Dragon Lord System

Dragon Lord System
DLS - 102


__ADS_3

Tapi Vael tidak bisa menyembunyikan kebingungannya, "Tunggu?! Apa yang terjadi, kak? Bagaimana kau bisa kesini?, dan mengapa kau bisa berubah menjadi bentuk naga itu?!" ucapnya, suaranya terbawa oleh angin saat mereka terbang dalam bentuk naganya.


"Tidak ada waktu untuk menjelaskan, aku tidak ingin menyesal untuk kedua kalinya karena kebodohanku," jawab Sebas dengan tegas, sementara Vael terus terbawa angin dalam genggaman saudaranya.


Dengan sorot mata penuh pertanyaan, Vael merasa akan ada banyak hal yang harus dijelaskan, tetapi dalam momen ini, mereka harus fokus pada apa yang akan datang.


Mereka mendarat di ruangan yang dipenuhi dengan gemerlap kristal di mana ayah mereka yang terluka parah sedang berada. Dan terdapat Gameciel ditempat mereka mendarat.


"Ah, tuan Vael, kelihatannya Anda dalam keadaan baik," ujar Gameciel dengan sikap sopan kepada Vael.


Vael sangat terkejut melihat kedua saudaranya, Sebas dan Gameciel, muncul secara tiba-tiba di dalam dungeon kuno ini.


Tidak heran jika dia kebingungan.


"Apa maksudmu, eeh, Gameciel?! Mengapa kalian berdua bisa ada di sini secara tiba-tiba?!" ucap Vael, masih dalam kebingungan atas kehadiran mendadak saudara-saudaranya.


Namun, Sebas dan Gameciel sepertinya sedang mencerna kejadian yang sama-sama mereka alami.


Mereka terlihat seperti orang yang baru saja terbangun dari mimpi buruk, mencoba memahami bagaimana mereka bisa berada di tempat ini.


Sebas mengalihkan pembicaraannya kepada Gameciel, "Apakah kau masih ingat kejadian kelam sebelumnya?" tanyanya, merujuk pada peristiwa dengan ayah dan pencipta mereka yang sebelumnya sudah tiada.


Gameciel mengangguk dengan ekspresi serius, "Aku masih teringat dengan jelas, tuan. Tapi sejujurnya, aku tidak ingin mengingatnya lagi. Hanya mengingatnya membuatku merasa gemetar."


Sebas merenung sejenak, "Ini sungguh aneh, bukan? Aku mengingat kejadian itu, tapi Vael tidak. Kita berdua juga tiba-tiba berada di tempat aneh ini. Apa yang sebenarnya terjadi?"


Gameciel menggelengkan kepala, "Aku tidak tahu, tuan."


Sementara itu, Vael yang ada di dekat mereka merasa bingung dengan pembicaraan yang mereka lakukan.


Ia ingin bertanya, namun melihat ekspresi mereka yang mendalam dalam pikiran masing-masing, ia memilih untuk tidak mengganggu.


Dengan perasaan yang penuh sukacita, Sebas menggerakkan sayap-sayapnya dengan semangat, terbang menuju ayahnya yang masih hidup di kejauhan.


Namun, sebelum ia benar-benar meluncur, ia memberikan instruksi tegas pada Vael.


"Vael, gunakanlah skill panah penyembuhmu untuk menyembuhkan ayah, cepat!" ucap Sebas, perintahnya terdengar dengan tegas namun penuh kepedulian.


Vael mengangguk cepat, tanpa ragu, mempersiapkan busur dan anak panah khusus penyembuh.


Dalam sekejap, Sebas menerobos ke hadapan ayahnya, sayapnya terbentang lebar, dan tiba-tiba teriakannya mencapai telinga ayahnya.


"AYAH!!!" jerit Sebas dengan suara yang penuh kegembiraan, matanya berkaca-kaca saat ia memeluk tubuh ayahnya dengan erat, air mata bahagia mengalir tak terbendung.


Namun, reaksi dari ayahnya tidak seperti yang diharapkan.

__ADS_1


Calliga, terlihat bingung dan kaget oleh tindakan naga yang tiba-tiba memeluknya dan mengatakan "ayah".


Ia merasa seperti sedang terlibat dalam skenario yang aneh dan tak terduga.


Namun, sebelum Calliga bisa memahami apa yang sedang terjadi, suara tusukan tiba-tiba terdengar, dan ia merasakan rasa sakit menusuk lengan kanannya yang sudah terputus.


Pandangannya beralih ke lengan yang terluka dan ia melihat panah yang memancarkan cahaya suci, menancap di lengan yang terputus itu.


Keajaiban terjadi dengan cepat, luka yang sebelumnya memuntahkan darah deras perlahan-lahan berhenti mengeluarkan darah dan mulai sembuh.


Calliga terkejut, dan pandangannya berpindah ke Vael yang berdiri tak jauh darinya, memegang busur dan senyum lebar di wajahnya.


Namun, meski hati Calliga ingin menyuruh Vael pergi, kenyataan bahwa ia sedang dipeluk oleh naga aneh yang memanggilnya "ayah" membuatnya merasa agak kaku dalam kebingungannya.


Tangannya yang terputus terasa lebih baik, darah yang tadinya deras mengalir kini telah berhenti dan luka tersebut mulai menutup.


Keadaan semakin rumit ketika Sebas, yang merupakan naga yang lebih kecil daripada Calliga, semakin memeluknya dengan erat. Meskipun perbedaan tinggi mereka sekitar 2 meter, Sebas memeluk Calliga dengan segenap tenaga dan kegembiraannya.


