Dragon Lord System

Dragon Lord System
S3 - Boss dungeon "2"


__ADS_3

Seluruh kristal terus menyerangiku dari berbagai arah, namun aku melintasinya dengan mudah.


Serangan-serangan itu menembus tubuhku tanpa meninggalkan bekas, seolah-olah aku adalah hantu yang tidak bisa dihentikan.


Terkadang, aku tak bisa menahan senyum ketika menyadari bahwa kemampuan baruku ini benar-benar memberiku keunggulan yang besar dalam pertarungan.


Aku berharap dia segera menyadari bahwa dia tidak bisa mengandalkan serangannya untuk mengalahkanku.


"Ah, serangan anak-anak. Menyerahlah dengan cepat sebelum aku menghancurkanmu sepenuhnya," ucapku dengan nada merendahkan, mencoba memancing reaksi dari Lithos.


"Mustahil!" ucap Lithos, pandangannya penuh keheranan saat serangannya yang kuat malah berhasil menembus tubuhku.


Seketika itu, Lithos dengan cepat mengeluarkan skillnya. Seluruh kristal di ruangan kembali berubah-berubah warna seperti lampu Neon yang berkedip-kedip dengan berbagai warna, dan tiba-tiba serangan kristal menghujamiku.


Kali ini, serangannya tampak diperkuat, dan seluruh peluru kristalnya berubah-ubah warna, seperti Neon yang menyala, saat mereka meluncur ke arahku.


Shoot...


Krak...


Shoot...


Shuushh...


Namun, hasilnya tetap sama seperti sebelumnya.


Meskipun serangan kristalnya sudah diperkuat dan berubah warna, tubuhku masih tetap tak terluka dan serangan-serangan itu seolah-olah melewati diriku seperti angin.


Aku tersenyum dalam hati, merasa senang karena keunggulan kemampuanku yang membuatku hampir tak terkalahkan.


"Kau terlalu bodoh jika berpikir bahwa serangan seperti ini bisa menghentikanku," ucapku dengan nada merendahkan, menjawab tatapan heran Lithos.


Ketika aku melihat wajahnya yang semakin frustasi, aku tahu bahwa aku telah mengendalikan jalannya pertarungan.


Namun, aku memilih untuk tidak buru-buru mengakhiri pertarungan ini.


Aku ingin memberinya sedikit harapan palsu sebelum akhirnya menghancurkannya.


"Sial, bagaimana bisa kau melakukan itu?!" ucap Lithos dengan nada panik, matanya mencari jawaban atas kejadian yang baru saja terjadi.


"Makhluk lemah dan rendah seperti dirimu tidak pantas tahu," jawabku, menyampaikan kehinaan dengan nada mencemooh yang lebih memperburuk situasinya.


"Apakah itu serangan terkuatmu? Aku bahkan tidak merasakan apapun. Sungguh, kau terlalu lemah," lanjutku, tetap menjaga sikap sombongku.

__ADS_1


Lithos, tampaknya benar-benar kesal dan penuh emosi.


Ini pertama kalinya ia mengalami penghinaan yang begitu dalam.


Dengan cepat, ia mengeluarkan serangannya lagi, dan kali ini, ia memanipulasi kristal-kristal di sekitarnya untuk membesarkan dirinya, menjadikannya raksasa kembali.


Dengan ekspresi acuh tak acuh, aku menyaksikan transformasi Lithos yang mencoba untuk mempertahankan gengsi dan keberanian.


Namun, aku tahu bahwa tidak ada yang bisa menyelamatkannya dari akhir yang sudah kusembunyikan dengan baik di balik ketenanganku.


Dengan segera, Lithos membentuk kristal-kristal di tangannya, mengubahnya menjadi sebuah pedang raksasa yang berkilauan. Namun, aku hanya meresponsnya dengan sikap bosanku.


"Hoamm, sudah lama kumenunggu kapan kau menyerangku, makhluk rendahan?" kataku dengan menguap seolah-olah terasa membosankan menanti serangannya.


Tak berselang, Lithos pun menyerangku dengan tangan raksasanya yang berbentuk pedang, penuh dengan kemarahan.


"MATILAH!" jeritnya dengan penuh amarah.


Namun, tiba-tiba saja keterampilan [Reality Phasing] yang kumiliki tidak aktif.


Entah mengapa, sepertinya aku telah mencapai batas penggunaannya hari ini.


"Bajingan! Mengapa harus Limit saat saat seperti ini?" gumamku dengan ekspresi kesal.


Namun, akibat benturan itu, terjadi ledakan dahsyat yang memenuhi ruangan dengan debu dan kekacauan.


