
"Lalalalala~" terdengar nyanyian ceria Luna melengking di udara saat dia dan Aleister melangkah pulang.
Perjalanan mereka menuju rumah dungeon ayah mereka berlangsung dalam keheningan, menyelinap keluar dari kota manusia dengan cermat sesuai dengan perintah rahasia yang diberikan oleh sang ayah.
Dalam langkah-langkah perlahan, keduanya memasuki hutan kematian Elysian. Langkah demi langkah membawa mereka lebih dalam ke dalam pepohonan yang tinggi dan daun-daunan yang rapat.
Kota manusia yang sibuk dan ramai sekarang telah tertinggal jauh di belakang, menghilang di balik pepohonan.
Luna dan Aleister merasakan kedamaian yang berbeda di hutan ini. Namun, mereka tetap berjalan dengan kewaspadaan, tahu bahwa bahaya bisa muncul dari mana saja di hutan yang penuh misteri ini.
Dalam hutan yang sunyi, tanpa mata manusia yang mengintip, Aleister dengan cepat mengeluarkan panggilan untuk makhluk summonannya.
"Raidjin! Ayo datang!" serunya, mengaktifkan proses pemanggilan dengan sigil sihir berwarna kemerahan-keemasan yang terbentuk di tanah.
Dalam kilatan listrik, makhluk misterius itu muncul: seorang Centaur berkuda berlapis zirah yang mengkilap, dengan kepala yang diberi pelindung dan tubuh manusia yang tangguh di atasnya, bersatu dengan bagian bawah tubuh kuda yang perkasa.
Luna, berdiri di samping Aleister, hanya menatap bosan pada makhluk tersebut.
Aleister mengarahkan pertanyaannya kepada Raidjin, "Kami ingin menaikimu kembali ke rumah kami. Bisakah kau mengantarkan kami?"
Raidjin dengan cepat menjawab dengan semangat, "Tentu saja, Tuan! Aku merasa senang karena dapat membantu Tuan Aleister. Menjadi kendaraan Tuan adalah suatu kehormatan bagi saya, Tuan!"
Luna, berdiri di samping Aleister, tak henti-hentinya menatap Raidjin, sang Centaur, dengan ekspresi penuh penasaran.
"Hmm, Hei, kak, mengapa kamu tidak memanggil Trishula saja? Dia lebih besar dan lebih keren daripada makhluk satu ini, kak," ucap Luna, sambil menunjuk Raidjin, dan berbicara kepada kakaknya Aleister dengan wajah penuh semangat.
Raidjin, yang tidak bisa menyembunyikan perasaannya di balik helm besi yang dikenakannya, merasa terhina dan sedih mendengar ucapan Luna.
Dia ingin menggelengkan kepala, tapi tentu saja Aleister dan Luna tidak bisa melihat ekspresi wajahnya yang tersembunyi.
Namun, keberanian Luna mengundang reaksi cepat dari Aleister. Dengan cepat dan tiba-tiba, Aleister memberikan jitakan ringan kepada Luna, yang membuatnya berseru, "Ouchh!"
"Dengar, Luna," ucap Aleister dengan nada kesabaran yang penuh, "Ayah sudah memberi tahu kita bahwa kita tidak boleh memperlihatkan kekuatan kita kepada lingkungan sekitar, bukan? Trishula memang besar dan mencolok, pasti bisa dilihat oleh manusia dari kejauhan."
Sambil terus menggosok kepalanya yang masih agak sakit karena jitakan, Luna memprotes dengan nada manja, "Tapi kak, ini sudah cukup jauh dari jangkauan manusia. Manusia pasti tidak akan melihatnya, kak. Ayolah, panggil Trishula saja."
Namun, Aleister menolak dengan cepat, menatap Luna dengan ketegasan. "Tidak akan."
"IYA!" balas Luna dengan nada keras, kesal dengan ketegasan kakaknya.
"TIDAK!" balas Aleister dengan nada yang sama kerasnya.
Tiba-tiba, Luna memulai sebuah tantrum dan mulai merengek. "AKU MAUNYA TRISHULA! PANGGIL DIA!"