Suara tangis bahagia Sebas terdengar di telinga Calliga.


"Aku mohon jangan tinggalkan aku lagi, ayah... Maafkan aku yang bodoh ini..." ucap Sebas sambil terus memeluk Calliga.


Setiap kata yang keluar dari mulut Sebas terdengar seperti doa dan pengakuan rasa bersalah yang tulus.


Sebas semakin merapatkan pelukannya, seolah-olah tak ingin melepaskan Ayahnya, Calliga.


Calliga merasa terkejut dan bingung oleh semua yang terjadi. Dia mengenali suara itu, suara yang telah lama tidak ia dengar. Itu adalah suara dari golem yang telah diciptakannya, Putranya, Sebas.


"Sebas?!" gumam Calliga dalam hatinya, seolah tak percaya pada apa yang ia alami.


Ini adalah pertama kalinya ia melihat Sebas berubah menjadi naga, dalam bentuk naga yang kuat dan imposan.


Dia merenung sejenak, berusaha memahami semua yang terjadi.


Sementara itu, dari kejauhan, Gameciel terperangah melihat penciptanya yang ia kira telah tiada.


Tangis kebahagiaan tak terbendung pun pecah dari dadanya, hingga akhirnya ia tersungkur ke lantai.


Air mata kebahagiaan dan lega mengalir deras dari matanya yang besar, seakan-akan seluruh beban dan rasa kehilangan yang ia alami selama ini lenyap dalam sekejap.


Vael yang juga menyaksikan adegan tersebut hanya dapat menggaruk kepalanya dengan penuh kebingungan.


Tingkah laku yang aneh dari Gameciel dan saudaranya Sebas membuatnya semakin bingung.


"Apakah mereka berdua baik-baik saja?" gumamnya dengan nada kebingungan yang jelas terdengar.

__ADS_1


Di tengah semua kebingungan ini, Vael merasa seperti terjebak dalam aliran peristiwa yang tidak masuk akal.


...*** ...


Hades dan Aleister melangkah dengan langkah mantap menuju guild petualang, sementara Sebas, saudara tertua mereka, selalu berada di belakang untuk memastikan keselamatan mereka.


Kota Arbandir, tempat mereka berada, dipenuhi dengan aktivitas manusia dan makhluk-makhluk lain yang bergerak di sekitar.


Namun, saat itu, kebingungan tiba-tiba menyelinap ke dalam perjalanan mereka. Aleister, yang penuh pertanyaan, menoleh ke belakang dengan ekspresi bingung.


"Kak Sebas?" ucapnya, mencari saudaranya yang ternyata menghilang tanpa jejak.


Hades, yang juga memperhatikan hal ini, mengernyitkan alisnya.


"Eh? Dimana dia? ..." gumamnya, mencoba mencari jejak keberadaan saudaranya yang sekarang tiba-tiba menghilang dari pandangan mereka.


Ketidak hadiran mendadak Sebas ini membuat Hades dan Aleister semakin bingung.


Mereka berdua saling pandang, mencoba mencari tahu apa yang mungkin telah terjadi. Apakah ini bagian dari candaan saudara mereka, Sebas?


...*** ...


Di langit-langit lantai kelima, tepatnya di ruang takhta Calliga, golem-golem yang setia berkumpul dalam kebingungan.


Mereka terlihat khawatir dan bertanya-tanya tentang keberadaan Tuan Gameciel, salah satu makhluk yang mereka layani dengan setia.


Seorang golem, yang berada dalam bentuk iblis, mencoba mengatasi kebingungan mereka dengan pertanyaan, "Dimana Tuan Gameciel?, apakah kita harus mencarinya? "


"Tentu-sa-" balas salah satu golem.


Namun, sebelum ia bisa mendapatkan jawaban atau reaksi lain dari golem lainnya, golem berbentuk malaikat memotongnya dengan seruan peringatan.


"Tidak! Apakah kalian ingin dihancurkan oleh Nona Karina?, Jika kalian berkeliaran tanpa seizinnya, dia pasti akan mengamuk dan menghancurkan kita. Mengingatnya marah membuat tubuhku gemetar."


Golem-golem yang hadir tampaknya sangat paham dengan ancaman yang disebutkan oleh golem berbentuk malaikat itu.


Ingatan tentang kejadian sebelumnya saat Nona Karina, anak Tuan Putri pencipta mereka, melampiaskan kemarahan dan mengeluarkan aura pembunuhnya terhadap Tuan Gameciel masih segar dalam ingatan seluruh golem.


Mereka tahu betul apa yang akan terjadi jika mereka mengganggu atau mencari-cari Tuan Gameciel dan berkeliaran tanpa seizinnya.


Dengan hati-hati dan kebijakan, golem-golem tersebut memutuskan untuk menetap dan tidak melanjutkan pencarian mereka.


Mereka tahu bahwa kehadiran Nona Karina adalah sesuatu yang tidak boleh diabaikan atau diacuhkan.


Sehingga, langkah bijak yang diambil adalah tetap berada di tempat, kembali dalam posisi patung hiasan mereka masing-masing.

__ADS_1


memiliki kekuasaan yang tak bisa diabaikan. Kembali menjadi patung, golem-golem itu menunjukkan loyalitas mereka pada tugas dan tuan mereka dengan setia.


Seperti biasa, keheningan kembali menyelimuti ruangan takhta, dan segala sesuatu terasa tenang dan damai.


__ADS_2