
"Bukankah sudah kuperintahkan kepada kalian berdua agar tidak menggunakan kekuatan kalian terang-terangan di lingkungan manusia dan jangan membuat keributan?" ucapku dengan kesal, memandangi Sebas dengan penuh penyesalan.
Kemarahanku tak berhenti di situ.
"Mengapa kau melakukan dua hal yang sudah ku larang kepadamu, Sebas? Apakah kau tak paham dengan apa yang kuperintahkan?, dan Apakah kau berniat menggagalkan rencanaku di kota manusia ini?" kataku dengan nada sinis, memandangnya tajam dan tegas.
Sebas, yang masih menangis, merespons cepat, "Ti-tidak, aku tidak memiliki niat buruk seperti itu, Ayah." Katanya terisak, air mata mencerminkan penyesalan yang mendalam sembari menunduk.
Ketegangan di antara kami masih terasa, namun Sebas tampaknya telah menyadari kesalahannya.
Aku tidak bisa lagi menahan emosiku yang memuncak.
Emosi itu memaksa diriku untuk berteriak ke Sebas dengan penuh amarah.
"Kau bilang tidak punya niat buruk? Lalu mengapa kau membuat keributan tak berguna tadi? Belum satu jam kita tiba di kota ini, dan kau sudah mengacaukan semuanya! DASAR TOLOL! Enyahlah dari hadapanku!" Bentakku dengan gemetaran, merasa emosi memuncak.
Sebas semakin tenggelam dalam tangisnya yang menyayat hati.
Sebas masih berdiri di dekatku, meskipun tampak ketakutan dan terpukul oleh kata-kata kasarku.
Dia sepertinya enggan pergi, namun suasana yang tegang semakin memenuhi udara di antara kami.
"A-ayah, mo-mohon a-ayah ma-maafkan aku," isak tangisan Sebas yang ketakutan saat berdiri di depanku.
Tubuhku saat itu juga mulai bersinar dengan cahaya yang memancar, mengindikasikan bahwa emosiku sedang berangsur-angsur kembali terkendali.
Lithos, yang dalam wujud manusianya, mendekati dan mencoba menenangkanku,
"Sudahlah, kawanku. Anggap saja kejadian anak muda satu itu, sudah berlalu dan tidak pernah terjadi."
Aku hanya tertawa sinis, menunjuk ke arah Sebas, "Menganggap tindakan bodoh satu ini sudah berlalu?!" ejekku kepada Lithos.
Sebas masih berdiri di dekat kami, tampak ketakutan dan terpukul oleh kemarahanku yang baru saja mereda.
Lithos tersenyum santai, sepertinya bagi makhluk semacam dia, keributan dan kehancuran adalah hal biasa.
Dia menenangkan aku dengan nada santai, "Ya, kawanku, apakah ada masalah dengan itu? Sepertinya para makhluk rendahan yang berada di gedung jelek itu menganggap keributan yang dilakukan Putramu sebagai hal yang biasa."
__ADS_1
Mendengar penjelasan Lithos membuatku semakin merasa terasing.
Bagi makhluk monster buas seperti dia, yang telah tinggal ribuan tahun dalam kesendirian, konsep empati dan simpati tampaknya menjadi hal yang asing.
Bagi Lithos, keributan dan kehancuran adalah bagian dari kehidupan yang biasa, tanpa menyadari bahwa bagi manusia, hal itu bisa menjadi masalah besar.
Aku yang pernah menjadi manusia dan kini menjadi monster buas yang pastinya ditakuti rasku dulu kala, manusia, tahu betul bahwa tindakan Sebas adalah sesuatu yang jauh dari biasa, bahkan bisa menjadi sebuah masalah serius dan berpotensi kriminal.
Mengingat kekuatan Sebas, dia hampir saja membunuh wanita resepsionis, dan jika aku tidak menghentikannya, hal itu bisa berakhir sangat buruk.
Ketika Lithos dengan santainya meremehkan situasi, emosiku meledak, "Tentu saja itu MASALAH, bodoh!" bentakku dengan geram.
Bagi manusia, tindakan seperti itu adalah sesuatu yang sangat serius.
Tiba-tiba, erangan naga dari dalam diriku terdengar gemuruh, mengguncang udara di sekitar.
Gigi naga tajamku bergemerincing, menghasilkan suara gertakan yang menakutkan, dan nafasku mulai memburu, mengeluarkan asap panas yang membelenggu helm armor yang melindungi wajahku.
"GRRR...!" Desahanku yang penuh amarah terdengar jelas, emosi yang meluap-luap menyusul kata-kata tolol dari Lithos.
