
Aku, berpura-pura serius, menjelajahi papan besar yang dipenuhi dengan daftar misi petualang.
Sementara Sebas terus bekerja mengisi formulir pendaftaran dengan cepat, aku berpura-pura sangat serius memeriksa papan misi, meskipun sebenarnya tidak memahami apa-apa dari tulisannya.
Namun, tiba-tiba seseorang mendekat dan meminta izin untuk berbicara dengan malu-malu, "Permisi, dan mohon maaf mengganggu, tuan kesatria. Bolehkah aku berbicara dengan Anda, tuan kesatria yang tangguh?"
Aku, yang sedang berpura-pura membaca dengan serius, tiba-tiba mendengar seseorang memanggilku dengan sebutan "tuan kesatria tangguh."
Aku menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang petualang muda yang tampaknya berusia dua puluhan tahun.
Aku segera menoleh ke kiri dan kanan untuk memastikan bahwa aku adalah orang yang dimaksud, tetapi petualang itu dengan percaya diri mengulangi bahwa dialah yang memanggilku dengan sebutan "tuan kesatria."
Memalukan sekali dipanggil dengan julukan aneh! Aku tidak bisa merasa lebih canggung.
Sebelum aku bisa menjawab permintaannya, tiba-tiba Sebas mendekat dan memberitahuku bahwa formulir pendaftaran sudah diisi lengkap olehnya dan kami bertiga harus segera mengkonfirmasi datanya.
Aku berpaling dari pria muda tersebut dan memberitahunya bahwa aku akan kembali sebentar lagi dan tidak perlu khawatir.
Sebas hanya terus menatapku, dengan tatapan tajamnya seolah-olah menganalisa gerakanku.
Setelah keluar dari momen yang cukup canggung dengan Sebas yang selalu memperhatikanku, kami bergerak menuju resepsionis wanita.
Dia memberikan kami sebuah kalung, menjelaskan bahwa itu adalah tanda pengenal petualang kami bertiga, dan kalung tersebut juga menandakan peringkat kami, yang pada awalnya adalah peringkat bronze.
Kalung itu berwarna perunggu, sesuai dengan peringkat kami yang rendah.
Wanita resepsionis menjelaskan pekerjaan petualang, yaitu misi, kepada kami.
Dia menjelaskan bahwa jika kami berhasil menyelesaikan beberapa misi dengan baik, performa kami akan dinilai, dan kami memiliki kesempatan untuk naik peringkat menjadi lebih tinggi.
Sebas mendengarkan dengan penuh perhatian, sedangkan aku mencoba untuk tetap serius meskipun hatiku bergembira.
Kami akhirnya telah resmi menjadi petualang, dan petualangan baru kami pun dimulai.
Wanita resepsionis menunjuk ke arah papan misi tempat aku sebelumnya berdiri, memberi tahu kami bahwa itu adalah tempat di mana kami dapat melihat dan mengerjakan misi sesuai dengan peringkat kami sebagai pemula.
Dia menjelaskan bahwa setiap misi yang kami selesaikan akan memberikan imbalan sesuai dengan tingkat kesulitan misi tersebut.
Dan saat itu juga wanita resepsionis telah selesai menjelaskan dan dengan lembut ia berkata kepada kami.
"Terima kasih telah mendaftar sebagai petualang dan semoga hari tuan, sebas, Tian dan Marrlo menyenangkan!" ucapnya dengan lembut kepada kami bertiga.
__ADS_1
Lalu, dia bergegas pergi untuk membantu para petualang yang sedang bertanya kepadanya.
Aku merasa bingung saat wanita resepsionis menyebut nama-nama itu, "Sebas, Tian, dan Marrlo?" keceplosanku membuatku terdengar aneh.
Sebas segera menjelaskan melalui telepati, "Ayah, itu adalah nama samaran palsu. Ayah adalah Sebas, aku adalah Tian, dan Marrlo adalah nama samaran makhluk jadi-jadian itu." Dia menoleh ke arah Lithos, yang tampak tenggelam dalam pemikirannya dan tidak mendengar percakapan kami.
Sebas melanjutkan, "aku menggunakan nama samaran ayah sebagai Sebas, dan nama samaran aku adalah Tian. Maafkan aku , ayah, jika aku menggunakan nama aku sebagai nama samaran ayah." Dia berbicara dengan tulus melalui telepati.
Aku merenung sejenak tentang penggunaan nama samaran ini.
"Dia mengisi nama samaranku dengan nama aslinya dia? Aneh," gumamku dalam hati.
"Tapi setidaknya dia sudah mengisi formulirku. Hehe. Tunggu, tapi bukankah jika berada di lingkungan manusia, panggilanku akan menjadi Sebas mulai dari sekarang?" Aku terlihat bingung.
Kemudian, aku memberikan jawabanku kepada Sebas.
