Dragon Lord System

Dragon Lord System
DLS - 171


__ADS_3

Seluruh makanan tampak segar dan harum, seolah-olah baru saja dikeluarkan dari dapur.


Terdapat banyak hidangan penutup yang menggoda seperti pudding, es krim dengan berbagai rasa, donat, serta kue dengan hiasan buah-buahan yang memikat mata.


Evelyn merasa seperti berada dalam dunia yang sama sekali berbeda, di mana segalanya berlimpah dan tak terbatas.


Evelyn memperhatikan dengan seksama saat para pelayan mengambil makanan dalam jumlah yang melimpah.


Nampan besar mereka penuh dengan hidangan yang lezat. Yang mengejutkan baginya adalah bahwa pelayan wanita, meskipun kurus dan ramping, mampu menghabiskan banyak makanan.


Evelyn merasa bingung dan heran dengan pemandangan ini. Bagaimana mungkin pelayan yang tampak begitu kurus dapat menyantap makanan dalam jumlah sedemikian besar? Hal ini jelas aneh dan tak masuk akal baginya.


Namun, apa yang tidak diketahui Evelyn adalah bahwa para pelayan ini bukanlah manusia biasa.


Mereka adalah pelayan homunculus, makhluk buatan ciptaan Calliga, dengan level dasar yang sangat rendah, sekitar level 1.


Mereka bukanlah manusia sejati, dan mereka diciptakan dengan sistem yang memungkinkan mereka untuk melakukan tugas-tugas mereka tanpa merasakan kelelahan fisik.


Meskipun mereka tampak seperti manusia, mereka adalah entitas buatan yang memiliki kemampuan fisik yang tidak seperti manusia biada.


Mereka mengambil makanan dalam jumlah yang sangat besar, meski tidak mudah lelah.


Sebagai homunculus, mereka harus melakukannya untuk menjaga diri mereka tetap berfungsi.


Ini adalah pengorbanan yang mereka lakukan sebagai bentuk penghormatan dan loyalitas terhadap Calliga, pencipta mereka yang dianggap sebagai sosok ilahi.


Setelah lama mengantri dan mengisi nampan dengan berbagai hidangan lezat, Evelyn dan


Naomi akhirnya mencari tempat untuk duduk.


Mereka melihat sebuah meja kosong dan segera menuju ke sana, membawa nampan penuh makanan mereka.


Naomi menunjuk ke meja tersebut, "Lihat! Mari kita makan di sana." Mereka duduk di meja yang nyaman, menyusun makanan mereka di depan.


Duduk bersama di meja yang luas, Naomi memesan makanan bayi khusus untuk Evelyn dan bayinya.

__ADS_1


Mereka menempatkan nampan mereka di meja, dan dengan berbagai suara 'plak,' suasana kantin terisi dengan pelayan homunculus yang menikmati makanan mereka.


Sebelum Naomi memulai makan, dia berdoa.


Evelyn mendengar Naomi menyebut Tuan Calliga dalam ungkapan syukurnya, seolah-olah Calliga adalah sosok ilahi yang perlu dihormati.


Meskipun bingung, Evelyn memutuskan untuk menganggap ini sebagai ekspresi terima kasih kepada Calliga atas hidangan lezat yang mereka nikmati.


Mereka makan bersama dalam keheningan, meskipun pertanyaan yang melingkar dalam pikiran Evelyn semakin membingungkan.


Setelah berdoa, Naomi dengan anggun mengambil sendok dan garpu serta memulai santapannya, menjalankan spaghetti dengan mahir.


"Selamat makan!" kata naomi, memulai makan dengan berhati-hati.


Evelyn, dengan rasa ingin tahu, bertanya kepada Naomi, "Naomi-san, tidakkah kamu merasa terlalu kenyang dengan makan sebanyak ini?"


Naomi menelan gigitan makanannya, mengelap mulutnya dengan anggun, dan menjawab, "Tentu saja tidak. Bahkan, rasanya ini masih kurang. Mungkin nanti harus kembali mengambil lebih banyak makanan. Tapi untuk saat ini, mari nikmati makanan kita." Dia kembali makan, dengan gerakan lincah dan penuh selera.


Dalam suasana yang semakin aneh, Evelyn merasa seperti ada sesuatu yang sangat tidak wajar dengan tempat dia sekarang berada.


Bagaimana mungkin dua penuh nampan masih kurang bagi seseorang yang tampak sehat dan kurus seperti Naomi?


Setelah memutuskan makanan yang ingin dia cicipi, Evelyn merasa bersalah.