Namun, Aleister tidak tergoyahkan dan membalas dengan suara yang semakin keras dan tegas. "AKU TIDAK AKAN MENURUTI KEEGOISANMU! Aku tidak ingin dimarahi AYAH!"
__ADS_1
Luna tetap melanjutkan rengekannya dengan marah, sementara Raidjin, yang berdiri di dekat mereka, hanya bisa merasa canggung dan tidak tahu apa yang seharusnya dia lakukan.
Dia hanya menunggu dengan sabar hingga pertengkaran antara Tuan Aleister dan adiknya selesai.
Saat itu, Luna tetap pada pendiriannya dengan ekspresi kesal yang cemberut.
"Baiklah, kalau kau tidak mau memanggilnya, aku akan berdiam di sini dan tidak akan bergerak sama sekali. Pasti Ayah akan marah padamu!" ucapnya dengan nada menantang sambil mengancam kakaknya, Aleister, sambil memalingkan wajahnya yang masih cemberut.
Aleister merasa frustasi dan tak bisa berkata-kata lagi. Ia hanya menggelengkan kepala dengan lelah karena sikap tantrum adiknya, Luna, yang kembali membuat segalanya menjadi lebih rumit dan memakan waktu.
Dengan hati yang gelisah, Aleister ingin segera mengantar Luna pulang ke dungeon ayah mereka yang jauh dari sini.
Dia ingin bergabung kembali dengan Sebas dan Hades untuk menjalankan misi yang telah diperintahkan oleh ayah mereka, tanpa harus berurusan lagi dengan tantrum adiknya.
"Baiklah, kalau begitu. Aku akan kembali ke kota manusia dan bergabung dengan Kak Sebas. Akan kutinggalkan kau sendirian di sini!" ucap Aleister dengan nada kesal, lalu perlahan-lahan meninggalkan Luna yang masih bertahan dengan keputusannya.
Luna pun tetap bertahan dengan posisinya, yakin bahwa ia dapat memaksa kakaknya untuk mengikuti keinginannya.
Namun, semakin lama ia menunggu, semakin ia merasa sendirian dan gelisah di tengah hutan yang sunyi.
Sementara itu, Raidjin tetap setia mengikuti tuannya, Aleister. Dengan langkah perlahan, Aleister menjauh dari Luna, tetapi dari kejauhan ia masih melihat adiknya yang berkeras untuk tetap berdiam diri dengan wajah yang cemberut.
Terlihat bahwa ancaman Aleister tidak berhasil mempengaruhi atau menakuti Luna sedikit pun.
Namun, Aleister memutuskan untuk kembali mendekati Luna dengan langkah perlahan, didampingi oleh Raidjin, monster centaur hasil panggilannya. Ia mencoba mengatasi kesulitan ini dengan menghadapi adiknya secara langsung.
Namun, Luna tampaknya sama sekali tidak peduli dengan apa yang dikatakan Aleister, dan ia tetap bersikap acuh tak acuh terhadap kakaknya.
Tampaknya Aleister merasa perlu mengambil tindakan lebih drastis untuk membujuk Luna. Dengan senyum yang sedikit jahat, Aleister mengancam adiknya lagi, kali ini dengan mengungkapkan bahwa dia bisa memberitahu ayah mereka tentang pertengkaran mereka berdua dengan Hades.
Luna, yang langsung merasa terancam, menggembungkan pipinya yang imut sambil menatap Aleister.
"Apa? Jangan beri tahu ayah! Dan jangan menggunakan ancaman ini!" Luna menjawab dengan nada kesal.
Namun, ancaman Aleister tampaknya berhasil, karena dengan cepat Luna setuju untuk menuruti perintahnya.
Aleister segera memerintahkan Raidjin untuk membungkuk, memungkinkan Luna naik ke punggungnya.
"Sekarang cepatlah, jangan buat masalah lebih banyak lagi," Aleister berkata dengan sedikit lega saat Luna akhirnya bersedia menuruti.
Dengan hati-hati, Luna naik ke punggung Raidjin dengan wajah yang masih cemberut, dan perjalanan pulang pun akhirnya dimulai.
