Dragon Lord System

Dragon Lord System
DLS - 126


__ADS_3

Akhirnya, aku akan terbebas dari tugas melelahkan ini dan dapat pergi ke kota manusia dengan tenang.


Aku memikirkan tumpukan berkas dokumen yang melanda meja kerjaku, membuatku pusing hanya dengan memikirkannya.


Aku merasa senang bahwa aku bisa meninggalkan rumah dungeon ini dengan aman dan menjalankan misi ke kota manusia tanpa khawatir.


Ketika aku memuji Gameciel dan Karina, ekspresi wajah mereka tampak bercahaya, bahagia karena mendengar pujian dariku.


Rasanya baik melihat mereka bahagia seperti ini, dan aku tahu mereka berdua adalah anak-anakku yang setia.


Lalu, aku teringat akan Excalibur, pedang raksasa yang pernah aku buat dan berikan kepada Gameciel.


Aku telah memodifikasinya agar cocok dengan ukuran tubuhnya yang kini lebih manusiawi. Ini saatnya untuk memberikannya kembali.


"Gameciel, kemarilah," ucapku dengan ramah, memanggilnya untuk mendekati.


Dia menjawab dengan tegas, "Baik, Ayah!" dengan senyuman ceria yang menyenangkan hati. Ia berdiri dari sofa dan berjalan menuju ke arahku.


Karina, yang tadinya tampak menatap tajam Gameciel, sekarang sepertinya menyadari bahwa aku telah memperhatikannya.


Ekspresinya berubah menjadi lebih ramah dan santai, mengubah tatapannya menuju Gameciel dengan senyuman yang memudarkan kebingunganku.


"hmm, Apa aku salah melihat sesuatu?" gumamku dengan bingung pada diriku sendiri saat merasa ada hal aneh di antara mereka berdua.


Aku memutuskan untuk tidak terlalu dipusingkan oleh itu, mengingat aku punya banyak hal yang harus dilakukan.


Sementara itu, Gameciel berdiri di hadapanku, menunggu dengan antusias.


Aku meraih pedang Excalibur yang kini ada di ruang penyimpanan dimensiku, menariknya dengan perasaan bangga.


Gameciel terlihat sangat terkesan dengan pedang Excalibur yang aku pegang.


Dia tidak tahu bahwa pedang ini adalah modifikasi dari Excalibur miliknya sendiri. Melihat ekspresinya yang kagum, aku tersenyum dalam hati.


Pedang Excalibur milik Gameciel sekarang tampak lebih mengesankan dari sebelumnya, setiap tebasannya memancarkan efek visual cahaya yang memukau.


Aku berniat untuk mengembalikan pedang itu kepadanya dan mengulurkannya dengan lembut.


"Ambillah," ucapku sambil tersenyum.


Gameciel, bagaimanapun, terlihat enggan untuk mengambil pedangnya. Dia tampak ragu, mungkin karena dia tidak berani mengambilnya mengira itu adalah pedang berharga milik-ku.


Kemudian, aku berbicara dengan lembut, memastikan dia mengerti, "Anakku, ini adalah pedang Excalibur milikmu. Aku telah memodifikasinya agar sesuai dengan tubuhmu yang baru. Aku ingin kau memakainya."


Mata indah malaikat Gameciel berkaca-kaca, dan perlahan-lahan, dia mulai menangis. Bagi Gameciel, ini mungkin bukan sekadar sebuah pedang.


Mungkin baginya, itu adalah tanda kasih sayang dan penghargaan dari ayahnya. Aku merasa hangat dalam hati melihat reaksinya yang begitu tulus.


Seperti itulah momen yang membuatku menghargai kebersamaan dengan anak-anakku.

__ADS_1


Aku berdiri dari bangku kerjaku dan mendekati Gameciel, mengusap lembut kepalanya dan menepuk pundaknya, sambil mencoba menenangkannya.


"Sudah-sudah, tidak usah menangis," ujarku dengan lembut.


Gameciel dengan cepat memelukku dengan erat, matanya penuh cinta. "Te-terima kasih, Ayah," katanya sambil terisak.


Aku tersenyum saat Gameciel memelukku. Aku sudah terbiasa dengan panggilan "ayah" dari ketujuh anakku.


Lalu, Gameciel perlahan melepaskan pelukannya, dan aku dengan lembut memberikan pedang Excalibur yang telah kumodifikasi kepadanya.


Pedang itu kini tampak sempurna dalam genggamannya.


"Cobalah pedang yang telah kumodifikasi ini, apakah kau menyukainya?" tanyaku kepada Gameciel.


