
Ia melihat ekor besar dengan ujung yang tajam tertutup oleh puing-puing bangunan dungeon yang hancur.
Dengan cepat, ia mengangkat puing-puing tersebut dan terkejut melihat Tuan Penciptanya, Tuan Calliga, yang tergeletak tak sadarkan diri.
Tuan Calliga terlihat dalam kondisi yang memprihatinkan. Tangan kanannya telah hilang, dan tangan kirinya memiliki bekas potongan akibat benda tajam.
Lecet dan memar memenuhi tubuhnya, dan sisik naga yang dulunya gagah kini terlihat hancur dengan luka-luka yang menganga.
Gameciel tidak bisa menahan kagetnya saat melihat tuannya dalam keadaan seperti ini di kedalaman danau yang tersembunyi.
"TUANKU!" seru Gameciel dengan sedih saat melihat kondisi tuannya yang tak sadarkan diri dan parah terluka.
Meskipun berada dalam kegelapan yang dalam, kemampuan pasif [Dark Vision]-nya memungkinkan Gameciel melihat dengan jelas.
Tanpa ragu, Gameciel mengangkat tubuh tak berdaya Tuan Calliga dengan lembut.
Dengan langkah hati-hati, ia bergerak menuju permukaan danau, menggunakan tangannya yang raksasa untuk membawa tuannya keluar dari air.
Di bawah cahaya remang-remang, wajah Tuan Calliga terlihat pucat dan terluka, menyiratkan betapa buruknya kondisinya.
Tak lama kemudian, Gameciel memanggil seluruh anak buahnya yang masih ada di dalam danau.
Melalui komunikasi telepati, ia memberitahu Sebas, Karina, dan Vael bahwa Tuan Calliga telah ditemukan dan mereka harus berkumpul di daratan goa.
Gameciel merasa lega bahwa mereka akhirnya menemukan tuannya, tetapi juga khawatir dengan kondisi yang begitu parah.
Sementara itu, Sebas, Karina, dan Vael juga merasa gembira mendengar kabar tersebut, meskipun masih berada dalam usaha mengangkat reruntuhan.
Mereka segera meninggalkan tugas mereka dan bergegas menuju permukaan, berharap untuk segera bertemu dengan ayah mereka yang telah lama hilang.
Dengan hati yang berdebar dan perasaan campur aduk, Sebas, Karina, dan Vael keluar dari dalam danau dan mendarat di daratan goa.
Mereka melihat Gameciel dengan lembut meletakkan tubuh tak sadarkan diri ayah mereka di lantai goa.
Pandangan mereka langsung tertuju pada tubuh ayah mereka yang penuh dengan luka tragis.
Kondisi ayah mereka yang terluka parah menghancurkan hati mereka.
__ADS_1
Mereka segera mendekati tubuh ayah mereka dengan harapan bahwa dia akan bangun dan memberikan tanda kehidupan.
Namun, tidak ada respon, tidak ada gerakan, dan ketidaksadaran ayah mereka membuat mereka semakin terguncang.
Ketiganya saling berpandangan dengan mata berkaca-kaca, meneteskan air mata sedih dan putus asa.
Mereka berusaha keras untuk membangunkan ayah mereka, berbicara padanya dengan penuh harap agar dia kembali sadar.
Namun, tak ada tanggapan. Hanya keheningan dan ketidakberdayaan yang melingkupi suasana.
Ketika mereka merasakan keputusasaan dan kesedihan melanda, suasana goa terasa semakin hening, diiringi oleh suara-suara isak tangis mereka.
Dalam keheningan yang menyayat hati, Sebas mencoba menahan air matanya, namun tidak bisa lagi.
Dia meraih tubuh ayahnya, memeluk tubuh besar sang dewa naga erat-erat. Dalam keputusasaan dan kehilangan, dia berharap dengan segala yang dia miliki bahwa ayahnya akan bangun, akan tersenyum padanya lagi, akan berkata padanya bahwa semuanya baik-baik saja.
Namun, saat dia menatap wajah ayahnya yang dipenuhi luka dan goresan, hatinya hancur.
Dia merasakan nafas ayahnya yang sudah tidak lagi berhembus, dan kenyataan yang mengerikan pun merasuk ke dalam dirinya. Ayahnya telah pergi.