Sebas dan Lithos tampak terkejut oleh reaksi ganas ini, menyadari betapa seriusnya situasi yang mereka ciptakan dengan ulah mereka.
"Hey! Tenang! Tenang! Tenang! Santai saja, tidak usah marah kepadaku, kawanku," ucapnya dengan nada berusaha meredam situasi.
"Sepertinya kau harus berhenti mengerang keras seperti itu. Kau terlihat seperti kadal bodoh, dan manusia pasti akan curiga jika mendengar erangan kerasmu itu."
Aku tersentak dan menyadari bahwa aku telah mengerang keras tanpa sadar.
Dalam sekejap, aku meredam kemarahanku, dan nafasku perlahan kembali normal, sementara gigiku yang bergemerincing pun diam.
Situasi yang begitu intens tiba-tiba menjadi lucu dengan perbandingan aneh yang digunakan Lithos, dan aku tidak bisa menahan senyuman kecil meskipun masih terdapat kemarahan dalam hatiku.
Aku menggelengkan kepala dengan penyesalan. Sejak aku bereinkarnasi menjadi naga, kebiasaan buruk naga sepertinya telah tertanam dalam diriku.
Saat marah atau kesal, tanpa sadar, aku melakukan hal-hal aneh tersebut layaknya makhluk buas yang tak berakal.
Nafasku menjadi tidak terkendali, mengeluarkan asap yang terperangkap dalam helm armor yang kubekali.
__ADS_1
Gigi-gigiku bergemerincing dengan keras, dan yang lebih buruk lagi, suara erangan naga terdengar jelas.
Beruntunglah, saat itu jalanan sepi tanpa ada seorang pun yang mendengar eranganku atau mencurigai apa yang terjadi.
Lithos memberitahu aku bahwa jika ada orang yang mendengarnya, itu bisa menjadi masalah besar, dan manusia di kota ini pasti akan curiga.
Aku merasa kesal pada diriku sendiri, bahwa meskipun tubuhku berubah, kebiasaan buruk naga sepertinya masih begitu kuat dalam diriku.
Tiba-tiba, kekhawatiran melanda diriku. Aku mulai memikirkan apa yang terjadi saat aku kehilangan kendali emosi di markas petualang.
Apakah erangan kerasku terdengar seperti tadi? Dan jika iya, apakah para manusia mendengarnya?
Kecemasan pun mulai membuncah dalam hatiku, takut penyamaranku sebagai manusia akan terbongkar.
Dengan hati yang berdebar, aku bertanya kepada Lithos yang berdiri di sampingku.
"Hmm, apakah sebelumnya, di markas petualang, aku mengerang keras saat aku emosi pada sibodoh satu ini?" tanyaku, sembari menoleh ke arah Sebas yang masih menangis, tak berani memandangku.
Lithos tak bisa menahan tawanya, "Itu benar sekali! Bahkan aku dapat mendengar erangan kadal bodohmu dengan sangat jelas. Kau hampir terdengar seperti makhluk bodoh di mataku!" jawabnya dengan tawa terkekeh.
Nani! Aku terkejut mendengar pernyataan Lithos, yang mengkonfirmasi ketakutan terburukku.
Seketika, aku merasa panik. Apa yang telah kuperbuat?
Erangan kerasku di markas petualang tadi benar-benar terdengar oleh banyak manusia.
Apakah mereka akan curiga padaku sekarang? Dan ini semua berkat ulah bodoh Sebas!
Emosiku berkobar-kobar lagi, dan kali ini aku tidak peduli sama sekali dengan Sebas yang masih menangis di depanku.
Aku berniat memaki habis-habisan kepalanya. Kemarahanku benar-benar mencapai titik puncak, dan kebingungan mengenai apa yang harus kulakukan semakin memperparah emosiku.
Aku memandang Sebas dengan amarah yang masih membara dalam diriku.
Namun, sebelum mulutku bisa melepaskan sepatah kata untuk memaki dia, Lithos memberikan penjelasan yang cukup masuk akal.
Dia menjelaskan bahwa saat aku mengerang keras di markas petualang, keributan besar yang Sebas ciptakan dengan kekuatannya menjadi fokus utama perhatian manusia di sekitar.
__ADS_1
Mereka terlalu sibuk dengan tindakan bodohnya untuk memperhatikan dan mendengarkan erangan bodohku. Penjelasan ini membuatku merasa lega.
Meski begitu, aku tetap merasa kesal. Tindakan tolol Sebas telah menghambat dan bahkan menunda misi kita.