Dragon Lord System

Dragon Lord System
DLS - 105


__ADS_3

Mendengar panggilan "kadal cabul" yang terus-menerus membuat Calliga semakin kesal.


"Bisakah kau berhenti memanggilku 'Cabul', Lithos?" ujarnya dengan suara sedikit tinggi dan penuh emosi.


Tiba-tiba, Lithos tampak terkejut karena naga di depannya tahu akan namanya. Ia telah tinggal dalam dungeon selama ribuan tahun sebagai bos dungeon di lantai 50.


Selama waktu itu, tidak ada yang berhasil mencapai level tersebut dan mengalahkannya. Namun, kali ini, seekor kadal kuat telah berhasil mencapai tempatnya yang dijaga selama ribuan tahun.


Hanya ada satu orang lain yang sebenarnya tahu nama asli Lithos, tetapi orang itu telah lama pergi dan meninggalkannya.


Bagi Lithos, ini adalah momen yang luar biasa karena dia telah hidup dalam keterasingan selama begitu lama.


"Lithos? Darimana kau mengetahui namaku?! Dan siapa namamu? Apakah kau mengenalku?" Lithos bertanya dengan ekspresi bingung yang ditunjukkan oleh tanda tanya di matanya.


Calliga juga merasa bingung dan menggumam dalam hati, mengira bahwa biasanya semua orang bisa melihat status nama orang lain.


Namun, dia tahu tentang nama Lithos dari status hologram di atas kepala Lithos.


Apakah ini berarti hanya dia yang bisa melihatnya? Pikirnya semakin dalam.


Menghubungkan beberapa titik, Calliga mulai menyimpulkan bahwa dia mungkin satu-satunya yang bisa melihat status dirinya sendiri dan status boss.


Sebuah kesimpulan yang cukup aneh, tapi rasanya masuk akal di dalam dunia yang diatur oleh mekanik dunia ini yang disebut dengan "system".


Namun, ketika Lithos terus bertanya tentang asal-usul pengetahuan Calliga tentang namanya, Calliga memutuskan untuk hanya menghiraukannya.


"Hey, jawablah! Darimana kau tahu namaku?" Lithos mendesak.


Lithos terus bertanya, "Apakah kau tahu dari seseorang?"


Namun Calliga, dengan ekspresi yang aneh campur bingung, memilih untuk tetap diam dan tidak memberikan jawaban.


Seketika itu, Lithos dengan tegas memegang kedua bahu Calliga dan menggoyang-goyanginya dengan agresif, seolah-olah ingin mengguncang jawaban dari dalam diri naga itu.


"Jawablah! Apakah ada seseorang yang memberitahumu tentangku? Apakah dia memiliki rambut biru dan mata berwarna biru?" ucap Lithos dengan intensitas tinggi, sambil menggoyangkan tubuh Calliga dengan agresif.

__ADS_1


Tubuh Calliga terasa seperti akan muntah karena goyangan keras itu, jadi dengan cepat ia mengiyakan segala pertanyaan Lithos dengan suara tercekat, hanya agar siksaan goyangan itu berhenti.


"Berhenti! Berhenti! Ya! Dia lah yang memberitahuku tentangmu!" jawab Calliga dengan nada tergesa-gesa.


Mendapatkan jawaban yang dicarinya, Lithos pun berhenti mengguncang dan melepaskan cengkramannya pada bahu Calliga.


Ia merasa puas dengan penemuan ini dan tidak melanjutkan siksaan lebih lanjut.


"Jadi kau tahu tentang diriku dari Merrli!" ucap Lithos dengan penuh kepuasan, sambil menghentikan gerakannya.


Calliga hanya bisa mengangguk sebagai tanda persetujuannya.


Namun, dalam kebingungannya, ia akhirnya memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan hal itu.


"Merrli? Siapa dia? Ah, tak penting, yang penting aku tidak merasa mual lagi," gumam Calliga dalam hatinya.


Lithos menatap Calliga dengan ekspresi tajam, ekspresi yang mengandung ketidakpuasan.


"Mengapa kau tidak memberi tahuku sejak awal bahwa kau mengenalku? Jika kau memberitahu dari awal saat kita bertemu, aku tidak akan menyerangmu, sialan!" ucap Lithos dengan nada tegas, masih merasa kesal atas pertarungan yang tak perlu.


Calliga terbelalak, merasa tertekan oleh pandangan tajam Lithos. Ia buru-buru mencari jawaban yang tepat, menggigit bibirnya dalam usaha menemukan jawaban yang seimbang antara kejujuran dan alasan yang masuk akal.


