Dragon Lord System

Dragon Lord System
DLS - 175


__ADS_3

Tiba-tiba, di tengah hening ruang takhta, terlihat sosok perempuan berambut merah mengenakan gaun tidur berwarna putih, yang membawa seorang bayi dalam stroller.


Kehadirannya yang tiba-tiba ini langsung mencuri perhatian seluruh guardian yang tengah berlutut dihadapan tuan mereka.


Saat langkahnya memecahkan keheningan, mata para Guardian, bahkan para golem yang berdiri di penjuru ruangan, semuanya berpusat pada perempuan ini yang telah dengan tak sopan memasuki tempat yang seharusnya hanya milik tuan mereka.


Namun perempuan itu bukanlah Arias, guardian dari lantai 12, seperti yang diharapkan oleh banyak pihak.


Evelyn, manusia yang Calliga selamatkan beberapa hari yang lalu, adalah yang sebenarnya muncul di hadapan mereka.


Tampaknya, dia telah tersesat di dalam dungeon ini, tetapi bagaimana mungkin seorang manusia sampai di lantai kediaman Calliga, lantai terakhir dalam dungeon yang begitu kuat?


Keheranan dan kebingungan terpancar di mata Guardian Lantai 9, Diabolantis, monster belalang raksasa setinggi tiga meter.


Diabolantis, dengan mata bercahaya merah, melirik tajam ke arah Evelyn.


Tatapan penuh kebencian muncul dari matanya yang besar. Dalam sekejap, ia menyadari bahwa Evelyn adalah seorang manusia, bukan penghuni lantai tersebut yang biasanya tidak diinginkan.


"Hah? Manusia?!"


Monster belalang raksasa itu, masih berlutut, dengan cepat bersiap untuk menyerang.


Aura merah yang mematikan mengelilinginya, memberikan ancaman yang jelas bahwa serangan mematikan akan segera dilancarkan.


"Bagaimana mungkin makhluk rendahan itu dapat menginjakan kaki kotornya Ke lantai Tuan-ku di sini?, apakah dia kuat?"


Gumaman terkejut bergema di antara para Guardian. Diabolantis, monster belalang raksasa di lantai 9, menggerutu dengan marah, mengamati Evelyn dengan curiga, siap untuk bertindak jika perlu.


Di sebelah kiri Calliga, Karina, salah satu anaknya, menatap Evelyn dengan panik dan ketakutan.


Namun, rasa paniknya bukan karena Evelyn yang muncul, melainkan karena takut bahwa kemunculan manusia itu akan memicu kemarahan ayahnya.


Karina merasa takut bahwa gangguan ini akan membuat ayahnya marah padanya, karena ia selalu khawatir tentang ketenangan dan keberlanjutan operasi dungeon lantainya.

__ADS_1


Karina mulai berkeringat dingin, detak jantungnya berdegup kencang, dan ia merasa begitu terjebak dalam ketakutan akan kemarahan ayahnya yang tak terduga oleh kedatangan manusia itu.


Karina tetap diam, tegak dalam posisi berlututnya, tanpa bergerak atau berbicara.


Tatapan matanya terpaku pada Evelyn, yang tiba-tiba muncul di ruang takhta ayahnya. Dia tidak berani berbicara sebelum mendengar reaksi ayahnya.


Sementara itu, seluruh guardian yang hadir, termasuk monster-monster dan golem, mengawasi Evelyn dengan mata penuh kebencian.


Bagi mereka, Evelyn adalah gangguan yang telah mengganggu ketenangan dan kewibawaan tuan mereka. Mereka bersiap untuk bertindak jika diperlukan, siap untuk menjalankan perintah tuan mereka, Calliga.


Hanya satu orang yang tetap tenang dalam situasi ini, yaitu Sebas. Ia berlutut di sebelah kanan Calliga, mengamati kejadian dengan ekspresi yang tidak terlalu terpengaruh.


Sebas tahu bahwa Evelyn adalah seorang manusia yang lemah yang entah kenapa diselamatkan oleh ayahnya.


Meskipun ia merasa geram karena Evelyn telah mengganggu kedamaian ruang takhta ayahnya, Sebas juga memahami bahwa tindakan apa pun yang akan diambil harus sesuai dengan kebijakan ayahnya.


Sebas memilih untuk berdiam diri, tidak bergerak atau bersuara, menunggu petunjuk lebih lanjut dari tuan mereka, Calliga.


