
Rio Suzuki, sekretaris sekaligus penasihat dan pengawal Raja Arvandor, Theovilus, dulunya adalah seorang petualang legendaris. Berkat keahliannya sebagai mantan petualang dengan peringkat tertinggi, Master.. ia menjadi penasihat, pengawal, dan sekretaris setia Raja Theovilus.
Selama 15 tahun, Rio menjelajahi dunia sebagai seorang petualang berpengalaman sebelum akhirnya memutuskan untuk berhenti dan mendedikasikan dirinya untuk menjadi pengawal Raja Theovilus.
Dulu, ketika Rio masih menjadi seorang petualang, ia dikenal oleh banyak orang dengan julukan 'Supersonic'. Nama tersebut tak lepas dari kelincahan dan ketangkasannya yang luar biasa.
Setiap langkahnya cepat dan lincah, membuatnya mampu menghindari serangan musuh dengan gesit seperti kilat. Ia bisa menerjang medan berbahaya dan menyelesaikan misi dengan begitu gesit, seolah-olah tak ada yang bisa menyamainya.
Di masa lalunya sebagai petualang, Rio mengalami berbagai macam petualangan yang mengesankan. Ia berhasil mengatasi berbagai tantangan yang dihadapinya dengan penuh keberanian dan strategi yang cerdik. Cerita tentang petualangannya tersebar luas di dunia ini, dan banyak orang yang mengagumi kehebatannya.
Namun, seiring berjalannya waktu, keinginan untuk menjadi petualang meredup dalam diri Rio. Karena ia tahu betapa bahaya-nya menjadi petualang, terutama misi berbahaya petualang peringkat tinggi.
Terus terang, pekerjaan sebagai petualang memang sulit dan penuh dengan risiko. Tidak semua orang mampu menghadapi bahaya dan kematian yang mengintai setiap langkah mereka. Namun, di balik itu semua, pekerjaan ini memiliki daya tariknya sendiri.
Impian dan romansa menghiasi setiap petualangan, dan kemungkinan menjadi kaya dengan cepat membuatnya begitu menggiurkan. Tidak heran jika banyak orang tergoda untuk mencoba nasib sebagai seorang petualang.
Rio Suzuki adalah contoh hidup nyata bahwa siapa pun bisa menjadi petualang, tanpa memandang latar belakang mereka. Meskipun masa lalunya kelam, Rio berhasil menjadi salah satu petualang terhebat dengan mencapai peringkat Master. Dia telah membuktikan bahwa dengan tekad dan keahlian yang cukup, tidak ada yang tidak mungkin dalam dunia petualangan.
Namun, walaupun dia telah mencapai kesuksesan dan kehidupan yang stabil, Rio tetap merasa kesal terhadap ketidakadilan yang ada di dunia.
Baginya, ketidakadilan bangsawan yang memeras rakyatnya adalah hal yang tak termaafkan. Ia merasa geram melihat kekayaan dan kemewahan mereka yang diperoleh tanpa usaha dan tanpa berjuang seperti dirinya sebagai petualang.
10 Tahun lalu, Rio Suzuki, dicari oleh Raja Theovilus dan ditawari pekerjaan sebagai pengawal pribadinya, dia merasa sangat senang dan dengan cepat menerima tawaran tersebut.
Selama 10 tahun bekerja sebagai pengawal pribadi raja, Rio menunjukkan keahliannya yang luar biasa. Ia kuat, cerdas, dan memiliki pengalaman luas dalam mengenal dunia luar maupun dunia dalam.
Prestasi dan dedikasi Rio tidak luput dari pandangan Raja Theovilus. Sang raja melihat betapa berharganya Rio sebagai pengawal pribadinya. Kemampuannya yang luar biasa membuat Raja Theovilus mengangkatnya sebagai tangan kanan, penasihat, dan sekretaris pribadinya.
Sebagai tangan kanan sang raja, Rio memiliki akses ke keputusan-keputusan penting dan turut mengambil bagian dalam pemerintahan kerajaan.
Namun, kenaikan pangkat Rio tidak diterima dengan baik oleh para bangsawan. Banyak dari mereka yang iri dan membenci Rio karena ia berasal dari kalangan rakyat jelata yang diangkat menjadi posisi tinggi di istana.
Sebagai pengawal pribadi yang sebelumnya berasal dari latar belakang petualang, Rio dipandang sebelah mata oleh beberapa bangsawan yang merasa posisinya terancam.
Namun, meskipun mendapat pandangan negatif, Rio tidak membiarkan itu mengganggunya.
Ia tetap fokus pada tugasnya sebagai penasihat dan tangan kanan raja, membuktikan bahwa keahliannya tidak dapat diremehkan. Dengan sikap yang tenang dan bijaksana, Rio berusaha membuktikan bahwa ia pantas mendapatkan posisinya di istana.
