
Wanita resepsionis mencoba menjelaskan bahwa kebijakan guild petualang melarang petualang peringkat rendah.
seperti aku untuk mengambil misi tingkat atas karena dianggap masih terlalu lemah untuk menjalankan misi peringkat atas.
Namun, kata "lemah" ini sangat memancing kemarahan Sebas, yang juga merasa tersindir oleh ucapan tersebut.
Dengan ekspresi wajah yang memuncak dan kemarahan yang meluap, Sebas memukul meja resepsionis dengan kekuatan yang mengejutkan.
DUAR!
Sebuah ledakan keras menggema di dalam guild petualang, dan debu pun berhamburan di sekitar meja yang telah hancur oleh pukulan Sebas.
Adegan ini menarik perhatian seluruh petualang di sana, yang sekarang menatap ke arah kami dengan campur aduk antara kebingungan dan ketegangan.
Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan suasana menjadi tegang.
Aku sendiri merasa agak khawatir tentang konsekuensi dari tindakan Sebas yang impulsif ini.
...
Sebas telah menciptakan kekacauan besar di guild petualang.
Meja resepsionis yang tadinya kokoh, sekarang hancur berkeping-keping, dengan serpihan kayu dan puing-puing bertebaran di sekitarnya.
Bahkan, dia telah menciptakan lubang besar di lantai yang menganga, seperti bekas benturan dari serangan makhluk yang kuat.
Semua petualang yang hadir terperangah melihat kerusakan besar ini.
Mereka tidak bisa mempercayai apa yang baru saja terjadi.
Banyak sorot Mata kepada sebas penuh dengan kebingungan dan ketidakpercayaan.
Mereka melihat Sebas dengan campur aduk antara kagum dan ketakutan.
Namun, ada satu wanita elf di antara mereka yang menatap Sebas dengan tatapan tajam.
Ekspresinya penuh dengan kemarahan. Sepertinya Sebas telah membuat kesan yang buruk pada petualang ini, dan situasinya menjadi semakin tegang.
Sebas berteriak penuh kemarahan, memprotes dengan keras perkataan resepsionis wanita yang menyebutnya dan ayahnya lemah.
__ADS_1
Suaranya bergema di dalam guild petualang, mengguncang hati para petualang yang hadir.
Dengan tindakan yang menegangkan, Sebas melangkah maju menuju wanita resepsionis tersebut, tak peduli dengan kerusakan yang telah dia timbulkan.
Matanya memancarkan kemarahan yang intens saat ia mendekati resepsionis yang ketakutan itu.
Wanita resepsionis itu, yang sudah ketakutan setengah mati, terjatuh ke lantai dan mundur menjauh dari Sebas yang mendekatinya dengan langkah pasti.
Dia berusaha meminta maaf dengan gemetar atas ucapannya yang mungkin telah menyinggung Sebas.
Tapi situasi ini tetap menegangkan. Terdengar bisikan-bisikan di antara petualang lainnya, dan pandangan mereka penuh perhatian dan penilaian.
Seakan-akan mereka menunggu melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
Saat Sebas bersiap untuk memberikan pukulan telak ke wanita resepsionis yang ketakutan, seorang wanita elf tiba-tiba muncul dan dengan cepat berlari menghadangnya.
Dia berdiri tegak di antara Sebas dan wanita resepsionis, siap untuk melindunginya.
Wanita elf itu berbicara dengan tegas, mengingatkan Sebas jangan belagak sok kuat, karena dirinya melawan wanita lemah.
Suaranya penuh dengan ejekan, dan pandangannya tajam seperti pedang yang siap melindungi wanita resepsionis.
Namun, Sebas hanya menertawakan perkataan wanita elf itu dengan penuh cemoohan.
Sebas, yang memiliki pengetahuan tentang sejarah beberapa ras semenjak dia membaca sejarah didunia ini saat dulu kala bersama adik-adiknya dikota manusia, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak berkomentar tentang keyakinan kaum elf.
Dia tahu bahwa para elf dalam sejarah mereka menyembah pohon besar yang disebut Dewi Lunala, yang mereka anggap sebagai Dewi Bulan. Namun, Sebas merasa bingung dengan keyakinan ini.