Aku tetap berdiri di tengah-tengah ledakan, tak tergoyahkan meskipun ruangan dipenuhi debu.


Lithos, di sisi lain, terdorong mundur oleh dampak ledakan tersebut, namun sepertinya masih dalam keadaan yang baik.


Namun, berkat penglihatan tajam naga, aku mampu melihat sekitarku dengan jelas tanpa gangguan.


Ketika tangan kananku tiba-tiba terasa seperti ditusuk ribuan jarum dan perih menyeluruh, aku merasa takjub bahwa aku masih bisa melihat dengan jelas.


Namun, perasaan sakit itu langsung mengalihkan perhatianku saat aku merasakan rasa perih yang menjalar.


Dengan perlahan, aku menurunkan pandangan ke tangan kananku dan apa yang kulihat benar-benar mengejutkan.


Tangan kananku terputus, terpisah oleh serangan Lithos yang kuat.


Darah merah mengalir deras dari tangan yang terputus, menciptakan gambaran yang menyeramkan.


Di sisi lain, tangan kiriku hanya mengalami luka goresan besar dan potongan yang tidak begitu dalam.

__ADS_1


Rasanya seperti dilempar ke dalam dunia rasa sakit yang tak tertahankan.


Aku hampir saja berteriak keluar karena rasa sakit itu begitu menyiksa. Tapi aku harus menjaga wibawaku di depan musuh.


Darah dan rasa sakit, semuanya berpadu dalam momen ini.


Debu perlahan mengendap, dan di tengah situasi yang mencekam, Lithos yang berubah menjadi raksasa menatapku dengan penuh keangkuhan.


"Betapa menyedihkan tanganmu terputus begitu saja oleh seranganku, mungkin kali ini aku harus mengincar lehermu kadal menjijikan!," ejek Lithos, mencoba mencuri senyum kemenangan.


Namun, aku tidak berniat memberinya kepuasan lebih lanjut. Dan seketika itu juga Lithos mengayunkan pedang raksasanya menuju kepada leherku.


Ketika serangan pedangnya nyaris mencapai aku, aku dengan cepat melancarkan skill-ku [Shadow Puppeteer].


Sebuah bayangan hitam besar merayap dari bawah kakiku, merambat dengan cepat menuju Lithos yang hendak ingin menyerangku.


Ketrampilanku ini memungkinkan aku mengendalikan bayangan orang lain seperti boneka, dan kali ini aku mengarahkannya pada Lithos.


Bayangan itu meluas, mengepung diriku dan merekam seluruh bentuk Lithos yang menjulang.


Bentuk Tubuh raksasa Lithos itu memberiku keuntungan, karena bayangan ini bisa mencapainya dengan mudah.


Lithos berusaha mengekang bayangan itu, namun usahanya terlambat. Tangan besarnya, yang hendak menebas leherku, terhenti di udara seolah-olah ia menjadi patung.


Bayanganku telah berhasil mempengaruhi tubuhnya, membuatnya tak berdaya dan beku.


Sejenak, ruangan terpenuhi dengan keheningan. Lithos terperangkap dalam kendali bayangan, tak berdaya menghadapiku.


"Sialan! Apa yang kau lakukan, Kadal Cabul?!" desak Lithos dengan frustrasi, tubuhnya membeku dalam posisi terpojok dengan pedang kristal raksasanya yang hampir menyentuh leherku, hanya beberapa sentimeter lagi.


Sementara aku, meski dalam posisi kritis, tidak bisa menahan gumaman kecil dalam hati, "Beruntung sekali rencanaku berhasil, kalau tidak, mungkin kepalaku-sudah terpenggal sekarang."


Dalam posisi terjepit ini, aku tidak merasa perlu menyembunyikan kepuasan sedikit pun.


Aku melanjutkan dengan nada tegas, "Ini kesempatan terakhir bagimu, menyerahlah dan jadilah bawahanku, atau kau akan kuhancurkan tanpa ampun, makhluk rendahan."


Lithos tampak semakin putus asa saat aku menawarkannya kesempatan terakhir. Dia tidak ingin tunduk pada aku, bahkan dalam posisi seperti ini.


"JANGAN BERHARAP! TIDAK AKAN PERNAH! AKU LEBIH MEMILIH KEMATIAN DARIPADA JADI BAWAHANMU, KADAL MENJIJIKAN!" serunya dengan penuh tekad, meski segala usahanya untuk bergerak tetap sia-sia.


Situasi ini membuatku ragu sejenak, apakah benar aku harus membunuhnya?


"Sayang sekali, kalau begitu bersiaplah untuk kuhancurkan!," balasku tegas, tak ragu lagi dengan keputusan yang harus kuputuskan.

__ADS_1


__ADS_2