
...***Vael POV*** ...
Aku berdiri di dekat ayah, mataku tak lepas dari makhluk kristal humanoid yang hampir saja menebas leherku.
Ayahku, dengan refleks yang cepat, menghalangi serangannya menuju leherku dan berhasil menangkisnya.
Aku merasa lega, beruntung ayahku ada di sini untuk melindungiku.
Tetapi, aku melihat keberanian ayahku saat dia berdiri teguh di hadapan makhluk kristal tersebut.
Tatapannya penuh dengan ketegasan dan keberanian, sesuatu yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
Aku ingin melindunginya, tetapi ayah dengan tegas menyuruhku pergi menjauh. Aku merasa enggan, takut mendapat marah lagi, tetapi akhirnya aku menurutinya.
Dengan enggan, aku mengembangkan sayapku dan terbang menjauh dari pertempuran yang akan terjadi.
Jantungku berdebar-debar dengan kegembiraan campur rasa takut. Aku tahu ini adalah kesempatan pertama bagiku melihat ayah bertarung.
Aku tak bisa menahan rasa ingin tahu. Sepanjang perjalanan menjauh, aku tetap melihat ke arah mereka, mencoba melihat apa yang terjadi.
Dari jauh, aku masih bisa melihat ayahku yang berdiri kokoh di tengah ruangan penuh kristal ini, dan suara berat bergema di seluruh ruangan yang hampa.
Aku tak bisa menahan gairah yang membara dalam diriku, ingin melihatnya bertarung secara langsung.
Dalam jarak ini, aku bisa mendengar dengan jelas makhluk kristal rendahan itu memanggil ayahku dengan sebutan merendahkan, "Kadal."
Hatiku membuncah dalam kemarahan mendalam saat mendengar ejekan ini.
Bagaimana berani makhluk rendahan itu memanggil ayahku "Kadal" ketika sebenarnya ayah adalah seorang dewa besar.
"Ah, sialan!" gerutuku dalam hati.
Aku ingin sekali meluncurkan panah dari busurku untuk menyerang makhluk itu dari kejauhan.
Tapi kuputuskan untuk menahan diri, takut ayah memarahiku.
Namun, saat ayah dan makhluk kristal itu tampaknya berbicara sejenak sebelum pertarungan dimulai, aku mendengar kata-kata yang menyentuh hatiku.
Makhluk kristal itu mengklaim aku sebagai bawahan ayah, kata yang merendahkan.
Aku ingin melepaskan panahku, tetapi aku menahannya karena kuharap ayah tidak akan suka.
Lalu ayah menjawab, suaranya tegas dan jelas, bahwa aku adalah "putranya". Saat kata-kata itu keluar dari mulut ayah, air mata haru mengalir di mataku.
Ayah tidak hanya melihatku sebagai bawahan, tapi sebagai anaknya sendiri, dan itu adalah penghargaan terbesar yang bisa kuberikan.
Aku hanya bisa berdiri di sini, sambil memandang dengan penuh rasa hormat dan cinta pada ayah.
Sambil mengusap air mata yang masih mengalir di pipiku, aku terus memperhatikan dari kejauhan ketika makhluk kristal tersebut tiba-tiba mundur dengan cepat dan langsung melancarkan serangan terhadap ayahku.
__ADS_1
Tetapi yang terjadi begitu cepat, aku bahkan tak bisa menangkap pergerakannya dengan mata telanjang.
Tiba-tiba terdengar suara ting dengan keras. Aku segera memusatkan pandangan, dan aku melihat dengan kagum ayah berhasil memblokir serangan tersebut dengan menangkisnya menggunakan lengan yang dilindungi oleh sisik-sisik keras naganya.
Refleks ayah begitu cepat, hampir tak terlihat oleh mataku.
Aku tak bisa menghindari perasaan terkejut melihat kemampuan ayah. Jika aku yang berada di posisinya, mungkin hasilnya akan berbeda.
Sekarang aku paham mengapa ayah memerintahkanku untuk menjauh.
Tampaknya makhluk kristal itu bukanlah lawan yang bisa dianggap remeh.
Aku lemah...
Saat merasa lemah dan menangis dalam ketidakberdayaan, aku tiba-tiba memberi tamparan pada diriku sendiri sebagai bentuk semangat.
"Jangan cengeng, Vael! Kamu harus kuat dan belajar seperti ayah!" ucapanku kepada diriku sendiri sembari merasakan tamparan pada pipiku.
Sambil membasuh air mata, aku kembali fokus pada pertarungan ayah. Matanya yang penuh tekad dan keteguhan memukauku.
Aku melihat betapa tangannya yang besar seolah-olah mencekram monster kristal dari kejauhan.
Mataku tak berhenti memperhatikan saat tiba-tiba monster kristal itu tertarik dengan kuat ke arah genggamannya, seolah-olah tercekik.
Tak lama kemudian, ayah mengeluarkan cairan asam hijau pekat dari tangannya.
Monster itu hancur dengan cepat, meninggalkan puing-puing kristal yang pecah.
