Dragon Lord System

Dragon Lord System
DLS - 113


__ADS_3

...***Di Suatu Tempat*** ...


Dalam kegelapan yang menyelimuti ruangan gelap, suara melengking seorang wanita terdengar memenuhi udara.


Wanita itu berusaha dengan gigih melepaskan diri dari borgol yang mengikat tangannya. Namun, usahanya sia-sia dan tertawalah ia oleh seorang pria yang berdiri sebagai penjaga di tempat yang menyerupai sel pertahanan.


Tawa pria itu bergema di antara dinding dingin ruangan, mencerminkan keangkuhan dan kepuasan atas situasi tersebut.


Namun, seorang pendeta berjubah ungu yang dikenal sebagai Rufus menghampiri dengan tenang.


"Evelyn, ini sia-sia. Sebaiknya kau beristirahat saja. Aku khawatir akan kondisi kandunganmu," ujar priest mengenakan jubah berwarna ungu tebal yang bernama Rufus dengan suara lembut, mencoba menenangkan wanita yang berusaha kabur dari sel tersebut.


Di dalam sel yang suram dan dingin, Evelyn duduk lemas di lantai dengan suara jangkrik yang terdengar samar-samar dari kejauhan.


Mendengarkan nasehat Rufus, wanita itu meresapi kata-kata bijak yang diucapkannya. Dalam kegelapan, ia mengelus perutnya yang semakin besar, seolah-olah mengirimkan pesan kepada sang janin yang ada di dalamnya.


Suara seraknya merayap pelan di udara saat dia berbicara, "Maafkan ibu, anakku. Semoga saja ayahmu dapat menemukan kami semua."


Air mata perlahan bergulir di pipinya yang halus, menciptakan jejak berkilauan dalam kegelapan.


Tertawaan para pria penjaga sel bergema di dalam ruangan, seperti musik menyebalkan bagi Evelyn yang tengah berusaha mengatasi keadaan.


Tatapan matanya berkobar-kobar dengan kemarahan saat mendengar ejekan tak berperasaan dari mereka.


"Jangan harap kau dapat keluar dari tempat ini, wanita gendut murahan! HAHAHAHA!" ejek salah satu dari mereka dengan nada merendahkan.


Tak mau kalah, pria yang lain juga ikut tertawa dengan keras, menggambarkan betapa menyenangkan mereka merendahkan korban yang tak berdaya.


Namun, dalam sudut gelap sel yang tertutup oleh bayang-bayang, Rufus, sang priest, merespon dengan amarah yang terpendam.


"Dewa Artemis akan membalas perbuatan jahatmu yang kalian perbuat!" serunya dengan tegas, mencoba mempertahankan kepercayaan akan keadilan.


Tertawaan mereka semakin kencang, seolah mengolok-olok kepercayaan Rufus.


"Kau berkata perbuatan jahat? Kami sudah melakukan ini lama namun kami masih baik-baik saja sepertinya. Ah, sepertinya 'dewa' yang kau sebut itu palsu dan tidak nyata!" balas salah satu dari mereka dengan sinis.


Ketegangan di dalam sel semakin memuncak. Rufus dengan penuh emosi menyebut mereka


"kalian benar-benar manusia biadab" dalam suara yang terdengar jelas di tengah gemuruh tawa mereka.


Namun, suasana yang telah kacau tiba-tiba mengalami perubahan dramatis saat suara jeritan kesakitan merobek udara gelap dalam sel itu.


Evelyn, yang sebelumnya terkendali dan cemas, tiba-tiba merasakan rasa sakit yang menusuk dari dalam.


Jeritan kerasnya menciptakan kedamaian yang mengejutkan, seolah-olah seluruh ruangan terdiam dalam empat dinding yang lembut.


"Ahh...sakit..." gemetarnya, sambil mengelus perut besarnya yang seolah-olah bergetar sendiri.


Kandungannya seakan memberikan isyarat dengan cara yang tak terduga, menyebabkan dorongan yang tak terelakkan.


Mendengar jeritannya, Rufus, sang priest, merasa panik. Ia bergegas menuju Evelyn yang terkulai di lantai dengan tatapan cemas.


