
Tanpa peringatan, Rio kembali melepaskan teriakan dan jeritan yang mengguncangkan ruangan, seolah sihir penenang itu tak berdaya.
Ekspresi takjub di wajah mereka pun berganti dengan kebingungan dan kekhawatiran.
Seketika itu, Rio berdiri dari ranjangnya dengan gerakan penuh kegilaan, melempar benda-benda di sekitarnya dengan amarah.
Rasa sakit dan kekacauan yang ada di dalam dirinya tampak meledak keluar, mengubahnya menjadi sosok yang tak terkendali.
Dalam waktu singkat, ia menghancurkan ruangan dengan kekuatan yang tak terduga, merobek dan membalikkan segala yang ada di sekitarnya.
Evelyn dan pria priest terkejut oleh perubahan yang begitu drastis ini.
Keadaan semakin berantakan, dan Rio yang seolah telah kehilangan kendali diri terus meluapkan kemarahannya.
Situasi menjadi semakin genting saat priest Rufus menyadari bahwa Rio, yang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri, kemungkinan besar akan menyerang istrinya yang sedang hamil besar.
Dalam kepanikan, pria priest dengan tegas memerintahkan Evelyn untuk segera meninggalkan ruangan.
Tak butuh waktu lama bagi priest dan Evelyn untuk keluar dari kamar tersebut.
Priest tersebut segera memanggil sekumpulan priest yang ada di kuil, menyadari bahwa situasi menjadi semakin kritis.
Dengan cepat, kelompok priest berkumpul dan mengarahkan sihir-sihir penenang mereka ke arah Rio, berusaha keras untuk menenangkan dan meredakan kegelisahannya.
Namun, sebelum mereka bisa berbuat banyak, Rio dengan cepat dan lihai menghindari serangan sihir yang ditujukan padanya.
Ia dengan cepat menyerang balik dengan kekuatan luar biasa, meluluhlantakkan serangan-serangan priest yang mencoba mendekatinya.
Brak! Brak!
Hantaman-hantaman hebat terdengar saat serangan Rio mengenai sasaran.
Kecepatan dan kekuatannya sungguh luar biasa, mengubah ruangan itu menjadi medan pertempuran yang berantakan.
Priest-priest terpental dan terhempas, tak mampu menandingi keganasan yang tiba-tiba muncul dari pria yang tadinya tak sadarkan diri.
Terdengar satu per satu priest terjatuh tak sadarkan diri, terpental akibat kekuatan yang terlalu kuat dari Rio.
Namun, salah satu dari mereka tak gentar. Dengan tekad yang kuat, pria priest tersebut mengarahkan sihirnya dengan presisi.
Suara gemuruh terdengar saat sihir itu menghantam Rio.
Dampak dari sihir tersebut terasa begitu berat bagi Rio. Tubuhnya melemah, kesadarannya meredup, dan perlahan ia terlelap.
Kekuatan dalam dirinya yang seolah tak terkendali tunduk pada efek sihir tersebut, membawanya ke dalam tidur yang dalam.
Di tengah keadaan yang kacau, salah satu priest memberikan perintah keras, "IKAT DIA!" Dengan sigap, mereka bekerja sama untuk mengikat tubuh Rio yang lemah.
Prosesnya berlangsung cepat, dan akhirnya, Rio yang kini tak berdaya berhasil diikat sepenuhnya.
__ADS_1
Dalam posisi tak sadarkan diri, ia telah berhasil ditundukkan.
Sejenak setelah mengatasi situasi yang rumit, para priest merapikan kembali kamar tempat Rio berada.
Keadaan yang kacau mulai tersusun kembali, dan ruangan itu kembali tampak tenang.
Meskipun ada rasa lega karena berhasil mengatasi ancaman yang datang dari Rio, tetapi pertanyaan yang melayang masih banyak.
Apa yang sebenarnya telah terjadi pada pria tersebut? Apa penyebab dari ledakan emosi yang begitu kuat?
Dalam kebingungan dan kekhawatiran, mereka berusaha mencari jawaban yang sesuai.
Beberapa menit berlalu sejak peristiwa dramatis tersebut, dan kekhawatiran Evelyn masih terpatri dalam dirinya.
Ia mengunjungi ruangan Rio kembali, matanya penuh kekhawatiran saat melihat suaminya yang terbaring tak sadarkan diri di ranjang.
Rio terlihat begitu rapuh, jauh dari sosok yang dulu ia kenal.
Tak lama kemudian, salah satu priest kembali ke ruangan tempat Rio berada.
Dalam pandangan yang cukup jelas, pria priest tersebut tak bisa menahan kekaguman dan kebingungannya terhadap kekuatan yang dimiliki Rio.
Dengan suara yang penuh keheranan, pria priest itu berbicara, "Sungguh apa-apaan pria ini, tenaganya terlalu besar!."
Priest merenung sejenak, matanya terfokus pada sosok Rio yang terikat erat.
Dalam keadaan seperti ini, mungkin sulit dipercaya bahwa pria yang terbaring lemah di ranjang adalah individu yang mampu menyebabkan kerusakan sedemikian besar.
Dalam kesunyian ruangan, seolah ada getaran yang tak terucapkan di antara mereka.
Kemudian, dengan perlahan dan penuh kelembutan, Evelyn mencium kening Rio, seakan berusaha memberikan kenyamanan meskipun Rio tengah terlelap dalam kondisi yang rentan.
