Dragon Lord System

Dragon Lord System
S3 - Orthros


__ADS_3

Di dalam lorong-lorong yang gelap dan sunyi, Luna berdiri dengan penuh semangat, memanggil nama makhluk yang sepertinya ia harapkan akan muncul.


"Orthros! Kemarilah!"


Namun, tak ada suara jawaban yang terdengar, kecuali gema lembut yang menggema di lorong-lorong besar dungeon.


Tetapi Luna tidak menyerah begitu saja. Dengan senandung ceria, ia terus memanggil nama itu, menggabungkan kegembiraannya dengan nada panggilan.


"Orthros! Orthros! Aku sudah pulang, kemarilah! Lihat aku membawakan hadiah untuk papa, lihatlah kemari! Dan aku juga menyimpan daging yang lezat untukmu, kemarilah!" Luna berteriak dengan antusias, menciptakan gema-gema di dalam kegelapan.


Namun, masih tidak ada tanda-tanda Orthros muncul. Luna mengerutkan kening, kebingungannya semakin tampak jelas.


"Ini aneh, mengapa dia tidak keluar? Apakah dia sedang bermain petak umpet denganku? Atau mungkin dia sedang tertidur? Sepertinya ya. Baiklah, waktunya untuk menemukannya di lorong lantai 1 ini," gumamnya dengan nada campuran antara kegembiraan dan kebingungan.


Luna pun dengan hati-hati memutuskan untuk menjelajah lebih dalam ke dalam lorong besar yang gelap itu, berharap bisa menemukan Orthros.


Namun, ia tidak meninggalkan hadiah untuk ayahnya, Luna tetap memegang erat telur besar di tangannya.


Berjalan dengan langkah ringan, Luna memasuki kegelapan yang merangkulnya kedalam dungeon yang suram.


Luna terus mencari Orthros di setiap sudut gelap yang ada, memanggil namanya dengan semangat. Namun, jawaban masih belum datang, membuatnya semakin frustrasi.


Setelah berjalan beberapa lama, Luna akhirnya berhenti di suatu tempat. Dia melihat puing-puing undead skeleton berserakan di lorong besar itu.


Luna mendekati kerumunan puing-puing undead skeleton yang hancur. Matanya tertuju pada sebuah batu serpihan besar yang mencolok di tengah-tengah.


Keraguan pun mulai memenuhi pikirannya, dan dia meraih serpihan batu tersebut dengan perasaan penasaran.


"Wah apa ini?" gumam Luna, sambil meraba-raba serpihan itu dengan hati-hati. Tetapi ketika bentuk dan ukuran serpihan mulai terbentuk dalam pandangannya, ekspresinya berubah menjadi terkejut.

__ADS_1


"Orthros?!!!" teriaknya, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Matanya melebar dan mulai berkaca-kaca, dan seketika itu Terkejut.


Luna meletakkan telurnya sementara dan dengan penuh rasa haru, ia merangkul batu serpihan golem yang hancur. Tangisannya tidak terbendung saat ia melihat, hewan peliharaannya yang telah kini hanya menjadi serpihan batu.


"Orthros!" gumam Luna dengan suara getir, memeluk serpihan batu itu seolah-olah itu masih hewan peliharaannya yang hidup.


Sebelum meninggalkan dungeon untuk mengikuti saudaranya, Luna merasa berat meninggalkan Orthros, hewan peliharaan kesayangannya.


Cerberus besar itu, Orthros, adalah teman setia Luna, dan hubungan mereka seperti sahabat yang tak terpisahkan. Luna selalu menghabiskan waktu bermain dengan Orthros, dan sering kali terdengar tawa riang mereka didungeon ayahnya.


Orthros adalah cerberus yang tidak hanya setia, tetapi juga sangat lucu dengan sikapnya yang menggemaskan. Dia telah menjadi bagian penting dari kehidupan Luna, dan Luna sangat mencintainya dengan tulus.


Sebelum pergi, Luna sebenarnya telah memohon kepada ayahnya untuk mengizinkan Orthros ikut bersamanya. Namun, ayahnya menolak dengan alasan bahwa manusia akan takut dan mencurigai hewan seperti Orthros. Meskipun kecewa, Luna menghormati keputusan ayahnya.