Rufus dengan cepat melupakan sengketa mereka dengan pria penjaga sel dan fokus sepenuhnya pada kesehatan dan keselamatan Evelyn.


Situasi semakin tegang saat jeritan kesakitan Evelyn menggema di sel gelap tersebut.

__ADS_1


Kedua pria penjaga, yang sebelumnya mengejek dan mencemooh, sekarang merasa terganggu oleh suara itu.


Mereka berteriak agar Evelyn diam, mencoba memadamkan kebisingan yang semakin meluas di antara dinding-dinding sel.


"DIAM KAU WANITA MURAHAN!" Teriaknya.


Namun, dalam tengah-tengah penderitaannya, rasa sakit yang tak tertahankan terus menghantui perut Evelyn.


Ia tidak bisa menahan jeritan-jeritan itu, meskipun perintah untuk diam sudah dikumandangkan berkali-kali.


Nyeri yang membelenggu membuat suaranya bergema, menyusup ke dalam keheningan yang tadinya ada.


Kedua pria penjaga, frustasi dengan situasi ini, akhirnya memutuskan untuk membuka pintu sel.


Dengan langkah kasar, mereka mendekati Evelyn yang berteriak-teriak di lantai.


Dalam momen yang penuh ketidakberdayaan, salah satu dari mereka dengan tiba-tiba menampar Evelyn dengan keras.


Slap!


Suara tamparan itu melengking dalam ruangan gelap, menciptakan keheningan yang menegangkan.


Semua kecemasan dan penderitaan yang dirasakan Evelyn terasa tercermin dalam suara jeritannya.


Rufus ingin membela evelyn dan seketika itu dengan kekuatan yang tak terduga dari pria tersebut, yang mendorongnya dengan begitu keras hingga ia terjatuh.


Sungguh, pria itu jauh lebih kuat daripada yang Rufus kira. Sementara Rufus merasa sakit dan terhuyung-huyung, pria tersebut memalingkan perhatiannya kepada Evelyn yang menangis dan merasakan rasa sakit di pipinya yang memerah akibat tamparan brutal.


"Sudah kukatakan sebelumnya untuk diam, bukan? Apakah kuperlu untuk menendang yang ada di perutmu itu?" ujar pria tersebut dengan nada kesal, matanya memancarkan ancaman yang nyata.


Dia merasa perutnya masih sakit akibat dan ingin menjerit teriak, namun ketakutannya yang lebih besar adalah untuk keselamatan kandungannya.


Evelyn berusaha keras menahan rasa sakit dan ketakutannya, meskipun perutnya terasa seperti terbakar oleh api.


Pria yang menamparnya sebelumnya memasuki sel keluar kembali dari sel dan mengunci pintunya, menjaga mereka berdua dalam kegelapan yang menyelimuti sel itu.


Rufus, dengan hati yang penuh kekhawatiran, mendekati Evelyn dengan cepat.


Ia mencoba menenangkan wanita itu, melihat betapa kesakitan dan ketakutannya yang begitu mendalam.


Dengan cepat, ia mengaktifkan kemampuan penyembuhannya dan memposisikan tangan ke arah pipi memar Evelyn yang bengkak.


"Ya, cahaya suci, berkumpullah, dan sembuhkanlah perempuan ini, ya dewa suci, [Light Heal]!" serunya sambil melepaskan sihir penyembuhnya.


Sebuah cahaya lembut memancar dari tangan Rufus dan menyelimuti wajah Evelyn.


Rasa sakit di pipinya mereda perlahan, dan bengkaknya pun mulai memudar.


Meskipun sihir ini hanya memiliki efek penyembuhan yang terbatas, itu memberikan sedikit kenyamanan dan harapan dalam keadaan yang suram ini.


Evelyn merasa sedikit lega saat rasa sakit di pipinya mulai mereda, meskipun tetap terasa mengganggu.


Air mata berlinang di pipinya saat ia memandang Rufus dengan rasa terima kasih yang dalam.


"Terima kasih, Tuan Rufus..." gumam Evelyn dengan suara lembut, senyum lemah terukir di wajahnya yang masih memerah.

__ADS_1


Rufus mengangguk penuh pengertian, namun rasa penasaran tidak bisa ditahan.