Suasana yang tegang dan gelap semakin kuat saat Evelyn masuk ke dalam ruang takhta Calliga. Lantai ke-15, lantai terakhir dalam dungeon Calliga, dipenuhi dengan aura misteri dan ketegangan.


Dia hanya berjalan-jalan dengan tenang, mendorong stroller berisi bayinya di lantai 14 yang luas.


Namun, takdir membawanya tanpa sadar memasuki sebuah ruangan dilantai 14 yang tiba-tiba mengantarkannya ke lantai terakhir, lantai ke-15.


Betapa megahnya tempat ini! Tidak ada yang bisa membandingkan kemewahan dan ketakutan di lantai ini.


Pintu gerbang raksasa dengan ukiran mengerikan dan ornamen artistik yang sangat tinggi memukau Evelyn, seolah-olah dia telah memasuki kediaman seorang dewa.


Tapi kemudian, kekaguman itu segera berubah menjadi kebingungan dan ketakutan ketika dia melihat sejumlah besar makhluk menyeramkan di dalamnya.


Ketika Evelyn tiba di sana, dia tidak hanya tercengang oleh suasana lantai 15 yang megah, tapi juga oleh keajaiban dan kemewahan di sekelilingnya yang tentunya memanjakan mata manusia jelatanya.


Lantai 15 memancarkan kemewahan tak tertandingi, seolah-olah dia telah memasuki dunia lain yang sangat jauh dari kenyataan.

__ADS_1


Gerbang raksasa dengan ukiran yang menyeramkan dan ornamen seni tinggi seolah-olah menghadirkan dirinya dalam istana dewa.


Itu membuatnya terperangah, seakan-akan telah memasuki dunia yang begitu fantastis dan megah, seperti dalam dongeng.


Dalam kekagumannya, Evelyn melangkah mendekati gerbang raksasa yang menakjubkan tersebut.


Namun, dia tidak menyadari bahwa bahaya mengintainya, bahaya yang tak terlihat di balik keindahan ini.


Dalam ketidakpastian dan kekaguman, dia terus mendekat kepada gerbang yang mungkin merupakan pintu ke tempat mengerikan lebih dalam yang tentunya dipenuhi oleh monster mengerikan.


Tiba-tiba, gerbang yang terbuka dengan sendirinya memperlihatkan pandangan ke dalam ruang takhta yang megah.


Namun, keindahan itu seketika sirna saat Evelyn mengetahui keberadaan sekumpulan monster menyeramkan yang mendiami ruangan tersebut.


Di ruang takhta, suasana mencekam dan gelap dengan tatapan tajam para guardian. Evelyn merasa seperti seorang tamu yang tidak diundang dalam kediaman dewa yang tak terbayangkan.


Teror memenuhi dirinya saat ia melihat pandangan kebencian dalam mata para monster dengan berbagai bentuk menyeramkan itu, dan tubuhnya gemetar oleh rasa ketakutan yang menghantamnya.


"KYAAAA!!!"


Jeritan ketakutan pun menggema di ruang takhta Calliga yang dulunya begitu megah.


Dalam keadaan ini, Evelyn merasakan dirinya begitu rentan, dan satu-satunya tumpuan adalah berdiri dengan wibawa meskipun di tengah monster-menyeramkan.


Evelyn mengalihkan pandangannya dari monster-monster mengerikan ke arah sang penguasa dungeon, yang duduk di takhtanya.


Tatapan tajam dan mata merah yang bercahaya di wajah Calliga membuat Evelyn mengingat sosok tersebut.


"I-IBLIS JAHAT!!!!" Teriak Evelyn, jarinya gemetar menunjuk Calliga yang duduk di takhtanya.


Teriakan itu segera menyebar, terdengar oleh semua perwakilan guardian yang berkumpul di ruang takhta Calliga.


"KAU SANG I-IBLIS JAHAT ENYAHLAH! DEWI ARTEMIS AKAN MEMBUNUHMU!!!!" teriak Evelyn dengan berani, sambil menunjuk tajam ke arah Calliga yang duduk di takhtanya.

__ADS_1


Teriakan dan kutukan itu dengan cepat menyebar di antara perwakilan guardian yang berkumpul di sekitar takhta, memicu kemarahan dan kebencian mereka terhadap Evelyn yang telah mencemari kehormatan tuan mereka, Calliga.


Ketegangan semakin mendominasi ruangan, dan suasana semakin mencekam.


__ADS_2