Jika saja kau bisa lebih bersikap baik kepadaku sebelumnya." Calliga memberikan alasan yang agak mengelak, mencoba menegaskan bahwa dia sebenarnya berusaha menjaga ketenangan.


Lithos merenung sejenak, dan tampaknya mengerti sudut pandang Calliga.


"Ah, kau benar juga ya. Maafkan aku, seharusnya aku lebih tenang. Jika Merrli yang memberitahumu tentangku, pasti dia adalah teman dekatmu. Kalau begitu, bagaimana kabar Merrli sekarang dan dimana dia?" tanya Lithos dengan antusias, hingga pipinya yang kristal tampak memerah karena kegembiraan.


Calliga menggeleng dan menjawab dengan tulus, meskipun tidak sepenuhnya jujur, agar terlihat meyakinkan, "Mana kutahu, aku sudah lama tidak bertemu dengannya."


Saat itu, Lithos kembali terlihat muram dan kecewa.


Merrli, sosok yang telah lama dia tunggu dan nantikan, masih merupakan misteri yang belum terpecahkan.


Rasa kekecewaan ini terasa dalam ekspresi kristalnya yang terlihat lesu.

__ADS_1


"...Sudah ribuan tahun berlalu aku menunggunya di sini, namun ia tidak kunjung kembali seperti yang ia janjikan..." ucap Lithos dengan nada murung, tersungkur di lantai yang mencerminkan kekecewaannya.


Calliga, yang berdiri di dekatnya, melihat Lithos yang tergeletak dengan ekspresi penuh kekecewaan.


Ia memikirkan kemungkinan bahwa Merrli adalah seseorang yang memiliki hubungan lebih dalam dengan Lithos, mungkin kekasih atau orang yang berarti bagi dirinya.


Calliga tidak bisa menahan senyum kecil di hatinya karena melihat Lithos yang menjadi korban PHP (Pemberi Harapan Palsu).


Namun, setelah beberapa saat, rasa simpati mengambil alih. Calliga merasa kasihan melihat kekecewaan yang begitu dalam di mata Lithos.


Meskipun tadi terkesan senang melihat Lithos terjebak dalam ekspektasi palsu, tetapi sekarang ia merasa perlu menghiburnya.


"Baiklah, kau boleh ikut denganku," ucap Calliga dengan nada lembut, mencoba memberikan semangat pada Lithos yang terlihat hancur.


Tidak hanya sebatas menghibur, Calliga mungkin juga merasa bahwa kehadiran Lithos bisa menjadi aset yang berharga atau bahkan sekadar teman baru dalam kesepiannya dirumah dungeon nya.


Lithos menatap Calliga, dan dalam pandangan naga ini, dia bisa melihat ekspresi wajah kristal Lithos yang terhanyut dalam kesedihan.


Tetesan-tetesannya berbentuk kristal yang bergantian jatuh dari matanya, kemudian perlahan terserap kembali ke dalam dirinya.


Calliga merasa kagum dan terharu, ternyata Lithos bukan hanya sebuah entitas dingin yang terbuat dari kristal, tetapi juga memiliki perasaan yang dalam.


"Eh? Dia benar-benar menangis?" gumam Calliga, menatap wajah kristal Lithos dengan penuh perhatian.


Kasihan yang ia rasakan semakin dalam ketika Lithos mulai berbicara.


Ia memegang bahu Lithos dengan lembut, mencoba memberikan sedikit kekuatan dan semangat padanya.


"Sudahlah, masih banyak pilihan lain yang lebih baik daripadanya," ujar Calliga, mencoba menghibur Lithos.


Tetapi Lithos hanya bisa membalas dengan sedih, "Tapi... Kau... Tidak tahu... Betapa aku mencintainya... Dia adalah segalanya bagiku..."


Terkedengar dengan jelas bahwa Lithos sedang merasakan duka mendalam yang sulit diungkapkan.


Calliga merasa seolah-olah ia telah masuk ke dalam sebuah cerita drama yang penuh dengan intrik dan perasaan.

__ADS_1


Ia pun semakin yakin bahwa Lithos adalah korban PHP dari Wanita bernama, Merrli.


Calliga mencoba lagi untuk menenangkan Lithos, "Sudahlah, jangan bersedih lagi. Lihatlah, kau sudah ribuan tahun menunggu di tempat yang sepi seperti ini. Pastinya, kau kesepian. Kau sepertinya butuh teman untuk menghiburmu, kemari ikutlah denganku mulai dari sekarang"


__ADS_2