Orthros tetap berada di lorong besar itu, berdiri dengan kesetiaan yang tak tergoyahkan. Ayah Luna hanya memberi izin kepada Orthros untuk berada di situ, sebagai tempat untuk berpamitan dengan Luna sebelum dia pergi bersama ketiga saudaranya.


Luna sebenarnya telah memerintahkan Orthros untuk kembali ke kamarnya yang berada dilantai 7 setelah ia pergi dari dungeon. Namun, Cerberus besar, hewan peliharaan setia Luna, tetap setia menunggu di lorong besar di lantai pertama. Hatinya penuh dengan antusiasme menunggu kepulangan sang majikannya.


Luna terdiam, air mata mengalir deras di pipinya yang imut. Dengan gemetar, dia berjongkok di samping serpihan batu yang dulunya adalah sahabat setia.


"Orthros... kenapa ini terjadi?" gumam Luna dengan suara terguncang, mencoba mengatasi kehilangan yang mendalam.


Dia merengkuh serpihan batu dalam pelukannya, seolah-olah itu adalah bagian yang tersisa dari hewan peliharaan kesayangannya.


Saat air mata jatuh, Luna merenungkan semua kenangan indah yang mereka lewati bersama.


"Siapa yang berani membunuh Orthrosku?!" seru Luna dengan emosi yang membara. Sambil tetap memeluk mayat Orthros, dia memancarkan aura suci putih yang memenuhi lorong dungeon, mencerminkan kemarahannya yang mendalam.


Namun, pemandangan yang dia lihat di sekitarnya hanya membuat marahnya semakin memuncak. Lorong besar dungeon dipenuhi oleh undead skeleton yang hancur dan mati.

__ADS_1


Luna menyadari bahwa ini adalah pekerjaan spawn point yang diciptakan oleh saudara perempuannya, Karina. Ia menggunakan skillnya untuk menciptakan spawn point pasukan pop-up undead skeleton dilorong ini.


Luna terus melihat sekitar lorong besar, mencari tanda-tanda pelaku yang berani melakukan perbuatan keji ini. Matanya akhirnya tertuju pada sesuatu di lantai. Ia meraih sebuah anak panah yang diujungnya masih menyisakan residu sihir suci.


"Sebuah anak panah sihir suci?" gumam Luna dengan rasa ingin tahu. Hatinya terasa semakin terpanggil untuk mengungkap misteri di balik serangan ini.


Siapa pelaku sebenarnya? Apa motif di balik perbuatan kejam ini? Luna merasa tekadnya semakin kuat untuk mencari kebenaran dan membalaskan dendam atas kematian Orthrosnya.


Dan di tengah kekacauan dan amarahnya, Luna memandang ke lantai besar dungeon dan melihat sepotong pecahan botol yang masih menyimpan sedikit air. Air suci.


Tidak butuh waktu lama baginya untuk menyadari arti dari temuan ini. Ingatannya seketika membawanya kembali ke saat ia berada di kota manusia dan mengunjungi guild petualang.


Tiba-tiba terbuka di matanya. Pecahan botol ini adalah barang yang pernah ia lihat di guild petualang manusia itu.


"Para petualang manusia?!" ucap Luna dengan suara yang penuh dengan kejutan dan kemarahan.


Kemarahan dalam dirinya memuncak. Mereka adalah orang-orang yang telah membunuh Orthros, sahabat setia dan hewan peliharaannya.


Luna merasakan nafas ngos-ngosan saat amarahnya tumbuh semakin besar. Dia menggenggam kedua tangannya erat-erat, membiarkan kepalan tangannya menghantam lantai dungeon dengan kekuatan yang menggetarkan ruangan.


BAMM!!


BAM!!


Bunyi hantaman itu bergema di lorong besar, mencerminkan amarah yang membara dalam hati Luna.


"SERANGGA SIALAN! AKU TIDAK AKAN MEMAAFKANMU , SIALAN!" teriak Luna dengan suara yang bergema di seluruh lorong.


Saat kebencian dan kemarahan dalam dirinya meluap membara dalam dirinya, Luna saat itu juga menyadari bahwa dia juga memiliki tanggung jawab atas apa yang terjadi.

__ADS_1


Air mata berlinang dari matanya, mencampur dengan ekspresi penyesalan yang menghiasi wajahnya. Dia berbicara dengan suara tercekat, mengungkapkan pemahaman baru yang membebani hatinya.


"Ti-tidak ini semua salahku," gumam Luna, suaranya penuh penyesalan.


__ADS_2