh?, aku juga baru sadar ini baru pertama kalinya aku berbicara dengan menggunakan bahasa naga dengan sesama ras. Aku hanya meraung tanpa sepengetahuan sebelumnya, tapi entah kenapa sekarang aku mengerti dan dapat berbicara dengan lancar hehehe," gumam Calliga dalam hatinya.


__ADS_2