
"Ahem, untuk bersujud kepadamu, aku tentu saja tidak bisa. Namun, jika uang yang Kau inginkan, itu bisa aku berikan sebagai tanda permintaan maaf. Berapa banyak uang yang Kau inginkan?" ucapku kepada wanita elf yang berdiri di hadapanku.
Seolah angin menjadi tegang, seluruh atmosfer terasa terhenti sejenak.
Matanya memancarkan ketidakpercayaan, seakan-akan mencoba mengukur apakah ucapanku tulus atau hanya upaya untuk menghindari konflik.
Tiba-tiba, ia tertawa, suara tawa yang seperti angin sepoi-sepoi menyapu hutan di pagi hari.
"Kau, manusia, memiliki ketahanan yang cukup untuk menyembunyikan ketakutanmu dengan tawaran uang. Aku terkesan," katanya sambil tersenyum.
Wanita elf tersebut tersenyum, matanya penuh ekspektasi, dan ia berbicara dengan nada meledek, "Kalau begitu, berikan aku 1000 keping emas sebagai permintaan maaf, apakah kau sanggup, manusia sombong?"
Aku mendengarnya, dan sejenak cengengesan muncul di wajahnya, seolah-olah dia merasa yakin bahwa aku tidak akan mampu memberikannya jumlah uang sebanyak itu.
"Hanya dengan uang? Kau ingin menggantikan hinaan kepada dewi yang kau sembah dengan uang? Sungguh Memalukan!" ucapku dengan kesal, suara gemuruh dalam kata-kataku.
Sungguh, manusia, elf, bahkan tampaknya ras lain di dunia ini, semua serupa seperti manusia di dunia yang kutinggalkan, serakah dan terlena oleh kekayaan.
Dia tertawa dengan sombong, menyeringai seolah telah memenangkan pertarungan.
"Hahaha, apakah Kau tidak sanggup memberikan 1000 keping emas? Lebih baik Kau menjual armor mahal yang Kau kenakan itu, kemudian memberikan uangnya padaku!"
Sementara aku hanya berdiam, tanganku bergerak dengan cekatan di bawah jubahku, menarik jubahku lebih rapat untuk menyembunyikan gerakan tanganku.
Dalam sekejap, kantong yang berisi koin-koin platinum yang tak ternilai di dunia ini telah aku ambil dari dimensi tersembunyiku.
Dengan mantap, aku mengeluarkan sepuluh keping koin platinum dari dalam kantong itu.
Sepuluh keping koin ini sama dengan seribu keping koin emas di dunia ini, sebuah jumlah yang akan membuat banyak orang tercengang.
Lalu, tanpa ragu, aku melemparkan sepuluh koin platinum itu kepada wanita elf di hadapanku.
Tangannya yang gesit menangkapnya dengan mudah.
Namun, saat ia melihat koin-koin itu, ekspresinya berubah menjadi campuran antara terkejut dan kecewa.
"Hanya sepuluh koin perak?" ucapnya, terkekeh keras.
"Ternyata aku salah, kukira Kau adalah orang kaya. Ternyata hanya seorang manusia miskin yang menyelinapkan diri dalam armor mahal. HAHA! Kalau begitu, aku merasa kasihan pada kemiskinanmu. Enyahlah di hadapanku, anggap saja kejadian ini tak pernah terjadi, manusia miskin!"
Aku hanya tersenyum tipis, menahan tawa. Nyatanya, aku sudah mengetahui reaksinya.
__ADS_1
Aku saat itu memandangnya dengan tatapan tajam, mencoba menahan rasa geram yang mendalam.
"Apakah matamu bermasalah?" ucapku, suara tertahan karena kesal.
Wanita elf itu merasa terpanggil untuk mengambil kembali sepuluh koin yang kuberikan, seakan-akan aku telah melakukan tindakan curang.
Namun, saat ia melihat koin-koin itu dengan teliti, ekspresinya berubah secara dramatis.
"Eh?!" terdengar ucapannya yang terkejut, mengisi udara dengan kebingungan.
Ia memegang koin-koin tersebut, lalu mengangkat salah satunya untuk memeriksanya lebih dekat.
"Koin platinum?!!" teriakannya, kali ini suaranya penuh kekaguman dan terkejut.
Ia dengan cepat mengambil seluruh koin yang berada di dalam sakunya, memeriksanya satu per satu.
Dan ternyata, setiap koin yang kuberikan adalah koin platinum, yang nilainya jauh melampaui apa yang dia kira.
"Apakah kau sudah puas dengan koin yang kuberikan?" ucapku dengan sinis, senyum mengejek menyelinap di bibirku.