"Lagipula, apa yang dilakukan suamimu sehingga mereka menangkap dan menahan kita berdua di sini?" tanyanya dengan ekspresi tanda tanya yang jelas terpancar dari wajahnya.


Evelyn menggelengkan kepala dengan sedih.


"Aku tidak tahu, Tuan Rufus. Tetapi sepertinya mereka menculik kita sebagai bahan ancaman, mungkin agar suamiku tidak memberontak terhadap seseorang dengan kekuasaan tinggi."


Tak ada yang bisa mereka lakukan selain berspekulasi dalam situasi ini yang penuh dengan ketidakpastian.


Dalam kegelapan dan ketidakpastian, Evelyn dan Rufus saling berpegangan tangan, menggenggam kalung mereka sebagai tanda keyakinan mereka kepada Dewa Artemis.


Dalam suasana yang penuh kecemasan, suara mereka bersama-sama mengalun memohon bantuan dari dewa yang mereka sembah.


"Oh, Dewa Artemis, kami memohon pada-Mu, dewa yang agung, untuk membebaskan kami dari tempat mengerikan ini," ucap Rufus dengan suara tulus, memimpin doa mereka yang penuh harap dan kepercayaan.


Meskipun rasa sakit dan ketakutan masih terasa dalam hati mereka, mereka berdoa dengan penuh harapan bahwa bantuan akan datang menjemput.


Evelyn, meski terus merasakan rasa sakit dan ketidaknyamanan, bergabung dalam doa tersebut dengan tangisan halus.


Ia berharap suaminya, Rio, segera mendapati petunjuk tentang keberadaan mereka dan segera datang menyelamatkan.


Entah bagaimana, rasa sakit yang semula menyelimuti perutnya Evelyn perlahan mereda dan menghilang.


Doa mereka mungkin memberikan kehangatan yang tak terduga di tengah ketidakpastian.


Setelah berdoa dengan penuh harap, evelyn dan rufus itu mengakhiri doa mereka.


Wajah lelah Evelyn mulai memancarkan tanda-tanda keletihan, dan akhirnya rasa sakit dan ketegangan yang ia rasakan pun meredup.


Dalam kelelahannya, matanya pun terpejam, dan tidur pun merayap mendekatinya.


Kelelahan fisik dan mental yang tak terelakkan akhirnya menuntunnya menuju tidur yang dalam.


Namun, rufus melihat Evelyn menggigil dalam tidurnya, tampaknya akibat kedinginan dari lantai yang dingin dan kotor.


Hati rufus terenyuh melihat kondisi perempuan hamil besar yang tergeletak di hadapannya. Dengan tindakan cepat, rufus memberi perintah kepada Evelyn agar menunggu sebentar.


Tidak ragu-ragu, rufus melepaskan pakaian jubah tebalnya yang menghangatkan dan memberikannya kepada Evelyn.


Dengan hati hangat, Evelyn mengenakan jubah tersebut.


Perlahan-lahan, rasa kedinginan yang membelitnya mulai memudar, digantikan oleh kehangatan yang diberikan oleh jubah tebal yang ia kenakan.


Akhirnya, dalam pelukan hangat jubah, Evelyn tertidur dengan nyenyak, tenang, dan hangat.


Dalam keadaan yang begitu sulit, bahkan rufus yang merupakan seorang priest yang memiliki perlindungan magis, merasakan kedinginan menusuk tulang dalam baju kain tipis yang melekat pada tubuhnya.


Tanpa pilihan lain, dia pun memutuskan untuk berbaring di samping Evelyn, di atas lantai yang tak bersahabat, untuk mencari sedikit kehangatan.


Rufus merasa kelelahan yang begitu dalam dan terasa menyergapnya begitu cepat.


Namun, sebelum matanya terpejam dalam tidur, dia tak dapat menahan diri untuk berbicara dalam doa yang penuh harapan, "Ya dewa, bantulah kami."


Akhirnya, dalam keheningan yang tercipta di dalam sel yang gelap dan kotor, kedua insan itu tertidur.

__ADS_1


Mungkin dalam tidur mereka, mereka dapat menemukan sedikit ketenangan dalam situasi yang mencekam.


__ADS_2