
Kami mendekat ke gerbang pintu masuk ke kota manusia yang dijaga oleh dua penjaga manusia.
Saat itu, tampak jelas ada sejumlah pengunjung manusia yang harus menunjukkan kartu identitas mereka kepada kedua penjaga tersebut sebelum diizinkan masuk ke kota manusia.
Aku, Sebas, dan Lithos semakin mendekat menuju gerbang, dan sekarang giliran kami untuk menunjukkan identitas kami agar bisa masuk.
Namun, tentu saja, kami tidak memiliki kartu identitas manusia, mengingat kami adalah Monster yang bisa dikatakan berbahaya dari dunia kedalaman tanah dungeon yang tersembunyi dari manusia.
Ini akan menjadi salah satu tantangan pertama kami untuk berintegrasi dengan manusia di kota ini.
Sementara kami mendekati penjaga, aku berbisik kepada Sebas dan Lithos, "Kita harus berpura-pura menjadi manusia biasa. Jangan tunjukkan kekuatan kita kecuali diperlukan. Kita harus beradaptasi dengan cara mereka hidup jika kita ingin mencari tahu lebih banyak tentang Merrli dan dunia mereka."
Sebas dan Lithos mengangguk, meskipun terlihat tidak terlalu senang dengan peran baru mereka.
Panik kembali menyelubungi hatiku saat aku semakin mendekat penjaga manusia, bahwa aku dan Lithos tidak memiliki kartu identitas manusia yang diperlukan untuk masuk ke kota tersebut.
Sebagai naga, sejak reinkarnasi kami di dunia ini, kami tidak pernah memerlukan kartu identitas seperti manusia.
Ketika aku hampir putus asa, Sebas dengan cepat mendekati kedua penjaga manusia. Dengan wajah serius, dia memberi tahu mereka tentang situasi kami.
"Selamat pagi kepada kalian berdua penjaga terhormat. Kami sungguh membutuhkan bantuan kalian," ucap Sebas dengan ekspresi prihatin. "
Ayahku, pelayanku, dan aku, saat ini sedang dalam perjalanan ke kota Arbandir ini untuk melaporkan bahwa kami baru saja dirampok oleh sekelompok bandit. Mereka berhasil mencuri banyak surat berharga kami, termasuk surat identitas kami."
Kedua penjaga manusia itu mendengarkan dengan serius, dan Sebas memainkan perannya dengan sangat meyakinkan. Ini adalah kebohongan yang sangat halus, yang membuat kami bertiga mendapat simpati dari mereka.
Kedua penjaga manusia yang berdiri di hadapan kami, memandang dengan tatapan tidak percaya dan sinis.
Namun, saat pandangan mereka jatuh ke arahku, terlihat jelas keheranannya. Mereka menatapku dengan ekspresi yang berbicara tentang ketidakpercayaan.
Aku mengerti mengapa mereka terlihat terkejut.
Tinggiku, terutama dalam bentuk dragonoid, sangatlah mencolok bagi manusia.
Dalam wujud ini, tinggiku mencapai 2,5 meter, menjadikanku jauh lebih besar daripada manusia rata-rata yang tingginya jauh di bawah dadaku.
Sementara itu, Lithos memiliki postur tubuh yang lebih tinggi daripada manusia biasa, sekitar 180 cm, sedikit lebih tinggi daripada kedua penjaga manusia yang berdiri di depan kami.
Sebas dengan percaya diri mengucapkan kata-kata dan menunjuk padaku sebagai ayahnya.
Aku hanya tersenyum, karena sudah terbiasa dipanggil "ayah" oleh anakku. Kami tahu bahwa penampilan fisik kami tidak biasa, tetapi saat ini, kami hanya berharap agar dapat masuk ke kota manusia ini tanpa masalah.
Lithos yang berada dalam wujud manusia terlihat marah saat Sebas menyebutnya sebagai "pelayan."
Ekspresi kemarahannya ingin meledak, tetapi tatapan tajam dari mataku membuatnya menahan diri, meskipun dengan gemas.
Sebas dengan cerdik mengambil beberapa koin emas dari kantong bajunya dan memberikannya kepada kedua penjaga manusia yang berjaga di gerbang.
Dia menjelaskan bahwa kami adalah korban perampokan dan memohon agar kami diizinkan masuk.
Kedua penjaga itu tampak terkejut oleh pemberian 10 koin emas yang tiba-tiba. Keserakahan terpancar di mata mereka, dan mereka dengan cepat memberi kami izin masuk.