Suara tanya Evelyn memecah keheningan, suara yang terasa penuh dengan duka.
"Tuan Priest.. Apa yang terjadi dengan suamiku ini?"
Pria priest tersebut menaruh pandangannya pada Evelyn, memberikan penjelasan yang mungkin dapat meredakan rasa cemas dalam hati wanita itu.
"Dari yang tadi kami lihat.. Sepertinya suami ini.. Mengalami gangguan mental yang berat.. Tepatnya terjadi trauma yang amat mendalam sehingga perilakunya berubah drastis dan menjadi gila ketika ia mengingat kejadian yang membuatnya trauma."
Lalu, dengan nada yang penuh simpati, priest itu melanjutkan penjelasannya.
"Apakah kuboleh tahu apa yang terjadi oleh suamimu sehingga ia bisa trauma mendalam seperti ini?"
Evelyn merenung sejenak, pandangannya kosong memandang jauh.
Evelyn tidak ragu dalam menjawab pertanyaan priest dengan cepat dan jujur.
Evelyn tidak tahu , ia menceritakan suaminya saat itu terluka parah hingga suatu ketika seorang prajurit lelaki baik hati membawa suaminya kerumahnya dan mengabari, hingga akhirnya mereka berdua membawa Rio menuju kuil suci pria priest dan berharap tuan priest dapat menyembuhkan suaminya
__ADS_1
Pandangan priest memandanginya dengan simpati, memahami beban yang harus ia pikul.
"Ya kutahu itu, namun apa yang terjadi dengan suamimu sehingga dia mengalami luka parah sebelumnya?" balasnya
Lalu ia melanjutkan, "saat kau membawa kemari seluruh tubuh dia terluka dengan banyak darah bercucuran dan ia kehilangan banyak darah, dan untung saja kau membawanya tepat waktu atau tidak dia bisa lewat," ucap priest sambil mengingatkan betapa seriusnya keadaan suaminya pada saat kedatangan mereka.
Evelyn merenung, wajahnya menjadi serius. Ia mulai mengingat-ingat tugas suaminya, pekerjaannya yang melibatkan pertarungan dan risiko tinggi.
Dalam benaknya, ia juga terkenang dengan nama Riko, seorang prajurit yang berperan dalam menyelamatkan Rio dan membawanya ke kuil.
Perasaan campur aduk terasa dalam dadanya, antara rasa terima kasih dan kebingungan mengenai peristiwa yang menimpa suaminya.
Riko saat membantu suaminya evelyn yang tak sadarkan diri menuju kuil suci ini, ia berkata bahwa suaminya sedang melakukan misi untuk menjelajahi hutan kematian elysian.
Saat itu juga evelyn terkejut dan menangis karena suaminya saja tidak memberi tahu tentang misi yang berbahaya ia jalani menuju hutan kematian secara diam-diam darinya.
Dan ini merupakan keajaiban baginya dikarenakan suaminya dapat keluar dari hutan kematian dengan keadaan hidup-hidup.
Saat itu juga evelyn memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada priest yang berada disampingnya.
Ketika Evelyn menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada priest yang berada di sisinya, wajahnya tampak terkejut dan tak percaya.
"Demi Dewa Artemis!" ucapnya terkejut seolah tidak percaya , tidak menyangka bahwa suami Evelyn telah berani menjalani misi kedalam hutan kematian.
Priest itu memandang Evelyn dengan tatapan campuran antara kagum dan heran.
Setelah beberapa lama, akhirnya ia mengangguk sambil mengungkapkan keyakinannya atas cerita yang didengarnya.
Mungkin memang ada sesuatu yang mengerikan di hutan kematian elysian yang mampu mengubah perilaku Rio menjadi begitu drastis.
Pria priest itu berkata dengan penuh keyakinan, "Sungguh! Suami ini sepertinya diberkati oleh dewa! Dia berhasil keluar dari tempat mengerikan itu dengan hidup, ini adalah suatu mujizat dan kebaikan dari dewa!"
Evelyn, istrinya Rio, mendengar kata-kata pria priest tersebut dan mengangguk setuju.
Setelah berbincang cukup lama, akhirnya mereka mengakhiri percakapan. Pria priest tersebut memberikan sebuah kalung kepada Evelyn.
Kalung tersebut memiliki ornamen berbentuk bulan kecil, dan priest itu menjelaskan bahwa kalung itu melambangkan dewa Artemis.
Ia meminta Evelyn untuk memakainya sebagai jimat, sebagai simbol perlindungan bagi keselamatan kandungannya dan suaminya yang masih berbaring tak sadarkan diri.
Evelyn menerima kalung tersebut dengan perasaan haru.
Dalam momen tersebut, sang priest, memperkenalkan namanya yakni Taurus kepada evelyn dengan ramah.
Setelah itu, dia meninggalkan ruangan dan kembali ke tempat ibadah dalam kuil untuk berdoa kepada dewa Artemis.
Evelyn memakai kalung yang diberikan oleh Rufus. Kalung itu terasa hangat di lehernya, memberinya rasa tenang dan harapan.
Dia memandang suaminya sekali lagi, menggenggam kalungnya dengan erat.
__ADS_1
Sambil memejamkan matanya, dia berdoa kepada dewa Artemis, mengucapkan rasa syukur atas perlindungan dan keselamatan yang telah diberikan bagi suaminya.
Dalam doanya kepada dewa artemis, Evelyn juga memohon dengan tulus agar suaminya lekas sembuh.