__ADS_1
Hari demi hari, Rio harus menelan cemoohan dan perlakuan buruk dari banyak bangsawan. Bahkan ada bangsawan yang pernah meludahi mukanya, mengingatkannya bahwa ia hanyalah seorang rakyat jelata biasa. Namun, Rio tidak pernah merespon dengan marah atau dendam. Ia hanya diam, menyadari bahwa memang itulah pandangan kebanyakan orang terhadapnya.
Namun, selama lima tahun bekerja sebagai asisten pribadi Raja Theovilus, Rio melihat bahwa sang raja sangat berbeda tidak seperti bangsawan yang kaya lainnya. Raja Theovilus tidak memandangnya sebelah mata atau memperlakukannya dengan kasar. Sebaliknya, sang raja selalu bersikap baik dan menghargainya sebagai seorang individu.
Melihat sikap penuh penghargaan dari Raja Theovilus, hati Rio pun penuh rasa hormat terhadapnya.
Raja Theovilus membuka matanya terhadap kualitas sejati dari seseorang, bukan hanya berdasarkan latar belakang atau status sosial mereka. Ia melihat keahlian dan dedikasi Rio sebagai asisten yang tak ternilai. Sikap baik Raja Theovilus dan penghargaannya membuat Rio semakin termotivasi untuk bekerja lebih baik lagi.
...
"Sudah 10 Tahun berlalu aku berhenti menjadi petualang, namun sekarang aku bekerja sebagai petualang lagi, HAHAHA!" ucap Rio Suzuki sambil tertawa gembira. Meskipun sudah lama meninggalkan pekerjaan berbahaya itu, gairah petualang dalam dirinya kembali menyala.
Namun, ketika Raja Theovilus memberikan perintah untuk menginvestigasi Anomali di Hutan Elysian, Rio merasa dilema. Sebagai pengawal pribadi raja, tugasnya adalah melindungi raja, bukan pergi menjelajahi hutan berbahaya yang dijuluki sebagai jalan kematian. Tapi, ia tak bisa menolak perintah raja yang sangat ia hormati.
Dalam benaknya, pemikiran bercampur aduk. Menginvestigasi Hutan Elysian adalah pilihan yang gila dan berisiko tinggi. Namun, ia mengingatkan dirinya sendiri bahwa ini adalah perintah dari raja, yang selalu bersikap baik padanya. Ia merasa berutang budi dan tak bisa menolak.
Sebelumnya, peralatan petualangnya telah ia tinggalkan selama bertahun-tahun, dan kini ia mengenakannya kembali dengan perasaan campur aduk. namun juga tegang karena tahu ia menghadapi bahaya yang nyata.
"Dulu sekali..." gumam Rio sambil mengenakan perlengkapan petualang kesayangannya. Dia merasa seperti kembali ke masa lalu. Armor Titanium ringan berwarna hitamnya terasa nyaman di tubuhnya, seakan menjadi perpanjangan dari dirinya sendiri. Sepasang sepatu besi yang meningkatkan kecepatannya membuatnya merasa lincah dan gesit seperti dulu.
Mantel berwarna merah yang keren juga tak luput dari perhatiannya. Tak hanya memberikan tampilan yang gagah, mantel itu juga meningkatkan kecepatannya saat berlari.
sepasang bilah pendek favoritnya yang kini tergantung di sakunya. Bilah-bilah itu selalu menjadi sahabatnya, setia menemani di saat-saat sulit. Dia bisa mengandalkannya dalam berbagai situasi dan menyelamatkan hidupnya berkali-kali.
Dan di pinggangnya, menggantung dengan gagahnya, adalah Pedang Andalannya. Pedang yang terbuat dari sisik naga, bahan langka yang jarang digunakan saat ini.
Setiap kali ia melihat pedang itu, dia teringat pada berbagai kisah epik di masa lalu, saat pedang itu telah menyelamatkan hidupnya dari bahaya dan mengantarnya pada kemenangan yang gemilang.
Seiring waktu berlalu, pedang itu mungkin telah berkarat di beberapa tempat, tapi nilainya tak ternilai bagi Rio.
Pedang itu adalah saksi bisu dari perjalanan petualangannya yang berliku, dari ketika ia adalah seorang petualang peringkat rendah hingga menjadi tangan kanan raja.
Setelah memandangi pedangnya dengan penuh rasa nostalgia, Rio keluar dari perkemahannya. Di luar, kelima rekan petualangnya sudah menunggu dengan wajah-wajah yang akrab. Mereka dulunya adalah petualang satu tim yang tak terpisahkan, sebuah party peringkat Master yang terkenal dengan nama Phantom Nemesis.