Salah satu penjaga manusia itu mengangguk dan berkata, "Sangat disayangkan mendengar hal itu. Silakan masuk, dan nanti Anda dapat melaporkan peristiwa ini kepada pihak berwenang kota. Semoga masalah Anda segera terselesaikan."
Aku menghela nafas lega karena berhasil meyakinkan penjaga gerbang, dan kami bertiga melangkah ke dalam kota manusia bernama Arbandir.
Kami siap untuk melanjutkan misi kami, dan aku berharap semuanya akan berjalan dengan lancar.
__ADS_1
Saat kami masuk, aku merasakan banyak tatapan tajam dari manusia yang memperhatikan kami bertiga, terutama aku.
Ini adalah reaksi wajar mengingat penampilan armor dan tinggiku yang sangat mencolok di antara manusia.
Aku tidak bisa menahan senyum saat aku mengusap kepala Sebas dan memujinya atas peran pentingnya dalam mengamankan izin masuk ke kota manusia ini.
"Kerja bagus, Sebas!"
Sebas tersenyum bahagia mendengar pujian itu, dan dia cepat-cepat menjawab, "Tidak, Ayah, aku tahu bahwa Ayah sudah merencanakan semuanya dari awal."
Aku tertawa pelan, menikmati momen dan tersenyum di balik helm pelindung yang menutupi wajahku, lalu melanjutkan perjalanan.
Lithos, tampaknya masih kesal dengan Sebas, memutarkan matanya dengan cuek.
Kemudian, aku berhenti mengelus kepala Sebas dan memberinya tugas baru.
"Sebas, Kau yang akan memimpin jalan menuju Guild Petualang. Kau sudah cukup lama tinggal di kota manusia ini sebelum kembali ke dungeonku, jadi kamu pasti tahu jalannya."
Sebas dengan antusias mengangguk, merasa senang mendapatkan tanggung jawab ini.
Aku yakin ia akan menjalankannya dengan baik. Dalam keheningan, kami melanjutkan perjalanan menuju Guild Petualang di kota manusia Arbandir.
Saat kami melanjutkan perjalanan, sebas yang memimpin jalan, aku tak bisa tidak memperhatikan aktivitas yang riuh di sekitar.
Para pedagang berusaha menjual berbagai macam barang, dari makanan seperti daging tusuk hingga buah-buahan segar.
Ada juga kios senjata yang menjual perlengkapan petualang lengkap, lengkap dengan pedagang yang bersemangat mengajak pelanggan untuk membeli.
Namun, yang lebih mencolok adalah para petualang yang berjalan di sekitar kami.
Aku merasa tatapan mereka yang tajam saat mereka melewati kami, mungkin bertanya-tanya tentang siapa kami.
Namun, yang benar-benar membuatku jijik adalah melihat praktik perbudakan yang tampaknya masih legal dan diterima di dunia ini.
Aku tidak bisa menyembunyikan perasaan jijikku saat melihat manusia yang diperlakukan seperti barang dagangan.
Hal ini mengingatkanku pada sisi gelap dunia yang kami tinggali, di mana manusia masih memperlakukan sesamanya dengan begitu kejam.
Aku melihat dengan rasa jijik dan amarah yang memuncak kejadian yang terjadi dikejauhan.
Berkat mata, dan pendengaran nagaku yang tajam aku dapat melihat dan mendengarnya dengan jelas walaupun dari kejauhan.
Seorang wanita kurus yang sepertinya kelaparan, lehernya dan tangannya terikat oleh rantai, terlihat pasrah dengan mata yang kosong dan hampa.
Di sebelahnya, seorang pria kejam, penjual budak itu, memegang cambuk di tangannya, siap untuk memberikan hukuman kepada wanita tersebut jika ia tidak menuruti perintahnya.
Pria tersebut memerintahkan wanita muda itu untuk menggunakan sihirnya, namun wanita itu tampak terlalu lemah dan lemas untuk melakukannya, mungkin karena kelaparan yang begitu parah.
Pria tersebut menjadi marah dan tanpa ampun mencambuk wanita muda itu, memaksanya menangis kesakitan.
Tatapan kemarahan dan kebencian memenuhi mataku saat aku menyaksikan tindakan kejam ini.
Hati dan naluriku sebagai manusia masih melekat kepada diriku dan terus bergolak meskipun aku telah menjadi naga dengan kekuatan yang luar biasa dan memiliki kemampuan [Supressor] yang seharusnya meredam emosi.
Namun, sifat kemanusiaanku, seperti rasa kasihan dan dorongan untuk menolong, masih tersisa.