Dengan air mata yang mengalir di pipinya, Sebas memanggil nama ayahnya berkali-kali dengan suara terputus-putus, seperti berharap akan ada keajaiban, akan ada suatu tanda bahwa ayahnya masih ada di antara mereka.
Namun, meskipun cahaya suci itu bersinar terang, luka-luka itu tetap tidak sembuh. Bahkan tangan yang terputus tak bisa diganti dengan sihir apapun.
Mereka semua merasakan kehilangan yang mendalam.
Ayah mereka yang kuat dan bijaksana kini tergeletak tanpa nyawa. Di dalam goa yang gelap, mereka berduka bersama, merindukan sosok ayah yang telah memberi mereka kehidupan dan petunjuk sepanjang hidup mereka.
Air mata Sebas tidak bisa ditahan lagi, mereka mengalir deras dari matanya dan jatuh ke tubuh ayahnya yang sudah tewas.
Rasa sakit dan kehilangan begitu mendalam, membuat hatinya terasa hancur.
"AYAH, JANGAN PERGI!" teriak Sebas dengan suara lantang yang bergema di goa gelap, sambil memeluk tubuh ayahnya dengan erat.
Rasanya seolah-olah dia ingin mencoba membangunkan ayahnya dari kematian dengan kekuatan cintanya yang dalam.
Vael dan Karina, walaupun tidak mengucapkan sepatah kata pun, mengalami kepedihan yang sama.
__ADS_1
Mereka memikirkan semua kesalahan dan keputusan buruk yang pernah mereka ambil, dan rasa penyesalan itu menyayat hati mereka.
Karina yang telah membohongi ayahnya, dan Vael yang merasa telah mengecewakan ayahnya, semuanya membuat mereka merasa bersalah.
Ketiganya bersatu dalam pelukan, mengelilingi tubuh ayah mereka yang tak berdaya.
Air mata mereka bersatu dengan air mata hujan yang mengalir dari atas danau, menciptakan suasana yang penuh duka dan kehampaan.
Ayah mereka, yang dulu begitu kuat dan bijaksana, kini telah pergi.
Kini, dalam goa yang gelap, suasana hening dihiasi oleh tetesan air mata tak terhitung jumlahnya yang jatuh dari wajah batu dan logam para golem.
Meskipun mereka tak bisa merasakan emosi seperti makhluk hidup, tetapi cinta dan pengabdian mereka kepada tuan Calliga begitu kuat sehingga mereka merasakan kehilangan yang mendalam.
Gameciel, sang malaikat raksasa, juga merasakan kedukaan yang mendalam.
Meskipun ia tidak bisa menangis, ekspresi serius di wajahnya menjadi semakin tegas, menandakan rasa kehilangan yang dalam.
Ia merasa tanggung jawab besar untuk menjaga dan melindungi dunia yang ditinggalkan oleh tuannya.
Sementara itu, Sebas, Vael, dan Karina masih memeluk tubuh ayah mereka yang tewas. Kedukaan mendalam dan hampa terasa menyelimuti mereka.
Dalam keheningan yang penuh arti, Gameciel maju dengan langkah perlahan menuju tubuh tak berdaya sang pencipta.
Meskipun ia adalah sebuah entitas buatan, hubungannya dengan tuan Calliga lebih dari sekadar hubungan antara pencipta dan ciptaannya. Dan tidak dianggap sebagai "Anak".
Dari dalam rancangan batu dan sihir, terlahir rasa pengabdian dan kasih yang dalam.
Kemudian, tindakan itu mungkin terasa tidak sopan di mata anak tuannya, terutama oleh Karina yang sebelumnya pernah menghina dan membentak Gameciel.
Namun, dalam momen ini, pandangan tersebut tak lagi relevan.
Gameciel tak lagi peduli pada penilaian atau pandangan anak tuannya, sebab baginya, sang pencipta adalah lebih dari sekadar tuan atau majikan. Ia menganggap penciptanya sebagai ayah yang telah memberi hidup padanya.
Dengan langkah pelan, Gameciel tiba di samping tubuh lemah tuan Calliga.
Golem malaikat raksasa itu menundukkan kepalanya dengan penuh penghormatan dan emosi yang tak terucapkan.
__ADS_1
Kemudian, dengan gerakan perlahan, ia memeluk tubuh sang pencipta, dan air mata mulai mengalir dari wajah batu dan logamnya.
Goa yang tadinya gelap dan sunyi kini penuh dengan ekspresi kehilangan dan tangisan sedih.