Dragon Lord System

Dragon Lord System
S3 - 96


__ADS_3

Dalam momen yang tegang ini, Vael akhirnya mengangkat wajahnya dan dengan suara lirih yang gemetar, ia mulai menceritakan apa yang ia ketahui tentang apa yang telah terjadi pada ayah mereka.


Sebas mendengarkan dengan cermat, meskipun emosinya masih membara.


Tidak peduli seberapa kerasnya pertanyaan dan reaksi Sebas, kebenaran yang muncul akhirnya akan membuka jalan menuju kejelasan yang mereka cari.


Dalam momen yang tegang, Vael akhirnya memberi penjelasan yang seolah menghancurkan dugaan-dugaan yang muncul dalam pikiran Sebas.


Dengan tangan gemetar, Vael menunjuk ke arah lobang besar yang dulunya merupakan pintu masuk ke dungeon kuno, kini tertutup oleh reruntuhan.


Sebas mengeluarkan teriakan kebingungan dan kekhawatiran, mencari jawaban yang diinginkan.


Vael berbicara dengan suara gemetar, menjelaskan bahwa ayah mereka terkubur dalam dungeon kuno yang hancur akibat pertempuran yang dahsyat.


Kata-kata itu seperti pukulan keras bagi Sebas, yang tak menyangka bahwa keadaan bisa berakhir seperti ini.


"Apa?! Ayah... terkubur dalam dungeon?" gumam Sebas dengan nada yang penuh kebingungan dan terkejut.


Kejadian ini begitu mendalam dan penuh ironi, membuat hati Sebas campur aduk.


"BAGAIMANA BISA?!" teriaknya, ekspresi wajahnya mencerminkan ketidakpercayaan dan ketidakmengertian atas apa yang baru saja ia dengar.


Pertanyaan demi pertanyaan terus memenuhi pikirannya, dan rasa khawatir yang mendalam semakin melingkupi hatinya.


"Ayah melawan boss dungeon yang kuat, dan dia berhasil mengalahkannya dengan harga yang mahal," lanjut Vael dengan suara tersedu-sedu.


Dia merasakan rasa bersalah dan frustasi, seperti tanggung jawab yang terlalu berat baginya.


"Kini, ayah terkubur di dalam reruntuhan, dalam keadaan yang lemah."


Tak mampu menahan perasaan frustasinya lagi, Vael meledak dalam air mata dan teriakan.


"AKU TERLALU LEMAH! AKU TIDAK BISA MELINDUNGI APA-APA!" teriaknya dengan penuh keputusasaan.


Sebas melihat adiknya yang hancur dan merasa campur aduk antara empati dan kekhawatiran yang mendalam.


Sebas merasa dunia berputar saat mendengar penjelasan adiknya.


Detak jantungnya terhenti sesaat, dan segalanya terasa seolah berhenti bergerak. Kini, ketika ia tahu apa yang telah menimpa ayahnya, urgensi dan keputusasaan muncul begitu saja.


Tanpa menunggu lebih lama, Sebas berdiri dan menghadap ke lobang besar yang merupakan pintu menuju dungeon kuno, kini tertutup oleh reruntuhan.

__ADS_1


Tidak ada waktu untuk menenangkan adiknya saat ini.


Fokus utamanya adalah menyelamatkan ayahnya yang terkubur ribuan bahkan puluhan ribu meter di bawah tanah.


Sebas memahami bahwa ayahnya tidak dalam kondisi prima.


Puluhan Ribuan tahun yang lalu, dalam peperangan antara dewa-dewa, ayahnya telah menggunakan sebagian besar kekuatannya. Kini, ia bersembunyi di dalam tanah, menunggu dan merestorasi kekuatannya sampai mencapai kondisi terbaiknya.


Dengan cepat, Sebas mulai menghancurkan reruntuhan yang menutupi lobang menuju dungeon kuno.


Setiap puing yang ia geser atau hancurkan membawa dirinya lebih dekat ke tujuan utamanya: menyelamatkan ayahnya.


Sementara ia bekerja keras memindahkan dan menghancurkan reruntuhan, pemikiran Sebas melaju kencang.


"[Gattling Punch]!" seruan Sebas bergaung saat ia memanfaatkan skillnya.


Setiap pukulannya bagaikan peluru yang terus menerjang puing-puing, menggali lebih dalam untuk mencapai ayahnya.


Suara ledakan bergema, seolah setiap tinju adalah ledakan kecil yang membantu memindahkan reruntuhan dengan cepat.


