Dragon Lord System

Dragon Lord System
DLS - 172


__ADS_3

Di dalam rumah dungeon yang kini diberi nama "Labyrinth of Valhalla," oleh calliga.


Calliga merenung dengan penuh perhatian terhadap nama dungeon yang ia baru berikan.


Nama baru untuk dungeonnya ini diambil dari mitologi Nordik yang selama ini begitu dia kagumi. Sebelum dia berubah menjadi naga, Calliga adalah manusia yang sangat tertarik pada kisah-kisah mitologi tersebut.


Dalam renungan sebelumnya, Calliga memilih nama "Valhalla" dengan penuh makna. Valhalla, dalam mitologi kuno, adalah surga para pejuang gagah berani yang tewas dalam pertempuran. Dan itulah filosofi yang ingin ia tanamkan dalam dungeonnya.


Labirin Valhalla bukan sekadar nama. Itu adalah sebuah panggilan bagi semua penghuninya, para pejuang yang mengabdi padanya.


Para NPC yang diciptakan oleh Calliga adalah penjaga setia yang menjalani tugas mereka dengan tekun, yang tentunya melindungi tuannya, calliga.


Dengan penuh bangga dan rasa gemar kepada mitologi Nordik yang ia kagumi, Calliga merasakan bahwa nama "Valhalla" adalah simbol yang sempurna untuk tempat tinggalnya.


Sementara itu calliga sekarang berada dilantai 15-nya.


Di ruang takhta yang megah, Calliga, penguasa dari Dungeon yang ia beri nama 'Labirin Valhalla', ia duduk di takhtanya dengan tatapan berpura-pura serius.


Di hadapannya berdiri puluhan NPC bawahannya, yang berasal dari berbagai lantai yang menjadi bagian dari dungeonnya.


Beberapa di antara mereka adalah Floor Guardian, penjaga lantai yang mewakili dan menjaga bagian masing-masing di dalam labirin ini.


Sebuah ketegangan tak terucap menggantung di udara, dan Calliga merasa jantungnya berdebar kencang.


Meskipun dia adalah pencipta dan penguasa, pertemuan seperti ini selalu membuatnya merasa canggung. Tatapan puluhan mata yang terfokus padanya terasa begitu mengintimidasi.


"Benar-benar... canggung...sekali," gumam Calliga dalam hatinya, tetapi dia mencoba menyembunyikan gugupnya. dia mencoba untuk menunjukkan kesan keseriusan dalam pertemuan ini, walaupun sebenarnya jantung ia berdetak cepat.


Namun, untunglah wajah Calliga adalah wajah dragonoid yang tegas, dengan sisik keras yang melengkapi bentuknya.


Raut wajah dragonoid alaminya selalu tampak menyeramkan dan penuh wibawa. Terlepas dari kegugupan di dalam hatinya, Calliga selalu terlihat sangat serius dalam berbagai kesempatan.


Hal ini membuat banyak dari NPC, Guardian, dan Area Guardian yang berkumpul di hadapannya merasa seperti mereka sedang diinspeksi secara detail oleh tatapan tajam, Penguasa mereka.


Di sisi kanan Calliga, berdiri putra pertamanya, Sebas, yang bertindak sebagai tangan kanan sang Pencipta.


Di sebelah kirinya, berdiri putri mereka, Karina. Sebas dan Karina juga ikut menghadap, mendampingi sang ayah dalam seremoni penghormatan ini.


Mereka menyaksikan dengan penuh kebanggaan dan pengabdian kepada sang Pencipta yang juga adalah ayah mereka.


Di dungeon Calliga yang disebut Valhalla, para Guardian atau Penjaga lantai dungeon dibagi menjadi dua tipe: Area Guardian dan Floor Guardian.


Yang berdiri di depan Calliga adalah Floor Guardian. Mereka bertanggung jawab atas satu atau beberapa lantai dalam dungeon, dan tugas mereka adalah menjaga dan mengelola area tertentu dalam dungeon ini.

__ADS_1


Ada banyak Guardian Area yang memastikan agar setiap sudut lantai dungeon Valhalla terlindungi dengan baik, yang tentunya untuk melindungi tuan pencipta mereka.


Namun, yang paling penting adalah Guardian Floor, yang mengawasi lantai-lantai dalam dungeon ini.


Namun Suatu ketika terbukalah Sepasang pintu raksasa diruang takhta tersebut, Klak.. Klak..


Saat pintu raksasa ruang takhta terbuka, seorang gadis kecil berusia sekitar 12 tahun masuk ke dalam.


Gadis kecil ini mengenakan pakaian warna pink yang sangat menggemaskan dengan rok pendek dan baju lengan hitam. Rambutnya berwarna pink, dan matanya berwarna merah darah.


Gadis ini berlari dengan panik tergesa-gesa dan menuju para guardian yang berkumpul. Di sampingnya, ada makhluk besar mirip singa dengan kepala burung, yang dikenal sebagai Griffin, yang mengikutinya.


Luna berjalan cepat menuju mereka, terlihat terburu-buru. "Umm... Maafkan aku telat, Tuan!" ucapnya dengan cepat begitu ia berkumpul bersama para guardian.


Calliga yang duduk di takhta hanya mengangguk dengan ramah, menunjukkan bahwa keterlambatan Luna tidak menjadi masalah.


Gadis kecil ini, Luna, tampaknya takut dimarahi oleh ayahnya ketika datang terlambat, untung saja ayahnya tidak memarahinya yang membuatnya kembali tenang.