"Kalian menyembah pohon mati dan menyebutnya Dewi Lunala, Dewi Bulan. Tapi sebenarnya kalian menyembah pohon? Bukankah seharusnya itu Dewi Pohon? Ini benar-benar tidak masuk akal dan bodoh," Sebas mencemooh dengan nada penuh hinaan kepada seorang wanita elf yang membela keyakinan mereka.
Wanita elf yang berani menghadang Sebas tampak tersinggung dan merasa dilecehkan oleh ucapan-ucapan tajamnya.
Dia menjawab dengan suara gemetar karena amarah yang memuncak, "Kalian, manusia, selalu berpikir kalian adalah ras yang lebih tinggi, tetapi kalian tak tahu apa-apa tentang kami, ras elf, dan keyakinan kami. Dewi Lunala adalah lambang kebijaksanaan dan kealamian, dan kami menghormati alam, bukan pohon mati seperti yang kau katakan."
Terdengar murmur dan desisan dari para petualang yang hadir.
Lalu wanita Elf tersebut melanjutkan, "BERANINYA KAU, MAKHLUK BERUMUR PENDEK, MENGHINA RAS ELF DAN DEWI AGUNG YANG KAMI SEMBAH! TIDAK AKAN KUMAAFKAN MANUSIA SIALAN!" teriak wanita elf itu marah kepada Sebas.
Konflik semakin memanas di dalam guild petualang.
__ADS_1
Namun, kemarahan wanita elf mencapai titik puncaknya, dan dengan cepat, dia merapal sihirnya.
Akar-akar tanaman menjulang keluar dari lantai, merambat dengan cepat, dan dengan cekatan mengikat Sebas bagaikan rantai besi yang kuat membelenggunya.
Sebas, yang terlilit erat oleh akar-akar tersebut, hanya tersenyum menyeringai saat wanita elf marah menyerangnya.
Wanita elf dengan marah mengambil busur dan panah yang berada di belakangnya, menyiapkan serangan mematikan dengan panah berkekuatan magisnya.
Sebas, yang tak bisa bergerak karena terikat oleh akar-akar tersebut, memilih untuk berdiam diri, sengaja membiarkan serangan itu mengenainya.
Ketika panah melesat menuju Sebas, pandangan wanita elf penuh dengan kepuasan, percaya bahwa dia telah mengalahkan musuhnya.
Tapi di saat terakhir, Sebas tersenyum, dan panah itu mengenai tubuhnya.
Tetapi yang terjadi adalah sesuatu yang tak terduga.
Ketika panah menyentuh tubuh Sebas, anak panah yang hampir mengenainya berubah menjadi debu, lenyap tanpa bekas.
Sebas telah menggunakan skillnya untuk menghindari serangan itu dengan sempurna.
Wanita elf itu terkejut, matanya membelalak, ketidakpercayaan melintas di wajahnya.
Dia menatap tangan kosongnya, di mana panahnya seharusnya berada.
Sebas tersenyum lebar, memperlihatkan giginya, dan menggerakkan jarinya seakan mengejek.
Wanita elf itu mengerti bahwa dia telah diolok-olok oleh sebas, dan kemarahannya semakin memuncak.
Lalu ia kembali menyerang sebas dengan menembak banyak anak panah meluncur kepada sebas.
Sebas dengan gesit melepaskan diri dari belenggu akar tanaman yang mengikatnya, seolah-olah itu adalah tali mainan yang mudah dilepas.
Dengan mantap, dia menangkap kelima anak panah yang menuju ke arahnya dengan gerakan yang begitu cepat sehingga mata yang menyaksikannya hampir tidak dapat mengikuti.
Lalu, dengan kekuatan yang menakjubkan, Sebas mematahkan kelima anak panah itu seakan-akan mereka adalah rantai-rantai remeh temeh.
Dia tak bisa menahan diri untuk tidak mencemooh wanita elf di kejauhan yang berusaha melindungi wanita resepsionis.
"Hmm, serangan lemah seperti itu takkan pernah melukai diriku," ejek Sebas dengan nada yang penuh dengan kecongkakan.
__ADS_1
Para penonton yang menyaksikan keributan yang dibuat oleh Sebas terperangah.
Bagaimana mungkin seseorang bisa secepat itu, menangkap dan mematahkan panah-panah dengan begitu mudahnya, bahkan membuat serangan panah menjadi abu saat mengenainya.