
Kling...
Sebuah deringan logam memecah keheningan di antara Calliga dan wanita elf.
Tanpa ragu, wanita elf itu melemparkan banyak koin platinum ke arah Calliga. Pria berbaju besi itu, dengan refleks luar biasa, mampu menangkap setiap koin yang dilempar dengan cepat.
Suara kling di gauntlet besinya mengisi udara, mengisyaratkan bahwa Calliga berhasil menangkap semua koin tersebut.
"Apa maksudmu?" tanya Calliga dengan rasa ingin tahu yang jelas, sambil memegang sepuluh koin platinum di tangannya.
Wanita elf itu melipat tangannya dengan tenang dan menjawab, "Aku tidak memerlukan uangmu. Jadi, terimalah kembali uangmu. Ucapanku tadi hanyalah untuk menguji. Selain itu, aku tidak terlalu tergila-gila pada harta."
Mendengar penjelasan wanita elf itu, Calliga tidak ragu-ragu.
Dia mendekati wanita elf tersebut dan dengan cepat menempatkan sepuluh koin platinum di tangan wanita itu.
Namun, Calliga dengan lembut berkata, "Tidak, ini sekarang milikmu. Anggap saja ini sebagai permintaan maaf atas perilaku kasar putraku sebelumnya."
Ia melepaskan perlahan tangan yang memegang koin platinum tersebut, memberikan koin-koin tersebut kepada wanita elf dengan penuh pengertian.
Akan tetapi, reaksi wanita elf terlalu keras saat Calliga awalnya memegang tangannya dengan cepat.
Ia berteriak dengan kemarahan yang mendalam, "SIALAN! MENGAPA ENGKAU MEMEGANGKU DENGAN TANGAN KOTORMU, MANUSIA BAJINGAN!" Teriakannya penuh dengan kebencian dan amarah.
Wanita elf tersebut kemudian mengibaskan tangannya, membersihkannya dengan ekspresi jijik.
Kegelisahan dan ketidaknyamanannya atas sentuhan manusia tetap sangat kuat meskipun ia menerima koin-koin tersebut.
Sebelum Calliga bisa memberikan jawaban atau reaksi apapun, terdengar suara ledakan yang dahsyat.
Duar!
Duar!
Semua mata, baik prajurit maupun mereka yang datang untuk menyelamatkan, tertuju pada sumber ledakan itu.
Dan sumbernya adalah istana megah Raja Theovilus yang menjulang tinggi.
Mereka bisa melihat dengan jelas, bahkan dari kejauhan, bahwa istana itu telah hancur dalam ledakan dahsyat yang menggetarkan tanah seperti gempa.
Semua orang termasuk Calliga terpaku melihat pemandangan mengerikan ini, bertanya-tanya apa yang baru saja terjadi dan apa yang mungkin menyebabkan keruntuhan istana yang begitu megah itu.
Tiba-tiba terdapat Suara erangan naga yang menggetarkan telinga itu memenuhi udara dengan suara yang sangat keras, hingga bisa membuat kuping orang biasa sakit.
"GRRRROOOOOAAAAARRRRR!!!!!!!!" Erangan itu terdengar sampai ke seluruh penjuru Kota Arbandir yang hancur itu.
Sebagian besar penduduk dan penyelamat yang berada di dekatnya segera menutup kuping mereka, merasakan betapa menusuknya suara itu. Namun, Calliga adalah pengecualian.
__ADS_1
Dia hanya berdiri dengan santai, tanpa rasa takut, ketika melihat naga besar itu di kejauhan.
Raut wajahnya tidak berubah, dan sepertinya dia sudah terbiasa dengan suara-suara dahsyat semacam ini.
Naga yang menghancurkan istana megah yang melambangkan kerajaan Arvandor itu adalah makhluk yang sangat besar dan menakutkan.
Dalam wujud naganya yang berwarna hitam pekat, ia merobek udara dengan sayap hitam menjulang yang tak terbatas.
Matanya, yang tajam bak pedang, memancarkan aura hitam yang menandakan ketakutan dan kebencian yang dalam.
Naga ini adalah manifestasi kegelapan yang menakutkan, dengan kekuatan atribut gelap yang sangat kuat.
Ketakutan melanda penduduk yang tersisa di Kota Arbandir yang hancur.
Mereka gemetar dalam ketakutan karena kemunculan naga besar ini mengancam seluruh eksistensi mereka.
Bagi manusia yang sudah hancur, ini adalah bencana besar yang tak terbayangkan.
Ledakan besar terdengar lagi ketika naga tersebut menyerang kembali istana, mengejutkan semua yang mendengarnya dan memicu gempa yang mengerikan.
Terlepas dari kehancuran yang terjadi, Calliga tetap berdiri dengan tenang, melihat naga itu dengan ekspresi yang sama sekali tidak berubah, seolah-olah dia tahu dia dapat mengalahkannya dengan mudah.
Calliga yang awalnya memandang naga besar itu dengan tenang mulai merenung.