Luna adalah putri Calliga, tetapi dalam kehadiran para guardian yang berkumpul seperti ini, ia memilih untuk memanggil ayahnya dengan sebutan "Tuan" yang lebih formal.


Di sisi lain, Hades yang berdiri dekat Luna adalah saudara keenam dalam keluarga ini. Sekarang, dengan kehadiran Gameciel yang menjadi saudara termuda, Hades tak lagi dikenal sebagai saudara bungsu.


Luna tentu saja tak lagi bisa mengolok-oloknya sebagai saudara kecil lagi kepadanya.


Hades melanjutkan tingkah usilnya dengan menjulurkan lidahnya kepada Luna yang terlambat, mengganggu gadis kecil itu.


"Cih! Aku akan membalasnya suatu saat!" gumam Luna dengan geram, tetapi tentu saja, ia harus menahan emosinya sekarang. Tidak mungkin ia membuat onar di hadapan ayah mereka.


Sementara itu, Karina, yang berdiri di sisi kiri Calliga, hanya bisa menghela nafas melihat ulah adiknya.


Dia tahu bahwa jika bukan karena hubungan saudara, ia pasti akan marah kepada Luna yang terlambat. Tetapi karena dia dekat dengan adiknya, Karina merasa harus menjaga ketenangan.


Prok.. Prok..


(clap.. Clap...)


Dalam ruang takhta yang megah, suasana menjadi hening saat Sebas menepuk tangannya dengan kuat.


Suara tepukan itu menggema, memberi isyarat agar semua yang hadir fokus dan tenang di depan Tuan Calliga, pencipta dan penguasa mutlak dungeon Valhalla.


Bahkan di langit-langit ruangan yang melingkar seperti stadion bola, banyak golem menyaksikan kehadiran tuan mereka yang duduk di takhta.


Calliga, dengan raut wajah dragonoidnya yang tegas, yang seperti memancarkan otoritas dan kekuasaan yang datang dari keberadaanya saja.

__ADS_1



...***Ilustrasi Wujud Dragonoid Calliga***...


"Baiklah! Kelihatannya, semua sudah hadir di sini," ucap Sebas, menegaskan bahwa seluruh guardian dan bawahannya sudah berkumpul.


Dengan tatapan serius dan wibawa, Sebas mengambil alih keteraturan dalam ruang takhta.


Suaranya bergema di seluruh ruang, memerintahkan dengan tegas, "SEMUANYA! Persembahkan hormat kalian pada pemimpin tertinggi!"


Seluruh guardian menuruti perintah Sebas dengan patuh. Mereka membungkuk hormat kepada Calliga tanpa sepatah kata pun.


Lalu, dengan disiplin yang mengesankan, mereka membentuk barisan.


Para floor guardian, yang menjaga lantai-lantai dari 1 hingga 15, berdiri di barisan depan. Di belakang mereka, semua guardian lain juga berbaris rapi.


Namun, yang membedakan adalah posisi khusus yang diberikan kepada putra-putri Calliga: Gameciel, Hades, Aleister, dan Luna.


Mereka berdiri di depan, layaknya tamu eksklusif, menunjukkan bahwa hierarki mereka lebih tinggi dibandingkan dengan guardian lain.


Ini karena keempat anak tersebut adalah keturunan langsung sang tuan, Calliga, penguasa dungeon Valhalla. Hierarki dalam dungeon ini sangat ketat dan dihormati oleh semua guardian.


Zara, yang berdiri paling dekat dengan Calliga, maju dengan langkah mantap.


"Guardian Floor dari lantai pertama dan kedua, Zara, datang untuk menghadap," ujarnya dengan suara tegas.


Dalam sebuah gestur hormat yang dalam, ia berlutut, satu tangan di dada, menunjukkan penghormatannya yang mendalam.


Setelah Zara menyelesaikan upacaranya, seorang guardian NPC lainnya mengambil giliran.


"Guardian Floor dari lantai ketiga, Augusto, datang menghadap."


Guardian ini berbeda dari yang lain, dengan kepala mirip burung dan tubuh manusia. Bulu kuning yang menghiasi tubuhnya seperti helm alami.


Ia mengenakan armor hijau tua yang melindungi sebagian besar tubuhnya, dan sepasang sayap besar menjulang di punggungnya. Senjata utamanya adalah sebuah tombak.


Dengan perlahan, Augusto berlutut di hadapan Calliga, menampilkan penghormatan yang sangat dalam kepada sang penguasa dungeon, seperti yang telah diajarkan oleh pengaturan hierarki yang ketat dalam Labirin Valhalla.


"Guardian Floor dari lantai keempat, Miranda, datang menghadap," ucap seorang guardian area dengan hormat kepada Calliga.


Miranda adalah makhluk humanoid layaknya Medusa dengan tubuh seperti setengah badan ular besar dan manusia.


Rambutnya, atau yang biasanya merupakan rambut pada manusia, digantikan oleh ular-ular panjang layaknya medusa.

__ADS_1


Matanya adalah pupil keemasan yang tajam, mirip dengan mata ular. Seluruh rambutnya, yang juga berbentuk ular, merunduk seolah sedang memberikan penghormatan yang mendalam kepada sang tuan yang duduk di takhta megahnya.


Dengan sikap yang sama dengan Zara, Miranda juga berlutut dengan hormat di depan Calliga, menciptakan suasana solennitas yang mengesankan dalam ruangan takhta.


__ADS_2