Dragon Lord System

Dragon Lord System
DLS - 167


__ADS_3

Dalam kedalaman bumi, di bawah kota yang hancur, tersembunyi sebuah ruang bawah tanah rahasia yang berfungsi sebagai pusat operasi bagi Nightmare Syndicate, atau Sindikat Mimpi Buruk.


Organisasi gelap ini memiliki jaringan yang terhubung ke kerajaan Arvandor dan berbagai kota lain, semuanya dijaga ketat dan tersembunyi dari mata penasaran.


Di dalam ruang rahasia ini terdapat beberapa penjara yang mengerikan. Tempat-tempat ini didesain untuk menampung tawanan yang akan menjadi korban berbagai aksi kejam.


Penculikan, perbudakan, perdagangan narkoba, dan tawanan tebusan adalah sebagian kecil dari kejahatan yang dikerjakan oleh sindikat ini. Mereka tidak punya belas kasihan dan tidak menghargai hak asasi manusia; mereka hanya menginginkan keuntungan dan kekuasaan.


Dalam kamar-kamar gelap ini, tawanan merasakan teror yang mendalam. Mereka diculik dari kehidupan mereka yang nyaman dan dihadapkan pada nasib yang tak pasti.


Beberapa di antara mereka akan menjadi budak, bekerja tanpa akhir untuk kepentingan sindikat. Yang lainnya mungkin menjadi korban perdagangan narkoba, hidup dan mati untuk memenuhi kebutuhan gelap ini.


Ada juga yang diculik untuk menjadi tawanan tebusan, dijadikan alat negosiasi bagi para kriminal yang tanpa belas kasihan.


Semua tawanan merasakan ketakutan dan keputusasaan dalam ruang terkunci ini. Mereka tahu bahwa peluang untuk melarikan diri sangat kecil, dan para anggota sindikat yang berjaga di luar selalu waspada.


Ini adalah dunia gelap yang hanya memikirkan harta dan kepentingan pribadi. Sedangkan tawanan, mereka berdoa untuk pelarian yang mungkin tidak akan pernah datang.


Di suatu ruangan Dalam penjara yang gelap dan suram, dua orang tahanan tak bersalah, Evelyn dan Rufus, menunggu dengan rasa putus asa.


Ruangan ini hampa cahaya, dan penjaga-penjaga bandit, bawahan dari organisasi Nightmare Syndicate, berdiri di luar sel mereka. Para penjaga ini adalah orang-orang kejam yang bekerja untuk kepentingan sindikat gelap ini.


Evelyn, yang hamil besar, memeluk perutnya dengan penuh kekhawatiran. Kehadiran bayi yang belum lahir menambah beban pikirannya.


Sementara itu, Rufus, seorang pendeta yang melayani Dewi Artemis, memandang langit-langit ruangan dengan mata yang lesu. Dia tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berakhir di tempat seperti ini.


Mereka diculik oleh sindikat sebagai alat pemerasan untuk membuat suami Evelyn, Rio Suzuki, tetap diam tentang kejadian di hutan kematian Elysian.


Rio telah memimpin sebuah ekspedisi bersama temannya yang sydah tewas menyelidiki keanehan hutan tersebut dengan sendiri tanpa para prajurit bangsawan.


Serangga kumbang yang aneh dan misterius telah menyebar ke kota Arbandir yang sekarang hancur. Rio telah melakukan perjalanan sendirian, setelah rekan-rekannya dalam kelompok petualangnya tewas mengenaskan.


Evelyn dan Rufus adalah korban dalam permainan kotor sindikat ini.


Mereka tak tahu di mana mereka berada dan apa yang akan terjadi selanjutnya. Mereka hanya bisa berdoa agar ada harapan untuk dibebaskan dan berharap suaminya, Rio, mencarinya dan membebaskannya. .


Di dalam kegelapan penjara ini, kekhawatiran dan keputusasaan menjadi satu-satunya teman yang mereka miliki.


Oleh karena itu Rio dan banyak bangsawan serta kesatria theovilus banyak membencinya dikarenakan ia bukanlah siapa-siapa.

__ADS_1


Rio, seorang rakyat jelata yang telah diangkat sebagai tangan kanan Raja Theovilus, memicu kebencian dan iri dari banyak bangsawan.


Mereka yang sebelumnya bersikap setuju untuk bergabung dengan Rio dalam ekspedisi mereka ke hutan kematian Elysian, berjanji akan mendukungnya dan bahkan bersedia menjadi anggota kelompoknya, sekarang menyusut dengan alasan dan meninggalkan Rio begitu saja, yang tentunya hanya mencari muka didepan raja theovilus.


Ekspedisi itu adalah misi berbahaya yang dimulai karena keanehan yang terjadi di hutan tersebut.


Serangga kumbang yang aneh telah menyebar ke kota Arbandir, dan hutan ini adalah sumber misteriusnya.


Bangsawan dan kesatria pada awalnya bersemangat untuk membuktikan diri kepada raja, tetapi ketika mereka menyadari betapa berbahayanya ekspedisi ini, mereka dengan cepat berpikir ulang dan mundur, membiarkan Rio pergi sendirian.


Rio sangat beruntung selamat dari hutan tersebut, meskipun dia tidak tahu bagaimana dia melakukannya.