Dia merasa terkejut bahwa ini bukan perbuatan Lithos, seperti yang telah dia duga sebelumnya.
Dia selalu memiliki pandangan buruk terhadap Lithos, mengira bahwa Lithos itulah yang akan menghancurkan kota manusia. Namun, sekarang situasinya tampak berbeda.
Meskipun Calliga merenung tentang identitas naga tersebut, pertanyaan lain muncul di benaknya.
Mengapa begitu banyak serpihan kristal berserakan di sekitar kota yang sudah hancur ini? Mungkin ada lebih banyak misteri yang perlu dipecahkan.
Wanita elf yang berdiri di dekat Calliga juga terlihat gemetar dan terkejut oleh kemunculan naga ini.
Dia menyuarakan ketidakpercayaannya, "Apa-apaan ini?! NAGA?! Bagaimana bisa seekor naga menyerang kota manusia ini! Bukankah banyak naga sudah punah?!"
Wanita elf tersebut dengan cepat mengambil busur panah yang ada di belakangnya, menunjukkan kesiapannya menghadapi ancaman yang tak terduga ini.
Calliga menatap naga raksasa tersebut dengan tatapan tajamnya.
Dia memiliki penglihatan yang luar biasa, bahkan lebih tajam daripada burung elang atau kamera terbaik.
Dengan bantuan sistemnya, Calliga dapat melihat status dari individu yang dia hadapi. Dan saat dia memandang naga itu, dia melihat status nama yang mengambang di atas kepalanya.
"Grandor? Hanya Level 70?" gumam Calliga dengan nada meremehkan.
Baginya, level 70 adalah level yang rendah, bahkan untuk seorang boss dungeon. Namun, pemikirannya segera beralih.
__ADS_1
"Tunggu! Apakah itu berarti dia adalah boss dungeon? Mengapa dia bisa keluar dari dungeonnya dan menghancurkan kota manusia ini?"
Muncul semangat dalam diri Calliga. Dia tahu bahwa jika dia mengalahkan boss dungeon, dia akan mendapatkan poin sistem yang berharga.
Dengan tekad yang kuat, dia bersiap-siap untuk menghadapi Grandor, naga besar yang tampaknya menjadi ancaman bagi kota manusia yang sudah hancur ini.
Calliga tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mendapatkan poin sistem yang berharga.
Dengan senyuman jahat menyeringai di balik helm armornya, dia menarik kedua pedang besarnya yang berada di belakang tubuhnya.
Kedua pedang itu bersinar tajam, siap untuk bertindak.
Namun, sebelum Calliga bisa berlari menuju naga raksasa bernama Grandor, kejadian yang tak terduga terjadi.
Seluruh serpihan kristal yang berserakan di tanah, sisa-sisa puing-puing reruntuhan kota yang hancur, mulai melayang ke langit.
Serpihan-serpihan kristal itu memiliki berbagai bentuk dan ukuran, ada yang besar, ada yang kecil, dan semuanya memancarkan kilauan yang memukau.
Manusia-manusia dan petualang-petualang yang menyaksikan fenomena aneh ini hanya bisa memandang dengan bingung.
Mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi dan bagaimana serpihan-serpihan kristal tadi bisa melayang begitu saja ke langit.
Keajaiban apa yang baru saja mereka saksikan?
Seluruh serpihan kristal dengan cepat menyatu, bagaikan puzzle yang telah terbentuk sempurna.
Mereka berkumpul menjadi entitas kristal yang sangat besar, hampir seukuran naga raksasa hitam di kejauhan.
Entitas kristal ini membentuk wujud serigala ganas raksasa.
Kristal-kristal ini bersinar dengan intensitas yang memukau dan memancarkan aura yang menggetarkan hati.
Tanpa ragu, entitas kristal serigala itu meraung dengan sangat keras, suaranya bergema ke arah naga besar yang masih terlihat jauh.
Orang-orang yang menyaksikan kejadian ini terdiam. Mereka tak bisa mempercayai mata mereka sendiri.
Apa yang baru saja mereka saksikan adalah sesuatu yang luar biasa.
Entitas kristal ini sekarang berdiri di antara mereka dan naga raksasa, dan mereka semua menunggu dengan napas tertahan untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
Naga hitam besar itu dengan cepat terbang menuju entitas serigala kristal raksasa.
Mereka berdua bersiap untuk berkelahi, kekuatan dahsyat mereka saling beradu.
Sementara itu, Calliga hanya bisa memandang dengan rasa penasaran. Dia menyadari bahwa entitas kristal itu adalah Lithos dalam bentuk aslinya yang kuat, kawannya.
"Hmm, jadi ini yang terjadi? Lithos melindungi kota manusia dari serangan naga bodoh ini, yang menyebabkan kota ini hancur total?" gumam Calliga sambil memperhatikan Lithos dan naga besar di depannya.
__ADS_1
Kejadian ini benar-benar tidak terduga. Calliga merenung, mencoba mencerna situasi yang semakin rumit ini.