"Ano... Naomi-san, apakah aku benar-benar diizinkan untuk makan makanan seistimewa dan selezat ini?" tanyanya ragu.


Naomi tersenyum lembut, "Tentu saja, Evelyn. Tuan Calliga ingin semua orang merasakan kenikmatan makanan yang istimewa di sini. Jadi, nikmatilah dengan baik."


Naomi, sang pelayan berambut pirang, menjawab dengan penuh semangat, "Jangan khawatir, tuan Calliga telah memerintahkanku untuk menemanimu dan merawatmu. Jadi, tentu saja kau diperbolehkan menikmati makanan ini. Anggap saja ini salah satu kebaikan dari tuanku yang mengagumkan."


Evelyn tersenyum dan menyatakan keinginannya, "Tuan Calliga pasti sangat baik. Aku harap bisa bertemu dengannya dan mengucapkan terima kasih secara langsung."


Naomi terlihat bersemangat, wajahnya memerah saat ia menceritakan pengalaman bertemu tuannya.


"Sungguh! Kau benar! Tuan Calliga sangat luar biasa! Saat aku membersihkan kamarnya, dia memperlihatkan perhatiannya padaku. Bahkan dia tahu namaku! Kyaaa!" teriaknya dengan gembira.

__ADS_1


Naomi melanjutkan, "Ahemm... Ah, maaf, aku terlalu bersemangat." Ia mencoba meredakan kegirangannya.


"Untuk pertanyaanmu, kurasa kau belum bisa bertemu dengannya. Tuan Calliga sepertinya sedang sibuk, berada di ruang takhtanya, sedang berdiskusi mengenai laporan dengan para bawahannya serta putra-putrinya mengenai rencana le-"


Tiba-tiba, Naomi hampir keceplosan dan dengan cepat berhenti berbicara, menyadari hampir membocorkan informasi penting kepada Evelyn.


"Oops! Hampir saja aku keceplosan, kyaaa... Aku tidak ingin tuan Calliga memarahiku," gumam Naomi dalam hatinya, yang kemudian dengan cepat melanjutkan makan.


Evelyn, yang mendengar, tidak merasa curiga akan berhentinya Naomi saat hampir membocorkan informasi itu.


Sebaliknya, dia semakin terkagum oleh sosok Calliga. "Eh... Takhta? Tuan Calliga adalah seorang raja? Wow! Pantas saja seluruh tempat ini mewah dan indah seperti istana."


Naomi menjawab dengan semangat, "Ya, dia adalah raja bagi kami! Bahkan lebih dari itu, dia sangat jenius. Dia bahkan bisa memprediksi masa depan, dan setiap perbuatannya memiliki banyak makna mendalam." Wajah Naomi memerah saat dia memuji tuannya Calliga. Ia tulus memujinya di depan Evelyn.


Evelyn, di sisi lain, semakin kagum akan sosok Calliga dan semakin ingin bertemu dengannya.


Naomi, dengan senyum bahagianya, mengingatkan Evelyn untuk menikmati makanannya selagi masih hangat.


Semua kenangan kelam tentang penahanan di penjara seakan menguap, dan Evelyn merasa sepenuhnya dalam momen ini. Dia mengambil sendok berpakaian mewah dan menyendok sup jamur ke dalam mangkoknya.


Nyam... Nyom...


Slurp... Gulp...


Evelyn merasakan kenikmatan rasa makanan yang belum pernah dia cicipi sebelumnya. Berbagai sensasi rasa yang memanjakan lidahnya mengisi setiap gigitan, mengantarkan dia ke dunia rasa yang luar biasa.


Rasanya hampir seperti sebuah mimpi yang dia tak pernah kira-kira sebelumnya.


Evelyn menikmati makanannya dengan lahap, sup jamur yang lezat memenuhi perutnya seperti penyelamat setelah hari-hari kelaparan. Naomi dengan senang hati melihatnya menikmati hidangan tersebut.


"Enak, bukan?" tanya Naomi.


Evelyn hanya bisa mengangguk, terlalu asyik menikmati makanan hingga hampir melupakan semua pertanyaan dan keraguannya.


Setelah beberapa lama, mereka berdua makan dengan kenyang. Bayi Evelyn juga tak lupa diberi bubur spesial yang telah disiapkan.

__ADS_1


Evelyn dengan penuh kasih sayang menyusui bayinya, meskipun dia merasa canggung karena tatapan banyak pelayan yang tertuju kepadanya.


__ADS_2