
Dengan langkah mantap, aku membuka kedua pintu besar markas Guild Petualang.
Saat aku memasuki ruangan itu, mataku segera terpaku pada pemandangan yang luar biasa.
Di dalam guild ini, aku melihat banyak manusia yang mengenakan berbagai macam perlengkapan dan senjata yang unik.
Masing-masing dari mereka tampaknya memiliki cerita dan tujuan yang berbeda-beda, dan itu membuatku semakin penasaran tentang petualang.
Namun, fokusku terpindah saat aku melihat sebuah meja besar di sudut markas guild ini.
Di sana, seorang wanita dengan pakaian berwarna merah muda yang elegan.
Senyumnya ramah saat dia menyambut semua petualang yang masuk, dan aku yakin dia adalah salah satu staf markas guild ini.
Aku merasa ini adalah kesempatan bagus untuk mendekati sumber informasi, dan aku berencana untuk mendekatinya setelah kami memutuskan langkah selanjutnya.
Dari kejauhan, aku melihat beberapa orang berkumpul di sekitar suatu papan besar yang tampak sangat serius.
Papan tersebut dipenuhi dengan tempelan kertas yang jelas merupakan daftar misi yang sedang mereka perhatikan dengan seksama.
Semua orang nampak mencari misi yang sesuai dengan kemampuan mereka.
Tapi apa yang menarik perhatianku adalah keberadaan makhluk-makhluk yang tidak sepenuhnya manusia.
Di antara para petualang manusia, aku melihat beberapa makhluk yang dengan jelas adalah elf.
Kulit putih alami mereka yang merona dan kuping lancip menjadi ciri khas elf yang sulit untuk disembunyikan.
Tidak hanya itu, para elf tersebut membawa busur dan panah di punggung mereka, siap untuk bertindak jika diperlukan.
Mereka adalah bagian dari keragaman yang ada di markas Guild Petualang ini, dan itu membuatku semakin penasaran tentang jenis petualangan apa yang mungkin kami temui di dunia ini.
Ketika mataku menelusuri ruang markas Guild Petualang ini dengan cermat, aku menyadari keberadaan ras-ras unik selain elf.
Salah satunya adalah para dwarf. Mereka adalah makhluk kerdil yang terlihat sangat pendek, bahkan seukuran anak kecil.
Tapi jangan biarkan penampilan mereka menipumu, wajah mereka penuh dengan keriput, dan jenggot tebal yang menjuntai menambah kesan tua yang kontras dengan tinggi tubuh mereka.
Dwarf-dwarf ini, seperti yang kutahu dari membaca buku fiksi, sering dianggap sebagai para pandai besi yang ahli dalam menempa.
Tentu saja, aku tidak bisa memastikan apakah hal ini berlaku di dunia nyata ini.
__ADS_1
Bagiku, dunia ini adalah dunia yang penuh misteri, dan aku sangat ingin menjelajahinya seiring dengan perubahan yang telah kulalui sejak reinkarnasi menjadi naga.
Dengan mantap, aku melangkah menuju resepsionis wanita dengan niat murni untuk mendaftar sebagai petualang.
Sepanjang perjalanan itu, aku bisa merasakan banyak mata memandang kami bertiga, terutama aku yang mencolok dengan penggunaan armor yang mencolok.
Meski begitu, pandangan-pandangan itu tidak mengganggu fokusku, dan aku terus maju menuju resepsionis.
Akhirnya, aku sampai di meja resepsionis, dan wanita di balik meja itu menyambut kami dengan senyum ramahnya, "Selamat siang, tuan! Bagaimana saya bisa membantu Anda hari ini?"
Aku memberikan senyuman sopan sebagai balasan, "Selamat siang juga, nona. Kami bertiga ingin mendaftar sebagai petualang," ujarku sambil menunjuk ke arah Lithos dan Sebas yang berdiri di sampingku.
Wanita resepsionis terlihat terkejut dan agak tidak percaya dengan ucapanku.
"Ehh? Saya pikir Anda bertiga adalah petualang. Tapi ternyata ingin mendaftar sebagai petualang baru," katanya dengan heran.
Aku merespons dengan santai, mencoba meyakinkannya dengan alasan yang masuk akal,
"Ah, pernyataan Anda benar dan salah, nona. Kami bertiga sudah merupakan petualang dari negeri yang sangat jauh."
Aku melanjutkan, menciptakan cerita yang semakin meyakinkan, "Kami telah sampai di negeri ini, dan sepertinya petualang di sini memerlukan pendaftaran resmi untuk mendapatkan kenaikan peringkat. Di negeri kami, menjadi petualang adalah pekerjaan tak resmi, sehingga kami tidak memiliki identitas petualang atau peringkat petualang."