Wanita elf itu hanya bisa mengangguk, masih memegang erat sepuluh koin platinum di tangannya.
Ekspresinya mencerminkan rasa malu yang mendalam, mungkin merasa bodoh karena telah berteriak-teriak sebelumnya dengan omong kosong.
Mereka yang sebelumnya menatapku dengan rasa ingin tahu, kini merasa lega, meskipun sepertinya masih ada beberapa mata yang tak bisa berhenti memandangiku.
Tanpa ingin memperpanjang drama yang tak perlu, aku dengan cepat mengucapkan selamat tinggal kepada wanita elf tadi.
Mengingat kondisi ini, mungkin yang terbaik adalah pergi sejenak dari markas guild petualang ini.
Aku tahu aku tak bisa mengejar misi dengan kepala yang masih dipenuhi dengan kejadian tadi. Sebas benar-benar telah mengacaukan segalanya.
Mungkin nanti aku akan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mengganjal ini, atau setidaknya, aku akan menemukan cara untuk menyelesaikan masalah yang kini kembali menjadi beban.
Sebelum meninggalkan markas guild petualang yang kini sudah terasa begitu berat dengan kejadian-kejadian aneh ini, aku memutuskan untuk memberikan kompensasi atas kerusakan meja besar resepsionis yang sudah hancur berkat aksi nekat Sebas.
Aku meletakkan beberapa koin emas di atas sisa-sisa meja yang hancur itu.
"Kalau begitu, nona muda, aku akan pergi dulu. Terima kasih atas pengertianmu," ucapku kepada wanita resepsionis dengan tegas, berharap tindakanku kali ini bisa membantu menutupi kerusakan yang tak terduga ini.
Dengan hati berat, aku meninggalkan Sebas, yang tampaknya masih terguncang oleh apa yang baru saja terjadi, dan Lithos yang setia mengikutiku.
__ADS_1
Sebas, yang kini tampaknya menangis, bahkan ikut melangkah mengikuti kami.
Saat aku berjalan menuju pintu keluar, suasana menjadi hening, dan aku merasa bahwa banyak tatapan tertuju padaku.
Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, satu hal yang pasti adalah bahwa petualangan ini telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit daripada yang pernah kubayangkan.
Dalam perjalanan , aku merasa Sebas mulai menyadari kemarahan yang kurasakan terhadapnya.
Meskipun dia mencoba menahan tangis, aku tak peduli.
Hatiku masih dipenuhi kemarahan karena misi kita yang seharusnya berjalan lancar menjadi berantakan berkat kecerobohan Sebas.
Ketika kami keluar dari markas guild petualang, aku memutuskan untuk berhenti sejenak di suatu tempat yang sepi, jauh dari keramaian kota.
Aku merasa perlu merenung dan meredakan kemarahan dalam hatiku.
Seiring langkahku melambat, aku berhenti di tengah jalan yang sunyi itu.
Angin sepoi-sepoi seakan mencoba menenangkan kemarahan yang masih membara di dalam diriku.
Sementara Sebas, meskipun aku merasakan dia menangis, aku memilih untuk mengabaikannya.
Saat ini, aku hanya ingin sedikit waktu untuk merenung dan meresapi semua yang telah terjadi.
Dalam perjalanan keluar dari markas guild petualang, aku bisa merasakan bahwa Sebas sepertinya mulai menyadari betapa marahnya aku padanya.
Dia tampaknya menangis, dan meski ada perasaan iba, aku memutuskan untuk cuek dan tidak mengajaknya berbicara.
Aku benar-benar marah padanya. Seharusnya kita bisa menyelesaikan misi dengan lancar, tapi semua itu tertunda berkat kelakuan nekat Sebas yang membuat semuanya kacau.
Sebelum aku sempat membuka mulut untuk berbicara, Sebas mendekatiku dengan mata berkaca-kaca, air mata mengalir deras diwajahnya yang dapat kulihat jelas dari dalam helm besi yang kukenakan.
"A-ayah, ma-maafkan aku," ucapnya tergagap, isak tangisnya terdengar jelas.
Dalam kemarahanku yang tak tertahankan, aku langsung meneriaki Sebas dengan penuh amarah di tengah jalan yang sunyi.
"DASAR BODOH!" teriakku dengan keras, kemarahan yang menggebu-gebu.
Ini pertama kalinya aku marah dan berteriak sekeras ini pada Sebas.
Reaksi Sebas terhadap teriakanku terlihat sangat terkejut dan membeku.
__ADS_1
Tampaknya dia sama sekali tak mengantisipasi kemarahan sebesar ini dari diriku.