"Ah, tidak perlu khawatir, Sebas. Aku tidak masalah dengan itu. Biar tidak membingungkan dan untuk menjaga identitas kita tetap aman, mulai dari sekarang kita harus berperan memanggil nama samaran kita. Aku akan memanggilmu Tian mulai dari sekarang," ucapku dengan mantap.
Sementara itu, aku masih merenung tentang nama samaran yang akan digunakan oleh Lithos, yaitu "Marrlo."
Dari namanya saja, aku sudah bisa menebak bahwa dia menggunakan nama samaran yang mirip dengan wanita yang ia cintai, yaitu "Merrli."
Misi kami bertiga adalah untuk menyelesaikan tugas-tugas petualangan dan meningkatkan peringkat kami.
Meski sebenarnya aku ingin menjelajahi dunia manusia ini sendirian sebagai petualang, tanpa Sebas dan Lithos, akhirnya aku menyadari betapa berharga kehadiran mereka.
Sebas, dengan pengetahuannya tentang kota manusia, ternyata sangat berguna.
Aku berjalan kembali menuju papan misi, berpura-pura membaca, dengan Sebas dan Lithos mengikuti di belakang.
Meskipun aku pura-pura serius, dalam hati aku merasa cukup lega memiliki keduanya di sampingku.
Siapa tahu, mereka akan menjadi aset berharga dalam petualangan ini, pikirku sambil tersenyum kecil.
Aku diam-diam mengamati Sebas dan Lithos, yang sepertinya hanya menungguku untuk memilih misi.
Mereka mungkin mengira aku, sebagai pemimpin mereka, yang akan membuat keputusan.
Namun, sebenarnya, aku sama sekali tidak tahu apa yang tertera di lembaran-lembaran yang menghiasi papan misi ini.
Sebas, dengan rasa ingin tahu yang khas padanya, bertanya kepadaku, "Ayah, misi apa yang ingin Ayah lakukan terlebih dahulu dari semua ini?" Dia memandangku dengan ekspresi penasaran.
__ADS_1
Aku tersenyum tipis, meski sebenarnya aku sedikit bingung.
Aku pura-pura membaca tulisan-tulisan di papan misi ini, padahal aku sama sekali tidak bisa membacanya.
Hanya angka dan gambar yang tampak familiar, sementara sisanya adalah simbol-simbol yang asing.
Aku berpikir keras, mencoba menemukan sesuatu yang sepertinya bisa kami lakukan.
Dalam kepanikan, aku secara sembarangan memilih selembaran misi dari papan, tanpa benar-benar memahaminya.
Aku mencoba menjaga rasa percaya diri di depan Sebas dan Lithos, namun dalam hatiku, kebingungan menggelayuti.
Segera setelah aku mengambil lembaran tersebut, aku mendekati meja resepsionis wanita dengan kepala tegak, mencoba menunjukkan ketegasan dalam pilihan ini.
Aku menempatkan lembaran misi di atas meja dan berkata kepada wanita itu, "Kami akan menjalankan misi ini."
Wanita resepsionis, yang tampaknya khawatir dengan pilihanku, mencoba memberiku pemahaman tentang tingkat kesulitan misi yang kubawa.
"Tapi tuan Sebas, ini merupakan misi yang sangat berbahaya yang hanya diperbolehkan peringkat tinggi, yaitu Master, untuk mengerjakannya," ucapnya dengan nada khawatir kepadaku yang memanggilku dengan nama samaranku "sebas".
Aku hanya bisa menjawab dengan senyuman percaya diri, meskipun sebenarnya aku sama sekali tidak tahu apa yang tertulis di lembaran misi itu.
"Jangan khawatir, nona. Aku cukup yakin bahwa aku dapat menyelesaikannya dengan mudah."
Sebenarnya, aku hanya mengambil lembaran misi itu secara sembarangan dari papan tanpa benar-benar memahaminya.
Tapi aku harus menjaga image ku sebagai pemimpin dan tidak membiarkan mereka merasa aku ragu atau bingung.
Wanita resepsionis tampak khawatir saat memberi tahu aku bahwa aku tidak diizinkan untuk mengerjakan misi tingkat tinggi karena peringkatku yang masih rendah, hanya perunggu.
Alasannya adalah untuk menjaga keselamatan ku, dan wanita tersebut tidak yakin aku dapat menyelesaikannya.
Namun, Sebas yang berada di sampingku tidak bisa mengendalikan kemarahannya.
Dengan tegas, dia menggeplak meja resepsionis, menghasilkan suara keras yang menarik perhatian semua petualang di sana.
Wanita resepsionis terlihat ketakutan melihat reaksi marah Sebas.
Dengan nada tegas dan mengancam, Sebas bertanya, "Apakah kau meremehkan ayahku?" membuat wanita resepsionis semakin cemas.
Terdengar bisikan-bisikan dan pandangan tajam dari para petualang yang menyaksikan adegan ini.
__ADS_1