Namun, Sebas menyadari bahwa usaha ini membutuhkan waktu yang lama jika ia melakukannya sendirian.


Dalam keputusasaan yang terperangkap di dalam hatinya, ia memutuskan untuk meminta bantuan.


Sebas juga memberikan instruksi kepada Vael untuk tidak memberi tahu adik-adik mereka, Aleister, Luna, dan Hades, tentang apa yang sedang terjadi pada ayah mereka.


Ia tahu bahwa mereka mungkin terlalu muda dan rentan untuk menanggung beban berita sedemikian besar.


Setelah mendapatkan dukungan dari Gameciel, anak buah golem, dan Karina, setengah jam berlalu dengan cepat.


Sebas terus berjuang tanpa henti, tinjunya terus memukul puing-puing dan menggali lubang yang semakin dalam.


Tapi ia tidak menyerah, karena tekadnya untuk menyelamatkan ayahnya begitu kuat.


Namun, saat ia terus bekerja, rasa putus asa dan kekhawatirannya semakin berkobar di dalam dirinya.


Bagaimana kondisi ayahnya? Apakah ia bisa menyelamatkannya? Setiap pukulan adalah ekspresi dari cinta dan keinginan kuatnya untuk mencari kembali ayahnya.


Meskipun tangan Sebas sudah pegal dan bengkak, ia terus menghantam puing-puing dengan tekad yang kuat.


Baginya, keselamatan ayahnya adalah yang terpenting.

__ADS_1


Namun, raungan-raungan seperti monster yang mendekat membuatnya menoleh.


Dengan cepat, gerbang besar ruangan terbuka lebar, dan hadirnya Gameciel, sang golem malaikat raksasa, bersama dengan ribuan golem berbagai bentuk, memberikan kelegaan kepada Sebas.


Dengan hormat, Gameciel dan para bawahannya siap membantu.


Sebas tanpa ragu langsung memerintahkan mereka untuk bergabung dalam upaya penggalian.


Dengan gerakan yang serempak, Gameciel dan para golem mulai mengangkat puing-puing dan menggali, menghancurkan dengan kekuatan mereka yang luar biasa.


Di sisi lain, Karina dan Vael juga bergabung dalam usaha ini.


Meskipun mereka mungkin tidak memiliki statistik ATK sebesar Sebas atau golem, tekad dan semangat mereka tidak kalah kuatnya.


Dalam cahaya gemilang dan usaha bersama, mereka berjuang untuk membuka jalan menuju mencari Tuan pencipta mereka.


Saat mereka bekerja sama, atmosfer menjadi tegang.


Dan sementara suara puing-puing terangkat dan bahu-bahu mereka terus bekerja, ada harapan yang terpancar di mata mereka — harapan bahwa mereka akan berhasil menyelamatkan tuan mereka dari kuburan hidup yang dalam.


Setelah beberapa jam perjuangan, mereka akhirnya tiba di sebuah goa yang gelap dan suram.


Namun, goa ini sekarang dipenuhi dengan reruntuhan dan puing-puing yang membuatnya sulit untuk melihat apa pun.


Vael berusaha mencari danau tempat dungeon ayahnya terletak.


Namun, ketika dia mencapainya, dia hanya menemui puing-puing yang mengisi danau tersebut.


Mereka terus menggali dengan tekad yang kuat, berusaha keras untuk mencapai dungeon di dalam tanah.


Selama satu hari penuh, mereka bekerja tanpa henti, mengangkat puing-puing dan mencari jejak-jejak ayah Sebas.


Ketika hari ketiga tiba, mereka telah menggali dengan gigih. Seluruh golem bersama Gameciel, Vael, Karina, dan Sebas akhirnya sampai ke dasar danau yang dalam.


Mereka menyelam dengan hati-hati, mencari tanda-tanda ayah Sebas di antara reruntuhan dan rerumputan yang memenuhi dasar danau.


Namun, meskipun mereka mencari dengan sungguh-sungguh, jejak tuan mereka sepertinya tidak dapat ditemukan.


Air danau yang mendalam menyelimuti mereka, menambah kerumitan dalam mencari.


Keputusasaan mulai menyelimuti mereka, dan walaupun mereka belum menemukan tuan mereka, mereka bersumpah untuk terus mencari sampai mereka bisa menyelamatkannya dari dalam kedalam danau yang kelam ini.

__ADS_1


Tiba-tiba, di kedalaman danau yang sangat dalam, Gameciel menemukan sesuatu yang mengagetkannya.


__ADS_2