Dengan Luna dan Aleister naik ke punggung Raidjin, Aleister segera memberikan perintah kepada makhluk summonannya, "Hantarkan kami ke rumah ayahku."
Raidjin, si Centaur, dengan cepat menjawab perintah tuannya dengan suara gemuruh yang menggema di sekitarnya, "Tentu saja, tuanku!"
__ADS_1
Tiba-tiba, energi sihir berwarna merah-kekuningan mulai memancar dari kaki Raidjin saat ia mulai berlari.
Keempat kakinya yang perkasa menghantam tanah dengan kuat, menciptakan suara dentuman bergema. Tetapi yang lebih menakjubkan adalah kilatan listrik yang menyertai setiap langkahnya, memberi kesan bahwa tanah itu sendiri bergetar dengan kuat.
Sambil melaju pulang, mata tajam Luna seperti elang menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya dari kejauhan.
"Kak, lihat! Ada telur besar di sana!" serunya sembari menunjuk dengan semangat.
Aleister, yang mulai lelah dengan kelakukan Luna yang tak terduga, mengangguk tanpa banyak pertimbangan.
"Baik, baik. Ambil saja, tapi cepat."
Raidjin pun dihentikan, dan Luna dengan hati-hati turun dari punggung makhluk besar itu. Telur besar berwarna cokelat dengan bintik-bintik keemasan terletak di atas lumut.
Luna dengan penuh kehati-hatian meraih telur itu, seolah-olah takut merusaknya.
"Kak, lihat! Telurnya sebesar kepalaku!" Luna menyatakan dengan kekaguman yang berkilau di matanya.
"Bagus, sekarang kita lanjutkan saja," Aleister berkata dengan nada lelah. Mereka melanjutkan perjalanan pulang dengan telur besar itu dipegang oleh Luna.
Setelah beberapa jam, mereka akhirnya tiba di depan pintu masuk dungeon ayah mereka. Lobang besar yang dikelilingi oleh pepohonan menjulang menanti mereka. Aleister menunjuk pintu tersebut.
"Kau bisa turun dan kembali pulang sekarang," kata Aleister dengan suara lelah.
Luna melompat dengan gesit dari punggung Raidjin, masih memeluk telur itu dengan erat.
Luna masih cemberut, dan menghiraukan aleister.
Aleister hanya mengangguk, seolah-olah kehilangan kesabaran sepenuhnya.
"Baiklah, aku akan kembali ke kota manusia dan bergabung dengan Kak Sebas untuk misi selanjutnya."
Aleister melambaikan tangannya dengan sekilas senyum. "Sampai jumpa."
Segera setelah Luna turun, Raidjin pun diinstruksikan untuk kembali ke kota manusia.
Dalam sekejap, mereka meluncur pergi dengan kecepatan yang luar biasa sehingga menciptakan percikan kilatan listrik disetiap langkah Raidjin berlari dan, meninggalkan Luna yang berdiri di pintu masuk dungeon dengan telur besar di tangannya.
"Bye," serunya kepada kakaknya sebelum menghilang masuk ke dalam lobang besar itu.
Luna melompat ke dalam lobang pintu masuk dungeon, membawa telur besar dengan penuh perhatian.
Hatinya berbunga-bunga karena akhirnya memiliki hadiah istimewa untuk ayahnya. Dengan telur itu di genggamannya, ia berjalan dengan langkah riang melalui lorong-lorong lantai pertama dungeon, sambil menyanyikan lagu kecil yang ceria.
"La-la-lalalala-la-la," bersenandung Luna sambil berjalan, membuat lorong gelap itu terdengar ceria seolah-olah dia sedang berjalan-jalan di taman bunga.
__ADS_1
Saat dia berjalan, dia merenungkan reaksi ayahnya saat melihat telur besar itu. Wajahnya bersinar dengan kegembiraan dan antusiasme, tidak sabar untuk melihat ekspresi ayahnya yang mungkin akan terkejut dan senang.
"Semoga saja ayah menyukai hadiahku ini," gumam Luna dengan senyum lebar di wajahnya.