Tersenyum bahagia, Gameciel menerima pedang Excalibur dengan penuh antusiasme.


"Tentu saja, Ayah! Ini sangat sempurna!" jawabnya sembari mengambil pedang itu dariku.


Gameciel kemudian melakukan pose yang gagah untuk memamerkan skill pedangnya.


Dengan gerakan yang sangat cepat, ia menggunakan pedang Excalibur yang baru untuk melakukan serangkaian tebasan.


Slash...


Slash...


Pedangnya bersinar cemerlang dengan setiap gerakan yang tajam. Setiap tebasannya menghasilkan efek garis cahaya yang keren, membentuk pola bintang di udara.


Shing...


Shing...


Shiing...


Setiap tebasan cepat Gameciel menghasilkan efek garis cahaya berbentuk bintang yang mempesona. Skill pedangnya benar-benar luar biasa.


Aku tersenyum puas melihatnya menguasai pedangnya dengan begitu baik.


Gameciel dengan bahagia mengangguk, "Sangat ringan dan cepat sekali."


Setelah beberapa saat, Gameciel berterima kasih lagi padaku dengan tulus, "Terima kasih banyak, Ayah! Aku berjanji, saat Ayah tidak ada, aku akan menjaga rumah dungeon Ayah ini dengan hidupku!"


Aku tersenyum bangga mendengarnya.


"Aku yakin kalian akan melakukannya dengan baik," kataku.


"Aku akan pergi sekarang. Kalau terjadi sesuatu yang penting, hubungi aku melalui [Message]."


Gameciel mengangguk tegas, sementara Karina menambahkan dengan antusias, "Jangan khawatir, Ayah. Selama Ayah pergi, aku akan mengurus segalanya sebaik dan seakurat mungkin."

__ADS_1


Aku merasa lega mendengarnya dan memberi mereka senyuman.


"Baiklah, aku percayakan semuanya padamu berdua. Jaga baik-baik rumah dungeon ini."


Aku perlahan berjalan mendekati Karina yang duduk di sofa, mengelus lembut kepalanya, dan mencium keningnya.


"Terima kasih, putriku. Aku tahu kau tidak akan mengecewakanku."


Wajah Karina memerah seperti tomat saat aku melakukan itu. Namun, sudddenly terdengar ketukan pelan di pintu ruanganku yang luas ini.


Tok.. Tok.. Tok..


Kedua penjaga golem dengan cepat membuka pintunya, dan saat itu aku melihat Lithos, yang menggunakan sihir ilusi dan penyamarannya menjadi manusia.


Di sebelahnya, ada seorang pria muda, mungkin sekitar awal 30-an, berambut hitam.


"Eh? Siapa dia?" gumamku, terkejut melihat pria muda berambut hitam di kejauhan.


Aku memperhatikan dengan cermat, mencoba memahami siapa pria muda tersebut dan apa tujuannya.


Tunggu sebentar, dari wajah dan matanya, aku mengenalinya.


Bukankah itu... Sebas?


Ya, tidak salah lagi, itu adalah Sebas.


Hmm... Pikiranku dipenuhi dengan pertanyaan tentang perubahan Sebas.


Dia telah mencukur habis kumis dan jenggotnya, yang membuatku terkejut adalah bahwa sepertinya dia juga mewarnai rambut putih-peraknya menjadi hitam, memberinya tampilan yang jauh lebih muda.


Mungkin jika dilihat sekarang, Sebas terlihat seperti berumur awal 30-an, sangat berbeda dengan penampilannya sebelumnya yang membuatnya tampak tua sekitar 50-60 tahunan.


Sekarang, dia terlihat 20-30 tahun lebih muda.


"Ada-ada saja anak itu," gumamku lirih, sambil memandang tampilan baru Sebas dengan heran.


Apa yang mendorongnya untuk melakukan perubahan ini?


Begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk di benakku saat aku mencoba memahami perubahan yang tak terduga ini.


Aku tidak ingin bertanya kepada Sebas mengapa ia merubah tampilannya, karena selama dua minggu terakhir ini, kepribadiannya telah berubah drastis.


Mungkin perubahan penampilannya adalah salah satu manifestasi aneh dari perubahan dalam dirinya.


Lalu, Lithos duduk dengan bosan di sofa yang berada di hadapan meja kerjaku.


Sebas mendekat dan memberi salam dengan hormat, dan aku memberinya isyarat untuk duduk di sofa besar bersama Gameciel, Karina, dan Lithos.


"Oi, Calliga! Kapan kita berangkat?" ucap Lithos dengan nada yang tak sabar.

__ADS_1


__ADS_2