Ruangan kembali bercahaya terang, dan dari kehancuran sebelumnya, makhluk kristal itu pulih dengan cepat, meregenerasi dirinya menjadi bentuk sempurna sekali lagi.
Ejekan dan hinaan makhluk tersebut bergema di seluruh ruangan, seperti angin yang mencoba mengganggu ketenangan.
Aku terperanjat melihat reaksi ayahku. Tanpa emosi, dia merespons hinaan itu dengan sikap santai dan seolah-olah menghiraukannya. Baginya, mungkin ejekan makhluk itu hanya seperti hembusan angin yang tak layak dia pedulikan.
Aku merasa ada pesan yang lebih dalam di balik tindakan ayahku ini.
Dalam keheningan dan fokus, aku menyaksikan ayah bertarung dengan penuh ketenangan.
Sambil merenung, aku menyadari bahwa ada banyak hal yang bisa kubelajar dari ayah.
Selain keterampilan fisik, dia juga mengajarkan aku tentang kebijaksanaan dan ketenangan dalam menghadapi segala situasi.
Aku pun bersumpah dalam hati untuk belajar dan tumbuh, sehingga suatu hari nanti aku bisa berdiri di samping ayah dengan kebanggaan.
Makhluk kristal itu mengeluarkan serangannya dengan kilatan cepat, peluru kristal bergerak seperti kilat yang menghantam ayahku yang tengah terbang.
Namun, saat serangan itu mengenai tubuhnya, hasilnya justru mengejutkan. Seluruh peluru kristal dengan cepat menembus tubuhnya, seolah-olah dia adalah bayangan yang tak terlihat oleh serangan itu.
Makhluk kristal itu tampak semakin frustasi karena serangannya yang diperkuat tidak berdaya mengenai ayahku.
__ADS_1
Dia mencoba lagi dengan kristal yang lebih kuat, tetapi hasilnya tetap sama—serangan itu sia-sia dan ayahku tidak terluka sedikit pun.
Aku tidak bisa menahan kagumku saat melihat ayahku menghindari semua serangan dengan begitu elegan.
Rasanya seperti melihat seorang penari yang mengelak dengan anggun dari serangan-serangan keras.
Aku tidak bisa membantu tetapi mengucapkan kata-kata kagumku, "Menakjubkan!"
Makhluk kristal semakin frustrasi karena usahanya terus gagal.
Suara berat ayahku terdengar seperti gema yang mencemooh di seluruh ruangan, memperparah frustrasi mereka.
Ayahku dengan tenang menjawab ejekan mereka dengan kata-kata yang menusuk hati, "Apakah itu serangan terkuatmu? Aku bahkan tidak merasa apa-apa. Kau benar-benar lemah."
Suaranya yang merendahkan lawan membuat aku hampir tak bisa menahan tawa.
Makhluk kristal tampak semakin kesal dengan ejekan ayahku yang tajam. Dengan gerakan yang cepat dan mengesankan, seluruh kristal di ruangan mulai berkumpul padanya.
Secara ajaib, dia berubah menjadi raksasa yang jauh lebih besar dan tangguh daripada sebelumnya. Tangannya membentuk pedang kristal tajam yang memancarkan ancaman.
Aku merasa bulu kudukku merinding dan keringat dingin mengalir saat energi magis yang sangat kuat berkumpul pada makhluk kristal itu.
Tapi apa yang mengagetkanku lebih adalah reaksi ayahku.
Dia tetap santai, bahkan terlihat bosan menunggu transformasi dan serangan makhluk tersebut.
Makhluk kristal yang sudah jengkel dengan ejekan ayah, tanpa ragu, mengayunkan tangannya yang berubah menjadi pedang kristal besar menuju ayahku.
Namun, ayahku masih tetap tenang dan justru menguap bosan menghadapi ancaman itu.
Pedang kristal raksasa itu hampir tak terlihat oleh mata telanjang, bergerak begitu cepat. Terjadilah ledakan dahsyat di sekelilingnya saat pedang itu menghantam ayahku.
Gelombang kejut mengguncang ruangan, membuatku terpental jauh.
Duar!
Suara ledakan dan benturan yang keras terdengar seperti dentuman guntur yang menakutkan.
Tubuh ayahku yang masih tegak dan tak tergoyahkan menyiratkan kekuatannya yang luar biasa.
Aku berusaha keras untuk bangkit dari pentalan gelombang kejut. Setelah debu kristal mereda, pemandangan yang kuterima begitu mengerikan.
Ayahku berhasil menahan serangan, tetapi lengan kanannya terputus, dan darah merah mengalir deras.
Hati ini terasa hancur, melihat ayah yang terluka parah.
Aku ingin membantunya, tetapi aku tahu aku belum cukup kuat. Menjadi beban bagi ayah bukanlah pilihan.
Aku hanya bisa berdiri diam dari kejauhan, memandang dengan perasaan campur aduk, dan menggenggam tanganku dengan begitu erat hingga darah keluar karena aku tak sadar menggigit bibirku terlalu keras.
__ADS_1