"Ah, kawan-kukah? Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Semoga kalian semua baik-baik saja, HAHAHA!" sapa Rio dengan riang kepada kelima anggota partynya.
Tentu saja, reaksi mereka tak kalah hangat. "Hah?! Sudah 10 tahun kita tidak bertemu, dan tampaknya kebiasaan tertawa-mu yang berlebihan itu belum berubah, Rio," ejek salah satu rekan Rio.
__ADS_1
"Hah, itu benar sekali!" sambung anggota lainnya dengan senyum di wajahnya.
Seperti biasa, suasana hangat dan riang gema tawa terdengar di antara anggota party Phantom Nemesis. Mereka merasa senang bisa berkumpul kembali setelah 10 tahun berlalu. Salah satu dari mereka mulai menggodanya dengan khasnya.
"Seperti biasa, kau masih mengenakan Armor hitam keramat itu? Aku yakin kau masih belum punya pacar karena kebiasaan bodohmu itu, bukan? Haha," goda salah satu anggota lainnya dengan senyum lebar.
Namun, godaan itu terpatahkan ketika Rio dengan bangga menunjukkan cincin pernikahan yang berada di jari manisnya. Tatapan bingung dan terkejut terlihat di wajah teman-temannya. Mereka tidak menyangka Rio sudah memiliki istri.
"Eeh? Aku tidak mengira kau sudah memiliki istri, kawan! Selamat RIO! Ngomong-ngomong, kapan kau menikahnya? Dan mengapa kau tidak memberi tahu kami?" ujar temannya dengan antusias.
"Ini sudah lama, kawan. Aku sudah menikah dengan istriku 10 tahun yang lalu. Ah, aku tidak memberitahu kalian karena pernikahan kami tertutup. Haha, jadi maafkan aku, kawan," jawab Rio dengan senyum.
Kegaduhan dan tawa riuh pun kembali mengisi udara seperti dahulu kala saat Rio masih menjadi anggota party petualang Phantom Nemesis. Mereka bertukar cerita dan mengingat kenangan indah yang mereka lewati bersama.
Namun, suasana riang gembira seketika berubah menjadi hening saat sang pemimpin, Alex Steel, Seorang pria berumur 40 tahunan, mengangkat tangannya dan memberikan isyarat agar mereka tenang.
"Sudah cukup dengan reuni ini," ucap Alex dengan penuh wibawa. Wajahnya yang kharismatik menarik perhatian semua anggota party Phantom Nemesis.
Rio menyambutnya dengan senyuman hangat sembari memeluk teman lamanya, "Alex! Sudah lama sekali tidak bertemu."
Kata-kata itu cukup untuk menyiratkan betapa kuatnya ikatan persahabatan di antara mereka. Tidak perlu banyak ucapan atau penjelasan. Setelah 10 tahun berpisah, hubungan saling percaya mereka tetap tak tergoyahkan.
Seperti biasa, kegaduhan pun meledak kembali di antara para petualang. Mereka saling berkelakar, bercanda, dan mengenang masa lalu yang penuh petualangan.
Sambil melanjutkan perjalanan menuju ruang pertemuan guild, seorang elf di antara mereka tersenyum. "Hmm, mereka sudah lama tidak bertemu, tapi begitu akrab seperti dulu, ya, seperti itulah pertemanan antara para pria, kurasa," ujarnya dengan senyum lebar.
Namun, seorang wanita berambut hitam yang tak mau kalah memberikan komentar sinis, "Seperti Biasa, Hanya sekelompok pria yang tak berguna."
Tiba-tiba, kuping wanita berambut hitam itu disentil dari belakang, menyebabkan dia melenguh kesakitan, "Ouuch, sakit!" serunya. Ketika dia menoleh ke belakang, dia menemukan Rio, anggota lama mereka, berdiri dengan senyuman nakal di wajahnya.
"Rio! Sudah kubilang jangan usil!" bentak sang wanita sambil menggosok-gosok kupingnya yang merah karena disentil.
Tapi tentu saja, Rio hanya tertawa lepas dan mengabaikan teguran itu. Kejahilannya yang selalu muncul dari masa lalu masih tetap menghibur semua orang, dan semua anggota party tertawa melihatnya.
Tibalah mereka di ruang pertemuan guild. Suasana semakin hidup dengan canda tawa dari para petualang.
Setibanya di ruang pertemuan guild, keenam petualang itu duduk bersama. Ruangan itu dipenuhi dengan tawa dan canda, seperti saat mereka masih petualang aktif dahulu kala. Dan saat itu juga pemimpin party mereka memulai pembicaraan dengan serius.
__ADS_1
"Jadi, Rio, apa yang ingin kau bicarakan kepada kami?" tanya Alex, Kepada Rio secara langsung.