Mereka takut bahwa Rio akan memberi tahu Raja Theovilus tentang ketidaksetiaan mereka. Kini, pihak berkuasa yang terbiasa berkuasa merasa terancam oleh rakyat jelata yang berani seperti Rio.


Dalam situasi yang semakin rumit dan gelap, banyak bangsawan yang telah melupakan kewajiban moral dan etika mereka bekerja sama dalam korupsi dan nepotisme.


Mereka menggunakan kekuasaan dan kedudukan mereka sebagai sarana untuk mengejar kepentingan pribadi, mengorbankan rakyat jelata dan prinsip-prinsip keadilan.


Salah satu dari bangsawan yang paling jahat menjual rahasia kerajaan kepada kerajaan Lemuria, menyebabkan kerajaan Arvandor semakin merosot dan rentan.


Semua tindakan ini dilakukan demi keuntungan dan kekuasaan pribadi, tanpa memedulikan konsekuensi besar yang mungkin timbul.


Mereka tahu betapa Rio mencintai istrinya, dan dengan jahat mereka memanfaatkan perasaan itu untuk memastikan bahwa Rio tidak akan mengadukan mereka kepada Raja Theovilus.


Mereka mengeksploitasi cinta dan kasih sayang sebagai senjata, menyelipkan ancaman dan kekejaman dalam jalinan cinta yang seharusnya suci.


Bangsawan-brengsek ini telah menjatuhkan diri mereka ke dalam lubang gelap ambisi dan kejahatan, dan hubungan mereka dengan Nightmare Syndicate adalah manifestasi dari keinginan mereka untuk memperkuat kekuasaan mereka, bahkan jika itu berarti melibatkan diri dalam tindakan tercela dan keji.


Sementara itu...


Evelyn terus menjerit kesakitan, mencoba meredakan rasa sakit yang melanda perutnya yang semakin membesar.


Air mata mengalir deras di pipinya, mencampur dengan ekspresi ketakutan yang terpancar dari matanya.


Priest Rufus, yang juga menjadi korban penculikan, panik saat mendengar jeritan evelyn. Dia tahu bahwa saat ini evelyn sedang hamil besar dan persalinan sudah semakin dekat.


Dengan cepat, Rufus berlari mendekati evelyn dan merangkulnya erat. Dia berusaha menenangkan evelyn, sambil mengaktifkan skill penyembuhnya yang kuat.


Cahaya suci memancar dari tangannya, membungkus tubuh evelyn yang sedang berjuang dengan rasa sakit yang tak tertahankan.

__ADS_1


"Evelyn, bertahanlah!" ucap Rufus dengan nada panik, matanya penuh dengan tekad.


Dia menggenggam tangan evelyn erat-erat, memberikan dukungan dan kekuatan yang dia bisa.


Namun Skill penyembuh Rufus tidak berdaya melawan rasa sakit yang mencekam yang dialami oleh Evelyn.


Kedua tahanan ini, terkurung dalam sel gelap, merasa putus asa. Evelyn merindukan Rio, suaminya, dan menahan rasa sakit sambil merindukan namanya.


Bayi dalam kandungannya terasa begitu hidup, bergerak dengan semangat, meskipun di tengah penderitaan ini.


Di luar sel, terdengar gemuruh keras. Pukulan kuat pada jeruji besi mengirimkan getaran ke sel, memecah keheningan mencekam.


Penjaga-penjaga, yang sebelumnya bersikap kasar dan kasar, mulai menunjukkan tanda-tanda kekesalan mereka.


Teriakan dan ancaman diberikan kepada Evelyn yang sedang menderita. Mereka tampak marah dan kesal oleh jeritan sang tahanan.


Bam!


Bam!


Jeruji besi bergemuruh, dan tahanan dalam sel merasakan ketakutan dan ancaman yang semakin nyata.


Jeritan Evelyn mengganggu penjaga penjara yang terganggu oleh tidurnya. Dengan kasar, mereka merespon dengan kemarahan.


"Diam bodoh! Karena kau, aku jadi terbangun dari tidur siangku, BANGSAT!" Teriak salah satu penjaga dengan amarah di wajahnya.


Namun, meskipun dihadapkan pada ancaman kasar, Evelyn tidak bisa meredakan rasa sakitnya.


Jeritannya memenuhi sel, memecah keheningan yang mencekam. Penjaga yang semakin kesal, tanpa ampun, membuka jeruji besi untuk mengakhiri keributan ini. Klak... Klak...


Mereka melangkah masuk, niat jahat mereka jelas. Mereka ingin memukuli Evelyn agar dia diam.


Sementara itu, Rufus, yang tidak tahan melihat aksi kejam itu, berdiri di antara penjaga dan Evelyn. Dia siap untuk menjadi perisai bagi wanita itu. Klak... Klak...


Ancaman dari penjaga penjara semakin nyata ketika ia siap untuk melampiaskan kemarahan dengan tinjunya.


Rufus yang lebih kecil dan lemah tidak dapat menghadapi serangan fisik itu. Siap untuk mengorbankan dirinya demi melindungi Evelyn, Rufus menutup mata dan siap menerima pukulan pria itu.


"Oh Kau berlagak seperti pahlawan? Baiklah siap-siaplah menerima tinjuku!" Ancam penjaga dengan kejam.

__ADS_1


__ADS_2