
Di hadapan para Guardian yang serius, Calliga merasa sesak dan mendadak merasakan sensasi tersedak.
Seperti halnya seorang pemimpin, tekanan ini terasa fisik dan menekan. Dia menyadari bahwa keputusannya akan mempengaruhi masa depan, dan rasa ragu menyelinap ke pikirannya tentang langkah selanjutnya.
Rumah labirin Valhalla, dungeon yang dipimpinnya, bisa hancur karena keputusannya. Rasa tidak enak itu menghantuinya.
Sebas, sebagai pemimpin para guardian, sepertinya merasakan rasa ragu yang Ayahnya, Calliga. Dalam satu ungkapan yang penuh dengan kesetiaan dan pengabdian, ia meyakinkan ayahnya.
"Calliga-Sama, jangan ragu untuk memerintahkan kami semua. Dibandingkan dengan Anda, kekuatan fundamental kami hanyalah debu.
"Kami siap untuk menjalankan perintah Anda dengan sepenuh hati dan antusiasme. Apapun yang Anda minta, kami akan laksanakan dengan setulus hati," ucap Sebas, suaranya penuh dengan keyakinan.
Sebas lanjut berbicara dengan ekspresi hormat dan penuh tekad kepada ayahnya yang duduk di takhta megah:
"Selama Calliga-sama memerintahkan, bagaimanapun sulitnya perintah itu, Aku, Sebas - tidak, kami semua, Guardian Floor, akan memberikan segalanya, bahkan jika harus mengorbankan diri. Kami bersumpah untuk tidak membawa aib kepada pencipta kami yang agung!"
Sebuah gelombang suara yang sama kemudian memenuhi ruang takhta megah Calliga.
"Kami juga bersumpah, pencipta kami yang agung!"
Seruan bersama dari para guardian floor menggema dalam ruangan itu, menciptakan atmosfer penuh pengabdian dan tekad yang mendalam di antara mereka dan sang pencipta, Calliga.
__ADS_1
Suara mereka semuanya penuh dengan kekuatan, hormat, dan tekad yang tak tergoyahkan..
Tidak peduli seberapa banyak orang yang mencoba, tidak akan ada yang mampu meragukan loyalitas dan tekad bulat mereka kepada tuan mereka, Calliga, yang duduk di takhtanya.
Namun, sekarang terasa seperti suatu lelucon jika ada yang mencoba mencurigai bahwa para NPC mungkin akan mengkhianati Calliga, sang pencipta mereka.
"Bukankah mereka terlalu berlebihan terhadapku? Sialan, aku sangat gugup!" pikir Calliga dalam hatinya, sambil terus menatap seluruh Guardian yang mengabdi berlebihan di hadapannya.
Setelah pernyataan mereka, atmosfer gelap yang terasa sebelumnya lenyap begitu saja. Calliga merasa campuran antara canggung dan senang.
Sungguh tidak terduga bahwa NPC yang dia ciptakan akan dengan tulus dan sangat hormat kepadanya, terutama dari beberapa Guardian yang bahkan belum pernah berbicara langsung dengannya sebelumnya.
Namun, terutama mengejutkan adalah respons positif dari para Guardian yang bukan anak-anaknya.
Calliga hanya sering berinteraksi kepada ke-7 guardian yang merupakan anak-anaknya, tidak dengan para guardian yang bukan anaknya dan, dia tidak pernah benar-benar menduga bahwa mereka semua akan menghormatinya seperti ini.
Titik cahaya merah tua di pupil mata tajam Calliga bersinar tajam. Ketidaktenangannya hilang, digantikan oleh sikap penuh keyakinan yang sesuai dengan perannya sebagai penguasa.
Dengan senyuman di wajah dragonoidnya, yang seolah-olah tidak menunjukkan emosi apapun, Calliga mendapatkan kepercayaan dirinya.
"Kau harus bisa, Calliga! Kini, kau adalah penguasa. Bukan lagi manusia lemah!" pikirnya dengan semangat.
__ADS_1
Perlahan-lahan, rasa canggung pun menghilang, dan Calliga siap untuk berbicara dengan intonasi yang telah sering dia latih diam-diam di kamarnya.
Dengan nada intonasi yang sudah lama ia latih, ia mulai berbicara dengan penuh kepercayaan diri.
"Bagus sekali, Guardian-ku! Aku tahu kalian akan mengerti tujuanku dan melaksanakan perintahku dengan sempurna. Mungkin ada beberapa yang sulit dimengerti, tapi aku harap kalian akan lebih memperhatikan dan mendengarkan, Guardianku!"
Suasana ruang takhta kini berubah menjadi penuh pengabdian dan antusiasme setelah pernyataan Calliga, yang tampil sebagai pemimpin yang kuat bagi semua Guardian yang setia.
Wajah para Guardian masih tegang, dan tak ada bekas keterkejutan pada mereka.
Lalu, Calliga melanjutkan, "Seperti yang kalian tahu, Guardianku, teman sekaligus kawan dekatku, Lithos, dia telah menghancurkan kota ma-"
Namun, ucapannya terhenti tiba-tiba saat dia berbicara kepada seluruh Guardian yang mendengarkannya dengan penuh perhatian, merasa girang karena mendengarkan Tuan mereka secara langsung.
Tapi saat Tuan mereka berhenti berbicara, ekspresi bahagia para Guardian langsung lenyap.
Klak...
Klak...
Pada saat itu, gerbang raksasa pintu takhta terbuka lebar, dan Calliga yang terhenti bicara akibat gangguan tersebut...
__ADS_1
"Arias? Apakah dia datang terlambat?" gumam Calliga dalam hatinya, menunggu siapa yang telah memasuki ruang takhtanya.
Calliga memfokuskan pandangannya pada gerbang raksasa, pintu masuk dan keluar dari takhtanya, dan para Guardian pun mengalihkan perhatian dari Tuan mereka yang duduk di takhta ke arah yang dituju gerbang tersebut.