Seketika itu juga, aku melihat keraguan di mata wanita resepsionis mulai memudar, dan dia mulai mempertimbangkan kata-kataku.
Saat dia pergi mengambil beberapa berkas dokumen, aku merasa lega.
Sambil menunggu, mataku tertuju pada papan besar yang berisi banyak misi.
Berkat mata nagaku, aku dapat melihat tulisannya dengan jelas dari kejauhan.
Di papan itu, banyak kertas menempel dengan tulisan yang sama sekali tidak aku ketahui, sehingga aku tidak bisa membacanya atau mengerti.
Wanita resepsionis kemudian kembali dengan cepat membawa berkas dokumen untukku, Sebas, dan Lithos.
Wanita resepsionis memberikan dokumen kepada kami, lalu berkata, "Permisi, tuan. Silakan isi dokumen ini dengan lengkap. Setelah selesai mengisinya, tuan dapat memberikannya kembali kepada saya."
Aku mengucapkan terima kasih padanya, tapi saat itu Sebas dan Lithos memandangku dengan tatapan aneh.
Apakah tindakanku salah di mata mereka? Ah, entahlah, sifat manusiaku masih melekat pada diriku meskipun aku sekarang menjadi naga.
Ketika aku melihat formulir pendaftaran, aku mendekati Sebas dan Lithos dengan suara pelan dan memerintahkan mereka untuk tidak menggunakan nama asli mereka, hanya nama samaran. Termasuk diriku sendiri.
__ADS_1
Mereka berdua cepat mengisi formulir dengan huruf-huruf yang asing bagiku.
Aku hanya bisa menatap bingung pada tulisan-tulisan itu dan menggelengkan kepala.
"NANI! Tulisan apa ini? Aku sama sekali tidak mengerti apa yang tertulis di sini!" ucapku dengan nada panik.
Sementara itu, Sebas dan Lithos tampaknya dengan mudah mengisi formulir dengan guratan-guratan bahasa asing yang sama sekali tidak aku pahami.
Mereka berdua seolah sudah terbiasa dengan hal ini, meninggalkanku dalam kebingungan.
Aku merasa semakin panik saat melihat formulir pendaftaran yang masih kosong di depanku.
Bagaimana aku bisa mengisi sesuatu yang sama sekali tidak aku mengerti?
Tiba-tiba, Sebas menghentikan pena di tangannya dan menoleh ke arahku dengan ekspresi khawatir.
"Ayah, apa yang terjadi? Apakah ayah baik-baik saja?" tanyanya dengan keprihatinan yang jelas terpancar di matanya.
Sambil berusaha tenang, aku memberikan alasan palsu padanya, "Oh, jangan khawatir. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu yang menarik di sini. Isilah formulir pendaftaran untukku, aku akan pergi sebentar," aku berbohong, berharap dia akan menerimanya.
Sebas tersenyum dan mengangguk, "Tentu, Ayah! Aku akan mengisinya untuk Ayah." Itu membuatku merasa lega, meskipun sebenarnya aku masih bingung dengan semua ini.
Sementara itu, Lithos memandang tajam ke arahku dan mengucapkan kata-kata sinisnya.
"Hmm, seperti biasa, kadal pemalas," katanya, jelas merujuk kepadaku.
Namun, aku pura-pura tak mendengarnya dan tidak memberikan reaksi apapun terhadap komentarnya.
Sebas, yang juga mendengar komentar sinis dari Lithos, dengan sengaja menginjak kaki Lithos, menyebabkan sebotol tinta hitam tumpah ke atas lembaran formulir pendaftaran Lithos yang hampir selesai.
Tinta hitam meresap dan meluber ke seluruh formulir itu, membuatnya menjadi tidak bisa digunakan lagi.
Lithos, marah, berteriak kepada Sebas, "Dasar bodoh! Apa yang kau lakukan, bocah sialan! Aku harus menulis ulang lagi karena ulahmu, bocah biadab!"
Dia mengangkat lembaran registrasi yang telah terkena tumpahan tinta hitam dengan kesal.
Namun, Sebas hanya terkekeh senang, sama sekali tak perduli dengan kemarahannya.
Lithos, meski geram dengan tingkah Sebas, tahu dia tidak bisa membalasnya karena takut akan ancamanku sebelumnya.
Dia bersabar sambil memanggil resepsionis wanita untuk mendapatkan lembaran registrasi baru karena tumpahan tinta hitam dari tindakan Sebas telah merusak yang lama.
__ADS_1
Wanita resepsionis akhirnya memberikan lembaran registrasi baru, dan dengan penuh kemarahan, Lithos mengisinya kembali.
Sementara itu, wanita resepsionis pergi menjawab pertanyaan dari seorang petualang yang membutuhkan bantuannya.