Melihat wanita muda itu dicambuk tanpa ampun oleh pria kejam itu, aku merasa geram. Meskipun aku berusaha menahan diri, kata-kata kesal keluar dari mulutku, "SIALAN!" Suara itu hanya terdengar dalam hatiku, tetapi tanganku tanpa sadar mengepal dengan keras, seolah-olah aku ingin berlari ke arah pria itu dan mengakhiri kekejaman yang dilakukannya.
__ADS_1
Tapi tak lama kemudian, tanpa disadari, aura pembunuhku mulai keluar.
Sebas, yang berada di dekatku, merasakannya. Tatapan takut dan kengerian di matanya begitu jelas terbaca.
Lithos tetap tenang dan tampaknya tidak terganggu oleh aura pembunuh yang keluar dariku, malahan dia tampaknya senang melihatku marah.
Dia bahkan tersenyum dengan puas, mungkin mengira bahwa aku akan berusaha menghancurkan kota ini dan membantai para manusia.
Dia mengira juga kalau aku membenci manusia sama seperti dirinya.
Dengan nada bersemangat, dia bertanya, "Jadi, apakah kau mau menghancurkan kota ini?, jika ya tentu saja aku akan membantumu kawanku," senyum menyeringainya terpancar dari wajah manusianya.
Aku cepat menyadarkan diri dan meredakan emosi serta aura pembunuhku.
Dengan tenang, aku menjawab Lithos, "Hmm, tentunya tidak akan." Kata-kata itu membuat semangat Lithos meredup dan ekspresinya berubah menjadi cemberut.
Tentu saja, aku tidak berniat menghancurkan kota ini.
Meskipun ada banyak hal yang mengganggu di dunia ini, aku tidak akan membiarkan emosiku mempengaruhi tindakanku sekarang.
Sebas berhenti memimpin jalan dan mendekat dengan khawatir, menawarkan istirahat.
Namun, aku menolak dengan tegas, berkata kepadanya, "Tidak perlu, Sebas. Mari kita lanjutkan perjalanan dan sebelum itu..."
Aku tidak menyelesaikan kalimatku, segera melangkah ke arah wanita muda yang berada dalam kandang besi, menangis dan tampak sangat menderita.
Aku memasuki tenda penjual budak dengan mantap, diikuti oleh Sebas dan Lithos.
Aku mendekati wanita muda yang ketakutan itu dan bertanya, "Apakah kau ingin bebas?" Ekspresinya yang penuh ketakutan tampak jelas.
Wanita itu gemetar, takut akan kemungkinan dicambuk oleh penjualnya.
Ketegangan memenuhi udara, dan keputusan apa yang akan aku ambil berada di ambang pertanyaan.
"Jawab, budak bodoh!" teriak pria penjual budak sambil mencambuk wanita tersebut sekali lagi, membuatnya menangis dan berteriak ketakutan.
Ketika pria itu bersiap untuk mencambuk wanita itu sekali lagi, aku berteriak dengan marah, "BERHENTI!" Aku segera bergerak ke arah pria tersebut dengan cepat dan dengan tegas merampas cambuk dari tangannya, menghentikannya dalam sekejap.
Pria penjual budak itu memandangku dengan ekspresi kesal. "Bisakah kau melepaskan tanganmu?" katanya dengan nada yang tidak sabar.
Pada saat ini, pilihan apa yang akan aku ambil menjadi sebuah tanda tanya besar.
"Aku akan membelinya, jadi kau bisa berhenti mencambuknya," ucapku tegas kepada pria penjual budak sambil mematahkan cambuknya dengan tangan kuat.
Klak...
Saat itu, pria penjual budak tampak senang dengan penawaranku untuk membeli wanita muda tersebut.
Ia tersenyum kepadaku, seolah-olah aku adalah sumber penghasilannya yang paling berharga.
Namun, kegembiraannya segera sirna saat ia berkata kepadaku dengan nada meremehkan, "Apakah Anda yakin, Tuan? Menurutku, budak ini tidak berguna dan tidak layak dipakai. Masih banyak yang lebih baik daripada wanita ini."
Aku merasa marah mendengarnya, dan tanpa ragu-ragu, aku mengangkat lehernya dengan satu tangan, seolah-olah hendak mencekiknya.
Mataku memancarkan amarah yang mendalam saat aku berkata, "Kau berani menyebut wanita ini tidak berguna dan tak layak pakai? Kau benar-benar manusia bajingan!"
Aku tahu bahwa dalam dunia ini, budak sering diperlakukan dengan kejam, tetapi aku tidak akan membiarkan ketidakadilan ini terus berlanjut di hadapanku.
__ADS_1